Selasa, 17 Juli 2018 20:47:04 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 167
Total pengunjung : 406287
Hits hari ini : 1837
Total hits : 3704012
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Fransisca Fanggidaej
Fransisca Fanggidaej


Bermula dari kakaĎ yang tinggal di Singaraja, Bali menulis Status di Fb (lihat capture), tentang seorang Perempuan Revolusioner, yang usianya jauh di atas kami, berasal dari Rote - NTT, dan berdiam di Belanda. Ia adalah Fransisca Fanggidaej, seorang Perempoean Pejoeang dan Pejoeang Perempoen, yang karena berbeda pandangan dengan Orba, maka puluhan tahun berdiam di China serta sejak 1985 tinggal di Belanda hingga Tuhan memanggil kembali ke hadapan-Nya.

Litaay Diana Mamie, A.J.Litaay-Sjioen disaat 10 Nov. 1945, jadi pemimpin laskar wanita, 3 srikandi. Adiknya mamie, tante Fietje Nolten-Sjioen meninggal di Utrecht sudah lama, dan Fransisca Fanggidaej terakhir di panggil pulang BAPA tadi pagi. Ayahnya Ir.Godlief Fanggidaej, bertugas di Jawa Timur sebagai insinyur. Mamie, ayahnya Pdt.I di NTT. Mereka bertiga = pahlawan tanpa jasa, tapi nama-nama ada tertulis dalam buku arsip Kantor Arsip Surabaya, dan storynya di tulis oleh Brigjen Barlan dan bukunya ada di museum ABRI Jkt. Mereka sudah tiada, harap akan muncul srikandi2 gagah berani, jujur, wibawa, inner beauty nampak dan wibawa dijaman ini karena Indonesia perlu srikandi-srikandi2 masa kini yg siap bekerja tanpa pikir tujuan kaya, punya cita2 MERDEKA SEUTUHNYA (dijaman perang dimana dapat semangat srikandi?) SEMANGAT !
Itu adalah sepenggal kisah dan ingatan pada diri mereka yang mengenal sosok Fransisca Fanggidaej; namun, tak diketahui oleh generasi baru di NTT, apalagi Indonesia. Mungkin saja, kita, anda, saya yang sedang baca ini, juga baru tahu-mengenal nama Fransisca Fanggidaej; wajar, karena memang kurang informasi tentang dirinya.

Sosok Francisca C. Fanggidaej, walau ia suku Rote, namun lahir 1925 di NoŽl Mina, Timor. Ibunya bernama Magda MaŽl, seorang anak bangsawan di Timor; Ayahnya, Gottlieb Fanggidaej, seorang pegawai tinggi di Hindia Belanda, yang pada saat itu bertugas di Noel Mina, Timor Tengah Selatan.

[Cuma ada sedikit ingatan dan informasi tentang masa kecil Francisca di Kupang, kemudian di Surabaya. Namun, bisa diambil simpulan kecil, karena ia terlahir sebagai anaka pejabat tinggi Hindia Belanda; bahkan di rumah, ia hanya diizinkan berbahasa Belanda, sehingga bertumbuh merasakan dirinya sebagai seorang bangsa Belanda, maka tentu ia menikmati banyak kemudahan di masa kecil. Francisca bersekolah Belanda, di Europeesche Lagere School (ELS) dan MULO, yang khusus untuk warga Belanda, anak-anak pegawai Hindia Belanda, dan Bangsawan]

Keberadaannya di Surabaya cuma sedikit terekam, karena mereka yang tua-tua dan pernah mengenalnya serta bisa bertutur tentangnya, telah tiada. Yang sempat teringat adalah masa muda Fransisca, ia berbeda pandangan dengan ayah-ibunya yang pejabat tinggi Hindia Belanda. Fransisca ingin agar rakyat Timor (pada waktu itu, belum terbayang Indonesia Merdeka) mengalami kemajuan dalam segala bidang sejajar dengan Belanda, dan kemerdekaan.

Pandangan masa depan, yang beda dengan orang tuanya, serta jiwa revolusioner tersebut, menjadikan ia tetap di Tanah Jawa seletal menyelesaikan MULO; kemudian bertumbuh dan bergabung dengan pegerakan kaum muda (pra-) Indonesia. Sejalan dengan itu, wawasan keindonesiaannya mulai berkembang. Fransisca tidak lagi berpikir tentang Timor, melainkan Indonesia, ya Indonesia. Ia kemudian bergabung dengan organisasi Pemudan Republik Indonesia di Surabaya, Jatim.

Pada awal kemerdekaan, ketika Fransisca masih berusia pemuda berumur duapuluhan, ia bergabung dengan pergerakan kaum muda di Surabaya, dan denga antusiasme yang menyala-nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan diri ke dalam kancah gejolak dan pergolakan revolusi di Surabaya. Karena riak-riak juang untuk harus mempertahankan Proklamasi telah ada, jauh sebelum 10 Nopember 1945.

Semangat, fasih bicara, dan ketermukaannya, menjadikan Fransisca terpilih sebagai wakil Pemuda RI Surabaya untuk mengikuti Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta, pada 6-10 November 1945. Tanggal 10 Nopember, ketika selesai Kongres, rombongan dari Surabaya tak bisa pulang karena pertempuran antara rakyat dan tentara Sekutu.

[Jika tak salah info] Karena semangat perjuangan yang besar, Fransica berusaha menerobos blokade Sekutu, dan berhasil sampai di markas pemuda perlawanan; teman-temannya yang lain tertahan di Madiun, dan bergabung dengan pergerakaan pemuda disana.

Sudah menanti teman-teman perempuan pejuang 1945; mereka menjadi bagian dari Rakyat Indonesia di Surabaya, yang bertempur melawan pasukan Sekutu.

Setelah pertempuran Surabaya, Francisca aktif dalam Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, dan kefasihan berbahasa Belanda dan Inggris, menjadikan ia menyuarakan semangata kemerdekaan melalui Radio Gelora Pemuda di Madiun. Di samping melalu Radio Gelora, Fransisca ngajarin anggota bala tentara Belanda dan Inggris tentang kemerdekaan dan kolonialisme.

Setelah masa pertempuran mempertahankan Kemerdekaan agak mereda, Fransisca tetap aktif sebagai tokoh pemuda melalui Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, bahkan seringkali menjadi/meawakili BKPRI pada pertemuan pemuda tinggkat Internasional. Pada 1957, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili wartawan. Sebagai anggota delegasi parlemen, ia berkunjung ke Kuba pada 1960 dan 1953, serta berjumpa Fidel Castro.

Pada tahun 1964, Presiden Soekarno memilih dan mengangkatnya sebagai salah satu penasehat presiden - staf ini kepresidenan, dan sering mengikuti perjalanan Presiden ke ke berbagai negara. Kedekatan dengan Presiden dan besar dari/di Pemuda Sosialis Indonesia (yang kemudian mejadi Pemuda Rakyat, organisasi pemuda dibawah PKI), menajdikan Fransisca sebagai orang yang tak disukai Orba.

Pada tahun 1965, ketika ia berada di Chili sebagai anggota delegasi Indonesia pada Kongres Organisasi Wartawan Internasional, terjadi tragedi G30S, Fransisca tidak bisa kembali ke Indonesia; ia tak dilarang pulang ke Tanah Air. Sejak itu, 1965-1985, Fransisca tinggal Republik Rakyat Cina, dan sejak 1985 menetap di Belanda [Zeist, Utrecht, Belanda] hingga 14 Nopember 2013, Tuhan memanggilnya kembali kehadapan-Nya.

Itu sedikit tentang Oma, Tante, dan Aunt Fransisca Fanggidaej; satu dari sekian banyak Perempuan Revolusioner Indonesia, kelahiran Timor; yang hidup dan kehidupannya bukan cuma untuk Orang Timor, namun bagi Bangsa dan Rakyat Indonsesa, serta dunia (Di Belanda, Francisca menjadi anggota Komite Indonesia-Belanda, dan ikut mendirikan Stichting AziŽ Studies-Yayasan Studi Asia).

Akhir kata, mari kita coba renungkan kata-kata dari Fransisca Fanggidaej

Pada awal Orde Baru satu juta orang Indonesia tak bersalah dibunuh dan ratusan ribu lainnya dilempar ke dalam penjara dan kamp konsentrasi dalam satu tragedi nasional yang dampaknya sampai hari ini belum teratasi.

Dalam keadaan demikian perlukah Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diperingati? Dengan pertanyaan ini di hati dan di kepala, saya menukik ke masa lampau, ketika saya sebagai pemuda berumur duapuluhan, dengan antusiasme yang menyala-nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan diri ke dalam kancah gejolak dan pergolakan revolusi di Surabaya.

Kita tidak boleh lupa pengorbanan yang begitu besar yang sudah diberikan oleh berbagai generasi pejuang demi mewujudkan cita-cita Proklamasi, yaitu suatu masyarakat Indonesia yang sungguh bebas, demokratik dan berkeadilan sosial. Kita masih jauh dari perwujudannya.

Maka perjuangan itu masih berlanjut pada hari kini dan di masa depan. Pada hari ini harapan kita tak lain bahwa generasi muda yang kini berjuang untuk cita-cita itu mengambil semangat dan jiwa dari generasi kami yang pada Revolusi Agustus itu bergerak, dan agar mereka terus bekerja dengan cara mereka sendiri, di dalam kondisi nasional dan internasional yang sudah banyak berubah, dan akhirnya mencapai tujuannya!

Akhir kata,

Selamat Jalan Perempuan Revolusioner, jerih dan juangmu tak hilang dimakan rayap zaman, serta tak pernah punah dari dalam semua hati, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Engkau teelah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagimu mahkota kebenaran yang dikaruniakan kepadamu oleh Tuhan, Hakim yang adil.

Sumber: http://sosok.kompasiana.com/2013/11/14/fransisca-fanggidaej-selamat-jalan-perempuan-revolusioner-607777.html

Tokoh - tokoh
Liek WilardjoLiek Wilardjo
Stanislaus Sandarupa'Juru Kunci' Budaya Toraja
Ade Rostina SitompulObituari: Tokoh HAM itu Telah Pergi Selamanya
Dr. Johannes Leimena Dr. Johannes Leimena
Ingwer Ludwig NommensenDatang Untuk Kebaikan
FG Van Gessel FG Van Gessel
Eka DarmaputeraEka Darmaputera seorang pendeta dan teolog Indonesia yang banyak menulis sehingga karya-karya dan pikirannya seringkali muncul
Ir. MARTINUS PUTUHENA (1901 Ė 1982)Ir. MARTINUS PUTUHENA (1901 Ė 1982)
Cornelius Van TilCornelius Van Til
W.J. RumambiW.J. Rumambi
Pdt. H.O.H. AwuyPdt. H.O.H. Awuy
IhromiIhromi
Albert Schweitzer Albert Schweitzer
Reinhard BonnkeReinhard Bonnke
Kiai SadrachKiai Sadrach
Josephus Gerardus BeekJosephus Gerardus Beek
Martin LutherMartin Luther
Paus Benediktus XVIPaus Benediktus XVI
Paus FransiskusPaus Fransiskus
Lambertus N. PalarLambertus N. Palar
Pdt. DR. Hisar Raja Parlindungan Siringoringo, SH, MThPdt. DR. Hisar Raja Parlindungan Siringoringo, SH, MTh
Alfred SimanjuntakAlfred Simanjuntak
I.J. KasimoI.J. Kasimo
Sutan Gunung MuliaSutan Gunung Mulia
Dr. RA JaffrayDr. RA Jaffray
Romo Lugano Pr.Romo Fx. Lugano Pr.
Mochtar Riady Mochtar Riady Sang Manusia Ide
Jessica SudartaHarpa Bawa Jessica Sudarta Harumkan Nama Indonesia di kancah International
   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution