Kamis, 19 Juli 2018 18:57:51 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 192
Total pengunjung : 406880
Hits hari ini : 1099
Total hits : 3709307
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Musuh Pada Saat Pacaran
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 10 Juli 2007 00:00:00
Musuh Pada Saat Pacaran
Musuh Pada Saat Pacaran



Sebaik apapun kualitas pacaran yang dilakukan seseorang dengan kekasih hatinya, pasti tidak terlepas dari adanya suatu ?ancaman? yang bisa mengganggu kemesraan dan komunikasi diantara keduanya.



Apabila ancaman tersebut terus dibiarkan terjadi tanpa adanya suatu upaya bersama untuk mencari jalan keluar pemecahan masalah yang ada, maka keadaan yang tercipta kemudian, dapat membahayakan kelangsungan hubungan pacaran diantara keduanya.



Ancaman itu bisa datang dari pasangan yang sedang berpacaran itu sendiri, atau dari pihak luar yang masuk mengisi ?satu ruang kosong? diantara ke-2 pasangan tersebut.



Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik, merupakan ancaman terbesar yang dapat mengganggu kualitas hubungan orang yang sedang berpacaran. Beberapa permasalahan dapat dengan mudah timbul ke permukaan apabila komunikasi diantara mereka yang berpacaran tidaklah lancar.



Secara umum, ada beberapa permasalahan yang kerap kali muncul diantara pasangan yang sedang berpacaran, sesungguhnya sangat berpotensi menjadi ancaman bagi kelancaran serta kelangsungan hubungan kekasih hati diantara kedua anak manusia. Adapun permasalahan- permasalahan tersebut, adalah :



1. Masalah perbedaan pandangan, minat, atau cara menentukan prioritas.

2. Masalah pengaturan waktu dan keuangan.

3. Masalah tidak adanya kejelasan pelaksanaan komitmen-komitmen yang telah disepakati diantara pasangan yang sedang berpacaran.



Apabila dilihat sistematika dasarnya, maka bisa dikatakan bahwa :

1. Tidak semua orang memiliki kesamaan prinsip, terutama dalam hal bagaimana cara seseorang saat mengambil keputusan.

2. Tidak semua orang memiliki hobby atau gaya pergaulan yang sama.

3. Tidak semua orang memiliki kebebasan atau kelebihan waktu yang cukup banyak, karena mungkin masih terikat oleh pekerjaan atau hal-hal penting lainnya yang tidak dapat ditinggalkan, keterbatasan waktu itu, terjadi.

4. Tidak semua orang memiliki kelebihan dana yang cukup besar, yang dapat dipakai untuk memfasilitasi kelancaran jalinan hubungan diantara dua orang anak manusia yang sedang berpacaran.

5. Dan pada akhirnya, tidaklah semua orang memiliki pola pemikiran dan cara-cara mengekspresikan sesuatu dengan gaya dan pola yang sama, terutama pada saat seseorang dituntut untuk menjalankan suatu ikatan (dalam hal ini komitmen) yang telah dibuat sebelumnya.



Sesungguhnya, semua masalah dapat ditemukan jalan keluar apabila masing-masing pihak mau membuka hati dan pikirannya, untuk mau mendengar serta memperhatikan keinginan dari kedua belah pihak, dan mau pula mengkomunikasikan segala sesuatu yang dirasakan mengganjal atau kurang berkenan di hati, sehingga apa yang dirasakan tersebut, kiranya perlu dibicarakan secara bersama-sama.



Pada saat komunikasi dilakukan, diharapkan masing-masing pihak untuk melepaskan sikap egoismenya, karena memang, dalam banyak kejadian, sikap ego yang ada dalam diri seseorang, sering kali menjadi penghambat keberhasilan komunikasi diantara dua orang yang sedang terikat tali hubungan kekasih hati.



Itu semua merupakan beberapa bentuk ancaman yang bisa mengganggu kemesraan dan komunikasi, yang datangnya dari dalam lingkup pribadi pasangan yang sedang memadu kasih.





Bagaimana dengan bentuk ancaman yang lain?



Potensi ancaman juga datang dari luar. Kadarnya bahkan bisa memperkeruh, merusak, atau menghancurkan harmonisasi hubungan diantara dua anak manusia yang sedang berpacaran secara sistematis dan cepat. Apabila tidak diantisipasi sejak dini, proses merusaknya dapat membuat putusnya hubungan kekasih hati diantara mereka yang sedang berpacaran.



Ini merupakan bentuk ancaman nyata, karena memang memiliki daya tarik tinggi serta sangat mungkin untuk dilakukan oleh salah satu pihak yang sedang berpacaran, baik itu secara sadar maupun secara tidak sadar.



Dikatakan secara tidak sadar, karena memang pada awalnya tidak ada niat sedikitpun untuk melakukannya. Terlintas di dalam benak pikiran pun, tidak. Proses baru terjadi ketika intensitas pertemuan dan tingkat keakraban, seiring perjalanan waktu, membuat kesempatan untuk melakukannya menjadi ada.



Perselingkuhan merupakan momok yang cukup berbahaya apabila terjadi diantara pasangan yang sedang berpacaran. Unsur merusaknya tergolong tinggi karena pola dan bentuknya bisa diatur sedemikian rupa, sehingga pasangan tidak mengetahui atau menyadari bahwa telah berlangsung proses perusakan hubungan diantara keduanya.



Sebuah perselingkuhan bisa terjadi melalui :



1. Hubungan dekat dengan teman sekantor, seprofesi, atau relasi kerja



Situasi dunia kerja, sering kali membuat seseorang harus membangun atau memiliki kedekatan dengan teman sekantor, seprofesi atau relasi kerja, untuk memudahkan diri mendapatkan kesamaan karakter dan menemukan ritme kerja.



Secara sadar atau tidak sadar, pola kedekatan yang ada diantara teman sekantor, seprofesi atau relasi kerja tersebut, dapat menghadirkan suatu pola pemikiran yang berbeda selain dunia kerja, serta sangatlah mungkin untuk menghadirkan benih-benih awal terjadinya perselingkuhan.



Lingkup dunia kerja, memang sangat memungkinkan bagi seseorang untuk bertemu secara intens dengan sekantor, seprofesi, atau relasi kerja. Kondisi ini tentu saja dapat menghadirkan sifat ?aman? atau ?innocent? pada saat seseorang harus memiliki kedekatan emosional dengan teman sekantor, teman seprofesi, ataupun relasi kerja.



Pertemuan intens dengan orang yang setype (seprofesi), karakter, tekanan pekerjaan dan tingkat stress yang sama, dapat membuat seseorang memiliki hubungan yang dekat dengan teman sekantornya.



Benih-benih perselingkuhan menjadi sangat mungkin hadir apabila diantara teman sekantor tersebut terkait dalam rekanan satu team (team work) yang sama, sehingga mengharuskan diri mereka untuk menghabiskan waktu secara bersama-sama pula..



Kedekatan yang terjadi karena adanya hubungan rekan satu kantor, satu profesi, atau sebagai rekanan kerja, dapat membuat seseorang mudah untuk membangun serta mengembangkan suatu pola hubungan yang lebih dekat, lebih akrab, bahkan saling mengagumi satu sama lain. Kondisi seperti inilah yang dapat disalah-gunakan atau disalah-artikan oleh salah satu pasangan untuk berselingkuh.



Jadi, meskipun sang pacar mencurigai kedekatan pacarnya dengan rekan sekantor, rekan seprofesi atau rekanan kerja lainnya, ada besar kemungkinan untuk dibangun suatu alibi bahwa kedekatan tersebut merupakan tuntutan pekerjaan.



Kondisi yang muncul kemudian bahkan dapat terjadi dilakukannya suatu upaya untuk pembalikkan fakta, bahwa sikap paranoid yang ada dan ditunjukkan sang pacar karena melihat kedekatan serta keakraban pacarnya dengan rekan sekantor, seprofesi atau rekanan kerjanya, merupakan sikap yang berlebih-lebihan atau terlalu mengada-ada.



Sikap paranoid sang pacar bahkan pada beberapa kasus justru dikembangkan sebagai suatu sikap negatif yang dianggap dapat mengganggu hubungan diantara mereka yang berpacaran. Padahal apabila melihat realita yang terjadi, itu tidaklah benar.



Dalam kasus seperti ini bisa dikatakan, sebuah alasan tetaplah sebuah alasan. Alasan yang digunakan untuk memungkiri sebuah kenyataan.



Level ancaman (dalam skala 1?5), maka kondisi seperti ini masuk dalam skala 4, karena sifat destruktifnya sangatlah kuat, bisa terjadi lagi di lain kesempatan atau kondisi, dan sangat sulit untuk dibuktikan kecuali ada pengakuan atau ditemukan bukti-bukti otentik yang menyatakan telah terjadi perselingkuhan.





2. Bertemu dengan orang baru pada saat harmonisasi hubungan dengan pacar sedang dalam posisi sangat rendah



Bentuk perselingkuhan yang diawali oleh pertemuan dengan orang baru pada saat harmonisasi hubungan dengan pacar dalam posisi terendah, sesungguhnya merupakan suatu bentuk awal perselingkuhan yang seharusnya sangat mudah untuk dideteksi.



Hubungan yang sedang retak, pada dasarnya membuat posisi seseorang yang sedang berpacaran dalam kondisi yang amat rentan.



Kondisi yang amat rentan ini, dapat membuat seseorang mencoba untuk membuka diri serta berupaya untuk mengembangkan pola hubungan baru dengan orang lain, terutama dengan orang yang baru dikenalnya.



Dipilihnya orang yang baru dikenal, dilandasi oleh pemikiran :



1. Orang yang baru dikenal adalah orang yang tidak mengetahui bagaimana karakter serta sifat dari dirinya.



2. Orang yang baru dikenal adalah orang yang tidak terkait, tidak memiliki hubungan atau tidak mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga cenderung lebih memudahkan dirinya pada saat diajak berbicara secara berbuka dan untuk melakukan hal-hal yang disenanginya.



3. Mencoba untuk mencari karakter yang cenderung berbeda dari karakter pacarnya.



Penilaian bahwa bertemu orang baru akan membuat seseorang terlibat dalam suatu perselingkuhan, merupakan penilaian yang terlalu premature.



Belum tentu jalinan pertemanan dengan orang baru tersebut langsung dilandasi oleh suatu niat untuk melakukan perselingkuhan. Mungkin saja hubungan dengan orang baru itu, digunakan untuk melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapi.



Besar kemungkinan, sebuah perselingkuhan bisa terjadi apabila permasalahan yang dihadapi merupakan permasalahan yang membebani pikiran. Ketika masalah yang dihadapi dirasakan tidak dapat segera menemui jalan keluar, ada kemungkinan niat untuk berselingkuh timbul di dalam benak.



Apabila sudah mencapai taraf atau pola seperti ini, maka bentuk perselingkuhan yang terjadi akan cukup berpotensi untuk membuat seseorang putus hubungan tali kasih dengan pacarnya.



Kemungkinan untuk terjadi perselingkuhan memang sangat memungkinkan, namun itu bukan berarti tindak perselingkuhan memang telah terjadi.



Perselingkuhan apabila dimulai dengan sejarah pertemuan seperti ini, dapat dan sangat mungkin saja terjadi, namun itu semua sangat tergantung pada bagaimana seseorang mengarahkan jalinan pertemanan dengan orang yang baru saja ditemuinya.



Level ancaman untuk kategori awal terjadinya perselingkuhan dengan pola seperti ini, masuk dalam tingkat level ancaman 3, dimana tingkat kemungkinan untuk terjadinya perselingkuhan, sangat besar kemungkinan bisa terjadi.





3. Kehadiran kembali mantan pacar



Mantan pacar juga merupakan salah satu bentuk ancaman. Memang banyak orang yang sudah tidak ingin berurusan lagi dengan para mantan pacarnya. Ide dasarnya, masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu. Bahkan banyak pribadi yang kurang suka bercerita tentang kisah masa lalu mereka saat masih bersama mantan pacar. Sikap seperti itu, patut dihargai.



Oleh karena itu, kehadiran kembali mantan pacar, tidak menutup kemungkinan dapat merusak hubungan tali kasih diantara dua anak manusia yang sedang berpacaran.



Namun terkadang, kisah masa lalu itu bisa saja muncul kembali saat mantan pacar hadir kembali dalam kehidupan salah satu pihak yang sedang berpacaran. Apalagi kalau kehadiran mantan pacar merupakan atas inisiatif atau ?undangan? pertemuan secara langsung dari sang pacar.



Bagaimana kalau kehadiran mantan pacar tersebut terjadi secara tidak disengaja? Seharusnya sikap yang muncul adalah biasa-biasa saja.



Mewaspadai maksud dan arti kehadiran kembali mantan pacar (apalagi kalau hal itu terjadi atas undangan secara langsung) merupakan sesuatu hal yang wajar. Sesuatu yang normatif kalau rasa cemburu itu ada. Bagaimanapun, kisah memori masa lalu bisa muncul kembali meskipun tidak niat untuk mengulang kembali masa-masa itu.



Kemungkinan bahwa niat untuk menjalin kembali hubungan dengan mantannya, bisa saja tidak ada. Namun patut menjadi perhatian, apabila pertemuan dengan mantan pacar tersebut, pada awalnya dilakukan secara rahasia atau tanpa sepengetahuan dari sang pacar. Apalagi kalau pertemuan itu terjadi pada saat hubungan dengan sang pacar sedang tidak harmonis.



Potensi untuk terjadinya perselingkuhan masih bisa terjadi meskipun nilai atau faktor kemungkinannya sangatlah kecil.



Level ancaman untuk kategori ini masuk dalam level 1 atau 2, dimana kadar ancaman bisa terjadi perselingkuhan, tidaklah besar.





4. Kedekatan diri pada seorang sahabat atau teman curhat



Kedekatan seseorang dengan sahabat atau teman curhatnya, mungkin bisa melebihi kedekatan dengan pacarnya. Itu sangat dimungkinkan karena persahabatan biasanya sudah terjadi sebelum seseorang memiliki kekasih hati.



Seorang cowok senang memiliki sahabat seorang cewek karena pada dasarnya seorang cewek itu adalah tipe pendengar curhat yang baik dan lebih memiliki rasa empati dibandingkan seorang pria.



Seorang cewek senang memiliki sahabat seorang cowok karena memang seorang cowok itu pada dasarnya memiliki sikap melindungi, memperhatikan, dan cenderung memberikan pendapat tidak hanya berdasarkan perasaan semata namun juga logika.



Kedekatan dalam persahabatan diantara seorang cowok dan cewek bukan berarti tidak memiliki rasa ketertarikkan secara seksual. Persahabatan tersebut bisa berkembang ke bentuk cinta yang terpendam (plantonis) karena sulit untuk dinyatakan secara terbuka atau langsung kepada orangnya.



Sulit untuk dipungkiri, kedekatan persahabatan antara seorang cowok dan cewek dapat menumbuhkan benih-benih rasa sayang dan cinta yang tidak hanya menganggap hubungan yang ada itu sebagai sebuah hubungan persahabatan semata.



Bahkan pada hubungan persahabatan tertentu, getar-getar asmara yang ada, terkadang dirasakan lebih mendalam dibandingkan getar-getar asmara yang dirasa saat bersama dengan sang kekasih hati.



Ketika kondisi, situasi dan waktunya dirasakan cukup mendukung untuk menyatakan segenap passion atau hasrat yang terpendam, maka hubungan itu dapat berkembang tidak hanya menjadi ungkapan seorang sahabat, tapi juga ungkapan seseorang yang ingin berbagi kasih.



Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang wajar dan sangat manusiawi sekali. Namun situasinya menjadi berbeda ketika salah satu atau kedua orang sahabat tersebut telah terikat hubungan kekasih hati dengan orang lain.



Adanya kedekatan sang pacar dalam suatu hubungan persahabatan dengan orang lain, sulit untuk dilarang atau dibatasi. Rasa-rasanya tidak ada hak buat seseorang untuk melarang pacarnya untuk memiliki sahabat, meskipun sahabat dari sang pacar adalah lawan jenisnya.



Kedekatan dalam suatu hubungan persahabatan, memang tidak termasuk dalam konteks patut untuk dicurigai sebagai jalan atau upaya seseorang untuk melakukan tindak perselingkuhan dengan sahabatnya sendiri.



Namun walau bagaimanapun, potensi terjadinya perselingkuhan tetaplah ada, apalagi kalau sahabat dari sang pacar adalah lawan jenis dan memiliki ?nilai-nlai lebih? dari sudut-sudut tertentu dibandingkan pacarnya. Apalagi kalau dalam suatu situasi, sang pacar sudah mengucapkan kata-kata : ?Aku lebih rela kehilangan pacar dibandingkan kehilangan sahabat.?



Bila itu terjadi, patutlah dicurigai bahwa ada sesuatu yang spesial dalam kedekatan sang pacar dengan sahabatnya itu.



Level ancaman untuk kategori ini masuk dalam level 1 atau 2, tergantung dari posisi kedekatan sang pacar dengan sahabatnya. Makin dekat hubungan persahabatan sang pacar dengan sahabatnya, makin perlu seseorang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan (yaitu retak atau hancurnya hubungan pacaran yang telah dibangun).



Perselingkuhan memang merupakan suatu ancaman yang dapat mengganggu bahkan merusak suatu hubungan pacaran.



Pengaruhnya cukup besar. Hubungan dengan pacar tidak lagi harmonis seperti saat perselingkuhan belum mencemari hubungan tersebut. Karena meskipun telah ada kata maaf yang terucap, beberapa sikap dan sifat akan muncul sebagai tindak proteksi agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.



Beberapa sifat dan sikap baru akan timbul ke permukaan. Sifat ragu atas kesetian sang pacar, berkurangnya rasa percaya pada sang pacar, dan besar kemungkinan akan muncul rasa cemburu/kecurigaan yang cukup besar pada pasangan yang berselingkuh, merupakan beberapa kondisi baru yang bisa hadir apabila salah satu pasangan telah melakukan tindak perselingkuhan namun tindakannya itu termaafkan.



Suasana kehidupan berpacaran, pasti berubah. Kemesraan dan keceriaan, dalam waktu beberapa lama, tidak akan sama seperti saat perselingkuhan belum terbongkar. Semua bisa kembali normal apabila memang tidak terlihat lagi ada indikasi akan terulangnya kembali peristiwa perselingkuhan tersebut.





Semua itu apabila di lihat dari sudut pandang adanya tindak perselingkuhan. Apakah ada bentuk ancaman lain selain perselingkuhan?



Selain tindak perselingkuhan, ancaman dari luar bisa saja muncul apabila ada seorang ?pembisik? kepada salah seorang dari antara mereka yang sedang berpacaran.



Seorang pembisik ini bisa saja berasal dari teman, sahabat, anggota keluarga, ataupun pihak-pihak lain yang tidak menyukai atau menyetujui keberadaan hubungan yang harmonis pada pasangan yang sedang berpacaran.



Bahkan apabila dimasukkan ke dalam level ancaman, bisikkan dari para pembisik ini, masuk dalam level 5, atau sangat berbahaya.



Kualitas ancaman dari seorang pembisik, cenderung lebih berbahaya karena apa yang disampaikannya, kerap kali dilakukan dengan intensitas dan pola yang berkelanjutan atau terus-menerus.



Sistemnya sudah seperti sebuah tindakan atau upaya cuci otak (terutama untuk hal-hal yang jelek) sehingga dapat menimbulkan rasa bimbang, kecewa, atau tidak percaya lagi (bahkan bisa juga menjadi benci) seorang pacar kepada pacarnya.



Untuk mereka yang hubungan percintaannya dengan sang pacar tercinta mendapatkan pertentangan dari beberapa pihak, sangat dimungkinkan ditemukan kehadiran seorang pembisik diantara salah satu pasangan yang sedang di madu kasih tersebut.





Adakah bentuk ancaman yang lain?



Sifat cemburu juga dapat berpotensi sebagai faktor ancaman bagi hubungan pada saat berpacaran. Apalagi kalau sifat cemburu yang ada adalah sifat cemburu yang sangat berlebihan atau cemburu buta.



Kecemburuan yang teramat besar dari salah satu pasangan, dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasangan yang lainnya. Sifat cemburu yang terlalu besar, dapat membuat pasangan yang dicemburui, tidak dapat mengekspresikan rasa cinta kepada pacarnya karena takut berbuat atau berkata salah.



Sifat cemburu membuat seseorang tidak dapat memandang sesuatu dari perspektif yang lain. Kecemburuan hanya membuat seseorang berpikir apa yang dirasakan serta dipikirkannya, hanya itulah yang benar dan terjadi.



Apabila kecemburuan yang ada dalam diri seseorang sudah berada pada kondisi cemburu buta atau cemburu berlebih-lebihan, maka level ancaman untuk merusak atau membuat sebuah hubungan menjadi retak, renggang, atau bahkan putus, berada pada level 3 atau 4.





Rekan-rekan sekalian,



Membina dan menjaga agar hubungan tali kasih saat berpacaran memang tidaklah mudah. Konteks membina dan menjaga tersebut, dapat diwujudkan dalam bentuk sikap saling percaya, saling perduli, dan memperhatikan perasaan pasangannya.



Sikap egois merupakan sebuah sikap yang sebaiknya dihindari, tidak hanya pada saat menjalin hubungan dengan kekasih hati, tapi juga kepada orang lain.



Semua itu perlu dilakukan karena pada hakekatnya, dua orang yang sedang memadu kasih, adalah adanya dua pribadi yang saling terikat dalam suatu komitmen (meskipun komitmen itu tidaklah terucapkan) untuk menjaga serta bersikap saling setia.



Kesetiaan pada pasangan merupakan kunci utama yang harus dimiliki dan ada dalam diri setiap individu yang sedang berpacaran, terutama untuk menghindari terjadinya perselingkuhan.



Perselingkuhan juga dapat dihindari apabila masing-masing pihak yang berpacaran menjaga sikap saling percaya. Rasa percaya membuat seseorang merasa dihargai serta diberi dukungan untuk dapat melakukan yang terbaik.



Tanpa adanya sikap saling percaya di antara pasangan yang sedang berpacaran, salah satu pihak akan mudah terpengaruh oleh suatu tindakan atau ulah sejumlah pihak yang ingin merenggangkan atau bahkan memutuskan hubungan cinta kasih diantara dua anak manusia yang sedang berpacaran.



Ketika seseorang dapat menjaga kesetiaan dan rasa percaya yang telah diberikan oleh pasangan kekasih hatinya, maka hal itu tidak akan membuat timbulnya rasa curiga dan cemburu dari pacar seseorang tersebut.



Rasa curiga dapat muncul dalam diri seseorang kalau ia mulai merasa bahwa kekasih hatinya tersebut sudah berupaya bertindak tidak setia dan tidak dapat dipercaya lagi. Kecurigaan itu dapat berwujud sikap cemburu ataupun pemikiran bahwa pacarnya sudah melakukan tindak perselingkuhan dengan orang lain.



Apapun bentuknya, sebuah ancaman haruslah di antisipasi dan. dipikirkan jalan keluar sebagai sebuah pemecahan masalah, apabila ingin hubungan pacaran yang ada, dapat terus berlangsung.



Jauhkan diri dari egoisme, pola pikir untuk tidak setia, dan melakukan suatu tindakan bodoh yang dapat membuat orang lain tidak percaya pada kita. Tumbuhkan ketulusan, hadirkan cinta. Dan berusahalah untuk tidak mencoba-coba menimbulkan ancaman pada saat menjalin hubungan dengan pacar atau orang lain.



Apabila itu bisa dilakukan, percayalah, segala hubungan yang kita lakukan akan dapat langgeng dan harmonis.





Salam saya,



Ir. Sarlen Julfree Manurung



Note : Tulisan ini disadur lalu dikembangkan, berdasarkan tulisan karya Sari Love yang ditulis dalam suatu blog.

dilihat : 427 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution