Selasa, 17 Juli 2018 20:50:51 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 168
Total pengunjung : 406288
Hits hari ini : 1864
Total hits : 3704039
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -“Tidak Ada Alasan Untuk Berpaling”
Kamis, 20 Oktober 2005


Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/pustaka1/domains/pustakalewi.net/public_html/mod/builtin/hiburan.php on line 41
Astrid menendang kerikil didepannya sembari berjalan pulang dari kampusnya dibawah terik matahari yang menyengat. Sudah beberapa hari ini ia terlihat begitu murung dan gelisah entah kenapa, “Astrid, kenapa sih kamu akhir-akhir ini banyak melamun and bengong, ada apa sih?” tanya Ratna teman sekost dan segenknya, “ahh.gak ada apa-apa kok, aku cuma pengen diam aja ”, jawab Astrid, “Ok deh, kalau gitu, gimana kalau nanti malam kita jalan-jalan yuk ke mall bareng dengan Rico, Maya, dan Hendra, biar kita refreshing dikit, kamu khan tahu Hendra tuh dari ospek dulu udah begitu menyukaimu, kenapa sih kamu diamin aja tuh makhluk kece and kaya kayak dia? Coba kalau dia bilang cinta sama aku pasti deh aku dah bilang ya..ya..ya.., sayangnya sampai detik ini cintanya tetap hanya sama kamu seorang” sembur Ratna bak kereta api, “ Husss, kamu ni ngaco deh…aku kan ma dia cuma temenan, aku gak pernah punya perasaan lain selain ama sodara tahu! Kalau toh dia cinta ma aku itu kan HACnya dia alias hak asasi cintanya yang penting aku kan dah bilang kita sahabatan kalau perlu sodaraan hanya itu gak lebih, udah ahh aku lagi gak mau bahas tentang Hendra, udah cukup bagiku untuk ngejelasin semuanya sama teman-teman”. Jawab Astrid sambil terus berjalan.



“Astrid, sudah beberapa hari ini, bapak melihat kamu begitu murung dan tampak gelisah di kelas, ada apa?”, tanya Pak Lukman yang merupakan dosen terdekat dengannya dan salah satu dosen favoritnya. Astrid memang dekat dan akrab dengan Pak Lukman, baginya Pak Lukman bukan sekedar seorang dosen namun lebih dari itu menjadi seorang ayah dan teman. Ya, bukan hanya Astrid yang merasakan hal itu namun semua mahasiswa di kampus itu begitu menyukai Pak Lukman karena sifat kebapakan dan penggembalaan Pak lukman terhadap mereka tidak seperti dosen-dosen yang lain sehingga pantaslah kalau pak Lukman diangkat sebagai konselor para mahasiswa di kampus tersebut.



“Astrid, kamu selalu terbuka jika kamu punya masalah” kata Pak Lukman. “kenapa kamu sekarang begitu tertutup?” lanjut Pak Lukman, namun Astrid tetap diam membisu “Astrid hanya tidak ingin bicara saja dan kalaupun Astrid punya masalah, Astrid ingin menyelesaikannya sendiri” jawab Astrid akhirnya ia bersuara, “Baiklah, bapak tidak akan memaksamu dengan pertanyaan-pertanyaan kebingungan bapak padamu akhir-akhir ini, namun bapak senantiasa siap diruang konselor jika kamu membutuhkan pertolongan bapak”. “Baiklah Pak. Pak, Astrid pulang dulu ya” bel di kampus sudah berbunyi yang menandakan waktu belajar dan mengajar telah usai siang itu, para mahasiswa berhamburan keluar bak lebah yang keluar dari sarangnya, dari ruang kelas terbersit wajah-wajah yang keletihan (memang belajar sangat menguras tenaga dan melelahkan badan, itu kata Pengkhotbah –red)) walaupun masih ada sebagian yang begitu ceria dan bercanda dengan sesama mereka, Astrid berdiri dan membereskan buku dan diktat-diktat yang berserakan di mejanya, memang kelas Astrid sudah bubar dari 15 menit yang lalu namun tertahan oleh pak Lukman dikelas untuk sekedar berbincang-bincang dengannya “Baiklah, hati-hatilah kamu dan banyak berdoa, Tuhan pasti menolongmu” Astridpun melangkah keluar dari kelas diikuti oleh tatapan mata Pak Lukman “Kenapa yah anak ini tiba-tiba jadi pendiam begitu? Gumam pak Lukman, “Tuhan, apapun yang sedang dialaminya tolonglah dan lindungi dia” doa Bapak yang telah mencapai usia 67 tahun itu. Astrid memang seorang mahasiswi yang memiliki nilai plus dimata Pak Lukman, dosen dengan 3 anak ini. Ia seorang gadis yang pandai di kelasnya, cantik, senantiasa ceria, bersemangat, supel dan ramah terhadap semua orang, pantaslah jika ia memiliki sahabat dan teman-teman yang menyayangi dan menyukainya bahkan ada beberapa lelakipun jatuh cinta padanya.

Astrid terus berjalan dan terngiang ditelinga dan pikirannya kata-kata Pak Lukman sepulang kuliah tadi. Akhirnya, iapun tiba di rumah kosnya yang memiliki 7 kamar plus dapur ini, ia langsung menuju sebuah kamar yang mungil yang telah ia tempati hampir 3 tahun ini bersama beberapa temannya, ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang empuk dan akhirnya terbuai oleh alunan irama klasik yang lembut dari MP3 yang diputarnya. “Oooh, jam berapa nih??” Astrid kaget dan terbangun dari tidurnya “sudah pukul setengah delapan”, ia melihat jam weker dimeja belajarnya, Astrid begitu terlelap sampai akhirnya ia tertidur hingga malam tiba. Astrid bangun dari tempat tidur dan menuju ke dapur “wah, kok sepi?? Pada kemana ya anak-anak?? Ahh mungkin lagi sibuk dengan acaranya masing-masing” gumam Astrid melihat rumah kostnya begitu lengang, ia menuju kemar Ratna, temannya “lampunya mati, pintunya juga terkunci, ya ampun diakan ama anak-anak lagi jalan-jalan ke mall” Astrid langsung ke dapur dan mengambil mie instant dan memasaknya. Selesai membereskan barang-barang yang kotor astrid kembali kekamarnya dan menyetel salah satu saluran radio rohani, perasaannya begitu gundah tak terasa sepasang air yang bening menetes jatuh dari pelupuk matanya yang indah, “Tuhan, tolonglah aku untuk dapat mengambil keputusan yang terbaik dalam hidupku”.



Astrid teringat pertama kali ia berkenalan dengan Jake seorang pria tampan berkebangsaan Amerika melalui acara blendid yang ditawarkan oleh sepupunya yang tinggal di Australia. Setahun sudah ia berhubungan dengan Jake lewat chating yang sangat marak diantara anak-anak muda sekarang ini yang akhirnya berlanjut melalui sms, setahun sudah hubungan pertemanannya atau mungkin percintaannya dengan lelaki tampan itu sampai akhirnya Jake berkeputusan untuk mengambil liburannya ke Indonesia untuk bertemu dengan Astrid sambil melihat dan mengenal Indonesia, maklum Jake belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya apalagi mendengar tentang bumi Pertiwi ini hanya karena lewat Astridlah yang selalu menceritakan tentang keindahan pariwisata Indonesia, Jake mengenal dan mendengar tentang Indonesia. Betapa senangnya hati Astrid ketika mendengar rencana Jake untuk datang ke Indonesia karena setahun ia telah menyimpan khayalan yang indah tentang Jake didalam hati dan pikirannya. Walaupun rencana kedatangan Jake begitu mendadak namun Astrid berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Hari demi hari, malam demi malam Astrid terus mengkhayal akan Jake tentang ketampanannya, keromantisan serta perhatian Jake melalui kata-kata Jake baik lewat chating maupun sms, hingga tiba hari yang ditentukan Jake untuk tiba di Indonesia, untung pada saat kedatangan Jake, Astrid mendapat liburan semester sehingga hal itu tidak mengganggu aktivitasnya di kampus hitung-hitung Astrid mengisi liburannya bersama orang yang dia cintai. “Jadi, kamu tidak pulang Astrid pada liburan ini?” tanya ayah pada Astrid, “Nggak yah, aku harus menjemput temanku yang akan datang dari Amerika’, jawabnya pada ayah, “baiklah kalau begitu, hati-hatilah dimanapun kamu berada, oh iya gimana uangmu masih ada untuk liburan nanti?” tanya ayah penuh perhatian, “masih yah”, “ok, kalau gitu” jawab ayah, “aku sayang ayah, jaga kesehatan ayah”jawab Astrid sambil mengakhiri pembicaraan ditelpon dengan ayahnya.Walaupun ayah gelisah karena Astrid tidak pulang liburan kali ini namun ayahnya menyadari bahwa Astrid anaknya sudah dewasa dan punya kesibukan dan kehidupan sendiri. Setelah selesai berbicara dengan ayah tentang rencananya untuk liburan, Astrid menelpon sepupunya untuk menemaninya menjemput Jake di bandara.



Saatnya tiba dimana ia harus menjemput Jake ke Bandara ada rasa deg-degan bercampur dengan rasa kerinduan yang mendalam dengan pria yang telah menjadi orang terdekat baginya selama setahun walaupun hanya lewat dunia maya namun hubungan mereka begitu dekat dan mesra. Pertemuan pertamanya dengan Jake adalah suatu pertemuan yang tak terlupakan baginya begitu juga Jake, kedua insan itu langsung merasakan cinta pada pandangan pertama meskipun rasa itu telah ada semenjak mereka bersahabat dan sering berkomunikasi lewat chating maupun sms. Hari demi hari Astrid menemani Jake kemanapun Jake ingin pergi dan melihat keindahan panorama Jawa Timur dan Astrid dengan senang hati melakukannya.



Enam hari sudah berlalu dan tiba saatnya Jake harus kembali ke negaranya, Astrid serta sepupunya mengantar Jake ke bandara, Astrid melambaikan tangannya menyertai langkah Jake yang makin lama makin hilang ditelan keramaian para penumpang yang lainnya, sampai akhirnya tak berbekas sama sekali…



Oooohh kenangan yang indah yang tak dapat aku lupakan bersama Jake dan kini sudah 4 bulan setelah kepulangan Jake ke negaranya, ia masih tetap rajin mengirim sms bahkan chating denganku dan sikapnya tetap manis, romantis dan penuh perhatian padaku, bahkan Jake sering mengirim surat, souvenir-souvenir cantik untuk Astrid meskipun Astrid tak memintanya. Astrid begitu terbius dengan perhatian yang dicurahkan Jake kepadanya namun ada satu hal yang telah menjadi kegundahan dalam hatinya, Jake selalu meminta Astrid untuk mengikutinya memeluk sebuah agama yang bagi Astrid tak mungkin untuk ia lakukan. Beberapa kali sudah Jake memintanya dan Astrid bingung apa yang harus dia lakukan karena disatu sisi ia begitu mencintai Jake namun juga ia tak dapat meninggalkan Kristus yang bukan hanya sekedar sebagai Tuhannya namun juga menjadi sahabat dan penolong selama ini baginya…..” Tuhan, tolonglah Astrid, apa yang harus aku lakukan saat ini?” doa Astrid. Bagi Astrid, Kristen bukanlah sekedar agama baginya namun sudah menjadi suatu iman yang sudah berakar kuat didalam hidupnya, “Tuhan, aku mencintai Jake namun jangan biarkan cintaku ini mengaburkan imanku kepada-Mu ya, Tuhan…aku mengasihi-Mu dan aku tidak ingin meninggalkan Engkau ya Bapa, jika memang aku harus pisah dengan Jake biarlah hal itu terjadi dalam kehendak-Mu, aku percaya, Engkau Allah yang mampu menyediakan pasangan yang terbaik yang sepadan dan sesuai dengan kehendak-Mu walaupun aku harus menunggu jawaban doaku, ajarlah aku untuk bersabar menanti jawaban-Mu ya Tuhan…Akupun tetap berdoa buat Jake supaya suatu hari nanti Jakepun dapat mengenalmu sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya..Amin”. Hati Astrid terasa lega ketika ia selesai berdoa atas pergumulannya selama ini sebab sudah beberapa hari ini Astrid begitu bergumul dengan hal yang satu ini, karena tidaklah mudah bagi seorang Astrid walaupun ia tahu bahwa ia harus memilih Kristus diatas segalanya namun sangatlah susah baginya karena dia begitu mencintai Jake…namun akhirnya, Astrid sudah memperoleh jawaban yang melegakan hatinya dan ia sejahtera untuk memberikan jawaban bagi Jake dan ia telah siap bila ia harus melepaskan Jake, pria yang ia cintai demi Kristus, karena bagi Astrid , iman kepada Kristus lebih dari segalanya, Astrid sangat percaya bahwa Kristus mampu menyediakan apapun yang menjadi kebutuhannya, tidak ada alasan bagi Astrid untuk berpaling dari Kristus, karena Kristus bukanlah sekedar apa yang diajarkan dalam kekristenan namun Kristus adalah sebuah iman yang telah mendarah daging dalam hidupnya, “Jake, aku mencintaimu namun aku tidak dapat meninggalkan imanku dan aku terlebih memilih Kristus daripadamu, mungkin saat ini engkau tidak mengerti akan hal ini mengapa aku lebih memilih Kristus. Hal ini sama seperti engkaupun tidak dapat meninggalkan agamamu begitu juga aku tidak dapat meninggalkan Kristus namun doaku semoga suatu hari nanti engkaupun dapat mengenal-Nya dan mengasihi-Nya seperti aku”. Malam telah semakin larut dan diluar penuh bintang yang bersinar cerah, secerah hati Astrid yang diliputi kedamaian Ilahi karena hari ini ia telah memperoleh jawaban atas pergumulan cinta yang harus ia lewati.



Tidak ada alasan dalam dunia ini bagi kita untuk berpaling dari Kristus dalam hidup kita karena pengorbanan-Nya yang di kayu salib bagi kita. Jarum jam berdetak dengan lembut dan Astridpun terbuai dalam kedamaian dan nyanyian indah para malaikat di Sorga. (“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”, wahyu 2:10b). (GV)


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution