Minggu, 16 Desember 2018 13:51:00 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 150
Total pengunjung : 450980
Hits hari ini : 1152
Total hits : 4154337
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Apakah Yesus Seorang Liberal?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 25 November 2011 15:02:31
Apakah Yesus Seorang Liberal?
Tulisan ini merupakan telaah kritis terhadap penggenapan syarat-syarat kenabian Yesus menurut Perjanjian Baru. Ditulis oleh Rakeeman R.A.M. Jumaan (Dosen Perbandingan Agama dan Bahasa Ibrani Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor) sebagai bagian dari rangkaian tulisan untuk membantu para pembaca www.pustakalewi.net memahami bagaimana Ahmadiyah memandang sosok Yesus.


Apakah Yesus Seorang Liberal?

Telaah Kritis Terhadap Kebebasan Cara Berfikir Yesus Dalam Menafsirkan Teks-teks Taurat yang Menjadi Batu Sandungan Bagi Ahli-ahli Taurat, Orang-orang Farisi dan Saduki

Oleh:
Rakeeman R.A.M. Jumaan
Dosen Perbandingan Agama dan Bahasa Ibrani Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor


Pendahuluan
Sosok Yesus menjadi sangat menarik untuk dikaji, mengingat gambaran tentang kehidupan dan misinya ditafsirkan berbeda oleh tiga agama besar di dunia: Yahudi, Kristen dan Islam. Di satu sisi, orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Yesus, na’udzubillah, adalah seorang nabi palsu (Ul. 21:22-23; Gal. 3:13). Sebab menurut mereka, Yesus telah mati dihukum di atas salib yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang terkutuk. Sedangkan pada pihak lain, orang-orang Kristen dengan ekstrim telah mengangkat dan menempatkannya dalam posisi sebagai “Anak Tuhan”, bahkan “Tuhan” itu sendiri. Alasannya, hanya Tuhan saja yang dapat mengalahkan “kematian”. Agama yang terakhir, yaitu Islam, menempatkan beliau hanya sebagai seorang nabi yang benar, bukan nabi palsu apalagi “Tuhan”.

Mengapa orang-orang Yahudi, terutama para ulamanya mengatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi palsu? Alasannya sangat jelas, menurut para ulama Farisi dan Saduki, Yesus tidak mentaati hukum Taurat dan Kitab Nabi-nabi. Di antara hukum Taurat yang dilanggar oleh Yesus itu menurut mereka adalah tentang menghormati hari Sabat dan makanan halal-haram (Mrk. 7:19; Yoh. 5:18; 7:19-24). Bahkan yang lebih berat, Yesus juga menyebut ALLAH sebagai bapaknya, yang menurut orang-orang Yahudi berarti menghujat Tuhan (Yoh. 5:18; 10:30-33).

Konsekuensinya, bila kedua hukum ini telah dilanggar oleh Yesus, bagaimana mungkin ia seorang ”nabi” apalagi seorang ”nabi yang benar”? Apalagi bagi umat Yahudi, pintu kenabian telah tertutup setelah Musa (Ul. 34:10). Oleh karena itu, tidak ada nabi jenis apa pun yang akan datang setelah Musa. Begitu juga berkenaan dengan wahyu Ilahi, orang-orang Yahudi telah menolaknya bahkan mengatakan bahwa firman Ilahi hanyalah beban. Menurut mereka, wahyu Tuhan pun telah terputus. Tidak ada wahyu jenis apa pun yang akan diturunkan Tuhan setelah Musa.

Untuk memperbaiki kekeliruan dan kerusakan paham ini, Tuhan telah mengutus Yesus. Sayangnya, meski berkali-kali mendakwakan bahwa tujuan kedatangan dan ajarannya tidak bertentangan atau tidak akan menghapuskan hukum Taurat dan Kitab Nabi-nabi bahkan untuk menggenapinya, tetap saja orang-orang Yahudi tidak percaya (Mat. 5:17). Bagi mereka, hukum Taurat telah sempurna dan tidak perlu seorang nabi atau wahyu diturunkan lagi. Apalagi seorang nabi yang berasal dari Nazareth di Galilea (Yoh. 7:41-42, 52), sebuah daerah terpencil yang jauh dari keramaian. Kalaupun nabi itu memang harus datang, kenapa tidak dari Betlehem atau Yerusalem?

Kemunculan Yesus di Tengah-Tengah Masyarakatnya
Membaca sejarah perjalanan hidup Yesus, kita akan dibuat menjadi terheran-heran. Betapa sosok tokoh yang disanjung-sanjung oleh jutaan bahkan miliaran umat manusia tersebut tidak memiliki sejarah pada masa-masa mudanya. Setelah dilahirkan oleh dara suci Maria (Mat. 1:18-25; Luk. 2:1-7) hingga berusia 12 tahun, kehidupan Yesus memang diceritakan oleh Injil (Luk. 2:41-52). Akan tetapi sesudah itu hingga usia 30 tahun, sejarah Yesus hilang sama sekali. Tidak ada satu catatan pun dari keempat penulis Injil yang mengetahui dan menuliskan dalam karangannya. Jadi, selama sekitar 18 tahun Yesus tidak pernah menampakan diri di tengah-tengah masyarakat sebangsanya.

Hanya penulis Injil Matius menulis tiga perikopa yang menceritakan tentang masa kanak-kanak Yesus (Mat. 2:13-15; 2:16-18 dan 2:19-23). Di dalamnya diceritakan, bahwa dikarenakan Herodes khawatir akan kekuasaannya yang mungkin bisa runtuh karena kedatangan Yesus yang dianggap oleh orang Majus ia akan menjadi Raja Yahudi, maka ia berniat membunuh bayi Yesus. Hal ini menyebabkan Yusuf membawa Yesus beserta ibunya pindah ke Mesir. Karena yang dicari tidak diketemukan, akhirnya Herodes memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh semua anak-anak kecil yang berusia dua tahun ke bawah. Agaknya ia berharap, di antara anak-anak yang dibunuh tidak terkecuali terdapat Yesus. Sayang, ia tidak tahu bahwa Yesus telah dibawa oleh Yusuf --atas perintah malaikat— untuk hijrah ke Mesir. Barulah setelah Herodes mati, mereka bertiga dapat kembali lagi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.

Sayang sekali, kisah penyingkiran Yesus ke Mesir hanya terdapat di dalam Injil Matius, sedangkan ketiga Injil lainnya –Markus, Lukas dan Yohanes— sama sekali tidak pernah menyebutkannya alias bungkam seribu bahasa. Setelah kemunculan Yesus yang pertama dalam usia 12 tahun (Luk. 2:41-52) ia menghilang selama 18 tahun kemudian dan baru muncul kembali ketika “ia berumur kira-kira 30 tahun” (Luk. 3:23). Sebelum memulai misinya, menurut para penulis Injil, Yesus terlebih dahulu dicobai oleh Iblis di padang gurun (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12-12; Luk. 4:1-13). Ujian yang diterima Yesus di sana, pada hakikatnya adalah persiapan untuk menjadi seorang penyampai risalah (nabi).

Apabila keberadaan Yesus di padang gurun ini dikaji lebih mendalam, akan terbukti bahwa sebenarnya di sanalah Yesus menuntut ilmu. Boleh jadi, selama beberapa tahun menghilang dari keramaian sebenarnya Yesus tengah menuntut ilmu. Tempatnya tidak lain, di padang gurun itu. Karena sebagaimana Yohanes muncul di dan dari padang gurun (Mat. 3:1-6), Yesus pun selama beberapa waktu mengasingkan diri (khalwat/tahanuts) di sana. Tujuannya adalah sama, mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai persiapan untuk menerima risalah pengangkatan sebagai utusan-Nya. Setelah Yesus diangkat sebagai utusan Tuhan, barulah ia menyampaikan ajaran-ajaran tersebut kepada masyarakat.

Masyarakat yang mengetahui asal-usul Yesus menjadi heran dari mana ia memperoleh semua hikmat dan mukjizat yang disampaikan kepada mereka: “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” (Yoh. 7:15). “Dari manakah diperolehnya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibunya bernama Maria dan saudara-saudaranya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudaranya perempuan ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehnya semuanya itu?” (Mat. 13:57). Lalu mereka kecewa dan menolak Yesus. Bahkan, saudara-saudaranya sendiri pun tidak percaya bahwa ia seorang nabi (Yoh. 7:5), sehingga melalui permisalan Yesus mengatakan hal ini (Mat. 12:46-50; Mrk. 3:31-35; Luk. 8:19-21).

Padahal, apabila diperhatikan lebih seksama pada awal kehidupan Yesus, ternyata ia “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padanya” (Luk. 2:40). Artinya, Tuhan sendiri yang mengajar Yesus, sehingga dengan hikmat tersebut ia dapat menjawab dan bertukarpikiran dengan para alim-ulama Yahudi. Hal ini terbukti ketika Yesus masih berusia 12 tahun, ia bersoal-jawab dengan alim-ulama Yahudi di Yerusalem. “Sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar dia sangat heran akan kecerdasannya dan segala jawab yang diberikannya” (Luk. 2:47).

Sebagai seorang Yahudi, Yesus pun disunat dan ditahirkan (Luk. 2:21-22) sesuai dengan hukum Musa (Im. 12:6-8). Yesus juga dibawa ke Yerusalem untuk menghadiri perayaan hari Paskah (Luk. 2:41-42 jo Kel. 12:1-27; Ul. 16:1-8). Menurut Yesus, hal ini karena ”demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak ALLAH” (Mat. 3:15). Karena itu Yesus mengingatkan murid-muridnya, ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Tujuannya adalah agar murid-murid Yesus menjadi sempurna, ”sama seperti bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).

Yesus Mengkritisi Hukum Taurat
Dalam Injilnya, Matius menulis sebuah perikopa tentang ”Yesus dan hukum Taurat” (Mat. 5:17-48). Perikopa ini sangat menarik karena menggambarkan bagaimana pandangan Yesus terhadap Taurat. Dengan melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, walaupun yang sekecil-kecilnya, mereka --para murid Yesus-- itu akan menduduki tempat yang tinggi di sisi Tuhan (Mat. 5:19). Namun, hendaknya hidup keagamaan mereka harus melebihi hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat. 5:20). Alasannya, menurut Yesus, ”mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (Mat. 23:3). Murid-murid juga harus waspada terhadap ”ragi orang Farisi dan Saduki”, yaitu ajaran orang Farisi dan Saduki (Mat. 16:5-12). Di antara ”ragi” mereka adalah ”mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya, mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang, mereka suka duduk di tempat yang terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan dalam rumah ibadat, mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil rabi” (Mat. 23:1-7). Tepatlah apabila Yesus mengutip nubuat nabi Yesaya as: ”Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Yes. 29:13 jo Mat. 15:8-9; Mrk. 7:6-7).

Sungguh mengherankan, dari keempat penulis Injil hanya Matius yang menuliskan bagaimana pandangan Yesus terhadap hukum Taurat. Dengan sangat terbuka Matius mengutip nats-nats Taurat yang dikritisi oleh Yesus. Setidaknya ada enam tempat dimana Yesus dikatakan telah mengutip nats-nats Taurat. Keenam tempat itu adalah Matius pasal 5 ayat 21, 31, 33, 38 dan 43. Nats-nats Taurat tersebut dikutip dari kitab Bilangan, Keluaran, Imamat dan Ulangan. Tidak ada satu pun yang dikutip dari kitab Kejadian, padahal kitab ini juga termasuk ke dalam Taurat (Pentateuch) yang dikatakan telah ditulis oleh nabi Musa as. Perlu diketahui, yang dimaksud dengan Taurat menurut orang-orang Kristen adalah ”pengajaran oleh ALLAH” yang diterapkan pada Kesepuluh Hukum (Kel. 20:1-17; Ul. 5:1-21), kemudian pada segala hukum dan peraturan dari Tuhan, khususnya pada kelima kitab Musa atau kitab Taurat.

Di antara ajaran Taurat yang Yesus kritisi adalah tentang hukum membunuh dan berzinah. Taurat mengatakan: Jangan membunuh (Kel. 20:13; Ul. 5:17). Yesus memberikan kritikan: Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala (Mat. 5: 22). Taurat juga mengatakan: Jangan berzinah (Kel. 20:14; Ul. 5:18). Tetapi Yesus menegaskan: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Mat. 5:28).

Perkataan Yesus ini mengherankan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sebab dalam pemahaman mereka, hukuman mati adalah balasan bagi yang melakukan pembunuhan (Kel. 20:12) sedangkan hukuman rajam hingga mati merupakan balasan bagi orang yang kedapatan berzinah (Im. 20:10; Ul. 22:22-24). Apabila hanya karena alasan marah orang bisa dikenakan hukuman mati atau karena memandang perempuan dan menginginkannya sudah termasuk ke dalam zinah sehingga ia pantas dikenai hukum rajam hingga mati pula, maka betapa beratnya hukum ini. Sudah pasti mereka tidak akan dapat menanggungnya. Oleh karena itu, untuk menghindari hukum ini mereka membuat helah bahwa Yesus telah merubah hukum Taurat. Bahkan, banyak dari murid-murid Yesus sendiri mengatakan, ”Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60).

Padahal, dengan berkata demikian Yesus bermaksud menasihati murid-muridnya agar lebih berhati-hati dalam hidup keagamaan mereka (Mat. 5:20). Yesus mengatakan, ”Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan pengorbanan” (Mat. 9:13). Senada dengan itu, Yesus juga pernah mengecam orang-orang munafik yaitu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang lebih mementingkan ibadah lahiriah sedangkan hakikatnya mereka lupakan: ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dari hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” (Mat. 23:23-24).

Yang lebih mengherankan mereka, dalam perbuatan Yesus sendiri ternyata ia dianggap banyak menyimpang dari hukum Taurat. Padahal Yesus berkata: ”Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 5:17).

Ulama Farisi dan Saduki Berusaha Menjebak Yesus
Farisi adalah suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh. Mereka berpegang pada ”adat-istiadat nenek moyang” (Mat. 15:2). Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak. Sedangkan Saduki adalah suatu golongan pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat-istiadat yang ditambahkan kemudian. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan dan adanya malaikat. Terhadap kebudayaan Yunani golongan ini sangat terbuka. Kedua golongan ini berupaya menjebak Yesus agar mereka memiliki suatu alasan dan bukti bahwa Yesus bukanlah seorang nabi yang benar, bahkan seorang yang menentang dan bermaksud menghapus hukum Taurat.

Sejak awal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sangat membenci Yesus disebabkan mereka mengetahui bahwa Yesus selalu mengecam mereka. Dalam suatu kesempatan, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”orang mati yang menguburkan orang mati mereka” (Mat. 8:22). Dalam kesempatan lain, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”orang buta yang menuntun orang buta” (Mat. 15:14). Ketika Yesus mengatakan bahwa ia datang untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta, orang-orang Farisi pun mengerti, bahwa menurut Yesus mereka juga termasuk orang yang buta (Yoh. 10:39-41). Dalam kesempatan lain lagi, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”angkatan yang jahat dan tidak setia” (Mat.12:39). Bahkan lebih keras dari itu, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”anak-anak Iblis” (Yoh. 8:44) dan ”ular-ular” atau ”keturunan ular beludak” (Mat. 23:33).

Orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus telah melanggar hukum Taurat. Tuduhan yang pertama adalah bahwa Yesus tidak menghormati hari Sabat, yaitu ketika murid-murid Yesus melintasi ladang gandum, mereka memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat (Mat. 12:1-8). Padahal, menurut orang-orang Farisi, hari Sabat adalah hari yang kudus. Pada hari itu tidak boleh melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka yang melanggar hukumannya adalah mati (Kel. 35:1-3). Namun apa jawaban Yesus? Ia mengatakan bahwa Daud pun pernah melakukan hal serupa, ketika ia dan yang mengikutinya merasa lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah ALLAH dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam (Mat. 12:3-4 jo 1Sam. 21:1-6). Begitu juga imam-imam melanggar kekudusan hari Sabat dengan mempersembahkan korban bakaran di dalam Bait ALLAH (Mat. 12:5 jo Bil. 28:9-10).

Apabila murid-murid Yesus dipersalahkan karena hal memetik bulir gandum pada hari Sabat, mengapa Daud beserta para pengikutnya dan imam-imam tersebut tidak dipersalahkan? Padahal, murid-murid memetik gandum dengan tangan adalah sesuai dan diperbolehkan menurut hukum Taurat, meskipun ladang gandum itu bukan milik mereka (Ul. 23:25). Bahkan orang-orang Farisi sendiri kadang-kadang menyunat anak yang berusia delapan hari pada hari Sabat demi melaksanakan hukum Taurat (Yoh. 7:22 jo Ul. 7:10; Im. 12:3). Bayangkan saja, apabila ada anak yang lahir pada hari Sabtu, maka hari ketika ia disunat sesuai hukum Musa adalah pada hari Sabtu berikutnya (Sabat). Padahal mereka tahu, hal ini juga menentang hukum Taurat itu sendiri. Jadi untuk melaksanakan hukum Taurat yang satu, mereka juga terkadang menentang hukum Taurat yang lain! Sedangkan menurut Yesus: ”Bapaku bekerja sampai sekarang, maka aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17).

Tuduhan yang kedua adalah bahwa murid-murid Yesus telah melanggar adat-istiadat nenek moyang mereka karena tidak membasuh tangan sebelum makan (Mat. 15:1-2). Lalu apa jawab Yesus? Ia mengatakan, bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu pun telah melanggar perintah ALLAH demi adat-istiadat nenek moyang. Mereka telah melanggar hukum Taurat tentang menghormati kedua orang tua (Kel. 20:12, 21:17; Im. 20:9; Ul. 5:16). Sedangkan mereka berdalih bahwa karena segala sesuatu sudah habis untuk persembahan kepada ALLAH, maka mereka mengatakan tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya (Mat. 15:5-6). Yesus juga mengatakan, ”Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:11). Maksudnya, makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat (Mat. 15:18-20).

Tuduhan yang ketiga adalah tuduhan yang sangat berat terhadap Yesus. Menurut orang-orang Yahudi, karena Yesus telah menghujat ALLAH (Luk. 22:70; Yoh. 10:30) maka hukumannya adalah rajam (Im. 24:16). Ketika Yesus menanyakan atas perbuatan apakah ia dikatakan telah menghujat Tuhan, mereka menjawab: ”Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat ALLAH dan karena engkau, sekalipun manusia saja, menyamakan dirimu dengan ALLAH” (Yoh. 10:33). Namun, apa jawab Yesus? Yesus berkata: ”Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ALLAH? Jikalau mereka kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ALLAH –sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat ALLAH! Karena aku telah berkata: Aku Anak ALLAH?” (Yoh. 10:34-36).

Jadi, Yesus beralasan, kalau kepada nabi-nabi yang lain bisa disebut sebagai ALLAH (Mzm. 82:6), mengapa ia tidak boleh menyebut dirinya ”anak ALLAH”? Terhadap nabi Musa, bahkan Tuhan sendiri mengatakan bahwa ia adalah ”ALLAH” (Kel. 7:1). Mengapa mereka tidak mengatakan bahwa Musa juga patut dihukum rajam? Dengan demikian, Yesus mengemukakan kepada mereka, bahwa kedudukannya lebih rendah dari pada Musa. Sebab ia hanya menggenapi hukum Taurat (Mat. 5:17). Bukankah kedudukan ”Anak ALLAH” lebih rendah dari pada kedudukan ”ALLAH” sendiri?

Pengikut Herodes (Herodian) Berusaha MenjebakYesus
Herodian adalah anggota-anggota suatu partai Yahudi yang menghendaki keturunan Herodes Agung memerintah atas mereka dan bukannya gubernur Romawi (Mat. 22:16). Herodes Agung adalah raja atas seluruh tanah Palestina (37-4 sM). Dialah yang membunuh bayi-bayi laki-laki di Betlehem (Mat. 2; Luk. 1:5). Sebagaimana orang-orang Farisi dan Saduki tengah menanti-nanti kedatangan seorang Juru Selamat yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, orang-orang Herodian pun sama menghendaki agar Yesus memperlihatkan identitas yang jelas: apakah ia membawa Kerajaan Dunia? Apakah ia juga berjuang secara lahiriah?

Mereka berharap, dengan jawaban itu segala masalah menjadi jelas. Bahkan, dengan jawaban itu juga mereka berharap bisa menjerat Yesus ke pengadilan pemerintah Romawi. Inilah yang dikehendaki oleh orang-orang Farisi, setelah mereka gagal menjerat dan membuktikan bahwa Yesus telah melanggar ajaran dan hukum Taurat. Dari masalah agama, akhirnya mereka beralih ke masalah politik. Mereka mengatakan bahwa Yesus akan memberontak dan mengangkat diri menjadi raja orang Yahudi (Yoh. 18:33-35; 19:15).

Meskipun Yesus membenarkan bahwa ia seorang raja, tetapi ia menyatakan bahwa hanyalah seorang raja dari sebuah kerajaan rohani. ”Kerajaanku bukan dari dunia ini; jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, tetapi kerajaanku bukan dari sini” (Yoh. 18:36). Inilah penjelasan yang menyebabkan Pilatus membebaskan Yesus dari tuduhan bahwa ia akan memberontak. Secara politis, Pilatus tidak mendapati kesalahan apa pun padanya. Pilatus sendiri paham, bahwa imam-imam Yahudi telah menyerahkan Yesus karena dengki (Mrk. 15:10). Orang-orang Yahudi pun tidak punya alasan untuk menghukum Yesus secara politis selain alasan keagamaan bahwa ia telah menghujat Tuhan dan bahwa hukumannya adalah hukuman mati (Yoh. 19:7). Sedangkan pemerintah Romawi tidak mengakui hukum semacam itu. Oleh sebab itu, Pilatus juga menyuruh mereka menghakimi menurut hukum Taurat saja. Tetapi mereka beralasan bahwa ”kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang” (Yoh. 18:31). Artinya, jika mereka membunuh Yesus berdasarkan hukum Taurat, mereka sendiri akan dikenai tindak kriminal menurut hukum Romawi karena telah membunuh seseorang.

Dua peristiwa di bawah ini cukup menjadi bukti bagaimana orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjebak Yesus. Dalam Injil Matius 22:15-22 (lih. juga Mrk. 12:13-17; Luk. 20:20-26) dikisahkan suatu perikopa tentang ”Membayar Pajak kepada Kaisar”. Orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjerat Yesus secara politis dengan mengajukan sebuah pertanyaan: Katakanlah kepada kami pendapatmu, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Maksud mereka, apabila Yesus menjawab: ”Ya, bayarlah pajak!” tentu mereka akan mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus bukanlah Juru Selamat yang mereka tunggu-tunggu. Buktinya, Yesus malah pro pemerintah Romawi yang menjajah mereka. Sedangkan apabila Yesus menjawab: ”Tidak boleh!” tentu mereka tidak akan membayar pajak dengan alasan, Yesus sang Juru Selamat mereka, telah melarang mereka membayar pajak. Itu artinya, Yesus akan dianggap sebagai pemberontak dan orang-orang Farisi dan Herodian punya alasan untuk melaporkan Yesus kepada pemerintah Romawi. Namun apa jawab Yesus? Ia malah meminta mata uang kepada mereka dan menanyakan gambar dan tulisan siapa yang ada di atas koin tersebut. Ketika dijawab bahwa itu adalah gambar dan tulisan Kaisar, Yesus berkata kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada ALLAH apa yang wajib kamu berikan kepada ALLAH.” (Mat. 22:19-22). Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus, lalu pergi. Jadi, upaya mereka menjerat Yesus ternyata tidak berhasil.

Peristiwa yang kedua adalah, perikopa tentang ”Perempuan yang Berzinah” dalam Injil Yohanes 8:1-11. Dalam perikopa ini ada dua jerat yang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pasang untuk menyalahkan Yesus. Yang satu jerat dari segi agama, lainnya secara politis. Mereka ingin tahu sejauh mana pandangan dan ketaatan Yesus terhadap hukum Taurat dengan menyatakan bahwa Musa dalam hukum Taurat (Im. 20:10; Ul. 22:22-24) memerintahkan mereka untuk melempari perempuan-perempuan yang kedapatan berzinah. Yesus menjawab: ”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Setelah mendengar ini, mereka akhirnya pergi seorang demi seorang dimulai dari yang tertua. Alangkah malunya mereka!
Padahal pada awalnya mereka ingin Yesus yang paling pertama melempari perempuan itu dengan batu sehingga mereka mempunyai alasan untuk menyerahkan Yesus kepada pemerintah Romawi atas tindakan kriminal tersebut. Namun, mereka tidak menduga justru Yesus mengatakan demikian. Kalau mereka melaksanakan perkataan Yesus dan jadi melempari perempuan itu dengan batu, mereka sendiri yang akan mendapat dua masalah: masalah kriminal menurut hukum Romawi dan menghujat hukum Taurat sendiri karena menyatakan bahwa mereka tidak berdosa (Mrk. 2:7-8). Bukankah hanya ALLAH yang tidak berdosa? Sedangkan apabila mereka tidak melempari perempuan itu dengan batu, justru mereka sendirilah yang tidak melaksanakan hukum Taurat. Itulah sebabnya mereka menjadi simalakama.

Yesus Mengecam ahli-ahli Taurat dan Orang-orang Farisi
Mengingat orang-orang Farisi dan Saduki tetap dalam keingkaran dan kedegilan mereka meskipun Yesus telah menjelaskan berbagai persoalan yang mereka pertanyakan dengan gamblang. Akhirnya Yesus mengungkapkan mengapa mereka tidak dapat percaya sekalipun ia mengadakan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka (Yoh. 12:37). Yesus sendiri mengutip nubuatan Yesaya yang menerangkan mengenai alasan ketidakpercayaan mereka (Yes. 53:1; 6:10). Meskipun banyak pemimpin yang telah percaya kepada Yesus tetapi mereka sembunyi-sembunyi supaya jangan dikucilkan karena takut terhadap orang-orang Farisi (Yoh. 9:22; 12:42) dan karena mereka lebih suka akan kehormatan dari manusia dari pada kehormatan ALLAH (Yoh. 12:43).
Alasan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi selalu menentang Yesus adalah karena ketakutan mereka bila semua orang percaya kepadanya. Kalau hal itu terjadi, mereka khawatir Yesus akan memerintahkan murid-muridnya untuk memberontak terhadap pemerintah Romawi. Apabila itu terjadi dikhawatirkan pemerintah Romawi akan menghancurkan bangsa Yahudi termasuk menguasai tempat suci mereka. Ini akibat dalam pikiran mereka telah diindoktrinasi bahwa Yesus ingin menjadi Raja Yahudi.

Padahal Yesus sendiri telah menerangkan bahwa ia tidak berambisi untuk menjadi raja, apalagi raja duniawi. Sebagai seorang utusan Tuhan, kerajaan yang Yesus beritakan adalah Kerajaan Sorga alias Kerajaan ALLAH (Mat. 3:2; 4:17, 23). Namun tetap saja orang-orang Yahudi tidak percaya terhadap penjelasan ini.

Mengetahui kedegilan hati mereka, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat. 23:1-36; Mrk. 12:38-40; Luk. 11:37-54, 20:45-47):
”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua bersaudara.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh dengan tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian juga kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak akan ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

Penutup
Setelah kita mengkaji apa jawaban Yesus terhadap pertanyaan-pertanyaan orang-orang Farisi dan Saduki di atas, maka jelaslah, sebenarnya Yesus bukanlah seorang yang berniat menghapuskan hukum Taurat seperti yang mereka tuduhkan. Yesus juga tidak tidak pernah melanggar hukum Taurat, bahkan ia datang untuk memperbaharui pemahaman orang-orang Farisi dan Saduki yang telah rusak mengenai hukum Taurat tersebut. Mereka telah kehilangan rohani (Mat. 8:22), yang lebih dipentingkan adalah ibadah lahiriahnya.

Kesimpulan dari semua ini terangkum dalam perikopa ”Orang Muda yang Kaya” (Mat. 19:16-26; Mrk. 10:17-27; Luk. 18:18-27). Yesus menghendaki murid-murid beliau menjadi sempurna ”sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Kalau hidup keagamaan mereka tidak lebih baik dari pada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, lalu apa bedanya dengan mereka (Mat. 5:20)? ”Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal ALLAH pun berbuat demikian?” (Mat. 5:46-47). Artinya, apabila perbuatan mereka sama seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mereka pun tidak mungkin akan beroleh Kerajaan Sorga! Karena ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pun sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh murid-murid Yesus tersebut.

Yesus juga mengisyaratkan bahwa untuk memperoleh Kerajaan Sorga itu sangat sulit dan harus mengalami banyak kesukaran. ”Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan ALLAH” (Mat. 19:24). Artinya, untuk memperoleh jalan yang benar orang harus mengalami berbagai macam penderitaan, ”karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat. 7:14). Murid-murid Yesus sendiri protes, ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mat. 19:25). Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi ALLAH segala sesuatu mungkin.” (Mat. 19:26). Maksudnya, hanya karunia Tuhan sajalah yang menyebabkan mereka beroleh Kerajaan Sorga!

Sayang, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah degil hati dan tegar tengkuk sehingga tidak mau menerima penjelasan-penjelasan Yesus meskipun itu mereka akui kebenarannya. Tetap saja mereka memfitnah bahwa Yesus telah melanggar hukum Taurat dengan tidak menghormati hari Sabat, tidak mengerjakan adat-istiadat nenek moyang, bahkan menghujat Tuhan. Suatu dosa yang --menurut mereka-- pantas untuk dihukum mati! Untuk itulah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berambisi menghukum Yesus dengan hukuman disalib. Mereka bermaksud memperlihatkan kepada masyarakat, bahwa Yesus yang bagi sebagian orang dianggap sebagai nabi (Mat. 21:11; Luk. 24:19), bahkan sebagai Mesias atau Kristus (Mat. 16:16; Yoh. 6:68-69) itu pada hakikatnya adalah seorang yang terkutuk. Jangankan untuk menjadi Mesias atau Kristus, menjadi nabi biasa saja tidak mungkin. Sebab, menurut hukum Taurat, ”seorang yang digantung terkutuk oleh ALLAH” (Ul. 21:23; Gal. 3:13). WaLlaahu a’lam bish-shawwaab!

dilihat : 452 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution