Sabtu, 21 Juli 2018 09:05:04 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 42
Total pengunjung : 407267
Hits hari ini : 272
Total hits : 3713211
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Masa depan Islam di Mesir






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 13 Juli 2012 12:14:48
Masa depan Islam di Mesir
Masa depan Islam di Mesir
oleh Waleed El-Ansary

Kairo - Dengan terpilihnya Mohamed Morsi dari al-Ikhwan al-Muslimun sebagai presiden Mesir, banyak orang pun bertanya apa artinya ini terkait pandangan orang Mesir kebanyakan tentang peran agama dalam kehidupan publik. Amerika Serikat khususnya sedang mengamati Mesir dengan saksama sekarang ini karena hubungan historis yang kuat di antara kedua negara ini.

Namun, untuk mengerti peran agama di Mesir, penting sekali memahami bahwa Mesir juga memiliki kelompok religius non-partisan yang cukup kuat yang menghalangi para ulama memihak partai-partai Islam, seperti terjadi di Iran. Tak diragukan bahwa budaya Mesir masihlah sangat religius dan umumnya menentang agama tidak bisa diterima oleh masyarakatnya. Jika demokrasi gaya Jeffersonian ide bahwa orang-orang beriman seharusnya meninggalkan agama di rumah ketika mereka membahas masalah-masalah politik di muka publik tidaklah mungkin dalam konteks Mesir, maka pertanyaannya bukanlah apakah agama akan menjelmakan diri di ruang publik atau tidak, melainkan bagaimana caranya.

Bagi orang Mesir yang Muslim, sebagai mayoritas penduduk, ada tiga kekuatan yang berpengaruh pada cara pandang terhadap agama di wilayah publik: al-Ikhwan al-Muslimun, yang mendukung konsep negara sipil namun memiliki pemahaman Islam yang sangat politis; partai-partai politik Salafi, seperti al-Nur atau al-Ashalah, yang menekankan visi Islam berdasarkan ideologi Wahabi, yang bukan berakar dari Mesir, dan menyerukan penerapan hukum gaya Saudi; serta Universitas al-Azhar, universitas Islam paling prestisius di kawasan Arab dan universitas tertua di dunia yang masih ada (berdiri pada 971 di Kairo). Al-Azhar fokus pada hubungan Islam dengan masalah-masalah politik dan sosial kontemporer namun melalui lensa yang berbeda, yang berlandaskan warisan intelektual Islam.

Kendati banyak pengamat memandang al-Ikhwan al-Muslimun dan partai-partai politik Salafi sebagai kekuatan yang bisa membentuk pandangan publik Mesir terhadap peran agama dalam perpolitikan pascarevolusi, mereka sepenuhnya melewatkan peran penting al-Azhar.

Meremehkan al-Azhar adalah sebuah kekeliruan mengingat sejarah panjangnya yang sudah lebih dari seribu tahun, pengalaman unik dan metodologinya, lembaga penelitiannya yang kesohor, dan seabreg alumninya. Sementara al-Ikhwan al-Muslimun hanya memiliki sekitar 600.000 anggota, lembaga-lembaga pendidikan al-Azhar kini memiliki dua juta murid (500.000 di tingkat universitas dan 1,5 juta di sekolah dasar dan menengah). Selain itu, lulusan Universitas al-Azhar menjadi imam atau khatib di 110.000 masjid sekitar 80 persen dari seluruh masjid di Mesir dan universitas ini sendiri sudah memiliki 10 juta alumni.

Mayoritas orang Mesir Muslim mencari bimbingan spiritual dan intelektual dari para ulama Universitas al-Azhar, bukan dari kelompok al-Ikhwan al-Muslimun atau Salafi.

Pendekatan Universitas al-Azhar jauh lebih terukur dan ilmiah. Metodenya adalah untuk mencari kebaikan bersama dan menghindari politik partisan. Lantaran sejarahnya yang luar biasa, serta tingkat pengaruh dan pendekatannya, al-Azhar penting sekali bagi lansekap politik Mesir sekarang, dan menjadi fasilitator mulusnya transisi yang amat penting bagi masa depan Mesir.

Para ulama al-Azhar telah lama berada dalam posisi penengah antara rakyat dan pemerintah, dan sering kali menjadi hati nurani masyarakat serta pengawal bagi sentimen rakyat dan tradisi. Al-Azhar mengumumkan di awal rangkaian pemilu lalu bahwa al-Azhar secara institusional tidak akan mendukung salah satu kandidat, karena tujuannya adalah bekerja dengan semua kelompok untuk mencari kebaikan bersama.

Belum lama ini, misalnya, al-Azhar mengeluarkan pedoman bagi pembuatan konstitusi baru yang menjamin kewarganegaraan penuh di hadapan hukum bagi semua warga masyarakat, terlepas dari agama, ras atau keyakinannya. Al-Azhar juga menentang praktik-praktik kampanye bermasalah yang dilakukan oleh partai-partai Islam, seperti meminta ulama untuk mendukung partai tertentu. Partai-partai ini pun sepakat dengan otoritas al-Azhar, dan secara terbuka mengubah praktik-praktik kampanye mereka sekalipun sebagian praktik ini masih berlanjut diam-diam.

Penanaman dan penguatan nilai-nilai demokrasi membutuhkan legitimasi yang hanya bisa diberikan oleh mereka yang telah terus memainkan peran bersejarah ini dalam masyarakat Mesir, yaitu para ulama al-Azhar.

Karenanya, amatlah penting bagi kepentingan-kepentingan jangka panjang AS di Mesir dan kawasan Timur Tengah Afrika Utara, untuk tidak saja menjadi lebih sadar akan keberadaan lembaga-lembaga seperti al-Azhar, namun juga bekerjasama dengan mereka. Hubungan ini bisa mengambil banyak bentuk, seperti beasiswa bagi para lulusan terbaik al-Azhar - yang merepresentasikan para pemimpin agama dan intelektual masa depan dunia Arab - ke universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat; kerjasama penelitian dan penerjemahan buku-buku Barat dan Islam yang berpengaruh; dan pada akhirnya membuka cabang Universitas al-Azhar di Amerika Serikat sendiri.

Jika nasib peradaban Islam dan Barat saling terkait, bekerjasama dengan lembaga-lembaga Muslim arus utama seperti al-Azhar sangatlah menjanjikan untuk mencapai saling pengertian dan kerjasama global.

###

* Waleed El-Ansary adalah Ketua Program Kajian Islam di Xavier University, Cincinnati, Ohio. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Juli 2012, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.

dilihat : 346 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution