Selamat Datang di www.pustakalewi.net
Jum'at, 01 Agustus 2014 10:40:53
| Translate | | Home | Forum | About Us | Donasi | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Doakan agar persoalan Papua dapat terselesaikan dengan baik dan damai...
Perspektif
Badiou
Alain Badiou (lahir 17 Januari 1937) adalah salah satu nama terkemuka dalam dunia pemikiran filosofis kontemporer.
Perspektif
Badiou
Alain Badiou (lahir 17 Januari 1937) adalah salah satu nama terkemuka dalam dunia pemikiran filosofis kontemporer.
Agenda
Sabtu, 11 Januari 2014
Natal Oikumene GMKI
Sabtu, 18 Januari 2014
Musical Drama & Orchestra Kantata
Sabtu, 08 Februari 2014
Seminar untuk remaja.
Rabu, 14 Mei 2014
Paskah Persekutuan
Selasa, 03 Juni 2014
SKGI


STATISTIK
Online :18
Hari ini :469






Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sejarah Singkat Gereja Methodist Indonesia
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 27 Desember 2010 19:11:47
Sejarah Singkat Gereja Methodist Indonesia
I. PENDAHULUAN

Gereja Methodist Indonesia (GMI) adalah satu-satunya gereja di Indonesia yang hadir bukan sebagai hasil pekabaran Injil misi Belanda dan Jerman. Methodist adalah hasil pelayanan misionaris dari Amerika yang bekerja di Malaysia dan Singapura. GMI juga satu-satunya gereja yang keanggotaannya WNI dan asing.

Kebanyakan jemaat yang ada dimulai dari sekolah. Karena itu sekarang banyak jemaat yang juga mengkelola sekolah. Pekabaran Injil melalui pendidikan umum dianggap cara terbaik sehingga jemaat cepat berkembang. Inilah salah satu kekhasan lain dari Gereja Methodist di Indonesia.

II. PERMULAAN PELAYANAN

Pada tahun 1902, George F Pykett, pimpinan Distrik Penang dari Konferensi Malaysia datang ke Medan . Dia mengunjungi Medan untuk melihat kemungkinan dibukanya pos pekabaran Injil. Saat itu belum ada misi Methodist. Di sana dia bertemu dengan beberapa orang yang datang dari Penang , tetapi sudah lama tinggal di Medan , yang pernah mendengar Injil melalui sekolah di Penang .

Hong Teen, seorang Tionghoa yang pernah menjadi murid di Method­ists' Anglo Chinese School di Penang adalah salah satu yang ditemui Pykett. Hong Teen mendirikan sebuah sekolah di Medan . Dia meminta Pykett untuk membantu memimpin Boys' School. Tahun berikutnya, 1903, Pykett pindah ke Medan dan mendiri­kan Boys' School. Pykett diijinkan juga untuk mengajar Alkitab setiap hari. Pykett juga minta bantuan dua orang guru, salah satunya ialah Salomon Pakianathan dari Anglo Chinese School di Penang. Pakianathan, seorang Tamil, datang ke Medan pada bulan Mei 1905. Dia seorang guru Kristen yang baik. Sambil mengajar, dia juga bersaksi tentang Yesus. Karena kesaksiannya itu, beberapa kelompok PA terbentuk. Kelompok-kelompok ini menggunakan bahasa

Hokkien dan Melayu. Bilangan orang-orang yang percaya bertambah.

Tahun 1906, Pykett yang kembali ke Penang , mengutus Ng Kuan Jiu, seorang guru, ke Medan . Pendeta John R. Denyes ditetapkan meng­gantikan kedudukan Pdt. Pykett.

Sayang sekali, tahun itu juga Hong Teen melarang pelajaran agama Kristen di sekolahnya itu. Karena itu Pakianathan pindah ke Palembang , Sumatera Selatan. Sebagaimana di Medan, Pakianathan berhasil membentuk beberapa kelompok PA

Persekutuan di Medan terhenti selama 2 tahun. Tahun 1910, Khoo Chian dan Lim Huay Gin datang ke Medan dari Singapura. Mereka mendirikan Anglo-Chinese School dan memulai kebaktian. Juni 1912 Lim Huay Gin menyerahkan tanggungjawabnya tentang ibadah dan sekolah kepada Pdt. W.T. Ward. Ward menjadi misionaris pertama yang ditetapkan untuk melayani di Medan .

Setelah bekerja selama 4 tahun, Ward membaptis 119 orang dewasa.

Mereka adalah orang Hokkien, Hakka, Canton , Haylam dan beberapa orang Batak.

Pada tahun 1914 mulai melakukan penginjilan di Daerah pesisir Timur Sumatera, dan tiga keresidenan di Sumatera Selatan, Palembang , Jambi dan Lampung. Tahun 1917, Lamsana Lumban Tobing, seorang guru yang sebelumnya bekerja di Bogor , melayani daerah Asahan. Orang Batak lainnya yang adalah guru tetapi mereka melayani dalam pekabaran Injil adalah Cleopas L. Tobing, Jethro Manulang dan David Hutabarat. Jemaat dan sekolah pertama yang berhasil didirikan ialah di desa Bangun Dolok, kemudian di Tanjungan, Dolok Maraja, Aek Kopas dan Bosar Sipinggan. Orang-orang Batak yang bertobat dan percaya semakin banyak.

Di Palembang, Pakianathan memulai Anglo-Chinese School pada 1 Mei 1909. Dia juga membuka sekolah khusus untuk orang2 Arab. Dia tidak pernah melewatkan waktunya untuk bersaksi tentang Kristus kepada murid-muridnya melalui pengajar­annya di sekolah. Dia memimpin ibadah Minggu dan kelompok PA.

Di Bangka, sebuah pulau sebelah barat Sumatera, kira2 300 km dari Palembang , Pdt. Mark Freeman diutus sebagai misionaris. Dia membuka sebuah Pos PI dengan 10 calon anggota pada tahun 1913. Dua tahun kemudian, berdirilah sebuah gereja dengan 16 anggota yang sudah dibaptis, 9 dewasa dan 7 anak2.

Dalam Konferensi Tahunan Malaysia bulan Februari 1905, J.R. Denyes diutus ke Pulau Jawa untuk membuka pekabaran Injil Denyes mulai tertarik melayani P. Jawa setelah dia bertemu dengan beberapa pelajar berasal dari Jawa yang belajar di Anglo-Chinese School-Singapura. Khoo Chiang Bee dari Penang dan C.S.Buchanan dari Singapura diutus juga ke P. jawa. Khoo Chiang Bee bekerja di antara orang-orang China kelahiran Jawa dan Buchanan bekerja di Cisarua dekat Bogor . Sebuah Rumah Sakit didirikan disana (Sekarang Rumah Sakit Paru-paru Cisarua) dengan harapan agar melalui pelayanan kesehatan Injil dapat diberitakan di antara orang-orang Sunda Islam.

Denyes yang tinggal di Jakarta membuka beberapa jemaat Tionghoa dan Sunda di Tanah Abang, Pasar Senen, Welteveden, Kramat Soka dan Mangga Besar. Jemaat-jemaat lainnya ialah di beberapa desa Pondok Gede, Kampung Sawah dan Padurenan. Jemaat-jemaat itu kini menjadi jemaat Gereja Kristus dan GKP.

Pada tahun 1910, satu jemaat Tionghoa didirikan dengan anggota kira-kira 17 orang. Kemudian setelah itu Methodist English School didirikan dengan Asramanya di Bogor (kini menjadi kampus IPB). Badan Misi Methodist membeli bangunan besar di tengah kota untuk pertemuan-pertemuan penginjilan dan aktivitas lainnya. Baughman mengajar beberapa orang Tionghoa dan Sunda untuk menjadi pengkotbah. Anggota jemaat maupun murid sekolah semakin banyak.

Misi Methodist juga bekerja di Kalimantan Barat. Pdt. Dr. Benyamin F. West merekomen-dasikan kepada Badan Misi Methodist di Malaysia agar daerah sepanjang Sungai Kapuas menjadi daerah misi. Di sana pada saat itu belum ada badan misi yang bekerja. Tahun 1891 Luering tiba di Kimanis. Dia tinggal di sana selama 9 bulan. Dia tidak membaptis seorangpun, tetapi hanya menerima seorang saja sebagai calon anggota, yaitu pelayannya yang orang Tionghoa.

Pada tahun 1904, pelayanan misi dibuka kembali di Pontianak setelah beberapa tahun ditutup. Giam Ah Chiam, seorang pengkot­bah, melaporkan, bahwa banyak orang di Pontianak dan Sambas siap untuk menerima Misi Methodist. Dr West sebagai DS dari Distrik Singapura, pergi ke Pontianak dan Singkawang untuk mencek berita itu. Di Singkawang dia bertemu dengan U Chim Seng, seorang sinshe yang dulunya menjadi anggota jemaat di Bukit Martajan, Distrik Penang.

U Chim Seng membuka toko obat. Dia selalu bersaksi tentang Kristus kepada orang-orang yang datang membeli obat. Banyak yang berminat dengan berita yang disampaikan. Kemudian, dia mengupah beberapa orang untuk menjadi penjaja obat yang berkelil­ing dari desa ke desa. Setiap penjaja bukan saja membawa obat-obatan, tetapi juga Alkitab dan Buku Nyanyian Methodist. Malam hari, tukang-tukang obat ini menjadi penginjil, yang membacakan Alkitab kepada orang-orang yang ada dan menyanyikan beberapa lagu pujian. Hasilnya, banyak orang yang minta agar dikirim misionari ke sana .

Pada tahun 1906 Charles M. Worthington dikirim ke Kaliman­tan . Dia tinggal di sana selama tiga tahun tetapi dia harus menunggu selama dua tahun untuk mendapatkan surat ijin. Karena itu sambil menunggu, dia membuka sekolah di Pontianak . Seorang Tionghoa menjadi sponsor untuk sekolah ini. Tetapi rupanya oranitu kurang jujur, sehingga Pdt. Worthington terpaksa harus membayar gaji guru-guru dengan uangnya sendiri. Akhirnya Misi Meth­odist mengambil alih sekolah ini.

Worthington kemudian digantikan Pdt. Abel Eklund, seorang misionari yang masih muda dari Swedia. Tahun 1912, dia menempat­kan Willie Hutagalung di Bekajang. Hutagalung memulai sekolah di Bekajang dengan 30 murid, separuhnya adalah anak-anak Dayak. Akan tetapi sayang sekali, karena peperangan yang berlangsung saat itudan politik pemerintah Belanda, maka sekolah itu ditutup.

Tahun 1915 sekolah ini kembali dibuka dan segera 120 "the little jungle people" menjadi muridnya. Tahun berikutnya sekolah ini mendapat subsidi dari pemerintah. Kemudian Misi Methodist membuka beberapa sekolah di desa-desa lainnya, seperti Lumar, Patengahan, Phakmengtioh, Sebalau, Sempadung dan Temu. Misi Methodist kemu­dian merekrut tiga orang guru lagi dari Sumatera (orang Batak) untuk memimpin sekolah-sekolah ini.

Pada tahun 1918 Konferensi Missi Hindia Belanda (the Nether­lands Indies Mision Conference) untuk Jawa dan Kalimantan terben­tuk. H.B Mansel ditetapkan sebagai Superintendent. Tahun 1919 keanggotaannya terdiri dari 5 orangg Asia dan 15 misionaris. Jumlah anggota di seluruh Jawa, Kalimantan , Bangka dan Sumatera kira-kira 900 orang. Konferensi Misi ini dibagi dalam 4 Distrik, yaitu Distrik Jawa dengan Superintendent R.L. Archer, Distrik Sumatera Utara dipimpin oleh Leonard Oesly, Sumatera Selatan dipimpin oleh Mark Freeman dan Kalimantan Barat oleh C.W. Worthi­ngton.

III. PENUTUPAN DAERAH PELAYANAN DI JAWA DAN KALIMANTAN

Tiba-tiba terjadi kejutan! Dr. R.E. Diffendorfer, Sekretaris Eksekutif Badan Misi Methodist datang untuk mengevaluasi Misi Methodist di Hindia Belanda. Dia menganggap bahwa wilayah misi di Hindia Belanda terlalu luas, sehingga tidak sebanding dengan misionaris yang ada. Dia juga memperhatikan, bahwa daerah-daerah perkebunan di Sumatea terutama di daerah Asahan dan Simalungun merupakan daerah terbaik untuk pekerjaan misi Methodist. Karena itu dia memutuskan untuk menutup misi di Jawa dan Kalimantan serta hanya memfokuskan pekerjaan di Sumatera.

Tahun 1927 peker­jaan misi di Jawa dan Kalimantan ditutup. Tahun 1928, dalam Konferensi Agung (General Conference) di Kansas, keputusan itu dikukuhkan. Keluarnya pelayanan dari P. Jawa dan Kalimantan banyak membuat orang kecewa. Mereka merasa hal itu merupakan langkah mundur dalam pelayanan misi Methodist yang terpaksa harus mening­ galkan 33 Jemaat, 8 sekolah, 3 asrama, satu toko Buku dan satu Rumah Sakit yang besar. Sumber lain menyebutkan, bahwa Dr. Dif­fendorfer mendapat tekanan dari Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda tidak menginginkan terlalu banyak misi yang bekerja di satu daerah. Ini berarti, keputusan itu merupakan isyu politik.

Pada tanggal 25 Januari 1929, Konferensi Misi Sumatera Utara dan Konferensi Misi Hindia Belanda bergabung menjadi Konferensi Misi Sumatera. Bishop F. Lee menjadi pimpinan dari 1929-1949. Dia digantikan oleh Bishop Ralph S. Cusman. Konferensi Misi Sumatera berhubungan dengan Konferensi Konferensi Pusat Tenggara sampai 1964. Selama kurun waktu tersebut, hanya sedikit orang Indonesia yang menduduki jabatan penting di Gereja ataupun dalam Konferensi. Tahun 1946 Pdt. David Hutabarat dan Pdt. Luther Hutabarat ditetapkan sebagai pimpinan-pimpinan Distrik pertama yang pribumi. Tahun 1948, Pdt David Hutabarat dipilih sebagai Sekretaris Konferensi Tahunan Misi Sumatera di Singapura.

IV. GMI MENJADI OTONOM

Karena situasi politik antara Indonesia dengan Malaysia/Singapura tidak baik pada tahun 1963, hubungan dengan Konferensi Pusat tidak dapat dilanjutkan. Melalui ijin dari Konferensi Agung di Pittsburg, Gereja Methodist di Indonesia menjadi otonom dengan nama Gereja Methodist Indonesia (GMI). Pdt. Wismar Panggabean terpilih sebagai Ketua. Tanggal 16 Februari 1969 Johanes Gultom terpilih sebagai Bishop Indonesia pertama.

Dalam Konferensi Agung tahun 1977 dia digantikan oleh Hermanus Sitorus. Tetapi pada tahun 1986, Johanes Gultom terpilih kembali untuk keduakalinya. Gultom menjadi Bishop sampai akhir hayatnya. Pada tanggal 21 November 1987 beliau meninggal di Singapura karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Hamonangan Panggabean terpilih dalam Konferensi Agung Istimewa untuk mener­uskan waktu yang tersisa. Bishop dipilih dalam Konferensi Agung yang diadakan setiap 4 tahun

Pada Konferensi Agung tahun 1989, Panggabean terpilih kembali sebagai Bishop. Tahun 1993 Panggabean pensiun dan Hermanus Sitorus terpilih kembali sebagai Bishop. Akan tetapi tahun 1995 dia meninggal di Singapura karena sakit. Pada tahun yang sama Konferensi Agung Istimewa diadakan untuk keduakalinya. Pdt.Humala Doloksaribu terpilih sebagai Bishop yang meneruskan pelayanan Sitorus. Bulan Oktober 1997 Doloksaribu terpilih kembali menjadi Bishop.

V. KEMBALINYA METHODIST KE PULAU JAWA

Tahun 1963 Pimpinan Distrik Sumatera Selatan, Pdt. Richard Herald Babcock, datang ke Jakarta dan bertemu dengan Pdt. Warren Stenley Heath yang juga dosen di ITB Bandung . Dari pembicaraan tersebut disepakati untuk membuka kepmbali pelayanan Methodist di Jawa. Januari 1964 Pdt. Heath secara resmi diserahi tugas untuk memulai pekerjaan ini, mulai dengan mahasiswa di Bandung . Di Jakarta, beberapa anggota eks Methodist yang bergabung dengan Gereja Kristus, GKI dan gereja-gereja lainnya mulai mengadakan kontak untuk membentuk persekutuan.

Mulai tanggal 30 Agustus 1964 diadakan kebaktian dengan meminjam tempat di Gereja Anglikan. Kebaktian2 Rumah Tangga lebih sering diadakan secara bergilir. Persekutuan ini makin lama makin banyak, karena banyak juga anggota Methodist yang baru pindah dari Sumatera bergabung. Jemaat ini kemudian menjadi Jemaat GMI Jakarta Pusat di Kramat Jaya Baru. Jemaat ini membuka Pos PI di Tebet, yang setelah didewasakan menjadi GMI Jemaat Maranatha. Di Tg. Priok juga dibuka, yang kemudian didewasakan menjadi GMI Bethesda, di Depok, GMI Depok dan Pos PI Jakarta Selatan di daerah Ciputat.

Sebagian anggota yang tinggal di Jakarta Barat membentuk persekutuan yang kemudian menjadi GMI ANUGERAH. Jemaat ini kini mempunyai 2 Pos PI, KARUNIA di Bekasi dan DAMAI SEJAHTERA di Citra I. Kini GMI ANUGERAH mempunyai 3 kebaktian, Bhs Inggris, Bhs Indonesia dan Bhs Mandarin.

Orang-orang Methodist dari Sumatera yang berbahasa Mandarin juga mulai mengadakan persekutuan di daerah Angke Jakarta Barat pada tanggal 20 September 1968 . Jemaat ini berkembang pesat hingga sekarang menjadi Jemaat IMMANUEL. Jemaat ini membuka kebaktian berbahasa Inggris.

Dari jemaat ini, ada 4 Pos PI yang sudah menjadi jemaat penuh, yaitu GMI SION di Jelambar, GMI Bogor di jl. Cincau-Bogor, GMI JIREH Semarang dan GMI Surabaya. Pos PI yang kini diasuh oleh GMI IMANUEL adalah Pos PI Kelapa Gading, Pos PI Poris Indah, Madiun, Winogo, Kecubung, Ngangkatan, Grogol, Wonogiri dan Baron di Jawa Timur, Pos PI Pontianak dan juga di Denpasar-Bali. GMI Bogor membuka Pos PI di Karawang. Jireh di Semarang membuka pos PI di Jogyakarta, Solo, Sragen. GMI SION membuka Pos PI di Dadap. GMI EBENHAEZER-Tangerang yang tadinya Pos PI Jakarta Pusat, sudah membuka Pos PI di Perumnas jang sudah mandiri (GMI Bethlehem), Pos PI Gembor, Pos PI Binong dan Pos PI Tiga Raksa.

GMI Maranata-Tebet sudah membuka Pos PI di Pasar Rebo. Di Bandung tetap ada 2 jemaat penuh, di Bandung Timur dan Bandung Barat.

Dalam Konferensi Agung Oktober 1997 disepakati, bahwa GMI dibagi menjadi 2 Wilayah dan masing-masing mempunyai pimpinan Wilayah. Pdt Bahtiar terpilih sebagai Pimpinan Wilayah II yang meliputi daerah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau Kepu­lauan, Lampung, Jawa, Bali dan Kalimantan. Wilayah I dirangkap oleh Bishop, meliputi daerah Aceh, Sumatera Utara, Riau Daratan. Pembagian ini dilakukan agar pengembangan dapat dilakukan dengan lebih cepat. Karena selama ini dirasakan (oleh jemaat yang jauh dari Kantor Pusat-Medan) pelayanan

Bishop yang begitu jauh dari Medan kurang efektif. Ini bukan perpecahan, melainkan pemisahan agar pelayanan lebih efektif. Arahnya ialah, agar Pimpinan Wi­layah itu seorang Bishop. Tetapi karena masih agak "asing" dengan dua Bishop, maka dipakai istilah Pimpinan Wilayah. Masing2 Pimpi­nan memimpin Konferensi Tahunan Wilayah masing-masing.

Dalam Konferensi Agung tahun 2001 baru digunakan dan dipilih 2 orang Bishop. Untuk Wilayah I terpilih Bishop RPM Tambunan, S.Th dan Wilayah II Bishop Bachtiar Kwee, M.Div.

GMI dibagi dalam 2 Wilayah Konferensi Tahunan. Wilayah I meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau Daratan. Wilayah II meliputi Riau Kepulauan, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Pulau Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Masing2 Wilayah dipimpin oleh seorang Bishop. Wilayah dibagi dalam Distrik. Wilayah I terdiri dari 8 Distrik sedang Wilayah II 5 Distrik. Kemudian tiap Distrik dibagi dalam Resort. Tiap resot terdiri dari satu atau lebih jemaat yang dewasa/mandiri. Pimpinan Distrik disebut District Superintendent. Kedua Wilayah setiap 4 tahun mengadakan Konferensi Agung (General Conference) yang tugasnya antara lain, menetapkan atau memperbaharui Disiplin, memilih Bishop, membuat program kerja secara nasional.

Penulis: Pdt. Pandu Wiguna Bone M.Th
Sumber: http://www.gmi-lampung.org/sejarah_singkat.asp
(diakses pada 27 Desember 2010)

   
Copyright © 2005 - Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution