Selasa, 17 Juli 2018 05:14:57 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 175
Total pengunjung : 406111
Hits hari ini : 2301
Total hits : 3701971
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tritura 2010






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 15 Januari 2010 00:00:00
Tritura 2010
Tanggal 10 Januari 1966, 43 tahun yang lalu, Sarwo Edie berdiri diatas meja praktikum di plasa Fakultas Kedokteran UI Salemba 6 melepas pendemo Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) meluncurkan Tri Tuntutan Rakyat. Esensi tuntutan adalah, Bubarkan PKI, Rombak Kabinet, dan Turunkan Harga. Sebagai aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI), saya ditunjuk oleh Kepala Pusat Sejarah ABRI DR Nugroho Notosusanto tahun 1970 menulis buku Aksi Tritura, 60 Hari Rezim Change dari Bung Karno ke Jenderal Soeharto.



Sarwo Edie yang tampil 10 Januari 1966 itu terpinggirkan oleh intrik pusat kekuasaan di sekitar Soeharto dan tidak pernah comeback sampai menantunya menjadi presiden 20 Oktober 2004. Bung Karno pernah mengalami iklim pasang- surut mirip roller coaster dan menutup karier secara tragis sebagai "tapol Soeharto". Soeharto akan mengalami hukum karma, tidak jelas nasib dan statusnya walaupun Golkar ngotot mau mengklaim sebagai Pahlawan Nasional. Elite Indonesia paling pintar kasak-kusuk, intrik, dan manipulasi legal formal dengan memakai faktor eksternal untuk merebut kekuasaan.



Pada 10 Januari 1966 Sarwo Edie membuka salvo demo Tritura dan dalam 60 hari Bung Karno memberi Supersemar kepada Soeharto. Setelah itu, Supersemar diserobot oleh MPRS yang dibersihkan dari anggota PKI yang pada tahun 1963 mengangkat Bung Karno jadi Presiden Seumur Hidup, tega menggusur Bung Karno dari tampuk Presiden.



Pada 1978 dalam buku Wawancara Imajiner dengan Bung Karno, sudah ada kerisauan bahwa kelak Vietnam akan menjadi pesaing Indonesia. Bung Karno wanti-wanti pesan bahwa dia akan malu jika kalah dari Ho Chi Minh. Soeharto membreidel buku Wawancara Imajiner dengan Bung Karno dan buku putih ITB serta membubarkan Dewan Mahasiswa se Indonesia. Nugroho Notosusanto mengatakan buku saya dibreidel karena seluruh Dewan mengacu pada wawancara Bung Karno agar Soeharto turun pada dua termin saja. Soeharto lolos dari 1978 setelah membreidel semua koran termasuk Kompas, yang baru diizinkan terbit kembali setelah menulis surat minta maaf dan berjanji tidak akan mengkritik Soeharto lagi.



Selaku CEO PDBI yang mengamati korelasi politik ekonomi sejak 1980, pada 1987 saya telah memperingatkan rezim Soeharto melalui pelbagai CEO Summit dan Kajian PDBI tentang pelbagai policy yang selalu harus disesuaikan dengan tantangan globalisasi. Ketika Sumarlin melakukan gelombang pembukaan bank baru 1988, PDBI mengusulkan pembentukan lembaga Asuransi Deposito mengacu kepada FDIC di AS untuk meredam krisis perbankan.



Ketika krisis 1997 mulai merebak, saya memberi masukan pada bulan Juni bahwa sebaiknya rupiah langsung didevaluasi menjadi Rp 5.000. Tapi, Soeharto telanjur malu pada janji tidak devaluasi yang dia langgar 4 kali pada 1971, 1978, 1983 dan 1986. Karena itu, pada 1991 Sumarlin hanya melakukan gebrakan tight money policy. Pada 1997 Menkeu Mar'ie Muhammad maupun Gubernur BI Soedradjad Djiwandono, malah melepas peg membiarkan rupiah floating digempur spekulan model Soros dan terjun bebas sampai Rp 17.000 di akhir 1997. IMF menggebrak 16 bank hingga situasi memburuk dan Soeharto panik mengundang Steve Hanke yang usulnya hanya mendaur ulang usulan PDBI bahwa rupiah di peg pada kurs Rp 5.000 dengan sistem CBS.



Michael Camdessus mengancam Soeharto kalau nekad dengan CBS, IMF akan cabut dari Indonesia. Clinton menelepon Soeharto dan para Ken Arok di sekitar Soeharto agar segera melakukan operasi Empu Gandring. Keris ditusukkan kepada Soeharto dengan lumuran darah rakyat tak berdosa. Soeharto yang merasa dikhianati oleh trio Ken Arok sampai wafat tidak mau ketemu mereka yang menjilati secara memuakkan waktu Soeharto jaya. Tapi menikamkan keris ketika Soeharto kepepet..



Virus Ken Arok warisan Soeharto atau lebih tepat, sejak proklamasi elite kita sudah gemar dan ahli memainkan peranan Ken Arok satu sama lain. Tetap akan berjaya sampai era menantu Sarwo Edi menjadi presiden yang tersandra oleh parlemen, dan koalisi yang penuh pemain berwatak Ken Arok.



Akbar Tandjung dianggap mengkhianati Habibie karena membiarkan laporan pertanggunganjawabnya ditolak, sehingga Habibie tidak bersedia dicalonkan pada Pilpres oleh MPR 1999.



Amien Rais memakai Poros Tengah mengusung Presiden Gus Dur merenggut hak Megawati menjadi Prssiden karena PDI-P partai terbesar di MPR. Selingkuhan Poros Tengah hanya berumur dua tahun dan Gus Dur dilengserkan oleh Amien Rais Megawati dengan kemelut Buloggate dan Brunei gate yang tidak pernah dijernihkan sampai Gus Dur wafat. Amien Rais gagal jadi presiden dan capres yang selalu kalah, tapi tetap tegar menjadi Ayatollah (Ketua MPP) PAN hingga Sabtu kemarin.



Megawati tidak pernah memaafkan SBY yang dianggap menjadi Ken Arok karena mendadak menjadi capres 11 Maret 2004 setelah Tom Ridge Sec of Homeland Security datang ke kantor Menko Polkam Merdeka Barat. Megawati gagal memainkan kartu Bush dan AS walaupun ia adalah kepala negara pertama yang datang ke Gedung Putih setelah serangan WTC 11 September 2001. Indonesia gagal memanfaatkan peluang diplomatic strategic.



Meminjam teori Moisi, jika Indonesia dibawah Megawati bisa menjadi culture of hope, mediator and honest broker maka dalam perang opini publik tentang terorisme, Indonesia punya nilai strategis yang bisa dikapitalisasikan pada tingkat puluhan miliar dolar. Dalam dialog dengan Paul Wolfowitz saya menyatakan bahwa bila Indonesia berfatwa sebagai Islam moderat, yang bisa menenteramkan dunia dan mendudukkan isu teror pada proporsinya, maka itu setara dengan 50 miliar dolar yang dikeluarkan AS untuk Pakistan dan propaganda anti teror. Wolfowitz menjawab bahwa elite Indonesia terkadang lebih galak dari Hamas.



Gus Dur sudah meninggal dunia. Daripada sekadar memberi gelar Pahlawan, lebih otentik dan afdol jika SBY benar-benar melaksanakan amanah menjadi jurudamai Timur Tengah, menjadi ujung tombak dari culture of hope, culture of reconciliation, peacemaker, honest broker, mediator and catalyst for peace.



Barangkali renungan ini sangat utopis, wishful thinking tapi dalam rangka mengingat pengorbanan para elite Indonesia yang saling bantai, kudeta, suksesi berintrik dan berdarah, setiap kali ganti presiden mesti melalui darah dan airmata, maka mestinya elite dan terutama dipelopori oleh menantu Sarwo Edi harus berani meluncurkan Tritura Baru 2010.



Rumusan Tritura baru 2010 adalah, pertama, bubarkan "Partai Lumpur Indonesia," semua partai yang terlibat dalam bencana lumpur politik yang memberatkan dan membebani rakyat, baik melalui tingkah laku penguasa dan petinggi partai yang penuh conflict of interest maupun yang membohongi rakyat dalam kampanye dan oknum oknumnya terlibat dan terkait dengan kasus-kasus yang ternyata di tebang pilih oleh KPK.



Kedua, rombak Kabinet yang tidak efisien, tidak profesional, penuh dagang sapi, penuh Ken Arok dan penuh intrik Empu Gandring, sehingga Indonesia terpuruk dan kalah bersaing bahkan dengan Kamboja, Laos dan Myanmar untuk menghadapi tantangan globalisasi dan era perdagangan bebas ASEAN, suatu mental "balung kere" yang memalukan dan hypochondrist (tidak percaya diri) yang memilukan..



Ketiga, bangkitkan semangat Borobudur dalam memanfaatkan Momentum G20 dan Chindonesia untuk suatu kebangkitan Indonesia yang percaya diri (assertive), punya jati diri.



Indonesia harus bisa bangkit, Indonesia Inc harus memimpin ASEAN Inc dan percaya diri serta punya semangat daya saing kuat untuk tampil menjadi salah satu Troika kekuatan Asia yang baru (China, India dan Indonesia). Semoga Tritura 2010 ini akan dipenuhi oleh Presiden SBY dan elite politik Indonesia agar kita sukses mewariskan legacy. Indonesia 5 Besar 2025 dan berhasil memulihkan semangat jati diri Pancasila dan Borobudur dalam realitas geopolitik abad XXI. Pada 26 Januari Global Nexus Institute akan membedah peluang dan respond Indonesia Inc untuk memanfaatkan momentum peluang emas ini dengan. Fokus adalah Empowering Indonesia Inc, ASEAN Inc When China Rules the World (Memberdayakan Indonesia Inc, ASEAN Inc Ketika Tiongkok Merajai Dunia.



Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional



Sumber: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12987

dilihat : 297 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution