Rabu, 26 September 2018 00:54:40 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 252
Total pengunjung : 423297
Hits hari ini : 1867
Total hits : 3900177
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Merdeka.....?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 01 Oktober 2006 00:00:00
Merdeka.....?
Perayaan 17 Agustus telah berlalu ?

Akankah momen seperti itu menjadi sebuah euforia seremonial belaka,

yang seakan-akan menjadi intermezzo dalam peliknya kehidupan berbangsa dan bernegara ???



Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Tidak!!! Hentikan bualan itu!

Kita belum merdeka! Ya belum merdeka.

Jika kita Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Dr. Sutomo, Jend. Sudirman, dan berbagai tokoh revolusi lainnya, kita pantas menyebutkan kata itu ?

Mereka sudah merdeka.



Tapi kita ? siapakah kita?

Merdeka??? Haha...

Terjajah saja bahkan kita tidak sadar. Apalagi kita bisa melawan.

Tidak sadarkah kita bahwa selama ini kita salah menentukan musuh?

Tidak sadarkah selama ini kita membuang energi kita untuk suatu perjuangan yang yah?

hampir bisa dibilang sia-sia?



Selama hampir 300 tahun, pendahulu kita ? yang kita sebut pahlawan ? bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang terjajah.

Mereka sama sekali telah dibutakan egoisme pribadi, sampai-sampai mereka saling menghabisi satu sama lain.

Berjuang ???

Apakah perlawanan karena tanahnya di-kepras itu bisa disebut perjuangan kemerdekaan?

Apakah perlawanan karena teritorialnya dilanggar itu bisa disebut perjuangan kemerdekaan?

Apakah perlawanan dilandasi dendam pribadi bisa disebut perjuangan kemerdekaan?

?Pahlawan-pahlawan? kita hanya memikirkan perutnya sendiri, kelanggengan keturunan dan pewarisnya.

Yah, biarlah mereka yang sudah terlanjur mengisi halaman-halaman buku sejarah kita itu lenyap termakan waktu.

Seorang ibu yang bahkan sampai sekarang kita sebut sebagai pahlawan ? dan HUT-nya kita rayakan setiap tahun ? tidak (bahkan salah) tahu siapa yang layak disebut ?penjajah?.

Mereka tidak pantas menyandang predikat ?Pahlawan?. Memalukan ..



Perjuangan yang sebenarnya dimulai setelah itu.

Pejuang kita tahu benar bahwa mereka sedang terjajah, tertindas.

Mereka tahu benar siapa saudara, siapa lawan.

Dan mereka berjuang melawannya, demi sebuah idealitas sejati. Bukan materi, isi perut, dan kemashyuran.

Dan akhirnya, Tuhan menghadiahkan sebuah anugerah yang terindah

Kemerdekaan ...

Merekalah orang yang pantas menyandang predikat ?Pahlawan?

Dr. Sutomo, Jend. Sudirman, Ir. Soekarno, Moh. Hatta,

dan berbagai tokoh revolusi lainnya...



Kembali ke kita...

Seakan akan kita mengulangi kebodohan para pahlawan aspal kita.

Bahkan mungkin kita lebih bodoh. Sangat mungkin!



Tak kunjung sadarkah kita kalau kita sedang terjajah oleh diri kita sendiri ???

Kita terjajah oleh diri kita yang bermental rendahan, hipokrit alias penjilat. Demi kepentingan pribadi kita rela mengesampingkan idealisme kita, bahkan (ajaran-ajaran) Tuhan kita. Kita menyerahkan harga diri kita untuk mengenyangkan perut kita semata. Semurah itu kah kita?



Kita terjajah oleh diri kita yang apatis. Dengan berdiri diatas kemapanan dan kemewahan (yang konon titipan Tuhan) kita menolak dan menarik diri dari tanggung jawab sosial kita. Bejatnya, kita mengatakan itu bukan urusan kita. Dan lucunya untuk menghindari desakan, kita berdalih tidak suka mencampuri urusan orang lain. Lain modus dengan kita yang papa dan berkekurangan. Atas nama pengejaran kemapanan kita menyerahkan idealisme kita pada pragmatisme dunia. Atas nama itu pula kita menyerahkan ?tugas mulia? tadi kepada tikus-tikus penjilat yang merusak kehidupan. Mungkin kita lebih cocok hidup di hutan rimba.



Kita terjajah oleh kurcaci-kurcaci pengerdil intelektual. Kita terjebak dalam romantisme pemikiran. Tanpa pikir panjang kita menutup diri untuk pemikiran lainnya. ?Saya yang benar, yang lain salah !!!?. Pentium 1 kah Tuhan kita? Sehingga ia hanya bisa menciptakan robot yang pikirannya tak lebih besar dari tempurung kelapa?

Kita terjajah oleh diri sendiri yang manja, oportunis. Desperately, kita menyerahkan identitas kita pada sebuah kerumunan. Kita berlindung pada sebuah nama yang besar, nama yang mewakili suatu kolektivitas. Tak sadarkah justru pada saat kita berkerumun itu kita kehilangan identitas kita? Kita kehilangan keragaman akal pemberian Tuhan? Dan yang paling menyedihkan kita menjadi nir-logis. Logikaku = Logika kelompok

Kita terjajah oleh diri kita yang pengecut. Pengecut...pengecut...pengecut !!! Tak sadarkah kita bahwa penyebab utama kebobrokan semua ini adalah K I T A??? Keterjajahan kita menyebabkan komplikasi kebobrokan dan kehancuran negeri ini. Takutkah kita disalahkan, sehingga kita menyalahkan orang lain? Berani-beraninya kita menyalahkan orang lain: Imperial, borjuis, penguasa, kafir. Tak sadarkah kita pada saat telunjuk kita menunjuk orang lain secara bersamaan kita tertunjuk oleh empat jari kita yang lain??? Bahkan jari kita tahu siapa yang pantas dipersalahkan atas semua ini. Okelah mereka yang tersebut tadi bersalah, tapi yakinlah, mereka bahkan tidak sampai ?menyumbang? seperlima dari kebobrokan ini... Sisanya ??? Jika kita berkeras tidak mau dipersalahkan, berarti saya yang patut dipersalahkan.



Saat Alfred Simanjuntak giat menyanyikan



Bangun pemudi pemuda Indonesia

Tangan bajumu singsingkan untuk Negara

Masa yang akan datang kewajibanmulah

Menjadi tanggunganmu terhadap Nusa



Dimanakah pemuda-pemudi Indonesia (alias KITA)? Sibuk antri di Indonesian Idol (atau AFI). Sibuk shopping baju bermerek untuk memperindah diri. Sibuk menamatkan Game yang notabene justru menamatkan kita. Sementara yang lain... Sibuk menuding orang lain. Sibuk menjilat sana-sini. Sibuk mencari pengakuan ?kedaulatan? pribadi. Sibuk menebar fitnah. Sibuk membela Tuhannya masing-masing (Nggak kebalik nih?).

Sibuk ... sibuk ... sibuk mengisi perut sendiri, sibuk aktualisasi diri, sibuk popularisasi diri, sibuk ?bunuh diri?.





Hizkia Yosias S. Polimpung

Eagle Flies Alone

dilihat : 872 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution