Kamis, 19 Juli 2018 01:06:35 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 274
Total pengunjung : 406670
Hits hari ini : 2324
Total hits : 3707405
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Belum Terlambat
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 11 Februari 2008 00:00:00
Belum Terlambat
(Kalau kita berkunjung ke Yerusalem-Israel, kita akan tahu bahwa Seluruh tanah disekeliling bekas kuburan Yesus, pemiliknya adalah Yusuf dari Arimatea, dialah yg menyumbangkan tanah kekayaannya untuk kita semua demi Yesus Kristus)



Bacaan: Lukas 23:50-56a



Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Itu adalah ungkapan yang sering kita dengar.



Yusuf Arimatea adalah seorang murid Yesus yang sembunyi-sembunyi (Yohanes 19:38) berasal dari Arimatea, sebuah kota kecil Yahudi di daerah perbukitan Efraim, sekitar 20 mil arah barat laut dari Yerusalem.



Lukas menggambarkannya sebagai orang kaya yang juga baik lagi benar dan tidak setuju dengan keputusan Majelis Besar yang merupakan sutradara di balik drama penyaliban Yesus.



Tetapi Yusuf tidak berani bertindak untuk menyatakan imannya didepan orang banyak.



Yusuf yang juga ikut hadir disana, ia melihat guruNya disiksa, dicemooh, dihina lalu disalibkan hingga darah tercurah keluar. Yusuf melihat itu semua, namun ia hanya berani diam. Tidak berani berkata-kata. Tidak berani membela Yesus secara terang-terangan. Tidak berani ikut mati bagi Yesus.



Kenapa demikian?



Karena sekali lagi..., Yusuf hanyalah murid diam-diam. Seorang baik lagi benar yang tidak berani menyatakan imannya didepan orang banyak.



Saya takut sekali melihat hal ini.



Sekarang Yesus sudah mati, dan teriakan kematianNya mengubahkan iman kepala pasukan dan orang banyak yang menyaksikan proses penyaliban itu. Yusuf juga ikut diubahkan dan sekarang Yusuf mulai berani.



Yusuf bertekad untuk meresikokan dirinya.

Yah..., belum terlambat! Masih ada yang bisa saya lakukan yang terakhir bagi Yesus, begitu pikirnya.



Yusuf memberanikan diri menghadap Pilatus untuk mengubur Yesus. Ini adalah keberanian yang luar biasa. Kemudian mengapani-Nya dengan kain lenan mahal yang merupakan pakaian keharusan bagi para imam (Keluaran 28:39). Terakhir, Yusuf juga memberikan kuburan miliknya yang belum dipakai untuk Yesus. Yusuf ingin memberikan yang terbaik untuk yang terakhir kalinya bagi Yesus.



Belum terlambat... , belum terlambat... , masih ada kesempatan untuk menyatakan cinta saya sebagai seorang murid kepada Yesus, begitu pikir Yusuf.



Saya sedih dan takut merenung perikop ini.



Saya melihat jelas sekali, saya adalah Yusuf. Masih suka sembunyi-sembunyi. Masih takut untuk bersaksi. Masih takut untuk menyatakan cinta saya kepada Tuhan Yesus dihadapan orang banyak.



Tuhan Yesus...., ubahkan saya seperti engkau mengubahkan Yusuf. Belum terlambat untuk bersaksi dan berbuat bagi Engkau.



Pakailah hambaMu ini seturut kehendakMu dan kuatkan hambaMu ini dalam setiap tugas panggilanMu, Amen.



Posted by Thermanto D.S. Samosir

dilihat : 395 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution