Jum'at, 14 Desember 2018 23:36:56 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 274
Total pengunjung : 450541
Hits hari ini : 2138
Total hits : 4150871
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Cerpen buah karya Julius Syaranamual






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 09 Agustus 2005 00:00:00
Cerpen buah karya Julius Syaranamual
Ia berjalan dengan langkah yang ringan tanpa tergesa-gesa, tanpa mengendap-endap. Daerah pinggiran seperti ini, memang tidak terlampau padat dengan rumah. Di sana sini masih rimbun rumpun pisang, lalu tanah yang kosong, semak-semak belukar, tanaman lantana dan putri malu. Langit cerah, dan matanya yang tua masih cukup awas. la terus melangkah tenang, melewati jalan tikus yang terbentuk oleh rumput yang mat! terinjak. Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seseorang sambil mengancing celana.



"Selamat malam," sapanya. Orang itu terkejut, latu tanpa menjawab apa-apa membalikkan tubuh, meneruskan usahanya menarik ritsleting celananya,



"Mau ke mana, Pak?" orang itu berkata sambil membalik ke arahnya.

"Ke kampung sebelah."

"Mangga, Pak," orang itu menunduk-nunduk lalu buru-buru melanjutkan perjalanannya.

"Silahkan," ujamya sambil terus berjalan.



Sesudah berjalan cukup lama, ia tiba di dekat sebuah rumah besar. Teras depannya luas dengan lampu yang benderang, dengan beberapa set kursi. Ada lukisan atau barangkali foto berbingkai, tanaman kuping gajah dalam pot, lampu gantung kristal yang tidak menyala. Dari dalam terdengar musik yang keras, hingar bingar tidak keruan, yang serasa tidak sesuai dengan suasana pedesaan yang masih kental di daerah itu. Di samping rumah nampak ada mobil jenis minibus.



la berhenti sejenak. Meneliti daerah sekitar rumah, kemudian dengan langkah yang pasti ia berjalan menuju ke sebatang pohon beringin besar yang tumbuh di sebelah utara rumah yang menghadap ke arah timur itu. la memanjat pohon beringin itu dengan mudah, lewat daya ingat yang sudah terlatih. Dan tanpa kesulitan apa-apa, ia menemukan batang yang cukup lebar merentang sejajar dengan tanah, dan dengan hati-hati ia mendudukkan dirinya sambil menyandar ke batang utama.



Dari situ dengan bebas ia bisa memperhatikan bagian belakang rumah itu. Ada keinginan yang kuat untuk merokok, apalagi dengan nyamuk yang mengiang-ngiang di kupingnya. Seluruh tubuh sudah dilulurinya dengan salep anti nyamuk. Tetapi yang membuat ia merasa gembira adalah bahwa ia masih memiliki kemantapan perasaan yang sama, seperti ketika ia masih sepenuhnya mengerjakan kegiatan ini sebagai pekerjaan tetap.



Sesudah beberapa saat, ia mengeluarkan cangklongnya, lalu menyulutnya. Dalam keadaan seperti ini, ia selaiu siap dengan cangklong yang memakai penutup, yang konon dipergunakan orang ketika berada di medan pertempuran. Cangklong ini diambilnya di rumah seorang asing, ketika ia melakukan tugasnya di sana.



la tahu betui isi rumah yang sedang diawasinya ini, dihuni seorang janda dengan seorang anak perempuan yang sudah amat siap untuk menikah, tiga pelayan dan seorang sopir tua. Di samping itu ada empat orang pegawai yang tinggal di luar. Janda yang terhitung paling kaya di daerah itu, hidup dari penyewaan kendaraan umum, yang selaiu menerima setoran setiap sore dan menyetor lagi uangnya setiap pagi ke sebuah bank di kota. la sendiri sudah memperhitungkan berapa besar uang yang bisa dikumpulkan Janda itu setiap menjelang malam dari penyewa-penyewa mobilnya yang hampir mencapai dua puluh buah itu. Sedang si anak gadis, sesudah menyelesaikan pendidikannya di sebuah akademi pariwisata di kota, kini membuka sebuah warung serba ada yang menempel di bagian selatan rumah itu.



Lalu sebuah mobil muncul. Pasti berhenti di depan rumah, yang feihalang untuk bisa ia lihat. la tidak tahu siapa yang datang. Beberapa menit kemudian, terdengar lagu dikecilkan. Pasti yang punya rumah yang datang, ia memperkirakan. Dari kejauhan, terdengar ketongan. Baru pukul sebelas.



la memang mempunyai kebiasaan untuk menunggu di dekat sasarannya beberapa jam lamanya. Selain ia cukup mempunyai banyak waktu untuk mempertimbangkan perasaannya, ia juga bisa memantau keadaan sasarannya dengan cukup mantap. Bukan sekali dua ia harus membatalkan usahanya, bilamana sesudah beberapa jam perasan waswas tidak juga hilang.



Lalu ia mendengar bunyi mobil dihidupkan, kemudian nampak sorotan lampu mendahului mobil itu yang langsung menuju ke jalan besar. Lalu menghilang, Lalu cahaya yang nampak di bagian depan rumah menghilang, pasti lampu dimatikan. Dan seperti yang sudah ia harapkan, tak lama kemudian beberapa orang nampak berjalan di samping rumah. Para penjaga keamanan yang melakukan tugas mereka sebagai sebuah rutinitas, mulai dari waktu meronda keliling, langkah dan bahkan kapan harus membatuk.



la merasa ada yang bergerak di kakinya. Seekor semut. Buru-buru ia menarik kakinya dekat ke tubuhnya, lalu mematikan semut itu dengan memencet bagian celana di mana semut itu berada. Kemudian kakinya kembaii ia julurkan.



Beberapa bulan yang lalu, anaknya yang jadi insinyur datang menjemputnya di desa asalnya, lalu membawanya ke desa ini, di mana anaknya telah membangun sebuah rumah kecil dengan sebuah warung serba ada untuknya. Di kampungnya yang lama, ia juga mempunyai sebuah warung. Kendati cukup banyak yang membeli di situ, ia tidak mengharapkan apa-apa dari warung itu. Kerja sebagai pencuri, jauh lebih sesuai dengan dirinya. la bisa menghargai dirinya sebagai pencuri.



Lampu dari lobang angin dan jendela kamar yang menghadap ke arahnya sudah padam entah kapan. la sedang sibuk membayangkan bagaimana pertama kali ia memutuskan untuk menjadi seorang pencuri, yakni ketika anaknya yang jadi insinyur ini lahir. la menjadi pencuri karena kakeknya seorang pencuri dengan ilmu yang tinggi, yang diturunkan kepadanya tanpa setahu ayah maupun ibunya. la tersenyum mengingat bagaimana ia mencuri uang tabungan kakeknya ketika ia masih bersekolah di sebuah sekolah rakyat.



Istrinya sendiri sudah meninggal lima tahun yang lalu, sesudah - dalam keadaan sekarat - memintanya untuk tidak mencuri lagi demi anaknya yang ketika itu sudah menjadi mahasiswa di Bandung sana. la ingat bahwa ketika itu ia sama sekali tidak bisa menjanjikan apa-apa, yang membuat istrinya meninggal dalam keadaan kecewa.



Lalu ia mendengar orang batuk-batuk. Para penjaga keamanan datang dari arah mereka tadi pergi. la menarik kakinya yang kiri hingga lututnya dekat ke tubuhnya, dan mulai memijat-mijat betisnya. Sesudah itu kakinya yang kanan ditariknya. Segenggam pasir yang dimasukkan ke dalam sebuah kantong kain hitam yang berada di kantong celananya ia periksa. Dari kantong celana yang satunya lagi, ia mengeluarkan seutas pita merah, yang ia lilitkan ke kepalanya. Saat untuk beraksi sudah tiba.



* *



PAGI ITU, untuk pertama kalinya semenjak ia pindah ke desa ini, ia tidak membuka warungnya. la tidur sampai ketika ada yang menggedor pintu depannya. Lalu ketika ia membuka pintu, anaknya menerobos masuk. la mengunci kembali pintu. Nampak kalau anaknya sedang marah.



"Ayah melakukan perbuatan terkutuk itu lagi."

"Hei, apa yang kaubilang?"

"Ayah semalam menggerayangi rumah Ibu Rohmah, bukan?"



Keyakinan anaknya membuat ia memutuskan untuk tidak menyangkal. "Dari rnana kau tahu itu rumah Ibu Rohmah?"

"Itu calon mertua saya," ujar anaknya.

"Oo. Jadi kau yang semalam datang ke rumah itu mengantar calon istrimu itu, ya?"



Anaknya cuma menatapnya tajam, lalu wajahnya menjadi kuyu.

"Kenapa, Ayah? Kenapa Ayah harus lakukan ini, dan terhadap calon keluarga kita sendiri?"



"Duduk," ujamya tenang tetapi dengan daya memerintah. Anaknya menarik kursi meja makan lalu duduk. la lalu mengambil gelas, menuangkan air dari ceret lalu meneguknya.



"Sebaiknya kau tidak bicara seperti orang main drama. Saya tidak menolak tuduhanmu, dan itu sudah cukup. Dengar dulu... saya masih bicara ! Saya tidak mengenal mereka, dan tidak tahu kalau punya hubungan dengan kau. Kalau saya mencuri, itu karena ada dorongan yang selalu memaksa saya untuk terus melakukan hal itu. Saya...."



Sebuah ketokan di pintu membuat ia menghentikan omongannya. la langsung membuka pintu. Seorang anak kecil dengan wajah takut dan waswas berdiri di depannya.



"Warung Bapak tutup, ya?"

"Ya, saya agak kurang enak badan. Ada yang perlu?"

"Ibu menyuruh saya..."

"Sini, masuk." la membimbing anak itu masuk. "Namamu An, bukan?" Lalu dengan agak mendorong ia membawa anak itu menuju ke pintu samping rumah yang membuka ke warungnya.



"Ambil sendiri yang diperlukan ibumu," ujamya ramah.

"Adik yang masih bayi perlu susu...."

"Masuklah," ia mendorong anak itu, tetapi nampaknya anak itu menolak.

Anak itu memandangnya ragu-ragu. "Kata ibu, utang yang lalu.,.."

"Masuklah dan ambil sendiri. Jangan takut, Nak."



Anak itu masuk, mengambil beras beberapa liter, gula dan kopi, serta susu kaleng untuk bayi. la sendiri berjalan ke belakang menuju ke kamar kecil.



Ketika ia balik, anak itu sedang berdiri di depan pintu menunggunya.

"Sudah?"

"Sudah, Pak. Saya sudah catat di buku utang. Terima kasih...."

la membukakan pintu lalu kembali menguncinya.



"Kau tidak usah tanya kenapa saya harus mencuri. Warung ini nyaris tidak memberikan penghasilan apa-apa. Kau lihat anak tadi, dan hampir sebagian besar desa ini tergantung dari utang yang saya kasih. Utang yang semakin lama semakin bertumpuk."



"Ayah tidak bisa kasih hati seperti itu pada orang-orang ini."

"Caranya? Dengan mengusir mereka pulang dengan tangan kosong dan perut yang kelaparan? Atau menyeret mereka ke pengadilan? Mungkin kau benar, tetapi saya cuma tidak mampu melakukannya."Anaknya diam.



"Apa kaupikir saya menjaga warung ini untuk mengejar kekayaan? Kan untuk sekadar bisa hidup, supaya saya bisa melewati masa tua saya dengan tidak merana. Tetapi kalau pertimbangannya demikian, lalu bagaimana dengan orang-orang yang hidup di sekitar kita, yang setiap hari bertemu dan selalu melepaskan senyum."



Lama kemudian, sesudah meneguk air beberapa kali, barulah anaknya berkata: "Bagaimana kalau Ayah tertangkap polisi?"



"Itu resiko. Apalagi untuk sebuah negeri di mana begitu banyak orang yang justru tidak bersalah ditangkap polisi dan mendekam di penjara tanpa tahu apa kesalahan mereka. Tetapi kau harus tahu, saya menghargai kegiatan ini sebagai pekerjaan yang harus profesional dan sempuma. Mereka membutuhkan keahlian yang tinggi untuk bisa melacak saya."



"Bisa hancur hidup saya kalau orang-orang tahu Ayah yang mencuri di rumah itu."

"Saya masih terlalu mengantuk, Tri. Sebaiknya kau beri kesempatan saya beristirahat dulu."

"Ayah kelihatannya tidak mempedulikan kepentingan saya, tidak peduli nasib saya."



"Lalu bagaimana kau bisa jadi seorang insinyur? Dan apa kaupikir biaya yang setiap bulan saya kirim dan bisa membuat hidup kau di Bandung tidak berkekurangan itu hasil dari warung ibumu? Camkan Nak, itu semua hasil kerja yang kausebut tadi perbuatan terkutuk."



Anaknya terpana.



"Dari mana kau tahu kalau saya yang mencuri semalam di rumah setan blau itu?"



"Ibu pemah bercerita, kalau Ayah mencuri di mana-mana, ada kebiasaan Ayah untuk membuka lemari makan mereka dan melahap apa yang ada dan membiarkan piring kotor dengan sedikit sisa makanan di atas meja."



la tersenyum. Lalu berkembang menjadi tawa lepas. Ada rasa bangga yang ia perlihatkan ketika mengatakan, "Orang yang besar selalu harus membiarkan dirinya punya kebiasaan yang unik."



Anaknya yang insinyur itu bangun. "Begini, Ayah. Saya tidak mampu menghadapi kenyataan ini. Saya ingin sekarang juga Ayah pilih, tetap melakukan pencurian dan kita tidak saling kenal lagi atau Ayah berhenti mencuri."



"Itu dua hal yang tidak bisa dijadikan pilihan. Sungguh tidak sebanding, karena kedua-duanya sesuatu yang amat prinsipil dalam hidup saya. Tetapi kalau kau memaksa, saya dengan ikhlas memilih yang pertama. Toh kau sudah hidup mandiri." la menatap anaknya tegas. Dan sesudah beberapa jenak kemudian ia berkata lagi, "Nah, saya benar-benar sangat mengantuk dan tak mampu membendungnya lagi."



Ia berjalan menuju ke pintu lalu membukanya.

Anaknya bangun lalu dengan lesu berjalan menuju ke pintu.

Ketika anaknya lewat di depannya ia berkata, "Ini ada sebuah pertanyaan yang tak perlu kaujawab. Apakah masih ada orang di negeri ini yang tidak mencuri?"



Julius Syaranamual

dilihat : 967 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution