Kamis, 13 Desember 2018 02:36:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 324
Total pengunjung : 449739
Hits hari ini : 1881
Total hits : 4146078
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pembayaran Sharing Kayu Molor, Petani Hutan Kediri Resah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 01 Maret 2010 15:22:58
Pembayaran Sharing Kayu Molor, Petani Hutan Kediri Resah
KEDIRI—Penyerahan bagi hasil (sharing) hasil hutan berupa kayu secara simbolis dari Bupati Kediri, Ir. H. Sutrisno, MM kepada masyarakat sekitar hutan dipengujung bulan November tahun lalu betul-betul hanya simbol belaka. Hal itu menyebabkan keresahan masyarakat yang tergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Pinggiran Hutan) Kabupaten Kediri.. Akibat lebih lanjut Bupati Kediri Ir. H. Sutrisno dituduh melakukan kebohongan.

Hingga tiga bulan sejak penyerahan secara simbolis pada tanggal 28 November 2009, belum terlihat sama sekali akan direalisasi. Pada saat penyerahan itu disampaikan kalau nilai sharing kayu periode 2009 untuk BKPH Pare sebesar 850 juta yang akan dibagi kepada 13 LMDH.

”Ini benar-benar simbol dan tanpa realisasi. Kami tidak tahu yang bohong itu bupatinya atau pihak Perhutani?” Ujar salah satu ketua LMDH yang tidak mau namanya disebut. Beberapa Pengurus LMDH juga sudah mulai kasak-kusuk akan melakukan demo ke kabupaten, namun oleh beberapa kepala desa setempat aksi mereka berhasil dicegah.

“Saya heran kenapa tidak segera dicairkan uang itu. Padahal uang itu sangat kami butuhkan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan tanaman saat ini. Apabila kita sekarang lagi tidak beruntung dengan lombok maupun dengan jagung. Sedangkan pihak Perhutani juga sudah pernah berjanji akan membayarkan paling lambat awal pebruari” ujar salah seorang petani sanggem (penggarap,-red) di wilayah LMDH Manggis.

Soal batas terakhir pembayaran pernah diungkapkan oleh pihak perhutani saat mereka diundang di Tulungagung pada tanggal 24 Desember 2009 lalu. Menurut keterangan beberapa anggota LMDH di wilayah BKPH Perhutani Pare, setiap masa panen hasil hutan perhutani biasanya membagikan hasil panen dengan masyarakat pinggiran hutan atau petani pesangem sebagai upah mereka selaku pekerja. Penyerahan untuk tahun 2009 ini sudah dilakukan pada tanggal 28 November 2009 oleh bupati di depan 13 LMDH/ kelompok tani saat bupati mencanangkan penghijauan di hutan Jatirejo kecamatan Puncu.

Jatah masing-masing Pesanggem yang diwakilkan kepada LMDH berbeda-beda. Tergantung pada luas lahan dan jumlah kayu yang dihasilkan setiap peroide tanam. Untuk tahun ini, khususnya di wilayah BKPH Pare yang meliputi luas wilayah 10.000 hektar, rasio pembagian hutan adalah 25 persen untuk petani yang bergabung dalam LMDH dan perhutani 75 persen dari nilai kayu. Dari jatah tersebut, karena umur tanaman selama 8 tahun maka petani hanya akan memperoleh 3/8 saja dari panen yang ada di tahun ini.

“Dengan demikian masing-masing LMDH akan mendapat sharing bervariasi hingga ada mendapat sampai 300 juta lebih tergantung banyaknya hasil hutan” ujar salah satu pengurus LMDH di wilayah BKPH Perhutani Pare yang mewanti-wanti agar namanya dirahasiakan.

Ketika hal itu dikonfirmasikan ke pihak KPH Kediri yang membawahi BKPH Pare, mereka membenarkan jika sharing tersebut belum dibayarkan. “ Mungkin bulan April, kita masih menunggu perintah dan hitungan dari Perhutani unit Jawa Timur” ujar Eko Wicaksono salah satu staff humas Perhutani KPH Kediri. Sedangkan administrator Perhutani KPH Kediri , Ir. Supriyadi, maupun Arif Budianto kepala urusan (kaur) humas tidak berada di tempat.

Pihak Pemda Kabupaten Kediri ketika ditanya persoalan ini mengaku bahwa mereka sudah mendengar tentang persoalan ini. “ Namun penjelasan resminya sedang kita cari. Pihak Dinas Perkebunan sedang berkoordinasi dengan pihak Perhutani.” Ujar Eko Setiyono saat ditemui di peringatan Hari Pers Nasional di Hotel Insumo Kediri. (yud/dutamas)

dilihat : 486 kali


Berita Terkait
   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution