Rabu, 13 November 2019 18:38:55 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 3
Total pengunjung : 520209
Hits hari ini : 2067
Total hits : 5076907
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Siapa Kaum Pilihan Tuhan?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 06 Juni 2011 00:43:56
Siapa Kaum Pilihan Tuhan?
Orang-orang Yahudi memandang diri mereka sebagai umat pilihan Tuhan. Tapi umat Kristen dan Islam juga beranggapan mereka umat pilihan Tuhan. Dari mana asal ide itu? Apakah ide itu masih ada sampai sekarang? Rabi liberal asal Amerika mengemukakan opininya.

Dari semua bangsa di bumi, Tuhan memilih Yahudi sebagai kaum pilihannya, demikian kitab Taurat. Seorang muslim reformis dari Sudan bernama Mahmoud Taha pernah membagikan pendapat.

Orang-orang Yahudi memang dipilih oleh Tuhan, hal ini juga tertulis dalam Al-Quran, katanya. Tapi sayang mereka menyalahartikan. Melalui nabi Abraham, Tuhan memilih umat Yahudi sebagai orang-orang pilihan agar Tuhan bisa mewahyukan monoteisme. Dengan demikian umat Yahudi menjadi semacam perintis kemanusiaan.

Hak istimewa ini juga membawa tanggung jawab yaitu untuk membagikan monoteisme kepada yang lain. Tapi apa yang umat Yahudi lakukan? Mereka menyimpulkan hal yang salah bahwa monoteisme hanya diperuntukkan bagi mereka. Sehingga mereka mengistimewakan diri dari seluruh umat manusia dan membuat agama mereka jadi ideologi yang rasis.

Kritis
Kata-kata di atas terdengar keras, tapi Mahmoud Taha boleh berpendapat demikian. Taha juga bersikap sangat kritis terhadap umat Muslim dan bagaimana mereka menyia-nyiakan warisan nabi mereka. Akibat kekritisannya, dia disebut murtad oleh Nimeiri, mantan presiden dari Sudan.

Beberapa minggu lalu rabi Yahudi liberal bernama Reuven Firestone berkunjung ke Belanda untuk memberikan kuliah di Universitas Amsterdam dan Leiden. Dalam makan siang bersama seusai kuliah, saya menanyakan pandangannya terhadap visi Mahmoud Taha dan Yudaisme. Apa pendapatnya? Apakah sebelumnya dia sudah mendengar hal tersebut?

Orang-orang Yahudi sering kali dipandang sebagai umat elit yang merasa lebih baik dari yang lain. Tapi Kristen dan Muslim juga menganggap bahwa mereka orang pilihan, dengan cara mereka sendiri.

"Orang Yahudi percaya bahwa mereka umat pilihan, sebagai komunitas etnis. Kristen dan Muslim percaya mereka umat pilihan tapi sebagai komunitas imani." Karena itu mereka tidak terlalu eksklusif dan tertutup dari luar: semua orang bisa menjadi Kristen atau Muslim.

Tapi dalam beberapa hal, umat Yahudi lebih toleran, kata Firestone.

Umat Yahudi berkata, ini agama kami, biarkan kami menyembah Tuhan kami dengan cara kami dan kalian dengan cara kalian. Tidak masalah. Berbeda dengan Kristen dan Muslim.

Semua orang bebas bergabung dengan komunitas mereka, tapi hati-hati jika tidak melakukannya! Semua orang yang tidak memeluk Kristen atau Islam akan masuk neraka. Dalam hal ini Kristen dan Islam sungguh tidak toleran dan lebih eksklusif dibanding dengan Yahudi.

Sejarah
Terlepas dari semua polemik teologi, perbedaan antara Yahudi, Kristen dan Muslim hanya bisa dipahami jika kita melihat sisi sejarahnya, kata rabi Firestone.

"Dalam masa politeisme, tiap-tiap umat mempunyai Tuhan mereka sendiri. Yang benar-benar baru adalah dalam monoteisme Yahudi terdapat ide Tuhan universal: Tuhan atas seluruh umat manusia. Tapi karena umat Yahudi menjadi perintis ide Tuhan universal, maka ide ini tidak pernah bisa berkembang sepenuhnya. Tuhan umat Yahudi tetap menjadi Tuhan bagi umat Yahudi dan bagi semua orang."

Kristen dan Islam tidak terpengaruh dengan sejarah ini, jelas rabi Firestone. "Tuhan mereka universal, tanpa harus mendapat cadangan dari Tuhan Yahudi. Tapi itu juga menciptakan bentuk ekslusivitas dan toleransi."

Susah damai
Kesimpulan yang ditarik oleh rabi liberal asal Amerika ini jelas. Ketiga agama monoteisme ini menganggap diri sebagai umat pilihan Tuhan. Dalam dunia globalisasi, ide umat pilihan kian menjadi halangan untuk menciptakan perdamaian di tengah masyarakat.

"Dalam tiga agama itu harus dikembangkan teologi yang bisa membayangi ide pilihan. Ini akan memungkinkan untuk mempercayai Tuhan, dan pada saat yang sama hidup dengan umat lain yang juga percaya Tuhan tapi caranya berbeda."

Sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/siapa-kaum-pilihan-tuhan

dilihat : 459 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution