Rabu, 18 Juli 2018 15:25:16 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 163
Total pengunjung : 406557
Hits hari ini : 1171
Total hits : 3706252
Pengunjung Online : 10
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kolaborasi dalam Unity yang menciptakan Sinergi
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 17 Oktober 2011 00:00:00
Kolaborasi dalam Unity yang menciptakan Sinergi

Kita memahami ternyata dalam hidup ini setiap orang memiliki perbedaan-perbedaan dan kita juga memahami bahwa menghargai keunikan orang lain itu berat. Banyak orang lebih cenderung ingin membentuk orang sesuai dengan ukuran pandangan atau gambaran dirinya sendiri.

Dengan selalu merasa diri paling benar atau merasa aman bilamana pendapatnya yang paling benar sedangkan pandangan atau mendengarkan pendapat pihak lain yang berbeda dengan diri sendiri maka terjadi konflik batin seakan-akan pandangan atau pendapat berbeda tersebut mengancam posisi rasa aman terhadap diri sendiri. Kita ingin mereka sependapat dengan kita, untuk berpikir seperti cara kita berpikir, atau mengikuti ide-ide kita. Tetapi seperti lazimnya berlaku asas “ kalau setiap orang berpikiran sama tentunya tidak ada tempat lagi yang berpikir berbeda” Tanpa perbedaan, tidak ada dasar untuk sinergi, tidak ada opsi untuk menciptakan solusi-solusi dan peluang-peluang baru.

Kuncinya tentu kita belajar menggabungkan yang terbaik dari perbedaan menjadi sebuah kekuatan yang menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Anda tidak dapat membuat masakan lezat tanpa keragaman. Anda tidak dapat membuat gado-gado atau salad tanpa keragaman. Keragaman itulah yang menciptakan minat, rasa,kombinasi baru yang menggabungkan yang terbaik dari semua hal yang berbeda.


Langkah awal : "Shared Vision"
Shared vision dapat tercapai bila setiap anggota organisasi menyepakati visi bersama dan memastikan visi pribadinya tidak bertentangan dengan visi organisasi. Peran pimpinan sangat besar dalam mewujudkan shared vision ini.
Selanjutnya, setelah memiliki shared vision, iklim sinergi perlu dibawa ke setiap aktivitas. Mengembangkan iklim sinergi tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Setiap kegiatan harus mempunyai tujuan yang jelas dan praktis. Tujuan tersebut menjadi pedoman dan "rel" atau jalur yang harus diikuti bersama.
2. Tanamkan paradigma dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mendorong terwujudnya sinergi, yaitu: melepaskan diri dari zona nyaman atau bersikap adaptif, menghargai perbedaan dan bersikap objektif (berdasarkan fakta).
3. Eksplisitkan perilaku-perilaku yang harus terwujud dan yang perlu dihindari. Perilaku yang harus diwujudkan seperti: bersedia mengubah pendapat pribadi bila pendapat orang lain terbukti lebih tepat (bersikap terbuka), fokus pada tujuan bersama dan saling mendukung gagasan. Perilaku yang harus dihindari: defensif, politis, menghakimi, lebih memandang latar belakang pemberi pendapatnya dibanding pendapat yang disampaikan (subyektivitas), berprasangka, menggunakan emosi (perasaan) suka dan tidak suka. Perilaku-perilaku ini dinyatakan secara eksplisit dan disepakati bersama sebagai norma yang harus dipatuhi oleh semua orang.


Langkah Kedua :
"Membangun Kekuatan Sinergi dalam Tim Work"
Sebuah cara yang bagus untuk memahami sinergi adalah melalui metafora mengenai tubuh. Tubuh bukan hanya terdiri dari tangan dan bahu serta kaki dan paha berikut otak, lambung, jantung semuanya di gabungkan bersama. Tubuh menjadi keseluruhan yang sinergistis ajaib yang dapat melakukan banyak hal yang indah, karena cara bagian-bagian anggota badannya bekerja bersama. Keseluruhan tubuh dapat membuat jauh lebih banyak dari pada yang dapat dilakukan semua bagian terpisah secara tersendiri-sendiri, digabungkan dan saling berhubungan.

I. BELAJARLAH PADA SEMUT
Suatu contoh lain dari sinergi dan kerjasama Tim sebagai contoh ideal seperti “Semut”. Sejumlah semut adalah pemotong daun, semut-semut yang lain membawa daun kesarang, Lalu ada tim prajurit yang mempertahankan dari serangan pemangsa semut. Ada tim semut kecil yang menaiki daun untuk melindungi terhadap parasit. Ada ratu semut yang bertelur, dan ada pekerja yang melayani ratu dan bayinya. Beberapa dari semut itu adalah penjaga jamur, dan mereka merawat jamur-jamur yang diproduksi daun karena semut itu hanya memakan jamur, bukan daun nya.

Setiap semut bila bertemu dengan sesamanya meluangkan waktu sejenak untuk bertegur sapa. Bagaimana dengan manusia?

Itulah kekuatan mengagumkan sinergi dan kerjasama tim di alam dan itu merupakan model yang semestinya menjadi bahan refleksi dan renungan. Hal ini berarti dalam sinergi dan kerja sama Tim yang mengagumkan dari kekuatan masing-masing individual, fungsi individual, kemampuan individual, dan mengemasnya supaya beroperasi dalam kesinkronan satu sama lain, semuanya mengarah pada suatu sasaran tangguh akan menghasilkan karya luar biasa. Tim yang dapat mewujudkan sinergi sempurna seperti itu menjadi mengagumkan, kekuatan yang tidak dapat dihambat dan tidak terbendung.

Jadi sinergi berhubungan dengan kajian diantara bagian-bagiannya. Dalam keluarga misalnya saat suami isteri berinteraksi, atau saat orang tua berinteraksi dengan anak-anaknya, sinergi terletak dalam hubungan diantara mereka. Disana tertletak pikiran kreatifnya, pikiran baru yang menghasilkan pilihan-pilihan baru, alternatif lain Sinergi bukan hanya kerja kelompok atau kerjasama.

Sinergi adalah kerja kelompok yang kreatif, kerjasama yang kreatif.
Sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya di ciptakan dan tidak akan dapat di ciptakan tanpa mensyukuri perbedaan. Kunci untuk menciptakan sinergi dengan belajar untuk menghargai bahkan mensyukuri perbedaan latar belakang Adat Istiadat, Kepribadian maupun pengalaman dan pendidikan. Karena perbedaan-perbedaan itulah yang menunjukan hasil kerja tim menjadi lebih baik dan optimal.


II.BELAJARLAH PADA UNGGAS
Mari kita amati sekawanan burung yang sedang terbang di langit. Dalam sebuah buku disebutkan bahwa sekawanan unggas (termasuk burung) selalu membentuk formasi huruf “V” jika terbang berkelompok. Mengapa demikian? Ternyata ada rahasia besar di balik semua itu.

Ø Dengan formasi V, kawanan unggas tersebut bisa terbang 71% lebih jauh daripada terbang individual. Ketika seekor unggas mengepakkan sayapnya, akan menimbulkan arus angin bagi unggas di belakangnya.
Ø Jika unggas paling depan merasa lelah, ia dapat berpindah ke belakang dan posisinya akan digantikan dengan unggas di belakangnya.
Ø Unggas-unggas yang berada di belakang menciptkan suara untuk menyemangati teman di depan.
Ø Setiap kali seekor unggas keluar dari formasi maka dia akan merasakan penolakan dan mengharuskannya kembali ke formasi awal.
Ø Kalau salah satu unggas sakit atau terluka, dia keluar dari barisan dengan diikuti dua ungggas lain turun ke tanah. Setelah sembuh, ketiganya dengan akan terbang membentuk formasi baru dan menyusul kelompok mereka.
Sungguh, jika kita mengetahui pola kerja sama unggas, tentu kita merasa malu. Sebagai manusia, sering kali tidak terpikirkan pentingnya kerjasama. Padahal, kita diberi potensi akal, pikir, dan hati untuk saling memberi manfaat terhadap orang lain. Dengan bekerja sama dan bersinergi (menjalin kerja sama), TIM akan semakin kuat dan proses belajar akan terasa lebih menyenangkan.


Di dalam dunia teologi kita mengenal istilah monergisme, bagi sebagian kita mungkin istilah ini terasa asing, saudara, istilah ini sebenarnya mempunyai arti “Allahlah yang semata-mata berkarya untuk keselamatan manusia”. Biasanya istilah ini disandingkan dengan kata lain yang mungkin lebih tidak asing bagi kita yaitu sinergisme. Sinergisme berarti “Allah bekerja sama dengan manusia untuk mencapai keselamatan manusia”. Jadi yang satu menunjuk bagaimana Allah sendiri sebagai satu-satunya yang berkarya, sedang yang satu lagi menunjuk pada kerja sama antara Allah dan manusia.

Tetapi mungkin saudara melihat ada perbedaan arti antara istilah sinergisme tadi dengan istilah sinergi yang biasa dipakai pada umumnya, dan memang demikian, istilah sinergi lebih menunjuk pada “suatu jumlah keseluruhan yang lebih besar dari bagian-bagiannya”, dan pengertian ini jugalah yang dipakai oleh Stephen Covey dalam bukunya yang terkenal “Seven Habits”. Contohnya jika seorang pria dan wanita bersatu di dalam suatu pernikahan, maka yang terwujud adalah suatu entitas baru yang disebut keluarga, keluarga ini memiliki hak, pengalaman dan kekuatan yang lebih daripada sekedar kumpulan dua orang. Contoh lain misalnya organ-organ tubuh seperti mata, jantung, paru-paru, hati, otak, dan lain-lain, semua organ itu jika bergabung bersama akan membentuk suatu sinergi yang kekuatannya lebih dari sekedar kumpulan organ, yaitu suatu entitas baru yang disebut manusia, manusia yang sadar, dapat berpikir, bahkan berkomunikasi dan berhubungan dengan manusia lain. Maka jelaslah bahwa pusat perhatian penggunaan istilah sinergi ini adalah bagaimana melihat sinergi yang terbentuk dari suatu kesatuan. Dan kita juga dapat melihat betapa luar biasanya arti dari kesatuan itu, karena membentuk suatu sinergi.

Tuhan Yesus berdoa untuk kesatuan daripada murid-murid-Nya “supaya mereka sempurna menjadi satu”. Sama artinya dengan Tuhan Yesus juga berdoa bagi kesatuan umat-Nya, dan kesatuan ini kemudian menjadi sinergi yang luar biasa berpengaruh dalam dunia. Inilah doa Yesus sebagai Imam Besar dan saya kira inilah juga yang menjadi harapan Yesus bagi umat-Nya sampai sekarang.

Di dalam doa ini kita dapat melihat ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan mengenai kesatuan umat Tuhan, dan mari sebagai umat Tuhan kita memperhatikannya:
1. Wujud Kesatuan.
Ada sebagian orang berpendapat bahwa kesatuan di dalam bagian ini bukan kesatuan secara organisasi, alasan mereka karena tidak mungkin organisasi gereja dan organisasi Kristen lainnya itu bersatu. Tetapi jika kita melihat bagaimana dikatakan bahwa kesatuan ini adalah kesatuan yang dapat disaksikan oleh dunia maka mestinya ini justru termasuk kesatuan dalam hal organisasi. Bukankah kesatuan dalam hal organisasi inilah yang paling mudah terlihat oleh orang-orang yang belum percaya! Apalagi kalau kita melihat bahwa pada waktu konsumasi nanti (kedatangan Kristus kembali), seluruh umat Tuhan akan berada di bawah pemerintahan Yesus Kristus, jadi dari perspektif ini tidak salah kalau kita mengatakan bahwa ada aspek kesatuan organisasi di dalam kesatuan umat Tuhan.

Wujud kesatuan ini jika dilihat dari dasarnya atau polanya, akan terlihat seperti kesatuan Bapa dan Anak, maka tidak heran kalau kesatuan ini sering disebut “kesatuan kasih”.

Kasihlah yang diwujudnyatakan dalam perbuatan-perbuatan di tengah komunita Kristen. Dan sebagaimana Bapa mengasihi Anak dan Anak mengasihi Bapa, maka haruslah kita saling mengasihi. Kita akan melihat landasan kesatuan ini sebagai hal kedua dalam pembahasan kita.

2. Landasan Kesatuan
Kita menemukan bahwa landasan kesatuan itu adalah dalam kesatuan Bapa dan Anak. FirmanNya mengatakan: “supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Saudara, pola kesatuan orang-orang Kristen adalah kesatuan Bapa dan Anak, maka hal itu akan menunjuk pada kesatuan Allah Tritunggal. Di dalam diri Allah sendiri Allah Bapa mengasihi Anak dan Anak mengasihi Bapa. Di dalam mereka sendiri ada suatu persekutuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Sejarah mencatat bagaimana sejak zaman “Pencerahan” yang mencapai puncaknya pada diri Imanuel Kant, subyek pengetahuan yaitu “Aku” yang mengetahui telah diangkat begitu tinggi melebihi komunita, sehingga kecenderungannya adalah menjadi individualistis. Sikap semacam ini masuk juga dalam dunia rohani dan teologi, kita melihat bagaimana orang merasa tidak perlu orang lain (other mind) untuk mengetahui. Cukup rasioku, pengalamanku, intuisiku, persepsiku, untuk menentukan benar atau salah. Dengan cara ini kita memutlakan perspektif kita sendiri. Dan hal inilah yang menjadi penghambat di dalam kesatuan umat Tuhan. Saya yang benar, orang Kristen yang lain salah. Padahal orang-orang sekarang mengetahui bahwa subyek yang mengetahui tidak pernah lepas dari tradisi komunitanya dan dari paradigma komunitanya, sehingga sebenarnya harus diakui bahwa adalah terlalu berani jika seseorang memutlakan perspektifnya sendiri.

Hal lain yang dapat kita lihat sebagai penghambat adalah iri hati terhadap karunia yang dimiliki oleh rekan-rekan anggota tubuh yang lain. Sebenarnya kita iri karena kita membutuhkan pengakuan dari orang lain. Kita tidak suka kalau ada banyak orang yang lebih senang berteman dengan si “anu” dibandingkan dengan kita, kita tidak suka kalau rekan kita yang malah dipuji dan bukan kita. Kita haus pengakuan terhadap diri kita. Bahkan kita kadang-kadang lupa tempat yang Tuhan berikan kepada kita, kita protes kenapa yang lain punya kemampuan lebih, kenapa bukan saya saja, sehingga kita menyikut kiri kanan dan menginjak di bawah, mendongkel di atas agar kita sendiri dapat maju.

Di dalam situasi seperti ini adalah cukup baik untuk memaparkan pandangan Covey tentang relasi. Ia mengatakan bahwa relasi paling rendah tingkatannya adalah relasi antar manusia yang dependent, relasi di mana yang seorang selalu bergantung pada orang lain. Relasi yang lebih baik lagi adalah relasi independent, yaitu relasi di mana orang itu mandiri. Tidak perlu orang lain. Tetapi relasi yang lebih baik lagi adalah relasi interdependent, relasi yang saling bergantung, tetapi yang terdiri dari orang-orang yang mandiri, dan juga yang merupakan relasi yang juga saling menguatkan. Kita perlu masuk ke dalam relasi tahap ketiga ini, dan kiranya relasi yang demikian tetap boleh diarahkan oleh suatu landasan kesatuan yang Kristiani yaitu landasan kasih, dan itulah keunikan kesatuan umat Tuhan yang sejati.

3. Tujuan Kesatuan.
Tujuan kesatuan itu adalah: “supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku.” Kemudian, “agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Jadi sebenarnya kesatuan ini pun memiliki nilai apologetika. Kesatuan umat Tuhan untuk memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus memang diutus Allah Bapa. Dengan kata lain orang dunia berhak untuk menilai apakah benar Yesus diutus Allah melalui kesatuan umat-Nya.

Pada masa pascamodern ini orang lebih banyak percaya kepada kebenaran-kebenaran yang kecil dan bukan kepada Kebenaran Tunggal. Termasuk dalam hal ini adalah kebenaran Kekristenan. Kekristenan termasuk salah satu kebenaran (meski kita percaya bahwa Allah adalah kebenaran yang tunggal itu). Sehingga yang muncul adalah berbagai perdebatan yang kadang bahkan terkesan konyol dan tak berarti, inilah tantangan zaman ini. Pada masa seperti ini apologetika dengan argumentasi kadang-kadang kurang efektif (bukan salah atau tidak efektif), orang sering berbicara mengenai kebenaran dengan cara melihatnya di dalam praktek komunita yang mengatakan tentang kebenaran tersebut, dan itu berarti saatnya demonstrasi keunikan umat Tuhan. Yaitu suatu umat yang memiliki wujud kesatuan yang nyata, dengan landasan kasih dan pewujudnyataan ini akan menarik banyak orang untuk melihat kepada Kristus Sang Kebenaran itu sendiri. Itulah tujuan kesatuan Kristen yang didoakan oleh Kristus.


Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan mewujudnyatakan kesatuan itu di dalam kehidupan kita. Belajar menghargai perspektif orang lain dan belajar menghargai karunia yang Tuhan sudah berikan kepada orang lain, dan dengan kasih kita hidup bersama sebagai anak-anak Tuhan .

"Kiranya doa Tuhan Yesus dapat terwujud di dalam kehidupan kita"

oleh : Meity Mamahit Ev
http://meitymamahitministry.blogspot.com/

dilihat : 499 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution