Senin, 16 Juli 2018 01:56:39 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 180
Total pengunjung : 405923
Hits hari ini : 3020
Total hits : 3698844
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Motif Dibalik Praktek Bergereja
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 01 Maret 2010 16:49:23
Motif Dibalik Praktek Bergereja
Motif Dibalik Praktek Bergereja

Albert HAnanto Prasetyo"
Di era konsumeris, hedonis dan pemujaan terhadap budaya pop seperti ini esensi Natal sering diselewengkan atau ditunggangi. Terlalu banyak orang yang menghayati Natal bagai cerita mimpi. Sepertinya banyak orang sepakat bahwa untuk satu hari Natal, semua harus dibuat berbeda, harus damai, berkehendak dan berkelakuan baik dan bergembira yang termanifestasi saling mengucapkan salam, memberi kado dan menghindari bentrokan. Akibatnya banyak umat yang merayakan Natal berakting seakan – akan hidup dalam dunia fantasi, seperti dalam dunia panggung sandiwara.

1. Natal adalah kelahiran Tuhan yang solider. Bukan kelahiran Tuhan yang miskin tetapi Tuhan yang rendah hati (terinspirasi dari tulisan seorang pastor di Jawa Pos beberapa tahun lalu) Flp 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (But made himself of no reputation-KJV), dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Allah rela meninggalkan 'zona nyaman', solider dengan manusia (dari bahasa Latin, dare: memberi; solus: diri). Dia Raja diatas segala raja, tidak lahir di istana yang megah, tetapi memilih lahir dari keluarga tukang kayu bukan dari kalangan bangsawan. Di Betlehem, sebuah desa kecil yang tak populer dan bukannya di Ibukota. Bukan dibaringkan di spring bed kualitas nomor 1, tapi diletakkan di palungan. Tidak diselimuti dengan wol, sebagai gantinya hanya kain lampin. Bukan dalam penyambutan yang meriah dan semarak, melainkan memilih lahir di tengah kesunyian. Sedemikian miskinkah Yusuf dan Maria sehingga Mesias harus lahir dalam keadaan seperti itu?

Tentunya peristiwa Natal-kelahiran Yesus, mencerminkan kesederhanaan bukan menggambarkan Yesus yang miskin. Kalau Yusuf dan Maria miskin, tentu mereka tak akan mendatangi penginapan. Mereka punya uang untuk tidur di hotel, tetapi hotel sudah full atau hotel tidak mau menanggung resiko melihat Maria sudah hamil tua seperti itu. Kelahiran Yesus bahkan hidup Yesus dari kandang Betlehem sampai di Kalvari sesungguhnya merupakan cerminan dari rentetan solidaritas Allah yang satu -yang setuntas – tuntasnya dengan manusia yang berdosa dan miskin- ke solidaritas yang lain. Karena itu setiap orang Kristen yang setiap hari hidupnya tidak dijiwai semangat Natal (Luk 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.) -yaitu menutup mata, telinga, mulut, hati dan indra lainnya terhadap persoalan kemanusiaan, yang membeda–bedakan orang- sesungguhnya tidak pantas disebut orang Kristen.

Keberadaan jemaat Indonesia masih banyak yang adalah "zoon economicos" atau binatang yang mencari uang untuk kebutuhan mereka sendiri, seperti membangun menara gereja, membangun interior gereja dan membuat gereja supaya nyaman, sehingga pendeta berdoa bagi mereka untuk mendapatkan uang yang lebih banyak lagi dan kembali keuntungan berada pada pemimpin gereja yang ada. Mereka masih menjadi "tamu" bagi bangsa sendiri, karena dari minggu sampai ke minggu berikutnya mereka menjadi masyarakat gereja lokal dan melayani di gereja lokal. Melayani adalah aktif di gereja dan persekutuan yang ada di dalam gereja. Gereja menjadi satu tembok yang besar untuk membuat setiap orang tidak mungkin keluar dari tembok tersebut. Kalau keluar mereka telah berkhianat kepada gembala dan "Tuhan" mereka. Padahal Yesus menginginkan anak – anakNya/murid – muridNya memiliki solidaritas seperti diriNya. Kasih (baca: solider) itu harus menjadi identitas anak – anakNya, mengasihi itu sampai pada mengampuni dan sebuah keputusan yang tidak dipengaruhi 'kondisi luar' karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rom 5 : 5). Selamat Natal dan solider dengan sesama (Mat 22 : 36 – 40)

2. Natal memiliki tujuan, yaitu memberikan dirinya pada dunia. Natal adalah pengorbanan.

Sebagian besar dari antara kita, kalau yang wanita ingin menjadi Maria dan sebagian lagi, yang pria ingin menjadi Yusuf. Bukankah hebat menjadi Ayah / Bunda dari sang Mesias. Begitu bangga dan kerennya melihat kenyataan Juru Selamat hidup dalam asuhan kita. Belum lagi kenyataan sekarang ini Maria dipuja oleh milyaran orang di dunia sampai sekarang ini. Mimpi apa Maria sehingga dari seorang perawan sederhana tiba – tiba menjadi populer?

Apa yang diperbincangkan banyak orang ketika melihat Maria, seorang perawan, yang pasti belum bersuami tiba – tiba hamil. Bagaimana perut yang mulai membesar tak bisa lagi disembunyikan. Maria harus menelan pil pahit, namanya dipergunjingkan banyak orang "diluar terlihat alim, tapi ternyata" atau semisal di bangsa ini bisa dikatakan "dihamili roh halus". Para tetangga tak ada sepinya menggosipkan kabar bahwa ada seorang perawan dengan perut yang menggelembung besar paling tidak selama 9 bulan.

Bagaimana Yusuf harus bergumul mengalahkan keraguan, kecurigaan bahwa tunangannya ternyata tidak setia, selingkuh, main gila dengan pria lain. Bahkan di saat Yusuf bertahan pada pilihannya, namanya juga turut tercoreng karena bisa saja banyak orang menyimpulkan bahwa dia melakukan hal yang tidak senonoh sebelum nikah? Yusuf dan Maria adalah orang-orang yang berani berkorban demi rencana keselamatan bagi umat manusia terjadi. Natal juga menyiratkan bahwa Bapa berkorban merelakan AnakNya yang tunggal tak berdosa, berada dalam asuhan manusia biasa dan bahkan mati menanggung dosa manusia.

3. Kado Natal (imajiner dari tulisan dr renungan harian Spirit)

a. Seorang anak kecil yang sebut saja bernama Dave yang memerankan sebagai pemilik penginapan dalam sebuah pementasan drama Natal. Sutradara pementasan drama tersebut telah melatih Dave untuk bersikap tegas dan keras saat menjadi pemilik penginapan. Meski hanya dalam drama, Dave menghayati perannya itu. Ketika saat pementasan tiba, terlihat Yusuf menggandeng Maria yang kepayahan karena hamil tua. Mereka pergi dari satu penginapan ke penginapan lain, karena tidak ada tempat baginya untuk bersalin. Ketika Yusuf sekali lagi mengetuk pintu penginapan, Dave yang berperan sebagai pemilik penginapan membuka pintu dengan kasar, berkacak pinggang dan bertanya dengan kasar, "Ada perlu apa?" Yusuf pun menjelaskan bahwa ia dan isterinya yang sedang mengandung menginginkan sebuah kamar. Dave kemudian membentak, "Tidak ada tempat kosong!" Yusuf dan Maria pun berlalu pergi dengan wajah sedih. Saat itulah terjadi pementasan diluar skenario, tiba-tiba Dave mengejar pasangan Yusuf dan Maria dan berkata, "Tunggu dulu.." (sutradara dan para pemain yang lain sudah jadi tegang karena bingung dengan apa yang dilakukan Dave, berpikir apakah ia lupa dengan perannya) Dengan air mata menggenang dipipinya, Dave menepuk pundak Yusuf sambil berkata "Kamar di penginapan yang kusewakan memang sudah penuh, tetapi ada 1 kamar, yaitu kamarku kosong, kalian berdua bisa menempatinya!" Dave ternyata seorang pemilik penginapan yang lembut hati, yang tak tega menolak bayi Yesus meski hanya dalam pementasan drama sekalipun.

Begitu sulitnya menemukan Tuhan, demikianlah banyak orang religius berkata. Itu sebabnya untuk mencari Tuhan banyak orang pergi ke gua-gua menyendiri dan mengasingkan dari dunia. Namun ada diantara kita yang tidak sepaham dan berpendapat kalau mencari Tuhan ada di Gereja. Tetapi yang terjadi kadangkala di Gerejapun kita tidak menemukannya. Tuhan ada dimana-mana. Tuhan juga menyatakan diriNya kepada pemilik penginapan tetapi waktu itu dalam rupa bayi yang masih dalam kandungan seorang wanita yang termarginal, hanya karena mata hati yang buta, ia tidak melihat.

Tuhan seringkali menyatakan diriNya dalam diri orang yang terbuang dan terpinggirkan. Hanya saja kita buta, tidak peka dan mengeraskan hati untuk memberikan kasih kepada mereka, padahal saat itulah kita berjumpa dengan Tuhan. Tidak menemukan Tuhan di Gereja karena kepentingan datang ke gereja adalah mencari kekuatan atau kemampuan supranatural untuk mendapatkan berkat yang besar, sehingga dapat memberi sesuatu untuk gereja, bukan Tuhan. Gereja masih punya hajatan sendiri, karena membangun gereja yang besar dan kokoh dalam lingkungannya, dimana "misi" mereka telah dibuka di mana-mana. Menjaring dengan hebat, karena membuka di daerah-daerah kota besar -- yang nota bene banyak gereja di sana -- menjadi misionaris tidak perlu susah-susah lagi, karena cukup membuat acara besar dengan gemerlap dan kekuatan panggung yang besar, sehingga menarik "jiwa-jiwa" baru. Memindahkan kolam yang kecil menuju kolam yang besar dan lengkap. Ini pertumbuhan gereja. Kalau membangun gereja di luar itu, menjadi pendeta atau misionaris yang miskin dan kasihan. "Menginjil" adalah membuat orang kristen menjadi "Lebih Kristen". Ternyata ayat kita harus diubah, karena begitu besar maksud Allah untuk kerajaan-Nya, Ia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya mencari orang percaya lainnya, untuk menjadi satu kerajaan yang besar bagi mereka sendiri (terjemahan bebas Yohanes 3:16 dalam kekinian). Selamat natal dan tahun baru 2010, selamat merenungkan dan masuk alam nyata. Kekristenan adalah kemewahan dan kemabukan. Kekristenan adalah jenjang berkarier yang sukses.

b. Di segmen berikutnya, ada seorang anak kecil yang berperan sebagai gembala meletakkan sebuah boneka bayi di palungan bersama sebuah boneka lain yang melambangkan bayi Yesus. Seketika itu teman-temannya bertanya kepada anak kecil tersebut, "Mengapa engkau letakkan sebuah bayi lagi di palungan ini? Bukankah seharusnya hanya ada bayi Yesus saja?" Anak kecil ini dengan lugu menjelaskan, " Saya ingin memberikan hadiah buat Yesus. Tapi aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya uang untuk beli kado. Aku tidak tidak punya mainan. Aku tidak punya sesuatu. Lalu aku berkata pada bayi Yesus, aku tidak punya apa-apa, tetapi aku bisa menemanimu, dan menghangatkanMu. Dan rasanya Yesus tidak keberatan jika aku bersamaNya dalam satu palungan menemani dan menghangatkanNya"
Semangat untuk memberi pada hari Natal biasanya diungkapkan banyak umat di beragam dunia dengan tradisi saling memberi kado. Saudara dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi Saudara tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Namun, sesungguhnya "bayi Yesus" tidak hanya menginginkan para pengikutNya sekedar memberi kado atau parcel yang bernilai beberapa ribu, bahkan jutaan untuk relasi bisnis. Kadangkala natal bagi Kristen tak lebih dari sebuah pesta tahunan yang sarat dengan kemewahan, penuh gebyar dan semarak. Lupa bahwa Natal harusnya menyentuh relung hati kita, "Apakah yang sudah kita persembahkan bagi Tuhan?" Uang untuk menutup anggaran ibadah (pesta) natal, lalu apa gunanya menjadi donatur terbesar yang membuat orang berdecak kagum karena sumbangan kita sementara ada orang yang sampai meninggal gara-gara mengantri dana kompensasi BBM? Kesibukan mempersiapkan, merancang acara yang spektakuler yang menyita banyak waktu kita? Di tengah kondisi bangsa seperti ini, alangkah keji, biadab dan egosentrisnya kita jika kita menggelar pesta Natal dengan hura – hura. Bandingkan dengan para majus yang memiliki tekad yang kuat untuk mempersembahkan mas, kemenyan dan mur. Para gembala mempersembahkan ketaatannya untuk datang dan menyembah. Ia lebih suka kita mempersembahkan hidup kita kepadaNya (Rom 12:1)

4. Natal dan HAM. Natal bukti kasih Tuhan pada manusia
Tidak berlebihan (khususnya bagi Indonesia) bila bulan Desember dimaknai sebagai bulan kemanusiaan. Diawali hari AIDS sedunia, kemudian disusul hari Pahlawan tanpa tanda jasa Nasional, setelah itu hari HAM -Hak Asasi Manusia- sedunia (di Indonesia juga ada penganugerahan Yap Thiam Hien Award), tak berapa lama kemudian hari Buruh Migran sedunia, lalu hari Ibu. Ditengah semua peringatan dan perayaan tersebut, nuansa Natal juga menggema, karena ada yang telah, ada yang sedang dan ada yang akan merayakan Natal (tidak semua umat merayakan Natal pada tanggal 25 Desember).

Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Allah adalah (being) kasih, sehingga Ia (telah) mengaruniakan (doing) AnakNya. Keselamatan adalah ide/inisiatif, pemberian/anugerah Allah.

Dunia dapat diartikan/dipandang secara politik, geografis. Bagaimana Allah memandang dunia ini? Ketika Ia melihat dunia, Ia sedang memandang manusia (setiap orang). Jesus comes to you (and) comes to me. Allah tidak kepalang tanggung/tidak perhitungan mengasihi manusia, Allah lahir/datang ke dunia memiliki tujuan dan hanya sebuah tujuan untuk menyelamatkan manusia/setiap manusia tidak binasa. Allah tidak pandang bulu, jadi tidak seorangpun atau sekelompok orang pun yang berhak memonopoli Allah. HAM bertitik pangkal pada kesadaran bahwa setiap orang berharga, berbeda satu sama lainnya. Dengan kata lain, adalah kesadaran mengenai keanekaragaman, pluralitas. Berbeda tanpa membedakan itulah semangat inti HAM. Dengan semangat tersebut dirajutlah kehidupan berbeda dalam persaudaraan dan bersaudara dalam perbedaan. Inilah titik temu Natal dan HAM. Natal itu berarti Allah mendatangi semua orang tanpa terkecuali.

5. Kelahiran Yesus (Semangat Natal) membawa sukacita dan memberikan kekuatan menghadapi resiko dan ujian kehidupan.

Natal membawa sukacita karena Natal adalah penggenapan Janji. Bapa kita berjanji jauh sebelum Yesus lahir, dan benar sungguh2 ditepatinya.

Para majus dari timur, adalah orang – orang yang berani ambil resiko untuk menjumpai Raja yang baru lahir hanya dengan melihat bintang. Banyak resiko yang mereka harus tanggung, mereka harus melewati jarak yang jauh, dan merasakan ganasnya padang pasir, dimana siang hari suhu bisa mencapai 40 derajat sementara dimalam hari suhu bisa sedemikian dingin hingga mencapai 5 derajat. Belum lagi saat mereka tidak mau memberitahukan perihal kelahiran Yesus kepada Herodes, kemudian mereka dikejar dan akan dibunuh. Kalau mereka tak berani ambil resiko, dunia tidak akan pernah menulis dan menyebut mereka pada majus dari Timur, dan mereka tak akan pernah merasakan pengalaman yang luar biasa melihat sang Mesias. Kelahiran Yesus diwarnai dengan ujian kesetiaan dan ketaatan Yusuf juga pada negara untuk sensus dan Maria untuk mengandung bayi Yesus, ujian penderitaan berjalan jauh dalam keadaan hamil. Kemudian bayi Yesus yang dicari pasukan Herodes dan kisah pembantaian anak-anak yang mengiringinya. Meski Dia Allah yang telah rela lahir dalam kesederhanaan semestinya Dia masih bisa memilih skenario untuk lahir di tempat yang dalam kondisi aman dan nyaman.

Tidak mudah bagi Maria mengatakan dia hamil pada Yusuf yang tidak menghamilinya, tidak mudah bagi Yusuf memahami kehamilan Maria dan tidak mudah bagi mereka menerangkan dan menanggung resiko atas hamilnya Maria pada orang tua dan orang di sekitar mereka atau sebaliknya orang lain menerima mereka tanpa penghakiman sedikitpun. Peristiwa ini yang tercatat sekali dalam sejarah peradaban manusia yang dibandingkan dengan peristiwa kesembuhan atau kebangkitan orang mati, jadi menunjukkan begitu sulit, kompleksnya masalah ini, namun itu bisa dilewati karena iman bagi Tuhan tidak ada yang mustahil dan penyerahan aku ini adalah hamba Tuhan. Ada kuasa, penyertaan, kekuatan Illahi yang diberikan pada orang yang punya iman dan penyerahan pada Tuhan.

6. Natal adalah kelahiran Tuhan kita yang 'liar' dan membawa perubahan. Kehidupan lebih penting dari simbol-simbol agama.

Mari kita simak kisah yang mendahului kelahiran Yesus, dimana ternyata kelahiran seorang yang dipakaiNya untuk mempersiapkan jalan bagiNya telah melakukan "perlawanan" terhadap peraturan agamawi yang kosong (Luk 1 : 5 – 24 & Luk 3 : 1 – 6). Sudah semestinya Yohanes memiliki gaya hidup seorang imam, dimana melayani di bait Allah, makan roti persembahan (tertulis dalam kitab Imamat), berpakaian khusus (tertulis dalam kitab Keluaran), bahkan kelahirannya menembus kemustahilan manusia (mandul) Namun Yohanes (orang liar) memakai pakain dari bulu unta padahal unta adalah binatang yang diharamkan (tertulis dalam kitab Imamat dan Ulangan), melayani Kerajaan Allah, makanannya belalang dan madu hutan. Bahkan Yohaneslah yang dipakaiNya untuk (menyampaikan berita liar tentang kerajaan yang liar) mempersiapkan jalan bagi Tuhan, kepadanya dinyatakan Firman Tuhan bukan kepada Imam Besar Hanas dan Kayafas (Luk 3 : 2 –3 ) sebagai "institusi agama yang resmi yang berhak menerima mandat Surgawi"

(dr tulisan Robert Tj dan diskusi beberapa teman)

Memahami siapa Yohanes Pembaptis dan apa yang diberitakannya menjadi evaluasi terhadap pemahaman kerajaan Allah sehingga memberikan orientasi yang tepat pada kehidupan rohani, bahwa :
a. Kerajaan Sorga tidak dikuasai oleh orang orang tertentu, dalam predikat tertentu untuk melakukan kehendakNya tetapi semua orang percaya dalam peran dan waktu yang berbeda.
b. Kerajaan Allah bukan kemegahan buatan manusia yang tampak/ kelihatan, yang dapat menipu tetapi kecantikan manusia batiniah.
c. Kerajaan Allah bukan mempersoalkan hal – hal yang tidak kekal, bersifat sementara bahkan sia-sia tetapi yang esensi.
d. Kerajaan Allah bukan bangunan fisik tetapi atmosfir illahi yang mengubah pengaruh dunia.
e. Kerajaan Allah adalah perubahan cara berpikir

Dari hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Sorga berbicara tentang :
a. Pertobatan, cara hidup yang berubah, mengandalkan kekuatan Otoritas keillahian Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam kehidupan orang percaya.
b. Prinsip, hidup dalam prinsip kerajaan sorga, menjadi manusia yang masih terdiri dari darah dan daging tetapi hidup dalam prinsip illahi dalam kehidupan sehari-harinya.


(artikel berikut diilhami dari sharing / tulisan dr Yohan "john" C )

Sudahkah Saudara melihat dan merenungkan makna dari film “the Passion of the Christ”? Memang harus diakui ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan seperti apa yang tertulis di Alkitab. Tetapi mengapa ada kemarahan yang begitu besar (yang terakumulasi) dari “pemimpin umat/pemuka agama/ahli kitab” terhadap Yesus, sehingga bagi mereka hanya ada 1 jalan untuk menyingkirkan Yesus yaitu hanya melalui “jalan yang terhina bagi orang terkutuk – SALIB". Mari, inilah saatnya kita dengan jujur dan rendah hati merenung dan mengakui segala kelemahan dan ke-sok-tahuan kita selama ini, dan mari mengubah fokus hidup kita seperti fokus hidup Yesus!!! Jangan sampai apa yang kita kerjakan dalam ibadah kita hanya untuk mengagungkan diri (roh babel) dan jangan sampai hati kita sudah terlalu keras untuk menerima didikan dari Tuhan (roh bebal). Marahlah pada hal – hal yang membuat Yesus marah dan berhentilah dari kemarahan yang tidak membuat Yesus marah (Mrk 11 : 15 - 16; Yoh 2 : 14 – 17) Siapakah “si ular tua yang diinjak Yesus” dalam film the Passion of the Christ? Sebagai sebuah penggenapan firman Tuhan, bahwa dari keturunan wanita (Hawa) akan meremukkan kepala ular (Kej 3 :15). Ular di taman Eden yang membujuk manusia untuk memakan “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” Mengapa si ular begitu menginginkan manusia memakan buah? Semua agama selalu bicara antara perbuatan baik dan jahat, hanya Yesus yang menawarkan jalan, kebenaran dan kehidupan. Ular tua adalah ROH AGAMAWI!! Agamalah yang membuat manusia jauh dari Tuhan, tidak ada satupun perbuatan yang dapat meraih Tuhan. Iblis ketika di Surga (malaikat) selalu berusaha meraih Tuhan, keselamatan bukan karena insiatif manusia, tetapi inisiatif Tuhan.

YESUS tidak pernah datang untuk membawa agama. “Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati” (Bahkan Dia mati karena kesombongan pemimpin agama - Mat 26 : 59). Yesus lebih banyak marah – marah di bait Allah, misalnya saat dia membersihkan para penjual di pelataran Bait Allah, juga pada saat hari Sabat (Mat 12 : 1 – 8), saat murid – murid Yesus memetik gandum, orang – orang farisi “memprotes” Yesus, tetapi Yesus malah menjawab dengan sebuah contoh “pelanggaran” lain yaitu Daud. Lebih “liarnya” lagi, setelah Yesus ditegur karena tindakan murid – muridnya, malah Dia sendiri segera (ayat 9 – setelah pergi dari sana) “melanggar” di tempat “lawan” (orang yang ingin mempersalahkan Dia – Mat 12 : 10) dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat.

Penganut agama beribadah di tempat khusus, pada hari khusus dengan litugi khusus, dipimpin pendeta khusus, tetapi Kristen adalah pola hidup seperti Kristus. Ketika datang ke Dia karena kewajiban dan saat dirimu sibuk dengan program agama, serta hidup dalam sebuah asumsi belaka bahwa Dia bersamamu maka engkau akan kehilangan Dia. (Luk 2 : 41 – 51) Tidak ada sesuatu yang kamu dapat lakukan untuk membuat Tuhan lebih mengasihi/menyatakan kehadiranNya dan tidak ada sesuatu yang kamu lakukan untuk membuat Tuhan berkurang mengasihi / menyatakan kehadiranNya karena itulah yang disebut dengan kasih karunia (Philip Yancey).

BERIKUT INI HANYA SEBUAH IMAJINASI BEBAS, TIDAK ADA KAITAN DENGAN ANDA SEKARANG, TETAPI ME-RELEVAN-KAN ALKITAB KE ZAMAN SEKARANG. JIKA ANDA TERSINGGUNG BERARTI ARTINYA BENAR

Kami akan mengajak Saudara sedikit ber-fantasi bagaimana jika Yesus tidak lahir 2000 tahun yang lalu. Kami tidak akan mengubah kebenaran, tapi mari kita bersama mengubah setting agar kita bisa lebih jelas lagi memahami kebenaran itu. OK. Mari bayangkan bahwa Yesus, semasa hidupNya hidup dalam setting Indonesia 2010, andaikan saja Ia lahir di tahun 1980, dan tahun 2010 adalah tahun dimana Ia memulai pelayananNya. Ya, Indonesia 2010, lengkap dengan denominasi gereja dan segala aktivitasnya, Mc D/KFC, RM Padang, kali code, Balai Sarbini Jakarta dan tentu saja gang Dolly Surabaya, dsb. Lengkap deh pokoknya!!

Mari berfantasi bersama, apa yang kira-kira terjadi jika Yesus hidup dalam Indonesia 2010?? Tanpa mengubah isi injil, yang adalah kebenaran itu, kita bisa mulai ber-fantasi sekarang, saat ini, ketika kita membaca aksara yang tercetak ini. Mari, saya akan memandu saudara.

Ambil satu contoh, Yesus membuat mujizat dalam pesta perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-11). OK, dalam setting Jogja 2010, itu mungkin saja menjadi Yesus membuat mujizat dalam perkawinan di RM Padang, misalnya, atau diHotel?? Bisa saja kan?? OK, dapatkah kita membayangkan seperti itu?? Yesus mungkin datang dengan busana tuxedo dan Dia membuat mujizat dalam pesta itu?? Nah, mari ber-fantasi bersama. Mungkin saja kemudian kita akan menjumpai Yesus memberi makan di McD / KFC pada lima ribu orang, Yesus berjalan di atas air di Kali Code, Yesus menyembuhkan si A di Balai Sarbini, Yesus mengusir setan di bunderan HI, Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Bali mungkin, (bukan Samaria lagi) di pantai Kuta, Yesus diurapi kakinya oleh WTS Dolly, Yesus memanggil murid-muridNya di warung kaki lima/warteg, Yesus berkhotbah di Pasar, Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir di mushro, Yesus berdoa di alun –alun kidul menjelang kematianNya dan banyak lagi tentunya yang dapat kita fantasikan mengenai kehidupan Yesus dalam Indonesia 2010.

Nah, ini yang menarik. Bagaimana dengan kita?? Bagaimana posisi kita?? Jangan terkejut, kita bisa saja menjadi orang yang mengalami mujizat Yesus, tapi kemudian kita juga yang ingin Dia disalibkan!! Bisa juga kita menjadi penjahat di sebelah kiri Yesus!! Kita, yang adalah orang yang ber-agama dan atau memiliki label ‘pelayan Tuhan’ bisa jadi adalah musuh besar Yesus, yang selalu mempertanyakan tentang perilaku bengal Yesus yang menjugkir balikkan semua sistem agama , dimana orang-orang seperti kita pada waktu itu disebut orang farisi dan juga para pemuka agama. Hal itu sangat mungkin, dan sangat masuk di akal kan?? Ya, kita sangat mungkin menjadi orang yang membenci Yesus karena Yesus tentu saja mengacaukan segala kemapanan agama kita, melawan sistem agama yang kita anggap itu benar!! Ya, sangat mungkin kan kita membenci Yesus karena dia adalah orang yang sukanya makan saja, Dia adalah sahabat orang berdosa, dan dia melanggar aturan agama!!! Bagaimana?? Make sense kan??

OK, kita sudah ber-fantasi dengan apa yang mungkin terjadi, dan bagaimana kemungkinan posisi kita jika Yesus hidup dalam Indonesia 2010. Bagaimana?? Apakah itu tidak cukup menyeramkan bagi kita?? Kita yang selama ini menganggap bahwa kita adalah orang yang paling men-cinta-i Yesus, ternyata kita mungkin saja jadi musuh besarNya dan mencoba menyalibkan Dia!!! Nah, sekarang mari ber-fantasi tentang apa yang mungkin tidak akan Yesus lakukan jika Dia hidup di Indonesia 2010. Apakah kita dapat membayangkan bahwa Yesus adalah aktivis dalam suatu organisasi gereja?? Yesus adalah orang yang tiap hari Selasa ikut pertemuan anu dan kemudian hari Kamis Yesus latihan musik untuk kebaktian hari minggu, atau dapatkah kita bayangkan Yesus masuk dalam ‘tim ibadah raya’ dan berlelah-lelah agar acara minggu yang penuh gebyar itu bisa berjalan dengan sukses dan Bapa di Surga senang?? Apakah kita dapat bayangkan bahwa Yesus adalah orang yang sibuk dengan rapat ini dan itu untuk membuat program organisasi gereja lalu Dia ikut rapat kerja denominasi tertentu?? Bagaimana?? Apakah kita bisa membayangkan bahwa Yesus adalah orang yang selalu hadir di acara hari minggu kita dan duduk di deretan paling depan karena Dia disebut pemimpin gereja atau majelis?? Dapatkah kita bayangkan Yesus menjadi orang yang sangat sibuk dengan segala aktivitas untuk persiapan acara hari minggu dan Yesus adalah orang yang bekerja keras untuk suatu denominasi, berkutat dengan undangan khotbah dan ber-hahahihi dengan para pendeta?? Bisa?? Bisa kita bayangkan?? Kalau kita bisa membayangkannya, saya rasa kita perlu sekali lagi membaca injil dengan sangat saksama dan hati-hati!!! Ya, coba kita lihat bersama. Yesus jelas adalah orang yang menjadi musuh besar lembaga agama, jadi tidak mungkin Dia ada dalam kenyamanan sistem agama seperti itu!!! Mari lihatlah injil, dan mari kita akui dengan jujur dan rendah hati bahwa fokus hidup Yesus bukan semuanya itu!!! Mari, lihat sosok Yesus yang selalu sibuk berada di luar, melakukan hal-hal seperti menyembuhkan orang sakit, bertemu dengan orang-orang berdosa, bukan ber-hahahihi dengan orang-orang suci dengan label pendeta atau ‘pelayan Tuhan’, Yesus yang membangun komunitas dengan murid-muridNya, Yesus yang mengajar banyak orang dan melakukan hal-hal yang pada masa itu dan sangat mungkin pada masa sekarang ini dianggap sangat kurang ajar oleh orang-orang yang ber-agama!! Bagaimana mungkin Yesus adalah orang yang tiap kamis latihan musik dan sibuk berjerih lelah untuk mempersiapkan acara hari minggu?? Atau bagaimana mungkin Yesus adalah orang yang tiap hari minggu rajin datang dan duduk manis dalam acara hari minggu kita sebagai seorang majelis?? Nggak mungkin honey!!! Nggak mungkin!!! Mengapa?? Karena fokus Yesus jelas bukan itu!!! Fokus Yesus adalah hubungan dengan Bapa dan jiwa-jiwa. Bukan fokus yang bisa dicapai dalam acara ke-agama-an!! Nah, mari merenung bersama dan dengan jujur dan rendah hati kita akui bahwa mungkin ternyata fokus hidup kita masih jauh dengan fokus hidup Yesus, guru, panutan, dan teladan hidup kita. Ya, kita terlalu banyak berjerih payah dan berlelah untuk acara hari minggu kita, untuk program-program organisasi gereja kita atau bahkan kita tidak melakukan apa-apa dan cukup puas dengan menyandang label ‘orang Kristen’ saja. Yesus?? Wow, Dia secara brilian menggenapi tentang apa itu ibadah. Yesus mempersembahkan tubuhNYa, bahkan seluruh kehendak dan hak-hak istimewa yang Dia miliki sebagai persembahan yang kudus, hidup, dan berkenan pada Bapa (‘ibadah Roma 12:1’), Dia juga melakukan dan membangun ‘ibadah saling’ dalam komunitasNya (‘ibadah Ibrani 10:25’) dan tidak dapat dipungkiri pula, Yesus, dari hati yang mengasihi Bapa melakukan pelayanan kontekstual pada setiap orang yang membutuhkan dan Dia tetap menjaga diriNya bersih dari segala kecemaran dunia (‘ibadah Yakobus 1:26’). Nah, bagaimana dengan kita??

8. Mutiara Natal (diskusi dan beberapa tulisan orang, salah satunya dari Haryadi Baskoro Jgj)

a) Jika Natal berarti baju baru, pesta dunia tanpa Natalpun tak jadi soal. Karena itu tidak berpengaruh bagi keselamatan manusia. Tetapi jika Natal berarti kelahiran Yesus, maka tanpa Natal dunia akan menghadapi persoalan terbesar. (Yoh 3 :16)
b) Tanggapan/tindakan berbeda menghasilkan hasil yang berbeda.
Bandingkan antara respon/iman Maria (Luk 1:34) dan Zakharia.
Bandingkan antara respon yang tanggap dan proaktif seperti para gembala dengan menunda-nunda/melarikan diri seperti Yunus.
c) Yusuf dan Maria tidak membenci Herodes/mengasihi musuh (Yoh 15: 18, Mat 2:13-15,19, 5: :44; Rom 12:19,21)
d) Yusuf dan Maria adalah pasangan yang menjaga masa pertunangan dengan hidup kudus (Mat 1:19-25)
e) Para majus memberikan yang terbaik bukan hanya kuantitas tetapi kualitas (Mat 2 : 11)
f) Kegerakan baru seringkali diiringi dengan munculnya "Roh Herodes" yang mengandung makna: (Mat 2 : 1 – 12) Roh iri hati, Roh takut tersaingi, Roh kemunafikan, (Mat 14 : 1 – 12), Roh perzinahan, (Kis 12 : 20 – 23) Roh kesombongan. Sementara itu orang yang tidak dikuasai oleh roh agamawi melainkan yang terus hidup dalam Roh akan dapat mengenali kegerakan Tuhan meskipun masih dalam bentuk “bayi kecil” (Luk 2 : 25 – 32).
g) Orang yang benar-benar merindukan Tuhan dan bertekun dalam doa akan memperoleh banyak hal yang luar biasa seperti Hana dan Simeon (Luk 2: 25b, 37b)
h) Jehovah Jireh mencukupi Yusuf dan Maria, meski hanya dapat kandang sederhana tetapi tidak kekurangan (Luk 2:6) bahkan memperoleh persembahan yang mewah (Luk 2:11), meski harus mengungsi tetapi tidak kekurangan dan terlantar (Mat 2:13-15)
i) Tuhan dapat memberikan bimbingan secara adikodrati, misalnya Yusuf dibimbing melalui mimpi (Mat 1: 18-25, 2:13-23), para majus melalui bintang (Mat 2:1-12), para gembala diberitahu oleh malaikat (Luk 2:8-20)
j) Natal mengajar siapapun, apapun profesinya untuk mengutamakan Yesus, bagaimana Yusuf dan Maria mempertaruhkan martabat selama mengandung, nyawa mereka demi keselamatan bayi Yesus (Mat 2:13-23), majus rela pergi jauh demi menemui Yesus (Mat 2:1-12), para gembala rela meninggalkan bisnisnya (Luk 2:15-20), Hana siang malam berdoa demi menantikan Kristus.
k) Kelahiran Yesus mempersatukan setiap orang percaya para majus (orang kaya, elite/pemerintah), para gembala (rakyat jelata), Simeon/hana (alim ulama) bersatu dalam satu fokus: Yesus. Tetapi sekarang anak-anak Tuhan gara-gara Yesus malah terpecah belah.

* aktivis persekutuan mahasiswa

dilihat : 723 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution