Minggu, 22 Juli 2018 03:59:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 155
Total pengunjung : 407381
Hits hari ini : 2352
Total hits : 3715291
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pak Katua Berguru kepada Ikan Lele






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 07 Desember 2011 07:34:00
Pak Katua Berguru kepada Ikan Lele
Lelaki itu bernama Tumpal Dorianus Pardede. Tapi umum lebih mengenalnya dengan nama T.D. Pardede. Dia lahir di Balige, Tapanuli Utara, 16 Oktober 1916, dari sebuah keluarga yang taat beragama. Ayah Pardede yang bernama Willem Pardede dan ibu Toing Johanna br Tambunan, adalah orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Diasuhnya Pardede kecil dalam agama Kristen Protestan. Didorongnya Pardede untuk menggapai cita-cita melalui pendidikan dan kerja keras.Diajarinya Pardede kecil untuk juga berkasih-sayang kepada sesama, yang kemudian melahirkan penghormatan kepada sesama tanpa membedakan suku dan agama.

Itulah sebabnya, Pak Katua pernah menegur keras bawahannya saat sedang rapat, mendadak bunyi adzan terdengar, sementara bawahannya yang beragama Islam masih juga berada di ruang rapat, tanpa ada upaya minta izin untuk beribadah terlebih dahulu.

Dari peristiwa ini, Pardede pun berucap, “Janganlah kau lebih takut sama aku daripada sama Tuhanmu.”

Kendati sang ayah wafat saat Pardede baru berusia lima tahun, tapi ingatan Pardede pada cara pengajaran ayahnya terus membekas. Kelak, ketika Pardede telah dewasa, dia bukan saja menjadi pribadi yang tangguh, tetapi juga tetap memelihara kepedulian terhadap sesama. Kasih sayangnya yang besar terhadap para bawahannya, membuatnya bukan sekedar atasan dan bos
yang disegani karena memiliki kekuasaan dan uang, tapi karena dari mulutnya kerap muncul kalimat-kalimat "ajaib" yang seperti jatuh dari langit.

Seperti yang diceritakan putri bungsunya, Indri, pada siang di restoran Hotel Danau Toba, Medan, di awal November 2011 lalu. “Kalau kau melempar batu, lihatlah dia sampai ke tujuan atau tidak? Jika tidak, bertanyalah kenapa. Jika sampai, bagaimana sampainya. Tengkurapkah
atau terlentangkah?”

Ya ya, tiap pekerjaan memang harus selesai. Itulah yang dilakukan Pak Katua selaku manusia, kepala keluarga, dan juga pengusaha. Pardede tahu betul, sejauh apa "batu" (pekerjaan) yang telah dia lakukan, telah sampai pada tujuan yang diingankan atau belum, macam apa posisi 'batu' tujuan itu.

Mendengarkan kisah Indri perihal bapaknya, saya pun bertanya tentang masa kecil Pak Katua. Sebab saya percaya, apa yang dikerjakan dan apa yang diperoleh Pardede di usia tua, tentu bermula dari masa kanak-kanak.

Indri pun kembali berkisah tentang masa kecil ayahnya. Katanya, setelah Tuhan memanggil sang kakek kepangkuan-Nya, keadaan keluarga Pardede seperti kapal oleng, sebab kehilangan nahkoda. Sudah tentu kejadian ini memprihatinkan bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama bagi nenek dan Pardede kecil. Sebab dengan tiadanya ayah, itu berarti ibunda dan anak harus bekerja
lebih keras guna mengatur kehidupan mereka, apalagi si anak menjelang memasuki sekolah menuntut ilmu sebagai modal di hari depan.

Tapi bersyukurlah mereka, karena ipar tertua T.D. Pardede yaitu J. Tambunun selalu menghiburnya dan memberi dorongan kegairahan hidup, antara lain menyampaikan ajaran Kristus serta menceritakan "Ia menderita demi keselamatan manusia."

Bimbingan mental dari iparnya itu ternyata masuk pikiran dan hati T.D.Pardede dan ibundanya, sehingga mereka mampu mengatasi penderitaan batin. Mereka rajin sembahyang ke gereja, di mana hal itu menimbulkan semangat dalam menjalani hidup.

Pada waktu yang sudah memungkinkan ketika umurnya 7 tahun, T.D. Pardede memasuki sekolah desa di Balige. T.D. Pardede amat tekun belajar di sekolah. Di rumah selepas sekolah ia ikut membantu orang tuanya. Karena ketekunannya belajar di sekolah, pada tiap kenaikan kelas ia selalu naik. Sang guru juga menyatakan kesenangannya bahwa Tumpal Dorianus anak rajin dan selalu hormat kepada guru. Walaupun masih kecil Tumpal Dorianus selalu bersih pakaiannya ke sekolah dan bersama teman-temannya ia suka bergaul. Bilamana ada uangnya,ia tidak pelit, mau mempergunakannya bagi kepentingan bersama dengan teman-temannya.

Perihal pakaian bersih dan rapi yang dikenakan Pardede, rupanya terus terbawa hinga dewasa. Indri bercerita, ke manapun ayah pergi, selalu saja rapi. Di mobil juga sudah tersedia beberapa jas, beberapa sepatu dan topi, yang siap dipakai berganti oleh Pak Katua. "Ayah itu selalu mengenakan setelan jas, dasi, topi, serta tongkat," kenang Indri.

Saya sungguh penasaran, kenapakah Pardede memiliki naluri berdagang yang luar biasa. Berlatih atau bersekolah di mana Pak Katua itu dalam soal niaga?

Pertanyaan saya pun terjawab, saat membuka buku Drs Tridah Bangun yang diberikan Indri kepada saya. Inilah kutipan buku itu, "Pada waktu-waktu tertentu dan memungkinkan, ia berjalan-jalan ke pasar dan melihat ramainya orang berseliweran di pekan ini. Ada yang membeli keperluannya, ada pula yang menjual hasil tanaman dan kerajinan tangan. Begitulah kehidupan dalam pasar, sehinggga menarik perhatian si anak kecil Tumpal Dorianus Pardede. Rasa ingin tahunya juga mendorong dirinya untuk melihat-lihat keramaian pasar. Secara tekun ia mengamati apa-apa yang terjadi di sekelilingnya dan di pasar itu sendiri. Lama kelamaan anak ini menaruh minat pada kehidupan di pasar, terutama dalam hal jual beli barang.

Begitu besar minatnya kepada keramaian dan kehidupan pasar di mana orang-orang berdagang, maka yang menjadi minatnya itu disampaikannya kepad ibunda serta ipar tertuanya agar diperkenankan berdagang di pasar secara kecil-kecilan, berjualan apa saja yang dapat dilakukan, untuk mendapat uang setelah selesai jam sekolah.

Ibunda dan ipar tertuanya terkejut mendengar permintaan tersebut, namun demikian mengizinkannya dengan memberi nasihat-nasihat sebagai bekal menempuh sebagian kehidupan di pasar, disamping tugas pokoknya mengikuti pelajaran di sekolah.

Demikianlah yang menjadi kehendak sang anak, terpenuhi. Dengan modal kecil-kecilan Pardede berdagang di pasar dan menyesuaikan dengan kemampuannya, baik dalam modal maupun pada
usianya yang masih muda. Hal ini berarti sang anak secara bersamaan sekaligus menuntut tiga macam pelajaran sebagai bekal hidupnya. Pertama: di sekolah menuntut ilmu, kedua: di gereja/sekolah minggu mendapatkan pelajaran hal-hal yang berkenaan dengan keagamaan/Ketuhanan dan ketiga: di pasar mulai belajar berdagang.

Dalam keadan seperti inilah T.D. Pardede yang berusia amat muda mulai belajar mengatur diri, yang di kemudian hari ternyata menjadi bekal pokok hidupnya sebagai salah seorang terkemuka dalam dunia bisnis di kawasan tanah air, Indonesia."

Pardede kecil boleh saja berkubang di pasar bersama para kuli dan pekerja kasar, tapi lingkungan ini tak mampu membuatnya menjadi urakan dan keras. Pardede tetap santun dan memiliki kelembutan, maklumlah, pelajaran dari ayah serta keluarga di rumah ternyata telah menjadi pondasi yang kuat bagi kehidupan Pardede selanjutnya.

Mengenangkan kekukuhan Pardede kecil dalam bersikap, ingat pula awak akan kalimat bijak Pak Katua. “Hiduplah seperti dekke lele (ikan lele), yang walau hidup dalam lumpur badannya tidak kotor dan berlumpur.” (MWP)



sumber:
http://oase.kompas.com/read/2011/12/06/12465830/Pak.Katua.Berguru.kepada.Ikan.Lele

dilihat : 536 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution