Selasa, 17 Juli 2018 20:42:20 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 167
Total pengunjung : 406287
Hits hari ini : 1814
Total hits : 3703989
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Aku Yang Berjalan Sendiri, Tak Ingin Takut Lagi
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 10 Mei 2007 00:00:00
Aku Yang Berjalan Sendiri, Tak Ingin Takut Lagi
Aku Yang Berjalan Sendiri, Tak Ingin Takut Lagi







Dalam alur kehidupan, kita tidak akan pernah tahu dengan persis, what will be happen to us (apa yang akan terjadi dengan diri kita), sampai pada akhirnya kita menjalaninya sendiri alur kehidupan itu....



Mungkin kata-kata diatas cocok sekali dengan keadaan yang sedang dihadapi oleh sejumlah orang pada saat ini, terutama dalam diri pribadi lepas pribadi, yang harus mengambil sebuah keputusan penting di dalam hidupnya.



One of my friend say : "hidup ini adalah pilihan, saat kamu iri melihat seseorang mampu melakukan sesuatu, sebenarnya kamu juga bisa, it's just a matter of choice..."



Are you dare to leave your comfort zone and make a change?



Sebuah pernyataan, yang kalau kita pikir-pikir, memang benar adanya...



Banyak orang yang terlalu takut untuk melangkah, takut memposisikan diri dalam sebuah keadaan, takut menerima keadaan yang tidak mereka inginkan, takut pada imajinasinya sendiri, dan banyak pula yang takut melepaskan keadaan yang selama ini telah membuat diri mereka sudah dalam posisi nyaman...



Mungkin bisa pula dikatakan, hampir semua orang memiliki rasa takut apabila kehidupannya berubah drastis ke arah yang tidak menyenangkan? Hampir semua orang takut melepaskan atau dilepaskan dari apa yang sudah dimiliki, walaupun apa yang dimiliki pada saat ini, dirasakan belum bisa memuaskan atau membahagiakan hati serta diri mereka...



Semua orang, memiliki rasa takut, takut hati mereka tersakiti atau di sakiti...



Sesungguhnya, itu adalah hal yang wajar. Setiap langkah dalam kehidupan ini, pada dasarnya ada satu atau beberapa keadaan yang tidak menyenangkan hati dan diri kita. Bila itu terjadi, maka secara langsung perasaan dan hati kita akan merasa tertekan, ditekan, terganggu atau kita merasa ditinggalkan...



Itu manusiawi. Meskipun kecil, rasa takut itu pasti ada pada diri setiap orang. Akan tetapi sebaiknya perasaan takut itu tidak bergerak ke arah yang berlebihan.



Sikap berlebihan itu muncul, akibat dari egoisme diri seseorang (karena mengekspose rasa takut itu secara tidak wajar) yang menjadikan rasa takut tersebut sebagai senjata agar orang lain tidak menekan dirinya, tidak mengambil bagian dari apa yang telah dimilikinya, serta tidak mengganggu eksistensi maupun kredibilitas dirinya.



Suatu hal yang tragis... Itu bisa terjadi karena memang tidak semua orang siap untuk menghadapi atau menerima tantangan hidup atau kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan maupun keinginan hatinya. Hampir semua orang di bumi ini, tidak siap untuk menerima kritikkan, mendapatkan penilaian bernada negatif atas diri mereka, serta tidak ingin keberadaannya diusik atau terusik oleh orang lain.



Padahal, ketika seseorang menerima sesuatu (khususnya dalam hal pekerjaan), maka semenjak saat itu pula lah, orang tersebut memiliki ikatan untuk bertanggung-jawab atas apa yang diterimanya atau dimilikinya.



Siap atau tidak siap, pada suatu waktu nanti, itu bisa diambil/diminta kembali dari diri mereka. Sedangkan apabila itu terkait dengan pribadi seseorang, maka orang tersebut harus bisa merubah keadaan serta paradigma atau pola pikir mereka, agar rasa takut tersebut, tidak serta-merta membuat kualitas serta eksistensi diri mereka, terganggu.



Seseorang yang berpikiran maju, harus bisa mengendalikan diri serta pikirannya. Ia juga harus tahu dan bisa memposisikan dirinya, di saat dirinya menghadapi tekanan atau dilema dalam hidup ini.



Kenapa harus takut? Kenapa menjadi memiliki perasaan tertekan? Kenapa kita harus tenggelam dalam fantasi seperti itu?



Kita sama-sama tahu dan mengerti, bahwa ada besar kemungkinan, di dalam proses kehidupan ini, hal seperti itu bisa saja terjadi. Ketika kita menerima atau mengambil segenap tanggung-jawab tersebut, kenapa kemudian kita menjadi tidak mau atau tidak siap apabila hal tersebut diambil (atau minimal diusik) dari diri kita????



Kita seharusnya dapat menjadi arsitek bagi kehidupan kita sendiri. Kita seharusnya sebisa mungkin mempersiapkan diri kita, merencanakan atau memiliki master minded yang fokus, jelas, dan matang akan arah serta tujuan kehidupan kita, sebelum dan hingga kita dapat mewujudkan apa yang ingin kita rasakan.



Kita seharusnya dapat melatih diri kita untuk siap menghadapi setiap keadaan dan tantangan hidup yang menghadang karena keadaan serta tantangan dalam hidup ini, suka atau tidak suka, siap ataupun tidak siap, semuanya harus kita lalui?



Dikatakan demikian, karena ketika pada satu titik waktu ada yang mencoba untuk menggoyahkannya, menggoda, atau ingin mengambil bagian dari diri kita, kita sudah tahu dan siap; bagaimana kita harus bersikap, bagaimana seharusnya kita bertindak, dan/atau bagaimana kita harus menyiapkan langkah-langkah agar dapat menyikapi keadaan itu dengan bijaksana.



Kita harus bisa menerima serta menyikapi suatu keadaan dalam hidup ini. Kita harus siap menerima kritik atau mendapatkan masukan yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan kita. Kita harus siap, untuk tidak selalu menggunakan perasaan namun juga logika kita, untuk menghadapi tantangan atau pergolakkan hidup.



Rasa takut yang muncul, seharusnya mendidik kita, melatih diri serta intuisi kita, agar di saat kita mengalami tekanan karena timbulnya rasa takut, kita tetap dalam keadaan sadar dan tetap menggunakan segenap akal dan pikiran, serta bertindak berdasarkan logika kita, untuk menemukan jawaban atas aral yang merintangi hidup.



Ketakutan, cenderung menampilkan kabut tebal dalam cermin kehidupan dan alam pikiran kita, sehingga kita tidak dapat lagi melihat atau membedakan setiap pertanda dengan jelas.



Rasa takut membuat kita bagaikan seekor katak di dalam tempurung. Rasa takut, justru akan membuat kita menghadapi kendala-kendala baru karena rasa takut itu justru membuat kita menjadi seakan-akan tidak mampu untuk berbuat banyak dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang kita hadapi.



Rasa takut hanya menimbulkan kecemasan. Rasa takut, hanya membuat diri kita stuck, padahal di depan sana, mungkin saja masih banyak kesempatan yang terbuka untuk kita, andai saja kita lebih membuka diri kita dan lebih menonjolkan keberanian kita, lalu menutup rasa takut kita itu dengan tindakan serta pola pikir cerdas.



Rasa takut, membuat hidup kita tidak nyaman dan membuat kita seakan-akan tak mampu untuk membuat keputusan.



Memperhatikan uraian diatas, maka dapat dikatakan :

1. Rasa takut sering kali terjadi karena diri kita sendiri yang membuatnya atau membiarkan rasa takut itu tertanam di dalam benak pikiran kita.

2. Rasa takut timbul, karena sebelum diri kita sendiri mencoba untuk menghadapi tantangan atau permasalahan yang ada, kita tidak belum mencoba untuk berusaha melakukan sesuatu untuk menyikapinya. Lucunya, kita sendiri sudah mengatakan bahwa kita tidak siap, sebelum kita mencoba untuk melakukan sesuatu.

3. Rasa takut terbentuk karena kita membiarkan diri kita rapuh. Itu terjadi karena kita sendiri tidak melatih atau membiasakan diri kita untuk menghadapi setiap permasalahan yang menghadang di depan kita.

4. Rasa takut itu harus disikapi, bukan didiamkan menjadi bagian dari pribadi kita?



Haruskah kita lari dari keadaan? Haruskah kita terbenam dalam rasa takut? Tidak. Semakin kita berusaha untuk berlari menjauh dari keadaan yang tercipta atau masalah yang menghadang di hadapan kita, maka rasa takut dan sakit pun akan semakin menumpuk di dalam diri kita, tanpa kita sadari? Padahal, di dalam masalah, pasti ada jalan keluar?



Tidak ada seorang pun di bumi ini yang tidak memiliki masalah. Tidak ada seorang pun yang tidak akan menghadapi badai dalam hidupnya. Sungguh, itu harus terjadi. Kalau tidak ingin manusia atau menghadapi badai dalam hidup ini, janganlah kita menyebutkan diri kita, manusia?



Pada saat kita menghadapinya, mungkin pada awalnya kita masih akan merasakan luka atau menderita. Ada perasaan berat atau sulit untuk melakukannya. Lalu pada tahapan selanjutnya, mungkin pula kita baru bisa berjalan tertatih-tatih. Akan tetapi, ketika kita mulai terbiasa untuk menjadi terlatih, maka rasa takut itu tidak akan menghinggapi diri kita lagi karena kita sudah tahu apa yang harus kita perbuat.



Jangan pernah takut untuk gagal. Jangan pernah takut untuk tidak dapat meraih kesuksesan dalam hidup ini. Jangan pernah membiarkan rasa takut, membuat pikiran kita, lemah dan tidak berani menghadapi pergolakkan di dalam hati serta kehidupan.



Jangan pernah takut untuk menerima kritikkan pedas, karena memang, tidak ada seorang pun di bumi ini, yang sempurna dalam dirinya.



Dan yang juga cukup memiliki makna penting dari itu : Jangan biarkan rasa takut, menimbulkan fantasi semu dalam diri kita?



Kehidupan yang kita jalani mungkin alurnya penuh liku dan tidak dapat kita tebak arahnya. Namun, liku-liku alur kehidupan tersebut, sesungguhnya membuat kita mendapatkan banyak pembelajaran, terutama tentang bagaimana caranya agar kita bisa tetap tenang dan bisa menyiapkan diri kita agar tidak terjebak oleh rasa takut yang ada dalam diri kita serta berusaha mencari jawaban atas permasalahan yang ada.



Kalau kita tetap membiarkan diri kita dalam rasa takut, maka itu adalah pilihan kita. Begitu juga sebaliknya. Apabila kita tidak membiarkan agar diri kita selalu dalam ketakutan serta kecemasan, atau ingin merubah rasa ketakutan dengan sebuah pemikiran untuk berani mengambil suatu keputusan ataupun suatu tindakan, itupun merupakan pilihan kita.



Makin lama kita tenggelam dalam rasa takut, maka makin lama pula kita tidak akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Kita sendiri akan terus menemui sejumlah kesulitan serta hambatan untuk menemukan pribadi kita yang sebenarnya.



Sudah sepatutnya, rasa takut akan sesuatu itu, tidak menjadi bagian dari pribadi serta diri kita. Percayalah? Rasa takut, tidak akan pernah membuat kita dalam kondisi nyaman dan damai di hati.



Sebab di dalam rasa takut, kita tidak akan pernah dapat mengambil suatu keputusan penting, yang sangat besar kemungkinan, akan dapat merubah aral kehidupan kita.



Bila dapat mengerti dengan apa yang diuraikan dalam tulisan ini, maka nyatakan dalam diri dan hati kita : Aku yang berjalan sendiri, tak ingin takut lagi?







God Bless You everybody?



Ir. Sarlen Julfree Manurung

dilihat : 503 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution