Rabu, 19 Desember 2018 15:30:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 249
Total pengunjung : 452021
Hits hari ini : 1853
Total hits : 4162360
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 25 April 2007 00:00:00
Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu
Aku sangat menyukai ucapan mama : "Barang milikku yang paling berharga adalah kamu!" Ucapan yang sangat menyejukkan hati, dan sampai sekarang aku masih mengingatnya terus!



Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yang di alami para muda-mudi di zaman itu, tapi hal ini sudah umum, tapi di zaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri.



Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dengan papa dan tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah di terjang badai!



Badai itu nyaris memisahkan mereka, hanya karena emosi sesaat saja!



Papa dan mama bekerja di instansi yg sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname di gudang, hingga pukul 02.00 dini hari dan baru pulang ke rumah.



Papa sangat letih dan lapar, sampai di rumah tidak ada makanan maupun minuman yang siap disaji. Papa yang lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman.



Beberapa hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil, di tambah lagi dengan adanya lembur, badan dan pikiran sungguh melelahkan, sehingga dengan kondisi yang labil itu, mama spontan menjawab dengan nada keras, "mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?"



Karena papa juga terlalu capek, dan langsung menjawab dg acuh tak acuh, "kamu ini isteriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu! "



Mama langsung merespon, "tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"



Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dengan emosi, "kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut yah? Istri memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak senang yah? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"



Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yang begitu keras. Setelah terdiam sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air mata, "kamu ingin aku pergi?, aku akan pergi sekarang!"



Mama segera kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yang membelakanginya, "bagus! Pergi sana! Ambil semua barang-barangmu dan jangan kembali lagi!"



Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata kebencian lagi yang muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul masuk kamar dan melihat mama sedang duduk di ranjang penuh dengan linangan air mata. Sambil menatap koper kulit besar yg masih tergeletak diatas ranjang.



Melihat papa datang, dengan terisak-isak mama berkata, "duduklah diatas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa-masa perpisahan kita yang terakhir."



Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya, "untuk apa?"



Sambil menangis dengan terputus-putus mama berkata, "emas dan perak aku tidak memilikinya, " tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu dan anak-anakku, aku tidak memiliki apapun...."



Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata-kata terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang, sejak malam itu, papa telah diubah dan telah menjadi sangat hormat dan sayang kepada mama.



Menggandeng tangan anak-anak, merangkul mama serta senantiasa saling berpelukan. Kelak aku juga bercita-cita ingin mendapatkan pasangan yang seperti papa.



Kehidupan apapun yang kita jalani ini, itu tidaklah penting; tapi yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi hidup ini, terutama di saat-saat badai itu muncul.



Sumber : mathilda -

dilihat : 395 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution