Senin, 24 November 2014 22:48:02 | Home | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Selamat kepada Jokowi-JK sebagai presiden terpilih. Kita doakan agar pelantikan tanggal 20 Oktober berlangsung baik..--Ingin kegiatan pelayanan anda diliput? silahkan kabari kami di 082139048191, 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Perspektif

Strategi Kebudayaan
Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai.

Catatan Ringan

Kaum Injili dan Politik
Keberadaan kelompok-kelompok Kristen dengan dinamikannya di negara-negara dunia ketiga cukup menarik perhatian untuk dijadikan bahan studi.

Agenda

Selasa, 04 November 2014
Doa Pagi BAMAG Surabaya di GKJW Wiyung
Selasa, 11 November 2014
Sidang Raya PGI XVI Nias
Selasa, 18 November 2014
Dialog Lintas Agama BAMAG Surabaya







17896
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Akhirnya Gereja Kayu Itu Di Pugar Juga - Sejarah Gereja
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 18 Juli 2005 00:00:00
Akhirnya Gereja Kayu Itu Di Pugar Juga - Sejarah Gereja

Setelah berusia 5 tahun semenjak didirikan tahun 2000, akhirnya bangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) jemaat Sumberjo--yang terletak ditengah-tengah perkebunan tebu dipinggiran kota Pare, Kediri-- yang berdinding kayu itu akhirnya mengalami pemugaran.



Pemugaran bangunan gereja yang seluas 4 X 9 M2 tersebut dilakukan dengan berbagai pertimbangan, seperti jumlah jemaat yang terus bertambah sehingga melebihi kapasitas bangunan. Sebagai akibat dari hal tersebut, Gembala Jemaat GBI Sumberjo, Pdt. Lewi Sunaryo, Dipt.Th menyatakan, ?Kapasitas jemaat untuk bangunan lama maksimal hanya untuk 35 orang sementara jemaat kita sekarang sudah 57 orang jadi perlu diperluas,?ujar pendeta berkacamata ini. ?Selain itu kalau ada acara khusus seperti natal, paskah maupun KKR umat yang hadir sampai meluber ke luar pagar sehingga mengganggu akses jalan masyarakat ? tambah bapak dua orang anak ini.





Dalam rencana bangunan gedung gereja yang baru, luas bangunan berukuran 7X16 M2 akan dibagi menjadi beberapa ruangan yaitu ruang ibadah di lantai 1 dan ruang konseling, PA/SOM, ruang administrasi serta ruang diskusi di lantai 2/atas.



Yang menarik, ketika dikonfirmasi mengenai pemugaran bangunan di tanah seluas 9X24 M2 yang membutuhkan dana sebesar Rp. 153 Juta tersebut, Gembala jemaat yang pernah menolak bantuan beberapa puluh juta untuk pemugaran bangunan gereja dengan alasan kontekstualisasi itu menyatakan, ?Dulu bantuan kita tolak karena belum saatnya, tapi sekarang sudah waktunya. Warga sekitar telah menerima kita sebagai bagian dari mereka,? katanya dengan mantap. Masyarakat desa mulai terberkati oleh keberadaan gereja dan tidak lagi takut dengan bahaya Kristenisasi. ?Sudah dua (2) tahun ini kami mengadakan natal dua (2) kali dalam setiap perayaan natal. Sekali untuk internal gereja dan sekali untuk natal orang-orang kampung. Mereka sendiri yang meminta agar gereja buat natal untuk mereka? kata pendeta muda yang selalu tampak energik.



Selanjutnya gembala jemaat yang juga dikenal akrab dengan lingkungan anak muda dan ?anak-anak nakal? di Pare tersebut menambahkan, ?Agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial, bentuk bangunan akan kami buat sesederhana mungkin sehingga cocok dengan konteks desa. Satu hal yang perlu kita syukuri karena Anugrah Tuhan, kita sudah melakukan orientasi dengan mereka selama 5 tahun sehingga tidak ada yang perlu dikuatirkan,? tambah pendeta yang pernah bekerja disektor pelayaran ini.



Pada bagian akhir pertemuan dengan Pustakalewi.com, Pdt. Lewi memaparkan beberapa rencananya sehubungan dengan penggunaan gereja. Dengan penuh keyakinan ia menyatakan, ?Gedung gereja bebas digunakan untuk apa saja yang penting tidak bertentangan dengan Firman Allah dan bertujuan positif termasuk ketika masyarakat akan meminjam gereja maupun fasilitasnya untuk kepentingan warga akan kami persilahkan,? imbuhnya. ?Kita punya prinsip gereja harus menjadi garam dan terang dunia, tapi walaupun begitu kekudusan dan penghargaan terhadap tempat ibadah tetap kita junjung tinggi? ingatkannya dipenghujung wawancara.



Hingga berita ini ditayangkan, pemugaran gedung gereja sampai pada tahap penanaman pondasi. Proses ini dikerjakan oleh jemaat secara swadaya dan gotong royong disamping menggunakan jasa tukang sebagai pengawas proses penanaman pondasi agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Maju trus pak! (yos)





Keterangan Foto :

Foto 1 : Bangunan GBI jemaat Sumberjo, Pare, Kediri tampak dari dalam.

Foto 2 : Bangunan GBI jemaat Sumberjo, Pare, Kediri tampak dari depan


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution