Kamis, 13 Desember 2018 02:59:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 328
Total pengunjung : 449743
Hits hari ini : 1923
Total hits : 4146120
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Hubungan dengan sesama itu penting, ungkap orang Israel dan Pakistan yang berteman






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 05 Oktober 2012 09:20:58
Hubungan dengan sesama itu penting, ungkap orang Israel dan Pakistan yang berteman
Tel-Aviv – Ketertarikan saya terhadap Pakistan dan masyarakatnya tidak dimulai dari politik. Meskipun Pakistan jauh dari kehidupan saya selaku orang Yahudi Amerika, dari beberapa pertemuan saya dengan orang-orang Pakistan, saya bisa mengidentifikasi – atau menduga-duga – beberapa gagasan yang saya kira saya dapat pahami: Seperti halnya orang Israel dan Yahudi, orang Pakistan juga bangsa yang tengah membentuk negara baru, yang lahir di tengah kekacauan dan trauma (hampir pada masa yang bersamaan dengan Israel) dan masih dalam tahap membangun. Seperti orang-orang Yahudi yang tinggal di tanah diaspora, saya kira orang-orang Pakistan yang berada di luar negerinya juga sangat peduli dengan negeri asal mereka, dan berjuang untuk menyelaraskan berbagai macam identitas. Negara mereka bagi saya seperti sebuah tempat yang dipenuhi kontradiksi yang mungkin hanya bisa digambarkan sebagai sebuah kaleidoskop epik yang mencampur sejarah dengan khayalan.

Lalu ada pula bayangan tentang Pakistan seperti tergambar dari berita. Di era 1990-an, Pakistan muncul sebagai negara dengan para tokoh politik Muslim yang modern dan flamboyan, yang umumnya dianggap demokratis, yang terkadang digulingkan atas tudingan korupsi. Lalu selama hampir satu dasawarsa setelah 2001, media Barat menggambarkan Pakistan sebagai negara tempat bersemainya ekstremisme keagamaan yang –punya senjata nuklir. Tak pernah jelas bagi saya siapa yang benar-benar memegang kekuasaan, dan negara ini sering tampak di ambang bencana – atau terkungkung olehnya.

Saya mengaku pengetahuan saya hanya sebatas itu. Tapi saya tetap tertarik.

Jadi ketika seorang teman Amerika mengatakan kepada saya kalau ada dua orang Pakistan liberal tertarik menjalin hubungan dengan orang-orang Israel yang berpandangan serupa seperti orang-orang dari +972 Magazine, blog independen liberal di mana saya menulis, saya langsung mengambil kesempatan ini.

Kedua orang Pakistan ini, yang dua-duanya bermukim di Barat, telah memberi saya “jendela” baru dalam memandang negara mereka. Salah satu dari mereka adalah sarjana dalam fundamentalisme keagamaan yang tinggal di Amerika Serikat. Satu lagi adalah pendiri, redaktur dan penulis blog independen liberal bertajuk Let Us Build Pakistan (LUBP).

Dari percakapan awal kami, saya merasa kami saling memahami; tentu sebagiannya karena kami merasa seperti teman sebaya, yang sama-sama tertarik dan menggeluti masalah-masalah publik negara kami masing-masing. Percakapan kami dimaksudkan untuk mengetahui lebih banyak tentang realitas politik, sosial dan budaya satu sama lain, dan mungkin juga menyampaikan realitas itu kepada para pembaca blog kami. Karena terpisah secara geografis, kami pun hanya berjumpa lewat Skype.

Namun, saluran terbatas ini memungkinkan saya membuat pemetaan situasi sosio-politik Pakistan yang lebih beragam ketimbang yang disajikan oleh arus utama media Barat. Saya merasa ”tercerahkan” ketika bicara dengan orang-orang berpandangan serupa yang menghadapi tantangan serupa di negara yang tengah mereka coba bangun.

Misalnya, kami sama-sama kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara yang kami pandang merusak. Namun, negara sering menanggapi kritikan kami secara defensif. Kami sama-sama dicurigai atau bahkan dimusuhi oleh para tokoh politik dan masyarakat – yang mempertahankan kebijakan-kebijakan itu.

Kesadaran lainnya adalah bahwa kami sama-sama tidak menyukai aliansi para ekstremis keagamaan dengan pejabat militer dan pemimpin politik di Pakistan, sebuah fenomena yang sayangnya juga akrab bagi saya: begitu pulalah cara Israel melakukan dan menancapkan penjajahan di wilayah Palestina sejak 1967. Hingga sekarang, justifikasi Israel terhadap pendudukan bertumpu pada masalah keamanan, alasan keagamaan, dan pandangan bahwa harga politik internal dari pengakuan terhadap Palestina terlampau tinggi bagi para pemimpin Israel.

Perjuangan melawan militerisme negara merupakan isu besar bagi dua kolega Pakistan saya, sama halnya militerisme yang berurat akar di Israel juga menjadi sumber kesedihan buat saya.

Dua kolega Pakistan saya merasa bahwa media internasional arus utama tidak secara memadai meliput pelanggaran HAM di Pakistan, seperti penyerangan terhadap warga Syiah, yang disesalkan oleh banyak orang Pakistan. Sama halnya, kami di +972 Magazine merasa bahwa topik-topik penting seputar pendudukan dan aspek-aspek lain dari kehidupan di Israel tidak diliput karena tidak menjual dari segi komersial ataupun politik.

Akan tetapi, kendati ada banyak masalah yang sama-sama kami hadapi, percakapan kami membuat saya optimis.

Pada akhirnya, yang mempersatukan kami adalah komitmen bersama terhadap nilai-nilai universal – HAM, demokrasi dan kebebasan berekspresi. Kami tengah belajar satu sama lain tentang peran nilai-nilai dalam mengatasi tantangan-tantangan yang kami hadapi.

Di luar nilai-nilai universal ini, saya juga menaruh harapan terkait konflik Israel-Palestina. Setelah adanya fase baru kekerasan berbasis agama yang mengerikan, hubungan antara setidaknya sebagian dunia Muslim dan Barat tampak berada di tepi kehancuran. Israel – dan keterkaitannya dengan Palestina – terlalu sering menjadi pusat perhatian. Pada saat seperti ini, saya merasa setiap hubungan yang konstruktif antarmanusia menjadi penting.(MWP)


sumber:
http://www.commongroundnews.org/article.php?id=32129&lan=ba&sp=0

dilihat : 320 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution