Selasa, 18 Desember 2018 15:25:05 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 267
Total pengunjung : 451698
Hits hari ini : 1291
Total hits : 4159355
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Hubungan negara-masjid di Eropa, bagian lain dari cerita






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 19 Februari 2012 16:26:49
Hubungan negara-masjid di Eropa, bagian lain dari cerita
oleh Jonathan Laurence

Chestnut Hill, Massachusetts – Hanya satu persen dari 1,5 milyar umat Muslim yang tinggal di Eropa Barat, namun minoritas ini memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap agama dan politik di sana. Hanya dalam lima puluh tahun, populasi Muslim menggelembung dari sekitar belasan ribu menjadi 16 atau 17 juta pada 2010 – kira-kira satu dari 25 orang Eropa Barat.

Pada satu sisi, warga asli Eropa semakin yakin bahwa Islam, yang pernah dibiarkan berkembang tidak terkendali di Eropa pascaperang, harus dihentikan. Mereka yang berpandangan demikian mendesak agar orang Eropa bangun dari tidurnya dan menggagalkan “Eurabia” (Arabisasi Eropa). Di kubu lain, sebagian tokoh masyarakat Muslim memandang bahwa pemerintah negara-negara Eropa bersikap represif dan intoleran terhadap keragaman.

Kedua narasi ini sama-sama tidak akurat dan mengabaikan tren umum yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Orang Eropa dan Muslim telah berhasil bernegosiasi dan beradaptasi satu sama lain selama sepuluh tahun terakhir. Ini ditunjukkan oleh beberapa momen pembangunan-bangsa yang krusial. Dalam wilayah keduniawian namun sangat penting bagi integrasi keagamaan – seperti pembangunan masjid, pelatihan imam dan ustaz, ketersediaan makanan halal dan visa untuk haji – komunitas Muslim dan pemerintah Eropa telah mulai berbicara dan bertindak bersama-sama.

Bandingkan hal ini dengan 10 atau 15 tahun yang lalu, ketika Islam masih tidak dikenal sebagai isu kebijakan domestik oleh para politisi dan pejabat Eropa. Masalah-masalah agama dulu menjadi wewenang para pejabat imigrasi dan diplomat — bukan parlemen dan kementerian dalam negeri. Organisasi komunitas Islam di kota-kota Eropa dulu juga mencerminkan keadaan ini; sangat tidak mengakar secara organik dalam budaya dan politik Eropa, dan masih didominasi oleh pemerintah asing dan LSM internasional.

Lanskap baru tengah terbentuk di mana para tokoh Muslim semakin mendapat tempat di masyarakat dan lembaga-lembaga di negara mereka. Sebuah konsensus politik baru – juga praksis administratif – tengah terbentuk, yang mencerminkan meluasnya pengakuan pragmatis akan kehadiran Muslim di Eropa.

Dari pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an merupakan masa pertumbuhan signifikan hubungan antara negara dan Islam di Eropa. Ilustrasi paling menonjol dari langkah Eropa menuju integrasi Islam adalah berkembangnya lembaga-lembaga konsul nasional yang memiliki ruang untuk sembahyang serta organisasi-organisasi masyarakat sipil. Pemerintah-pemerintah tidak lagi secara ad hoc menanggapi berbagai masalah yang dihadapi komunitas Muslim dan kelompok-kelompok kerja dalam kementerian pada dasawarsa-dasawarsa silam, dan berlangsunglah pembangunan institusi bergaya korporat dan pendirian berbagai lembaga untuk menegosiasikan hubungan “negara dan masjid”.

Di seantero Eropa, puncak dari pengakuan institusional dan domestikasi mewujud pada munculnya badan-badan Islam. Lembaga-lembaga seperti Dewan Prancis Iman Muslim, Dewan Islam Spanyol, Konferensi Islam Jerman, dan Komite Islam Italia membantu menyelesaikan isu-isu praktikal tentang infrastruktur keagamaan – mulai dari menciptakan tempat bagi para imam dan ustaz di institusi-institusi publik hingga regulasi masjid, pendidikan agama, makanan halal dan visa haji.

Saat realitas baru ini berlanjut, tokoh masyarakat dan imam baru pun muncul. Mereka ini lebih berbaur dengan masyarakat lokal – termasuk Muslim dari semua latar belakang serta non-Muslim – dan lebih mengenal sistem pluralis hubungan negara-agama, norma-norma budaya serta bahasa Eropa. Saat organisasi-organisasi Muslim mengemudikan lembaga-lembaga yang mengatur praktik agama, para ulama bisa menjadi tempat konsultasi serta memberikan sarana yang diperlukan untuk mendorong dialog antaragama dan kerjasama keamanan dengan pejabat setempat.

Organisasi-organisasi dan para pemimpin yang sebelumnya hanya mencari otoritas dan otentisitas Islam dari luar Eropa perlahan juga mendapati lembaga-lembaga rujukan di dalam negeri.

Masih ada banyak yang perlu diperbaiki dalam ruang mediasi baru ini. Namun, perbaikan akan terjadi hanya jika capaian-capaian satu dasawarsa yang lalu tidak ditundukkan pada pesimisme berlebihan dari narasi-narasi negatif tentang masa depan Muslim di Eropa. Jika terus ada perkembangan, kedua “pihak” perlu maju dan berpikir optimis bahwa kenyataannya tidak seburuk yang mereka kira.

###

* Jonathan Laurence (www.jonathanlaurence.net) ialah guru besar madya bidang ilmu politik di Boston College dan peneliti senior non-residen di Brookings Institution. Dia adalah pengarang The Emancipation of Europe’s Muslims: The State’s Role in Minority Integration (2012).

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 17 Februari 2012, www.commongroundnews.org. Telah memperoleh izin publikasi.

dilihat : 416 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution