Sabtu, 15 Desember 2018 17:43:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 177
Total pengunjung : 450780
Hits hari ini : 1182
Total hits : 4152620
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -KORUPTOR DAN KREATIFITAS
Sabtu, 23 Juli 2005
KORUPTOR DAN KREATIFITAS


Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/pustaka1/domains/pustakalewi.net/public_html/mod/builtin/hiburan.php on line 41
Kalau saat ini ada yang ikut campur membicarakan korupsi, jangan bermimpi didengar orang. Setiap pembicaraan tentang korupsi bisa dipastikan cuma omong kosong alias sisipan pembicaraan di antara kongkow-kongkow. Kalau pun pendapatnya benar, bisa dipastikan tak akan merubah sama sekali budaya korupsi di Indonesia.



Masalah korupsi di negeri kita ini memang sudah menjadi penyakit yang sulit disembuhkan. Semakin dibicarakan, perilaku korupsi semakin merebak kemana-mana. Bukan karena korupsi itu seperti penyakit menular, melainkan sebagai sikap perlawanan daripada dihabiskan Si Eep lebih baik “kumakan” juga.



Bahkan, karena sudah terbiasa dengan soal korupsi, orang yang berniat jujur pun kadang tanpa sadar juga melakukan korupsi, misalnya, menerima bingkisan akhir tahun yang merupakan kebijaksanaan pribadi kepala bagian yang selama ini korup. Bahkan sikap kepala bagian seperti ini sering dimaknai sebagai dermawan. Padahal sesungguhnya, ia cuma mengiklaskan sebagian kecil hasil korupsinya. Dan parahnya pula, kepala bagian menganggap bagi-bagi bingkisan itu sebagai wujud syukur karena sepanjang tahun itu telah diberi rejeki berlimpah.



Memang “agak sulit” dimengerti sebab perilaku korupsi itu bisa saja terjadi tanpa direncanakan. Misal, seorang kepala bagian keuangan telah bersikap sejujur-jujurnya dengan memberikan sepenuhnya hak pemenang tender tanpa embel-embel omongan ini-itu. Tapi si pemenang tender dengan sikap hormat menyodorkan amplop gembung sebagai ucapan terima kasih. Padahal, untuk mewujudkan amplop terima kasih itu pemegang proyek dengan suka cita mengurangi kualitas kerjanya.



Karena begitu hebatnya persoalan korupsi di negeri ini, jejak-jejak uang hasil korupsi pun telah merambah kemana-mana. Kalau ditelusuri, rupiah “haram” itu bisa ada di rumah-rumah ibadah, di yayasan-yayasan sosial, di lembaga-lembaga pendidikan, dan tempat-tempat lain.



Inilah rumitnya menganalisa korupsi di negeri ini. Di satu sisi, korupsi sudah menjadi budaya sehingga dianggap biasa-biasa saja, di pihak lain para koruptor dicap sebagai tikus-tikus jahat yang menggerogoti negara. Korupsi memang telah menjelma menjadi kata benda yang relatif. Korupsi menjadi persoalan karena seluruh rakyat Indonesia belum memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk korupsi. Seandainya kesetaraan melakukan korupsi ini bisa tercapai, saya yakin tidak ada persoalan karena daya beli setiap rakyat Indonesia akan sama tinggi. Maaf, hal ini saya katakan bukan karena pesimis tentang penanggulangan korupsi melainkan saya ingin mencari jalan keluar yang lain.



Soal kesetaraan yang masih timpang itulah yang melahirkan hukum rimba di dunia korupsi. Akibatnya, yang kuat semakin gemuk dan yang lemah semakin tinggal tulang. Dan sialnya lagi, melihat kenyataan banyaknya rakyat Indonesia yang kurus kering, para aktifis koruptor ini justru menciptakan program penyelamatan yang pada akhirnya dananya dikorupsi juga.



Karena itu soal korupsi ini, saya sama sekali tak tertarik untuk mengetuk hati kaum koruptor agar bertobat atau apalagi menganjurkan untuk mendalami agama. Bagi saya, korupsi adalah soal kreatifitas. Namun demikian, saya juga tak rela hati menyaksikan para penderita busung lapar mengerang kesakitan. Atau seorang anak sekolah dasar harus gantung diri karena orang tuanya tak mampu membayar uang sekolah. Ini sesuatu yang ironis di negara yang korupsinya sudah membudaya. Seharusnya, daripada kelaparan lebih baik korupsi. Tapi kembali lagi, kesempatan melakukan korupsi itu yang belum merata bagi seluruh rakyat Indonesia.



Jalan penyelesaian yang sebenarnya tepat adalah dengan keputusan politik diikuti peraturan serta tindakan hukum yang tegas dan adil. Namun lagi-lagi, budaya korupsi juga milik para politisi sehingga tak mungkin menghasilkan peraturan pemberantasan korupsi yang sungguh-sungguh. Apalagi di pihak penegak hukum, jangan bertanya korupsi itu boleh apa tidak? Justru yang terjadi adalah motto yang sudah lazim kita dengar, “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?



Untuk menyiasati situasi dalam situasi yang serba tak jelas ini adalah membiarkan rakyat Indonesia mengembangkan berbagai kreatifitasnya untuk mengejar kesejahteraan bagi dirinya sendiri. Saya yakin, jika kesejahteraan masyarakat tercapai, ia tetap tertawa terbahak-bahak meski diperas para pejabat yang korup. Jadi persoalanya, bukan bagaimana memberantas korupsi, tapi bagaimana meningkatkan pendapatan rakyat Indonesia.



Dan syarat mutlak menghargai kreatifitas adalah mengembangkan cara berpikir merdeka dan adil. Dengan demikian, setiap kreatifitas demi mencapai kesejahteraan hidup setiap orang harus dihargai. Apa salahnya seseorang membuka panti pijat atau rumah bilyard? Kalau tindakan seperti ini dianggap jahat, apa yang lain saleh?



Inilah memang persoalan rumit yang dengan berat hati harus kita terima. Barangkali ada benarnya mengamini motto “sesama penjahat dilarang saling tuduh”. Namun kalau ada yang bilang sebaliknya bahwa untuk menghadapi situasi seperti ini sebaiknya, “kejahatan justru harus dilawan dengan kejahatan”, sungguh, aku tak mampu lagi berpendapat.



Rusun Mananggal Surabaya, 23 Juli 2005

Fardik Rudiyanto

   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution