Jum'at, 14 Desember 2018 15:22:59 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 193
Total pengunjung : 450459
Hits hari ini : 1027
Total hits : 4149760
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Gubernur NTT Minta Maaf Kepada Warga Sulawesi Selatan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 18 September 2011 19:40:02
Gubernur NTT Minta Maaf Kepada Warga Sulawesi Selatan
TEMPO Interaktif, Makssar - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya, Minggu, 18 September 2011, menyatakan permohonan maafnya kepada wra Sulawesi Selatan berkaitan dengan insiden penusukan oleh warga Flores, Petrus Bolu, 28 tahun, yang menyebabkan empat warga Makssar meninggal dunia.

Pernyataan maaf Frans Lebu Raya disampaikan dalam pertemuan dengan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.

Frans Lebu Raya secara khusus datang ke Makassar. Dia beserta rombongan yang terdiri dari sejumlah pejabat, termasuk Komandan Korem Kupang Kolonel Edyson. Ikut pula dalam rombongan sejumlah tokoh masyarakat NTT, di antaranya Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiah NTT Aci Deodatus dan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) NTT Darwis.

Frans Lebu Raya menuturkan, pelaku sudah menjadi warga Sulawesi Selatan karena sudah lama berdomisili di Makssar meski berasal dari NTT. “Sebagai orang tuanya warga NTT saya wajib meminta maaf kepada warga Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Gubernur Frans Lebu Raya berharap dengan adanya permohonan maaf darinya semakin terjalin persaudaran di antara warga NTT dan warga Sulawesi Selatan, tidak hanya saat ini melainkan juga untuk masa mendatang. Insiden yang dilakukan Petrus murni tindakan kriminalitas dan tidak ada unsur-unsur lain hinga merembes ke masalah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Gubernur Frans Lebu Raya tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo karena berhasil menciptakan situasi yang kondusif.

Gubernur Syahrul Yasin Limpo menyatakan sekitar pukul 02.00 dini hari, beberapa jam setelah kejadian, dia menerima short message services (SMS) dari Gubernur Frans Lebu Raya. Selain menanyakan ihwal kejadiannya juga meminta bantuan untuk mengamankan warga NTT.

Syahrul Yasin Limpo juga menyatakan insiden tersebut murni tindakan kriminalitas. Dia bersama Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Johny Wainal Usman langsung melakukan tindakan pengamanan. “Setelah saya menerima pesan pendek dari Pak Frans, saya langsung ambil tindakan,” ucapnya.
Warga pendatang ssal Flores dievakuasi ke Sekolah Polisi Negera (SPN) Batua, Makassar. “Jangan sampai persaudaraan rusak hanya karena ulah satu orang,” papar Syahrul Yasin Limpo.

Ketua Kerukunan keluarga Turatea, Tan Malaka, menyatakan setelah insiden penusukan tersebut sempat menimbulkan keresahan. “Hari Jum’at beredar SMS yang menyesatkan. Malamnya saya langsung adakan halal bihalal yang dihadiri oleh warga Jeneponto dan 20 orang warga NTT untuk meredam masalah,” urainya.

Pihaknya, kata Tan Malaka, menghimbau Jeneponto agar tidak melakukan tindakan yang tidak diharapkan. Sementara itu, sebanyak 7.781 warga Flores dievakuasi ke tempat penampungan.

Ketua KKSS NTT Darwis memaparkan sebanyak 89.000 ribu warga Sulawesi Selatan di NTT dalam kondisi aman dan tidak terjadi apa-apa setelah insiden di Makssar. ”Tidak ada tindakan anarkis terhadap warga Sulawesi Selatan di NTT. Pemerintah NTT menjamin tidak ada aksi balas dendam. Saya berharap setelah pertemuan ini kondisi kembali aman,” katanya.

Peristiwa pemunuhan yang dilakukan Petrus Bolu, 28 tahun, terjadi di Makassar Town Square (M-Tos), Rabu, 14 September 2011 lalu. Empat orang tewas dalam peristiwa tersebut, yakni Junaedi, 15 tahun, Saldi (12), Fadli (13), dan Syamsul Alam (66). Aksi Petrus di tempat terbuka itu juga mengakibat warga lainnya mengalami luka tusuk, yakni Isa, 40 tahun dan Jaya 18 tahun.

Petrus diduga sedang dalam keadaan mabuk ketika melakukan penikaman secara membabi buta di depan pusat perbelanjaan di Jalan Perintis Kemedekaan Makassar.

Petrus juga mengalami luka, bahkan kaki kanannya patah akibat dikeroyok massa. Petrus dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.

Kepala Kepolisian Sektor Tamalanrea Ajun Komisaris Polisi Amirudin mengatakan pelaku sedang di bawah sadar saat mengamuk. Pelaku mengaku baru saja menenggak minuman keras. Napasnya juga masih berbau alkohol saat diperiksa polisi beberapa saat setelah peristiwa.

ARDIANSYAH RAZAK BAKRI

dilihat : 274 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution