Sabtu, 21 Juli 2018 12:24:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 77
Total pengunjung : 407303
Hits hari ini : 618
Total hits : 3713557
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kasihilah Perempuan Cacad!
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 08 Oktober 2007 00:00:00
Kasihilah Perempuan Cacad!
Nama saya Anie usia 32 tahun mantan Manager di salah satu bank di Semarang. Sejak dua tahun sudah bertundangan secara resmi. Tundangan saya masih kuliah, karena ia dari keluarga yang tidak mampu, maka saya sebagai penunjang utama biaya kuliah maupun biaya hidupnya di Yogya. Saya tadinya merasa bahagia sekali sebab di akhir tahun ini kami merencanakan akan menikah, maklum saya sangat mendambakan sekali ingin cepat-cepat dapat momongan. Tetapi rupanya Tuhan menghendaki hal lain yang terjadi di dalam kehidupan saya.



Pada bln Nov 2005, dokter telah mendeteksi tumor ganas di payu dara saya dan tumor ini rupanya sudah sedemikian parahnya, sehingga mau atau tidak harus di operasi dan seluruh payu dara saya diangkat. Ketika pertama kali saya mendengar berita tersebut saya benar-benar merasa syok dan sedih sekali, sebab dengan mana hancurlah sudah harapan idaman saya untuk bisa mendapatkan momongan. Pada saat tersebut saya hanya bisa berdoa dan membanjiri sorga dengan air mata. Melalui operasi tersebut saya merasa kehilangan harga diri saya sebagai seorang perempuan, saya merasa seperti juga seorang perempuan cacad.



Ketika saya menceritakan musibah tersebut, tundangan saya berjanji untuk mendampingi saya pada saat operasi, tetapi dengan alasan karena ia sibuk dengan kuliahnya maka ia tidak bisa datang, walaupun demikian ia menjanjikannya untuk datang pada saat liburan Natal. Ternyata di waktu Natal pun ia tak kujung tiba yang datang hanya sekedar surat permohonan bantuan dana lagi untuk biaya kuliah maupun biaya hidupnya. Permohonan itu saya penuhi dengan mengirimkan uang lima juta rupiah.



Ketika dulu tundangan saya harus di operasi, karena kecelakaan lalu lintas, saya mendampingi dia siang dan malam di rumah sakit, disamping itu seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh saya sepenuhnya. Jadi wajarlah kalau saya tetap mengharap sehingga kalau Natal ia tidak bisa datang, pasti kita akan bisa merayakan Tahun Baru bersama, tetapi rupanya ini hanya sekedar harapan saja, sebab kenyataannya hal inipun tidak terjadi.



Akhirnya saya sadar bahwa sebenarnya ia ingin memutuskan hubungannya dengan never say good bye. Dugaan ini di pertegas oleh sahabatnya dimana ia pernah curhat, bahwa ia sebenarnya merasa jijik kalau punya istri yang tidak memiliki payu dara apalagi ada kalau ada cacad bekas jahitan operasi ditubuhnya.



Hal ini jauh lebih menyakitkan saya daripada ketika payudara saya harus diangkat, saya merasa ditinggal oleh orang yang sangat saya kasihi dimana saya telah bersedia berkorban untuknya selama bertahun-tahun, tetapi pada saat saya membutuhkan dukungan moril maupun sedikit kasih sayang, ia memutuskan hubungannya begitu saja hanya dengan alasan karena ia merasa jijik terhadap diri saya yang sudah tidak memiliki payu dara lagi.



Dihianati oleh orang yang kita kasihi ada jauh lebih menyakitkan daripada dihianati oleh orang lain. Dihianati karena ia tertarik dengan gadis lainnya yang jauh lebih cantik bisa saya makluminya, tetapi ditinggal pergi begitu saja karena alasan jijik terhadap tubuh saya, ini benar-benar sangat menyakitkan sekali. Saya merasa di perlakuan seperti juga sampah kotor yang dibuang begitu saja, bukan hanya karena tidak bermanfaat lagi saja melainkan juga karena menjijikkan. Hal inilah yang membuat harga diri maupun Pe-De saya jadi menurun drastis.



Rupanya penderitaan saya tidak berakhir sampai disini saja, sebab satu bulan kemudian saya juga mendapat surat pemutusan hubungan kerja dari perusahaan saya, dengan alasan mereka membutuhan orang yang sehat dan tidak sakit-sakitan seperti saya.



Rupanya pukulan hidup itu datang dengan serentak dan secara bertubi-tubi. Sehingga akhir-akhir ini sering timbul pikiran untuk mengambil jalan pintas saja dengan bunuh diri, sebab buat apa saya hidup juga, dimana sudah tidak memiliki jangankan masa depan, gairah hidup pun sudah tidak ada lagi. Hidup saya sudah hancur, boro-boro bisa mendapatkan momongan seperti yang menjadi impian saya, tundangan pun meninggalkan saya dengan cara begitu saja tanpa pamit. Di tempat pekerjaan pun saya sudah tidak dibutuhkan lagi, dimata mereka saya sudah termasuk barang rongsokan dan tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya lagi.



Yang menghalangi saya untuk melakukan tindakan nekad ini hanya ibu saya, karena saya adalah anak tunggal, ibu saya usianya sudah 70 tahun sedangkan ayah saya sudah lama meninggal. Jadi apabila saya sudah tidak ada lagi siapa yang akan dan mau mengurus ibu saya. Oleh sebab itulah setiap hari saya hanya bisa lutut berdoa dan memohon kepada-Nya untuk dapat diberikan waktu sejenak lagi, sehingga saya bisa mendampingi ibu untuk beberapa saat lagi. Apakah permohonan ini terlalu berlebihan?



Pada saat payu dara saya diangkat, hanya ibu seorang yang mendampingi saya. Dan ketika ia melihat bahwa saya sudah tidak memiliki payu dara lagi, tak sepatah katapun ia ucapkan. Ia hanya memeluk dan mendekap saya sambil turun air matanya berlinang, karena saya adalah putri kesayangan satu-satunya.



Rupanya kasus seperti saya ini, bukannya hanya sekali atau dua kali saja terjadi, menurut pendapat beberapa dokter maupun rekan-rekan lainnya; banyak pria yang meninggalkan atau memutuskan hubungannya setelah pasangan hidup mereka kehilangan payu daranya. Padahal ini bukanlah keinginan istrinya, perempuan mana di dunia ini yang rela dan mau kehilangan payu daranya?



Kenapa pria tidak bisa dan mau menerima perempuan yang tidak memiliki payudara? Apakah diri saya sekarang ini sudah berubah menjadi monster sehingga kaum pria merasa jijik terhadap diri saya? Apakah peremuan yang tidak memiliki payu dara ini harus dijauhi seperti juga para penderita Aids atau kusta? Apakah saya harus melakukan operasi plastik agar tundangan saya mau balik kembali kepada saya ?



Saya benar-benar bingung dan sedih sekali menghadapi situasi seperti sekarang ini. Hal ini membuat saya jadi semakin menutup diri dan tidak mau keluar rumah lagi, saya merasa malu, malu karena saya bukanlah perempuan seutuhnya lagi, saya hanyalah seorang perempuan cacad yang menjijikkan. Please help me, mungkin Anda mempunyai saran ataupun pengalaman serupa seperti saya, mohon dikirimkan per japri melalui



Pada awal Maret 2006, dokter telah menjatuhkan vonis yang terakhir bagi saya, dimana ia menyatakan, bahwa hidup saya sebenarnya hanya tinggal hitungan hari atau minggu saja. Hal inilah yang membuat saya terguncang dan bingung sekali. Rasanya saya ingin berteriak minta tolong, tetapi kepada siapa? Saya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, selain seorang ibu tua yang sudah sakit pula. Apakah saya harus menambah beban pikiran maupun penderitaannya dengan menceritakan bahwa masa hidup saya ini sebenarnya sudah tidak lama lagi.



Oleh sebab itulah untuk melepaskan luapan isi hati ini, saya menulis dan mencurahkannya kepada mang Ucup, mungkin sebagai pelampiasan rasa kesal, capek, bingung tanpa bisa berbuat apa-apa maupun rasa sedih hati saya.



Saya pribadi tidak pernah bertemu dengan mang Ucup dan mengenal beliaupun hanya melalui sentuhan tulisannya saja di www.mangucup.org yang sering menggugah hati dan membuat saya untuk turut merenungkannya. Dari segi usia pun, beliau hampir sebaya dengan ayah saya. Mungkin inilah jeritan isi hati saya yang terakhir, bersama air mata saya tuangkan melalui e-mail serasa ingin bersandar di pelukan seorang ayah yang bisa menguatkan hati saya.



Tadinya harapan saya dengan menjalankan terapi penyinaran atau chemoterapi ini, saya bisa memperpanjang usia saya. Bukannya untuk saya, melainkan untuk ibu saya. Saya merasa takut dan kasihan apabila harus meninggalkan ibu saya seorang diri, siapa yang nantinya bisa dan mau mengurus ibu saya, setelah saya tiada, karena saya adalah putri tunggal satu-satunya.



Pada saat ini seharusnya sayalah yang mengurus dan merawat ibu saya, tetapi kenyataannya hal kebalikannya yang terjadi dimana ibu harus merawat dan menjaga saya siang dan malam. Tidak ada hal yang istimewa yang bisa ia berikan untuk membantu saya selain doa serta air matanya.



Tgl 19 April yang akan datang ini adalah hari ulang tahun saya yang ke 33. Apakah saya masih akan bisa mengalaminya? Entahlah! Tetapi yang sudah pasti ini adalah hari ulang tahun saya yang terakhir.



Melalui chemoterapi rambut saya telah menjadi rontok semua. Bagi seorang perempuan rambut dan payudara adalah milik tubuhnya yang paling berharga, tetapi inipun sudah diambil dari saya. Saya telah kehilangan semua yang menjadi dambaan bagi kaum perempuan, masa depan, karier, pasangan hidup, payudara maupun rambut dan sekarang kenyataan pahit lainnya yang harus saya terima ialah tidak lama lagi hidup sayapun bukan menjadi milik saya lagi.



Kenyataan pahit yang harus saya terima, dimana milik saya yang terakhir inipun akan diambil juga dari saya.



Terkadang kalau saya sudah tidak tahan lagi, tak kuasa menanggung beratnya beban ini hanya untuk sekedar menghibur diri, saya membuka kembali foto album sambil melihat foto-foto ketika saya masih sekolah, pada saat saya masih remaja dan juga ketika ayah saya masih hidup. Tanpa bisa ditahan lagi turunlah air mata saya berlinang, karena semua foto-foto tsb tidak lama hanya akan menjadi kenang-kenangan yang tak bernilai lagi.



Ketika saya masih sekolah saya mendambakan ingin punya keluarga yang bahagia dengan banyak anak dan juga mempunyai banyak cucu tetapi jangankan bisa punya anak, punya suami pun tak terkabulkan. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa usia saya hanya bisa mencapai 33 tahun saja.



Apa yang harus saya lakukan sambil menunggu kedatangan sang malaikat maut ini? Apakah malaikat maut ini yang nantinya akan menjadi tamu utama pada hari ulang tahun saya yang ke 33? Atau mungkin juga ia akan datang lebih awal lagi? Nasehat dan saran apa yang bisa diberikan kepada saya yang sudah tidak memiliki harapan maupun masa hidup lagi di dunia ini sekedar dalam penantian datangnya sang malaikat maut.



Yang sudah pasti, ada saya ataupun tanpa saya, dunia akan tetap berputar. Di sinilah saya baru sadar, bahwa kelahiran maupun kehidupan saya di dunia ini sebenarnya tidak membawa arti ataupun perubahan apapun juga, hal inilah yang membuat saya menjadi bersedih hati, karena kehidupan saya ini tidak bermakna dan tidak bermanfaat sama sekali entah untuk siapapun juga. Saya harus mati seorang diri tanpa kasih dan tanpa ada orang yang mau peduli. -Salam Annie



Usulan dari mang Ucup:

Bagi rekan-rekan dan para pembaca yang saya muliakan, bagi mereka yang merasa bersimpati kepada Annie, maukah Anda memberikan dukungan dan kepedulian dengan doa untuk Annie maupun dengan cara mengirimkan Kartu Ucapan Selamat Hari Ulang Tahun ataupun Potscard untuk Annie. Agar Annie dapat merasakan secara nyata bahwa ia tidak harus mati seorang diri tanpa adanya rasa kasih. Kartu mohon dikirimkan ke alamat yang tercantum dibawah ini:



Ibu Annie

d/a Bpk Robertus Agus Waskito

Jl. Terbayan Selatan 156A

Ungaran 50511

Indonesia



Saya yakin bahwa masih banyak orang di dunia ini yang mengasihi Annie walaupun kita tidak mengenalnya secara pribadi sekalipun juga. Bagaimana dingin dan bagaimana komersilnya dunia ini, tetapi mang Ucup berkeyakinan penuh masih banyak orang yang mau berbagi kasih dengan Annie. Oleh sebab itulah kirimkanlah kartu HUT kepadanya. Terima kasih sebelumnya.



Maranatha



Mang Ucup

Email: mang.ucup@gmail.com

Homepage: www.mangucup.net

dilihat : 438 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution