Sabtu, 21 Juli 2018 05:28:07 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 261
Total pengunjung : 407220
Hits hari ini : 2402
Total hits : 3712802
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -I.J. Kasimo
I.J. Kasimo


Pantas disebut pejuang Nasional karena ia menerima bintang Maha putra dari Pemerintah RI, dan sebutan tokoh Gereja disandangnya karena lehernya dikalungi bintang Gregorius Agung dari Bapa Suci.

Tanggal 1 Agustus 1986 jam 08.00 WIB IGNATIUS YOSEPH KASIMO telah dipanggil menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa di rumah sakit ST. Carolus Jakarta dalam usia 86 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan di bawah bentangan sang saka merah putih serta tembakan salvo pasukan kehormatan. Sebagai inspektur upacara ketua DPA-RI Jend. (Purn) Maraden Panggabean mengatakan dalam kata sambutannya:

"Saudara telah bekerja keras dan berjuang bagi Nusa dan Bangsa. Sekarang beristirahatlah dengan tenang. Saudara telah memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Esa. Semoga mendapat tempat yang layak disisiNya".
Sebelum pemakaman terlebih dahulu diadakan Misa Requiem di Gereja Katedral Jakarta yang dimpimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto SJ. Dalam khotbahnya yang menyentuh Leo Sukoto mengatakan: "...Misa ini untuk mengantarkan kepergian seorang anak manusia yang besar. Maka yang harus bercucuran bukan semata-mata air mata, tetapi rasa hormat dan syukur." Selanjutnya............."anak yang baik bukan hanya mencintai ayah dan di samping itu mencintai ibunya juga. Ia ingin menjadi penghubung, mempererat hubungan ayah dan Ibunya supaya mereka saling mengasihi dan bekerjasama demi kesejahteraan keluarga. Kasimo adalah mempertemukan Gereja dan Negara, supaya mereka berdua saling mengenal, saling menyumbangkan kekuatan serta kekayaan masing-masing demi kesejahteraan rakyat Indonesia".

Perjuangan dan kariernya
Nama lengkapmya Ignatius Yoseph Kasimo Endrowahjono, dilahirkan di Yogyakarta 15 April 1900 dari keluarga Ronosentikono. Ayahnya seorang prajurit bala tentara mantrijero Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada masa kecilnya mengalami kehidupan keras dan baru masuk sekolah dasar pada usia 8 tahun pada Sekolah Dasar Boemipoetra. Setelah itu ia melanjutkan ke sekolah Guru (Kweekschool). Mengenal agama Katolik melalui perkenalannya dengan Pastor Van Lith SJ. Pada usia 2 tahun bergerak mendirikan Partai Katolik untuk golongan Katolik Jawa, di samping yang telah ada sebelumnya yaitu: Indische Katolieke Party (IKP) yang anggotanya adalah orang-orang Belanda. Ide ini mengalami banyak hambatan dan untuk mencapai tujuan organisasi politiknya menyatakan berafiliasi dengan IKP agar memperoleh persetujuan dari Gereja dan IKP sendiri. Partai ini oleh orang-orang Jawa dikenal dengan nama Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD) yang dalam perkembangannya berubah menjadi Partai Politik Katolik Republik Indonesia (PKRI). Setelah proklamasi Kemerdekaan dan berdasarkan anjuran Pemerintah Republik Indonesia yang dituangkan dalam maklumat 3 Nopember 1945, maka melalui kongres umat Katolik Seluruh Indonesia diputuskan bahwa PKRI mengalami perubahan nama menjadi PARTAI KATOLIK – tanpa disingkat. Tokoh Katolik ini pernah juga menjadi anggota Volksraad (1931-1942).

Pada awal perjuangan kemerdekaan ia menjabat Menteri Muda Kemakmuran (1947) dan di tahun 1948 menjadi Menteri Kemakmuran merangkap Menteri Persediaan makanan rakyat. Waktu itu Pemerintah RI mengalami krisis ekonomi sebagai akibat blokade Belanda ditambah dengan oposisi dari PKI. Keadaan itu kurang menguntungkan bagi suatu perjuangan. Jendral Nasution, yang saat itu menjabat Panglima Komando Jawa dengan bermarkas di Yogyakarta merasakan kesulitan bagi logistik tentara Siliwangi, segera menyampaikan hal itu kepada Kasimo dan langsung mendapat tanggapan positif. Kasimo berjanji mebereskannya. Sikap dan tindakan yang simpatik itu sempat menimbulkan pemikiran untuk mengusulkan pemberian pangkat Kolonel Tituler kepada Kasimo, namun gagasan ini urung karena Kasimo waktu itu adalah seorang menteri. Pada saat Belanda menyerang dan menduduki Yogya 19 Desember 1948, I.J. Kasimo dan beberapa orang menteri meninggalkan kota memasuki desa, menerobos gunung, membelah sungai, hidup di hutan bergerilya sambil memantau keadaan, memberikan pendidikan politik, menjelaskan situasi Negara serta menyelenggarakan kursus kilat pertanian.

Tahun 1955 I.J. Kasimo menjadi anggota parlemen hasil pemilihan umum pertama mewakili Partai Katolik. Sebagai ‘man of character’ ia mengutamakan watak dan karena itu juga prinsip dan etika dalam berpolitik. Sikap dan perilaku politiknya lebih dipengaruhi oleh persamaan paham tentang azas demokrasi, keadilan sosial, kejujuran dan integritas daripada oleh slogan-slogan ideologi dan doktrin.

Pada waktu Presiden Soekarno mengumpulkan parea pemimpin Partai Politik dan pimpinan masyarakat di Istana Negara 21 Pebruari 1957 yang menyampaikan gagasan pembentukan “kabinet kaki empat” yaitu terdiri dari PNI, NU, Masyumi dan PKI sebagai intinya, ditambah dengan partai lainnya, maka Kasimo mempunyai jawaban yang lain.

Tanggal 28 Pebruari 1957 para pemimpin partai dan organisasi masyarakat menghadap Presiden Soekarno untuk memberi jawaban atas konsepnya. Partai Murba, PNI, PRN, Baperki dan tentu saja PKI dengan tegas menerima konsep Presiden, sedang NU, PSII, PSI, Parkindo dan IPKI pada pokoknya masih ingin “pikir-pikir” dulu. Yang tegas menolak waktu itu adalah Mochamad Natsir mewakili Masyumi dan Kasimo dari Partai Katolik. Sikap Kasimo ini pulalah membuahkan serangan dari dalam partai sehingga diperlukan waktu tiga hari tiga malam untuk menilai sikap DPP di bawah kepemimpinan Kasimo. Untuk meyakinkan kongres maka dengan gayanya yang khas ia menegaskan pendiriannya bahwa” “kekuatan kita sehingga kita dapat menapai keadaan yang terhormat di dalam Republik kita ini adalah berkat ketabahan berjuang bersama-sama golongan lain, berdasarkan kesederhanaan, kejujuran dan ketekunan”.

Setelah 35 tahun lebih memimpin Partai, maka pada tahun 1980 tongkat estafet diserahkannya kepada Frans Seda—pemuda asal Flores yang menduduki jabatan Ketua umum Partai Katolik, sebagai regenerasi kepemimpinan dalam tubuh Partai.

Rumus Kasimo
Di samping banyak pejabat Negara dan kawan seperjuangan sebayanya yang melayat ke rumah duka, tampak hadir Presiden Suharto. Kehadiran kepala Negara untuk berdoa di depan jenazah almarhum merupakan bukti nyata bahwa almarhum adalah seorang putra bangsa yang baik yang perlu diteladani. Secara panjang lebar presiden Suharto menceritakan bahwa Pak Kasimo pada masa perjuangan telah mengingatkan soal hama wereng. Kegigihan almarhum yang mengusulkan perbaikan hidup petani tebu lewat cara yang kini dikenal dengan TRI (tebu rakyat intensifikasi) yang pokoknya mengganti sistem sewa tanah oleh pabrik gula dengan sistim petanilah yang menanam tebu sendiri dan hasilnya dijual ke pabrik. Karena jasanya itulah Kasimo dijuluki "bapak tebu rakyat". Presiden menyebut TRI itu sebagai "rumus Kasimo".

Penutup
I.J. Kasimo, seorang tokoh yang berwatak, konsisten dan jujur telah bahagia di sorga di sisi Tuhan. Ia meninggalkan seorang istri Ny. Aloysia Mudjirah (81), empat orang anak, tujuh cucu dan seorang cicit. Dua putrinya telah menghadap Tuhan mendahuluinya.
Kepada keluarga ia meninggalkan kenangan sebuah rumah yang sederhana dan perjuangan hidup yang penuh pengorbanan dan kita semua ditinggali warisan sikap, pemikiran dan tindakan yang dilandasi kesederhanaan, ketekunan dan kejujuran dalam membangun bangsa dan negara kita tercinta Indonesia.

Oleh: E.A. Pambudi Sr.
Sumber: Majalah Busos (1986)

Tokoh - tokoh
Liek WilardjoLiek Wilardjo
Stanislaus Sandarupa'Juru Kunci' Budaya Toraja
Ade Rostina SitompulObituari: Tokoh HAM itu Telah Pergi Selamanya
Dr. Johannes Leimena Dr. Johannes Leimena
Ingwer Ludwig NommensenDatang Untuk Kebaikan
FG Van Gessel FG Van Gessel
Eka DarmaputeraEka Darmaputera seorang pendeta dan teolog Indonesia yang banyak menulis sehingga karya-karya dan pikirannya seringkali muncul
Ir. MARTINUS PUTUHENA (1901 – 1982)Ir. MARTINUS PUTUHENA (1901 – 1982)
Cornelius Van TilCornelius Van Til
W.J. RumambiW.J. Rumambi
Pdt. H.O.H. AwuyPdt. H.O.H. Awuy
IhromiIhromi
Albert Schweitzer Albert Schweitzer
Reinhard BonnkeReinhard Bonnke
Kiai SadrachKiai Sadrach
Josephus Gerardus BeekJosephus Gerardus Beek
Martin LutherMartin Luther
Paus Benediktus XVIPaus Benediktus XVI
Paus FransiskusPaus Fransiskus
Lambertus N. PalarLambertus N. Palar
Pdt. DR. Hisar Raja Parlindungan Siringoringo, SH, MThPdt. DR. Hisar Raja Parlindungan Siringoringo, SH, MTh
Alfred SimanjuntakAlfred Simanjuntak
Fransisca FanggidaejFransisca Fanggidaej
Sutan Gunung MuliaSutan Gunung Mulia
Dr. RA JaffrayDr. RA Jaffray
Romo Lugano Pr.Romo Fx. Lugano Pr.
Mochtar Riady Mochtar Riady Sang Manusia Ide
Jessica SudartaHarpa Bawa Jessica Sudarta Harumkan Nama Indonesia di kancah International
   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution