Kamis, 18 September 2014 14:34:42 Translate | Home | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Selamat kepada Jokowi-JK sebagai presiden terpilih. Kita doakan agar pelantikan tanggal 20 Oktober berlangsung baik..--Ingin kegiatan pelayanan anda diliput? silahkan kabari kami di 082139048191, 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Perspektif

Strategi Kebudayaan
Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai.

Catatan Ringan

Kebangkitan Besar Pertama
Kegairahan dan dinamika beragama tak ubahnya sebuah rangkaian yang juga terjadi pada sisi kehidupan yang lain.







Situs Berita Kristen PLewi.Net -Resensi Buku: The Future of Religion
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 23 Januari 2010 00:00:00
Resensi Buku: The Future of Religion
Judul : The Future of Religion

Penulis : Gianni Vattimo & Richard Rorty

Editor : Santiago Zabala

Penerbit : Columbia University Press(2005)

Halaman : x + 91 halaman



Apa yang terjadi jika agama sebagai sebuah entitas yang absolut dan sakral masuk ke dalam dunia postmodern yang penuh tanda tanya, ketidakpastian, pesimisme, ironi, dan profan?



Pertanyaan besar ini akan terjawab dengan sendirinya tatkala kita membaca baris demi baris, mengikuti alur gatra, emosi, dan hasrat pembahasan mengenai masa depan agama oleh Gianni Vattimo, yang memperlihatkan pemikiran postmodern dari kultur Eropa Latin, dan Richard Rorty, yang merepresentasikan post-empiris pragmatisme Amerika Utara, serta disusun secara sistematis oleh Santiago Zabala dalam buku yang pertama kali terbit di Italia tahun 2004 dengan judul ?Il future della Religione. Solidariet?, carit?, ironia?.



Buku ini terbagi dalam empat tulisan yang menunjukkan alur pembahasannya. Di bagian pendahuluan, Santiago Zabala mencoba menyoroti dan mengevaluasi eksistensi agama-agama dengan tulisan ?A Religion Without Theists or Atheists?. Pembahasan akan diperkuat sekaligus mulai menghantar pembaca ke ranah post-religion oleh Richard Rorty dengan tulisannya ?Anticlericalism and Atheism?. Sementara itu ?The Age of Interpretation? dari Gianni Vattimo mencoba berangkat dari asumsi Nietszchenian dan Heideger untuk merekonseptualisasi konsep-konsep keagamaan tradisional. Di bagian akhir yang berjudul ?What is Religion?s Future After Metaphysiscs??, merupakan dialog yang tematik dari Zabala, Vattimo, dan Rorty memperbincangkan agama masa depan, agama paska metafisika.



Agama-agama, dalam pemahaman yang sekarang (tradisional), menciptakan karakter tersendiri tatkala dipandang dari fenomena-fenomena dialektis dalam pertemuannya dengan ranah non-agama. Maka muncullah dikotomi antara ruang religious-sekuler, teologi-ilmu pengetahuan, theisme dan atheisme. Perselisihan yang tak pernah berujung dan cenderung semakin menjauh. Perselisihan yang tak akan kita temukan pada agama-agama politheisme ataupun kepercayaan tradisional.



Skenario berikutnya setelah masa dualisme ini adalah sebuah dunia post-secular dimana agama hadir dan mengisi ruang dengan wajah, karakter, dan tujuan yang berbeda. Karakter yang terbentuk setelah dekonstruksi aspek-aspek metafisik. Kondisi idealnya adalah apa yang disebut sebagai ?weak thought?, karakter agama yang sadar bahwa kebenaran absolut itu tidak akan pernah kita jumpai, dan menciptakan dunia dimana agama tahu benar batas-batas yang tidak bisa dicapainya. Karena itu tugas filsafat disini bukan lagi mendorong manusia untuk mencari kebenaran yang kekal itu. Tapi filsafat sekarang harus menyadarkan manusia bahwa usaha untuk memperoleh kebenaran itu tak akan pernah terwujud.



Konsepsi mengenai ?weak thought? yang menjadi kata kunci untuk menjelaskan pemikiran Vattimo dan Rorty. ?weak thought? bukanlah sebuah kepasrahan atau keputusasaan manusia untuk mengejar kebenaran absolut, tapi lebih merupakan sikap kerendahan hati disertai pengosongan diri, kenosis (dari kata ?kenoo? yang berarti ?aku kosong?), dan pemahaman bahwa Tuhan bukanlah sebuah obyek diam, tapi bekerja sepanjang sejarah peradaban manusia.



Fenomena sekulerisasi dipandang merupakan manifestasi dari ?weak thought? tersebut. Sekulerisme tidak pernah mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan itu tidak ada. Sekulerisasi mengajarkan kepada kita bahwa mempertanyakan natur Tuhan itu tidak berguna karena lemahnya alam pikir manusia. Kita tidak punya modalitas pemikiran yang cukup untuk menyanggah maupun menguatkan bahwa Tuhan itu ada.



Yang menarik jika kita berangkat dari asumsi postmodern, Vattimo dan Rorty sepakat bahwa semangat jaman dari pencerahan selalu mengarah kepada kemanusiaan. Tapi apa yang terjadi selama ini sudah di luar jalur. Kekecewaan pemikiran postmodernisme dalam melihat kegagalan modernitas dan pencerahan membangun manusia dibarengi kekecewaan terhadap budaya agama yang kehilangan orientasinya terhadap humanisme. ?Age of Reason? dan ?Age of Faith? telah gagal dalam menciptakan kebahagiaan bagi umat manusia.



Asumsi-asumsi yang bersifat humanis terus didorong dalam masa post-religius ini karena permasalahan manusia semakin kompleks yang membutuhkan tanggung jawab manusia secara horizontal lebih besar. Inilah titik tolak dekonstruksi terhadap agama yang dianggap gagal menjawab permasalahan-permasalahan masyarakat. Dekonstruksi terhadap teologi barat dikemukakan sebagai sarana penting daripada hermeneutika (penafsiran). Jika hermeneutika teologi barat mengasumsikan kesinambungan serta kebutuhan untuk terus menghubungkan masa lalu dengan sekarang, dekonstruksi lebih memperlihatkan karakter keterputusan masa lalu dengan masa kini, untuk itulah diperlukan budaya baru dalam memahami agama. Dan ?yang putus? itu adalah dimensi-dimensi metafisika yang selama ini mendominasi ruang keagamaan. Dan ruang kosong yang ditinggalkannya itu harus segera diisi oleh kegiatan intelektual yang bukan lagi sebuah pengetahuan mengenai kebenaran, tapi sebuah ?perbincangan? (conversation), dimana setiap argumen bertemu untuk mencapai kesepakatan tanpa merujuk kepada suatu otoritas tertentu.



Dekonstruksi terutama terhadap metafisika inilah yang suka atau tidak suka telah kita alami. Tiga kejadian historis berkonstribusi dalam masalah ini: Revolusi Prancis (solidarity), Kekristenan (charity), dan Romantisisme (irony). Ketiganya berperan dalam menimbulkan kesadaran manusia untuk bersandar pada kemampuannya sendiri, tanpa menghiraukan budaya dan kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan non-manusia. John Dewey menyebut karakteristik seperti ini sebagai ?religion of love?, sebagai oposisi dari ?religion of fear?.



Penjelasan singkat di atas menyiratkan pemahaman baru kita dalam melihat fenomena keruntuhan agama-agama di dunia barat yang notabene tempat awal berkembangnya agama modern tersebut. Apakah negara-negara Eropa dan Amerika Serikat merupakan prototipe dari dunia post-religy ini?



Sulit menjawab bagi kita yang masih terpaku dalam preferensi-preferensi agama tradisional. Apakah studi dari Vattimo dan Rorty ini memenuhi tuntutan kontemporer dalam menjelaskan fenomena religiusitas baru di negara-negara barat. Studi agama yang paling fenomenal sebelumnya dari Max Weber setidaknya menunjukkan trayektori yang mirip. Sekulerisme dibarengi liberalisme dalam iklim demokratisasi setelah runtuhnya kekuasaan absolut gereja Katolik menciptakan pola keagamaan baru dimana ritual-ritual agama yang bersifat vertikal ditransformasikan menjadi sebuah etika sekuler (kerja/kapitalisme). ?Ora et labora? diterjemahkan sebagai ?ora est labora?.



Kita yang berada di negara-negara belahan bumi selatan justru mengalami kebangkitan religiusitas baru dengan fenomena Pentecostalism dan semakin suburnya aliran-aliran fundamentalisme serta munculnya minat mendalami agama-agama timur. Erosi ritual keagamaan dan pengaruhnya di ruang publik di negara-negara barat cenderung untuk kita nilai sebagai sebuah kegagalan agama menjawab tantangan jamannya. Atau banyak juga yang melihat itu konsekuensi sekulerisme dan liberalisme, yang dengan sinis kita beri label sebagai gejala atheisme dengan segala predikatnya. Ataukah kita mempertimbangkan pemikiran dalam buku ini dimana Vattimo maupun Rorty mengajukan proposal bahwa fenomena ini merupakan jenis kebangkitan religiusitas baru tanpa menyombongkan simbol-simbol keagamaan dan tanpa kehadiran dimensi metafisika yang melupakan manusia.



Kebudayaan agama masa depan bagi Vattimo dan Rorty adalah agama yang berwajah humanis, ,menyadari keterbatasan-keterbatasannya dan penafsirnya (weak thought), dan mengatasi ranah-ranah metafisik yang membedakan antara yang sakral dan profan. Konsekuensinya adalah menuntut manusia semakin besar untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakat serta tidak menyandarkan lagi hidupnya pada aspek-aspek metafisik. Apakah dengan digusurnya metafisika maka konsep Tuhan kehilangan tempatnya? Apakah ini juga berarti kematian Tuhan (the death of God)?



(sav)


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution