Senin, 23 Juli 2018 16:39:35 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 186
Total pengunjung : 407734
Hits hari ini : 1302
Total hits : 3718452
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Merdeka Ataoe Mati
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 16 Agustus 2005 00:00:00
Merdeka Ataoe Mati
Kalau ungkapan retorik itu. disampaikan kepada Tessi Srimulat, rnaka dengan sigap ia akan sontak menjawab: ?Atau!!? dengan gaya khas lembengnya. Ungkapan ini pernah menjadi pemicu semangat juang pada masa lalu. Para pejuang selalu diingatkan melalui seruan ini bahwa mereka harus tegas rneniilih kemerdekaan atau kematian. Daripada tidak merdeka, maka lebih balk mati. Mereka lebih slap menanggung resiko kematian ketirnbang tidak merdeka.



Kematian memang mengerikan, karena di situ orang tidak bisa berkutik lagi. Orang lainlah yang akan mengatur sepenuhnya keberadaannya. Orang mati tidak punya eksistensi. Tetapi bagi para pejuang jaman itu, kematian jauh lebih baik daripada tidak merdeka.



Keadaan tidak merdeka, betapun nikmatnya, membuat kemanusiaan seseorang mati. Laksana mayat yang bisa saja dibawa kemakam indah megah berhiaskan bunga dan sebagainya. Tetapi sang mayat tetap tidak akan pernah bisa memilih sendiri tempatnya. Umpama ia mau dibuang ke selokan jorok, iapun tidak akan bisa menolak. Orang yang tidak merdeka laksana mayat yang tampaknya saja hidup tetapi sebenarnya tak kuasa menentukan apapun atas hidupnya. Ia hidup dalam kematian. Tanpa harapan, tanpa cita-cita. Kalaupun punya harapan atau cita-cita maka arahnya hanya kepada hal fana.



Kita mungkin seperti Tessi, suka cari amannya. Oportunis sejati. Merdeka tidak sanggup, mati tidak berani. Jadi hanya sosok mayat, yang pengecut sekaligus munafik. Tidak mau menanggung risiko hidup. Karena pilihannya hanya hangat-hangat kuku. Matang tidak, mentahpun tidak! Makanya kalau disuruh milih MERDEKA ATAU MATI akan lebih suka memllih ATAU, (Wahyu 3:15-16) Dalam hal ini sindiran Pak Kabul sebagai Tessi, sungguh kena langsung ke kita yang konon sudah memerdekakan diri sejak 17 Agustus 1945 lalu.



Hasil kemerdekaan selama 60 tahun ini adalah kelangkaan BBM, busung lapar, flu burung, meraja-lelanya kemiskinan dan korupsi, rendahnya nilai solidaritas, tingginya angka bunuh diri, pelacuran diri di semua lini kehidupan, kemalangan orang lain jadi hiburan, keluarga berantakan, menyebarnya HIV/AIDS, freesex, watak materialistik, rendahnya daya penalaran, takhayul, paternalisme, patronisme dsb. Tetapi bagi para pengkut Kristus ini justru tesempatan baik untuk mewujudkan KEBAIKAN TUHAN (Mzm 145:9, Gal 5:13&I4), MERDEKA!!



Pdt. Chrysta BPA, Pendeta GKJW Ngagel Surabaya

dilihat : 355 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution