Minggu, 16 Desember 2018 08:32:42 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 100
Total pengunjung : 450927
Hits hari ini : 640
Total hits : 4153825
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kristen Menggugat Penodaan Agama Untuk Pertama Kalinya, Tapi Sayang Targetnya Salah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 17 Maret 2012 00:20:14
Kristen Menggugat Penodaan Agama Untuk Pertama Kalinya, Tapi Sayang Targetnya Salah
Umat kristiani di Indonesia mengalami deraan yang sangat banyak sebagai kaum marjinalitas. Pada tahun 2011 Setara Institute (Narwastu Edisi Februai 2012 No 22)mencatat 244 kasus pelanggaran kebebasan beragama yang 198-nya adalah kasus terhadap umat Kristen. Mulai dari tindakan penutupan gereja dengan paksa, pembakaran gereja, pembunuhan pendeta, pelarangan beribadah, pelecehan simbol-simbol kristen, diskriminasi jabatan dan banyak lagi. Hingga kasus yang yang masih hangat STT Setia dan GKI Yasmin yang memperlihatkan betapa lemahnya hukum di Indonesia dalam melindungi umat Kristiani. Sampai saat ini umat Kristiani dengan berazaskan kasih melayangkan keberatan dan permohonan untuk meninjau kembali azas toleransi beragama di Indonesia. Namun belum ada satupun kasus yang digugatkan ke pengadilan sampai terjadinya kasus GKI Yasmin. Dengan cukup berani GKI Yasmin menempuh jalur hukum hingga ke Mahkamah Agung, namun meskipun telah dikabulkan permohonannya tetap saja pemerintah setempat tidak menurut pada keputusan peradilan. GKI Yasmin harus pindah ke tempat yang sudah ditunjuk oleh pemerintah. Bahkan umat kristiani yang lain tampaknya setuju dengan keputusan ini daripada harus ribut dengan perintah, mereka malah menyalahkan GKI Yasmin yang tidak mau pindah ke tempat baru. Umat Kristen tidak sadar bahwa haknya secara hukum tidak ada, umat Kristen bahkan tidak punya hak untuk mengklaim semua hak beragamanya. Apakah pemerintah daerah diperbolehkan mengabaikan perintah Mahkamah Agung? Tentunya MA sebagai lembaga putusannya adalah mutlak. Meski sedih melihat potret hak azasi kekristenan di Indonesia, tapi ada rasa bangga bahwa Kristen berani menggugat untuk pertama kalinya.

Apakah umat Kristen bisa meng-klaim hak menggugat karena agamanya dinodai?

Gereja dihina, ditutup karena berdampingan dengan umat agama lain yang tidak toleran, buku-buku kristologi dengan bebas menjelek-jelekkan Yesus, Alkitab dkritisi dibandingkan dengan kitab agama lain dan seolah-olah umat kristen memakai buku pengajaran sesat, Alkitab isinya dicampur baurkan dengan sejarah umat agama lain. Ibadah rumah dilarang karena kekuatiran pemuridan menjadi permutadan. Dari semua kasus yang menimpa umat kristen hampir semua hanya ditanggapi dengan keberatan dari para tokoh kristen dan tidak ada gugatan yang mempidanakan seseorang. Pernahkah anda mendengar seorang umat lain didakwa telah menodai agama Kristen? Tapi banyak kali kita dengar sebaliknya pada agama lain? Apakah umat kristen tidak punya hak untuk mengatakan dirinya telah dijelek-jelekan, telah dinodai, telah dilecehkan? Beranikah pemerintah menahan seseorang yang tertuduh telah menodai agama Kristen, merusak rumah ibadah, menghalang-halangi ijin beribadah umat kristen? Sejak SKB 2 Menteri (Mentri Agama dan Mentri Luar Negeri) No. 1 tahun 1969, hak meng-klaim umat kristen telah terpangkas. SKB 2 menteri ini telah membuat Umat Kristen menjadi umat elite yang tidak punya hak terhadap payung perundangan.

Gugatan Kristen yang salah kaprah

Ada kasus yang sangat unik di kota Bandung pada akhir tahun 2011, yaitu seorang Ibu rumah tangga kristen telah berani untuk pertama kalinya mengklaim haknya atas terjadinya penodaan agama Kristen. Ia menuntut keadilan bahwa ajaran kristen telah dinodai oleh ajaran-ajaran sesat yang ia dengar dari rekaman khotbah Ibu Gembalanya. Memang diakui bahwa suatu langkah maju seorang Kristen berani mengklaim hak ini, meski disayangkan targetnya adalah orang Kristen lagi. Kasus ini sedang berjalan di Pengadilan Negeri Bandung. Seandainya Ibu Indrawati, nama dari ibu itu, sebagai pendakwa memenangkan kasus ini, mungkin era baru kehidupan kristen dimulai. Kristen mulai berani menggugat semua unsur yang berusaha menodai dan melecehkan ajaran kekristenan. Namun kalau bisa potensi dan keberanian ini tidak ditargetkan kepada saudara-saudaranya sendiri. Ini namanya salah target. Banyak kasus yang dengan jelas-jelas memperlihatkan umat Kristen tidak memiliki hak beribadah yang sama di negara ini. Mengapa umat kristen tidak menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah ini. Sia-sia keberanian itu jika digunakan untuk menjegal sesama umat kristen. Bukankah ada peribahasa di daerah Jawa Barat mengatakan "Saguru Sailmu jangan saling menjatuhkan".
Secara nasional mungkin ini satu-satunya kasus orang Kristen mengangkat pasal pidana 156a tentang penodaan agama. Belum pernah sepanjang sejarah Indonesia, umat Kristen mempergunakan pasal ini.

Pasal Pidana 156a tentang penodaan agama adalah pasal karet yang sering digunakan oleh umat agama lain jika kaidah-kaidahnya terlecehkan dan ternodai. Gebrakan baru dalam kekristenan, namun sayang gugatan ini benar-benar salah kaprah dan membuat umat kristen di Indonesia menjadi sedih dan kecewa. Bahkan beberapa pihak mengolok-ngolok kebodohan dari mantan jemaat GBT Lengkong Besar 9 Bandung ini. Mereka tidak habis pikir mengapa 'Jeruk makan jeruk' padahal pasal 156a ini sepertinya dirancang untuk pelanggaran toleransi terhadap umat agama lain.

Apakah dengan diangkatnya pasal ini akan menjadi batu loncatan atau bahkan jadi batu sandungan bagi pergerakan Kristen secara Nasional?

Melihat karakter umat kristen yang tidak berani frontal, tampaknya setelah gugatan penodaan agama yang salah kaprah ini tidak akan berlanjut ke gugatan dengan target yang benar. Berangkat dari kasus ini, beranikah umat Kristen untuk mengklaim haknya dan menggugat pemerintah bahwa hak beragamanya telah dilanggar. Mungkin yang ada malah 'Jeruk makan jeruk' lagi. Umat kristen beraninya mendakwa pendetanya karena kasus sepele atau mendakwa dengan kasus yang dilebih-lebihkan seperti kasus perzinahan dari kecemburuan semata, penodaaan agama sebenarnya karena anak terlalu sibuk di gereja, pencucian otak karena para pemuda terlalu aktif di persekutuan, penggelapan uang pembangunan gereja karena pendetanya terlihat kaya.
Apakah memang umat kristen beraninya hanya sama saudara sendiri? Tidakkah ia berani berkorban menuntut hak umatnya? Bukankah agama Kristen didasari oleh heroik pengorbanan dari Yesus dan beberapa tokoh orang-orang suci?

Umat Kristen adalah Warganegara di Bumi sebelum jadi Warga Negara di Surga

Mau dibawa kemana umat ini, jika umat kristen tidak berani menjadi martir tetapi berani menjadi hakim atas saudaranya sendiri. Pernahkan umat kristen berpikir kalau ia harus berguna bagi bangsa, negara dan umat kristen lain. Atau kata berbangsa dan bernegara ini sudah tidak pernah dimunculkan dalam khotbah-khotbah gereja.Yang muncul hanya khotbah-khotbah penghiburan dan menjadi masyarakat suci yang tidak peduli sebagai warganegara. Mungkin berlebihan kalau bicara umat kristen sebagai warga negara. Mari kita mulai apakah umat kristen menyadari dirinya sebagai umat kristen? Maksudnya saat terjadi seorang Pendeta difitnah dengan tuduhan penodaan agama dan gerejanya mau dikudeta, apakah umat kristen lain peduli untuk mencari kebenaran? Atau lebih percaya dan senang mengguncingkan negatifnya. Langsung memvonis bahwa pendeta itu telah menodai agama tanpa proporsional dalam mengkaji fakta dan datanya seperti pada kasus Pdt. Hadassah Werner (GBT Lengkong Besar 9 Bandung). Jika umat kristen bahkan tokoh-tokoh agama kristen lebih senang membahas berita negatif tanpa mencari solusi positif maka umat kristen akan terus menjadi masyarakat tanpa hak beragama. Atau ektrimnya umat dan tokoh agama kristen ini tidak peduli dengan kondisi gereja lain dan kondisi kekristenan secara nasional yang penting gerejanya aman. Maka jadilah seperti sekarang umat kristen dengan 320 denominasi tetapi tidak pernah satu pun memiliki kepedulian pada masalah-masalah ekistensi kekristenan di negara ini. kita perlu mawas diri dan dengan rendah hati serta tulus kita harus mengakui bahwa umat kristiani Indonesia masih mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan :
Didalam kehidupan sesama anggota tubuh Kristus, umat kristiani Indonesia terpecah belah dalam beberapa denominasi dan tidak bersatu didalam satu kesatuan visi dan misi.
Didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, umat kristiani Indonesia kadang-kadang-kadang hidup eksklusif, arogan, mementingkan diri sendiri, tidak mau berkorban, melayani dan memberi sesuatu yang terbaik sesama warga negara yang masih kekurangan
.
Didalam kehidupan antar umat beragama dan hidup keagamaan, umat kristiani Indonesia kadang-kadang kurang peka dan kurang terbuka.



sumber:
http://gbt-lengkongbesar.blogspot.com/2012/03/kristen-menggugat-untuk-pertama-kalinya.html

dilihat : 473 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution