Kamis, 13 Desember 2018 02:33:29 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 324
Total pengunjung : 449739
Hits hari ini : 1875
Total hits : 4146072
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Indonesianisasi Bermula dari Semarang
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 10 Oktober 2006 00:00:00
Indonesianisasi Bermula dari Semarang
Barangkali buku ini serpihan dari hasil studi penulisnya untuk kedua buku yang sudah dia tulis sebelumnya: Soegija Si Anak Betlehem van Java, Biografi Mgr Albertus Soegijapranata SJ (2003) dan Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang.



Catatan Harian Mgr A. Soegijapranata SJ 13 Februari 1947-17 Agustus 1949 (2003). Barangkali pula ini bagian dari studi program doktor penulisnya tentang misiologi dengan studi kasus Keuskupan Agung Semarang 1940-1981.



Dengan kedua perkiraan itu niscaya detail tentang perjalanan dan perkembangan Keuskupan Agung Semarang (KAS) dia kuasai. Tidak hanya sejarah tentang hierarki Gereja seperti ditulis Huub Boelars (Indonesianisasi) tahun 1991 yang edisi Indonesia-nya baru terbit 2004, tetapi juga buku yang ditulis MPM Muskens (Sejarah Gereja Katolik Indonesia (1974) ataupun Anhar Gonggong, Mgr Albertus Soegijapranata. Antara Gereja dan Negara (1993).



Selain umum menyeluruh dan tidak detail, lebih banyak buku yang pernah ada menitikberatkan sejarah Indonesiasi dalam konteks hierarki Gereja. Sedangkan buku ini memfokuskan sejarah pengumatan, akulturasi, perjalanan jatuh bangun umat Katolik di KAS mengembangkan diri. Detail dengan sejarah umat sebagai setting itulah kelebihan buku Budi Subanar, apalagi dibatasi pada era kepemimpinan dua uskup, Mgr A Soegijapranata SJ dan Justinus Kardinal Darmoyuwono Pr saja.



Detail itulah yang dia tuangkan dalam dua bab; Bab III tentang pengumatan dalam era Soegijapranata dan Bab IV tentang pengumatan dalam era Darmoyuwono. Sedangkan pada Bab I dan Bab II diuraikan konteks makro Kristianitas di Indonesia; pada Bab V dan Bab VI evaluasi kritis penulis tentang pengumatan pada era kedua uskup. Merasa tidak berlatar belakang ilmu sejarah, walaupun bidang misiologi tidak bisa tidak bersentuhan banyak dengan peristiwa masa lalu, Budi Subanar pun secara tidak langsung menyumbangkan bahan sejarah KAS.



Dalam konteks kelengkapan rekaman data historis tentang pengumatan umat Katolik di Indonesia, yang secara hierarkis geografis dibagi-bagi dalam keuskupan, buku ini perlu dihargai. Ia menyajikan sejarah tentang Gereja setempat. Oleh karena itu, benar yang diinginkan Budi, buku ini bisa memberi inspirasi dan mendorong penelitian serta penulisan sejarah gereja lokal lainnya (hal 9).



Masa krusial



Secara kebetulan, eksistensi dua periode itu berada dalam masa krusial perjalanan negara-bangsa Indonesia. Periode Soegijapranata sebagai uskup (1940-1963) dan periode Darmoyuwono (1963-1981) masing-masing berada dalam konteks kelahiran negara sebelum Indonesia Merdeka, negara Indonesia yang masih muda, sampai awal-awal krisis menjelang peristiwa meletusnya G30S dan era kemudian Orde Baru, sebuah era yang ditandai dengan represifnya pemerintah terhadap gerakan-gerakan demokratisasi.



Periode itu pun membawakan ciri-ciri yang khas, umat Katolik sebagai bagian dari masyarakat-rakyat Indonesia yang terlibat langsung di dalamnya. Dalam konteks kehidupan umat, kepemimpinan Kardinal sebagai uskup ditandai dengan sosialisasi dekrit-dekrit Konsili Vatikan II, yang sampai saat ini dianggap sebagai pembalikan radikal dari era sebelumnya.



Sebagai bagian utuh rakyat Indonesia yang baru merdeka, umat Katolik di bawah Uskup Soegija terlibat langsung di dalamnya. Kedekatan Soegija dan mantan presiden RI pertama, Soekarno, tidak bisa terelakkan. Berkat Soegija, antara lain, barangkali Pendidikan Tinggi Tenaga Pendidik, kemudian bernama IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma merupakan lembaga pendidikan tinggi swasta di Indonesia satu-satunya yang didirikan oleh seorang presiden. Ketika ada persoalan antara politik dan Gereja, Soegija menyatakan, "100 persen Katolik 100 persen warga negara". Caveat itu menjaga legenda sampai sekarang.



Caveat tentang lambang Bhinneka Tunggal Ika bahwa di tengah segala kebingungan kita, e-pluribus unum, bahwa "satu dalam segala kebinekaannya", tanpa sengaja Soegija mengutip lambang negara AS, menjadi legenda klasik juga.



Jatuh bangun bangsa-negara Indonesia yang integral dengan jatuh bangun umat Katolik Indonesia khususnya umat Katolik KAS itu terjadi juga di kala Indonesia dijajah Jepang tahun 1942; bagaimana dalam suasana krisis (hal 26) atau berada dalam suasana diaspora (terpecah-pecah), peranan uskup pertama pribumi itu menjadi sosok yang nasionalis, tetapi juga seorang bapak bagi umatnya. Budi Subanar menempatkan kisah perjalanan KAS dalam sebuah alur cerita menarik tetapi ketat dengan data-data sejarah yang selalu ditunjukkan acuannya.



Keberpihakan gereja



Hal yang sama terjadi untuk kisah kepemimpinan Kardinal Darmoyuwono, di kala bangsa Indonesia hidup dalam represi kekuasaan. Uskup menyaksikan dan menyemangati munculnya protes pastor-pastor yang berkarya di wilayah DI Yogyakarta soal kemiskinan. Gereja tidak berpolitik, tetapi terjun ke politik di kala keadaan darurat, (pernah seorang imam, Romo Sumandar SJ, duduk sebagai anggota DPR) juga Romo Drijarkara SJ.



Dengan cara sendiri, dalam konteks kegerejaan Uskup Darmojuwono melakukan perubahan-perubahan sikap, seperti pribumisasi soal tata cara liturgi maupun ajaran-bagian dari sosialisasi Konsili Vatikan II (1962-64), misalnya keberpihakan Gereja pada orang miskin atau pengakuan kebenaran atas agama-agama lain.



Dalam kedudukan sebagai Ketua Konferensi Waligereja (KWI) hubungannya dengan pemerintahan Soeharto, diuntungkan sebab kebetulan sama-sama berasal dari desa yang berdekatan?Darmoyuwono anak Lurah Desa Godean dan Soeharto berasal dari Desa Kemusu. Kedekatan geografis itu sering menguntungkan, tetapi tidak jarang membuat serba susah.



Makna menggereja yang intinya adalah umat, sebagaimana yang dikembangkan oleh Darmoyuwono, sejalan dengan semangat Konsiliasi Vatikan II. Keadaannya berbeda dengan yang dihadapi oleh pengganti sesudahnya, seperti Julius Kardinal Darmaatmaja SJ dan sekarang Mgr I Suharyo Pr.



Catatan perjalanan Indonesiasi khususnya umat KAS ini niscaya menjadi catatan berguna yang bisa mendorong penulisan sejarah lokal gereja-gereja setempat, keuskupan-keuskupan setempat. Ada bahan-bahan berguna, semacam embrio untuk penulisan sejarah keuskupan yang lebih lengkap, di antaranya kumpulan dari refleksi para uskup yang dikumpulkan oleh Hasto Rosariyanto SJ (Kanisius, 2001), Bercermin pada Wajah- wajah Keuskupan. Catatan-catatan itu bila diperluas dan diperkaya dengan dimensi kesejarahan bisa menjadi bagian utuh dari pemahaman umat tentang perjalanan hidupnya.



Indonesianisasi versi buku ini niscaya bermanfaat sekaligus mendorong penulisan sejarah gereja-gereja lokal (keuskupan) lainnya. Selain merangsang terbitnya buku-buku sejarah gereja lokal, Budi juga menawarkan metodologi penulisan sejarah gereja tidak berangkat dan berfokus pada hierarki, tetapi pada sejarah umat.



St Sularto (Kompas, Senin, 17 Juli 2006 )



dilihat : 1420 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution