Sabtu, 21 Juli 2018 09:00:28 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 41
Total pengunjung : 407266
Hits hari ini : 249
Total hits : 3713188
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -CERDAS DALAM BERPIKIR.....BIJAK DALAM BERSIKAP
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 21 Oktober 2011 08:14:31
CERDAS DALAM BERPIKIR.....BIJAK DALAM BERSIKAP

Kebanyakan dari orang tua hanya membekali anak-anaknya supaya cerdas dalam berbagai hal, entah itu dalam bidang akademis ataupun ketrampilan-ketrampilan lainnya. Tak jarang anak dituntut untuk selalu menjadi juara dalam pelajaran-pelajaran akademisi dan ajang adu talenta saja. Dilain sisi mereka lupa untuk melatih anak mereka supaya menjadi cerdas dan terampil dalam mengelola emosi mereka, sehingga dalam keadaan apapun mereka akan selalu terlatih untuk menentukan pilihan yang benar dan mengambil tindakan dengan bijak.Di era globalisasi ini kecerdasan IQ bukan lagi tonggak utama untuk kesuksesan, dunia terlebih membutuhkan orang-orang yang cerdas dalam mengelola emosi (EQ) dan piawai dalam menentukan sikapnya untuk menjadi mitra kerja mereka menguasai peradaban jaman.Dan tak bisa dipungkiri semua berkaitan erat dengan pembekalan rohani sang anak sejak kecil atau disebut juga kecerdasan Spiritual (SQ).Di tengah maraknya krisis lahan pekerjaan sesungguhnya mata dunia sedang terbuka mencari orang-orang dengan kompetensi yang memenuhi standart mereka baik dalam hal IQ,EQ & SQ.
Untuk itu "Menjadi Bijak" adalah pilihan utama dalam hidup kita.

Menjadi Bijak adalah melihat semua masalah dengan hati ,dan bukan dengan pikiran
Mengatur kata - kata yang keluar dari mulut kita, apakah kata - kata tersebut membangkitkan orang lain atau menghancurkan orang lain, apakah kata - kata kita inspiratorik atau motivasional atau justru penuh dengan kedustaan dan kebohongan.
Menjadi bijak adalah bersikap sesuai dengan etika dan kaidah moral, dengan bersikap bijak maka kita akan mendapatkan respect, jika respect ini disebarkan ke orang lain.
Bijaksana adalah membantu orang lain untuk menemukan diri mereka, membantu orang lain untuk menjadi lebih baik, membantu orang lain mengembangkan dirinya, bijak dalam bertutur, bijak dalam berfikir, bijak dalam bertindak, tindakan orang bijak selalu sesuai dengan kebenaran, apa yang ia ucapkan, apa yang ia pikirkan adalah kebaikan, ada cinta, ada kasih sayang, tidak ada dendam, tidak ada benci, menjadi bijak adalah tidak memvonis orang lain, biarkan orang lain menjadi diri mereka sendiri.

Di awal kisahnya, Nuh dikenal sebagai orang benar dan hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:9). Namun anggur yang dia tanam kemudian menjadi awal sebuah bencana lain di dalam hidupnya. Ia mabuk dan terbaring telanjang di dalam kemahnya (21). Bila sebelumnya Nuh dikenal sebagai orang yang tidak bercela di antara orang sezamannya (Kej. 6:9), saat itu ia melakukan tindakan tercela yang berdampak memalukan sebagai akibat anggur yang menguasai dirinya.
Kejatuhan Nuh ternyata membuat orang lain tersandung juga. Ham, anak Nuh, yang melihat ayahnya berada dalam kondisi demikian, tidak dapat menahan diri untuk tidak menceritakan hal itu kepada kedua saudaranya yang lain, yaitu Sem dan Yafet (22). Berbeda dengan Ham, Sem dan Yafet berupaya menutupi aurat ayahnya dengan tidak melihatnya (23).
Bagi Nuh, tindakan Ham merupakan suatu kesalahan besar. Ia sama sekali tidak berupaya melindungi martabat ayahnya, melainkan menceritakan hal yang memalukan itu kepada orang lain. Dapat dipahami bila kemudian Nuh menjatuhkan kutukan atas Ham (25-27).
Bagaimana sikap kita ketika melihat orang lain melakukan kesalahan yang tidak disadari atau kegagalan yang tidak disengaja? Apakah kita merasa senang atau malah menyebarluaskan kisahnya kepada orang lain? Seberapa besar ketertarikan kita mendengarkan suatu skandal, misalnya anggota jemaat yang berselingkuh sehingga rumah tangganya terancam keretakan? Seharusnyalah kita berduka melihat saudara seiman kita jatuh ke dalam dosa. Bila memungkinkan, jadilah teman yang akan mengingatkan dia. Setidaknya doakan dia.

Ada beberapa Tips Untuk Menjadi Bijaksana:
Belajarlah dari pengalaman. Ini mencakup pengalaman positif maupun negatif. Biarlah penderitaan dan kesalahan itu menjadi gurumu, ingatlah bahwa kesalahan itu mengajari kamu hal-hal yang tidak efektif agar kamu menemukan hal-hal efektif. Biarlah penderitaan mengajari kamu kesabaran, belas kasih kepedulian dan kerelaan berbagi dengan sesame. Renungkanlah hal-hal yang terjadi padamu dan hal-hal yang kamu perbuat. Terimalah tanggungjawab atas pilihan-pilihan yang kamu buat dan konsekuensinya.
Kembangkanlah pikiranmu. Belajar tidaklah berakhir pada usia 17 atau 20 atau 30 atau berapapun kamu berhenti sekolah. Belajar adalah seumur hidup. Peliharalah pikiran yang terbuka terhadap informasi baru dan sikap mau diajar. Carilah pengetahuan, ide-ide, kebudayaan-kebudayaan dan beranikanlah dirimu mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi.
Rawatlah tubuhmu. Kamu tahu bahwa sehat itu penting. Makanlah makanan yang bergizi, tidurlah yang cukup dan berolah ragalah secara teratur, jagalah kebersihan tubuhmu dan hindarilah kebiasaan-kebiasaan yang merusak seperti merokok,minum minuman beralkohol.
Peliharalah rohmu. Batinmu membutuhkan pemeliharaan juga. Berikanlah makan kepada rohmu dengan membaca alkitab, mempelajari serta merenungkan Firman Tuhan, dan banyak berdoa
Kenalilah dirimu sendiri dan kamu dapat menjadi apa. Ikutilah hobi dan minatmu, tela’ah dan kembangkanlah bakatmu. Mengenali dirimu sendiri juga berarti mengakui serta menerima keterbatasan-keterbatasanmu.
Yakinlah akan harga dirimu. Janganlah mengandalkan penerimaan orang lain. Kuasamu berasal dari dalam. Janganlah mengandalkan orang lain untuk menggerakkannya, jadilah penggerak diri sendiri.
Carilah dan bangunlah hubungan dengan sesama. Bagaimana kamu berhubungan dengan sesama adalah tergantung kepada bagaimana kamu berhubungan dengan dirimu sendiri. Kalau kamu terima dan kamu hargai dirimu sendiri, akan lebih mudah menerima dan menghargai sesamamu. Kenalilah orang-orang lebih dekat di rumah, di sekolah, di lingkungan dan di komunitas. Bersedialah belajar dari mereka..
Carilah dan bangunlah hubungan dengan dunia. Seluruh alam menghasilkan music bersama-sama, seperti anggota sebuah orchestra. Orang bijak adalah mereka yang mengikuti irama alam, irama cuaca, hewan dan makhluk-makhluk di dunia. Belajarlah berbagi, menyeimbangkan dan hidup bersama alam.
Kembangkanlah intuisimu. Kalau kamu intuitif, kamu dapat menangkap perasaan, kepercayaan, keinginan dan kebutuhan sesamamu. Tidak semua orang itu intuitif secara alami, tetapi kamu bisa berlatih agar lebih intuitif. Salah satu caranya adalah dengan membayangkan bagaimana perasaan orang lain. Tempatkanlah dirimu sebagai mereka, berjalanlah dengan sepatu mereka.
Gunakanlah akal sehatmu. Seringkali, akal sehat itu hanyalah soal berfikir sebelum bertindak-menarik apa yang sudah kamu ketahui tanpa harus berfikir keras. Akal sehat itu tidak canggih, tidak mendalam.Tapi selalu memberikan arahan & pertimbangan yang jelas.
Buatlah rencana dan ambillah keputusan berdasarkan keadilan dan kebenaran. Bersikaplah toleran terhadap orang lain dan ide-ide mereka. Cobalah untuk tidak menghakimi mereka. Kumpulkanlah sebanyak mungkin informasi sebelum membentuk pendapat.
Cobalah melihat ‘gambaran besarnya’. Kalau kamu bisa membayangkan seperti teka-teki itu setelah jadi, akan lebih mudah kamu memasangnya. Contoh kamu mengerti bahwa semua orang butuh dikasihi dan diterima. Kamu tidak bisa menjangkau individu-individu di sekelilingmu ; orang dari segala usia, ras, agama, kebudayaan, ukuran, bentuk dan seterusnya. Melihat gambaran besarnya juga berarti kamu lebih siap menghadapi kejutan dan kemunduran. Kamu bisa melihat angin ributnya sebelum awannya muncul.
Bersikaplah fleksibel dan mampu beradaptasi. Ketika kakekmu masih muda, mungkin ia menekuni pekerjaan atau karir yang itu-itu juga seumur hidupnya. Kamu mungkin perlu berganti karir tiga, empat kali seumur hidupmu. Sekarang dan dimasa mendatang, orang yang sukses adalah orang yang berubah, belajar dan bertumbuh. Bersikaplah terbuka terhadap ide-ide baru.
Bersedialah menunda keinginanmu. Orang dewasa dapat menunda keinginannya mungkin saja membeli rumah yang melampaui kesanggupan mereka. Kalau kamu bersedia bekerja keras, membangun keterampilan yang kamu butuhkan dan menantikan saat yang tepat kamu bisa mendapatkan hal-hal baik yang kamu inginkan dan itu adalah bagian dari hikmat.
Beranikanlah diri mengambil resiko atau tampak konyol. Agar menjadi bijaksana, kamu membutuhkan keberanian untuk memandang segalanya dari sudut yang berbeda dan menentang ide-ide yang sudah diterima serta cara-cara mengerjakan segalanya yang sudah terbiasa. Terkadang, orang mungkin saja mengolok-olok kamu. Christoper Columbus tampak konyol di mata bangsa Eropa ketika ia menantang ide bahwa ia akan jatuh di ujung bumi seandainya ia berlayar terus ke barat.
Memberi dan menerima. Orang bijak mau menerima bantuan sesamanya dan juga mengulurkan tangan membantu sesamanya sementara mereka sama-sama menaiki tangga kehidupan.
Bersikaplah tegas untuk menolak hal-hal yang tidak memberikan progress dalam hidupmu terlebih lagi hal-hal yang membawa kepada kemunduran dan kejarlah kekudusan baik dalam pikiran,perkataan & perbuatan.
Cobalah untuk bersikap terbuka, sekalipun tidak harus kepada semua orang kita bersikap transparan.
Konsisten dengan apa yang kau ucapkan & komitmen dengan apa yang kau lakukan.
Dan jadikan Integritas sebagai fondasi kuat dalam menentukan sikap.

‘Pengetahuan saja tidaklah cukup, pengetahuan harus disempurnakan dengan kebesaran hati untuk meminta Hikmat Ilahi,....supaya selalu bisa mengambil Keputusan dengan Benar & menentukan Sikap dengan Bijak’

oleh : Meity Mamahit Ev
http://meitymamahitministry.blogspot.com/

dilihat : 522 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution