Minggu, 19 Agustus 2018 16:35:03 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 126
Total pengunjung : 414467
Hits hari ini : 802
Total hits : 3799417
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Benahi Ujian Nasional






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 13 Januari 2010 00:00:00
Benahi Ujian Nasional
Polemik soal ujian nasional (UN) belum juga berakhir. Setelah Presiden menyatakan bahwa UN harus diperbaiki, kontroversi bukannya berhenti. Menteri Pendidikan Nasional menyatakan bahwa UN akan tetap dilakukan dengan beberapa penyesuaian. Meski dipercepat, namun mereka yang tidak lulus nantinya tidak langsung mengikuti Paket B atau C, tetapi bisa mengikuti UN ulangan.



Berlarut-larutnya masalah UN memang terus menerus terjadi karena pemerintah masih ngotot. Setelah putusan MA menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa menyelenggarakan UN dengan logika-nya sebagai penentu kelulusan, pemerintah tak mau juga berhenti. Menggunakan klausul bahwa tidak ada larangan melakukan UN, pemerintah berjalan terus.



Sedikit angin menyejukkan memang datangnya dari Presiden sebagaimana di atas sudah disampaikan. Tetapi para pejabat Departemen Pendidikan Nasional memang tetap maunya jalan terus dengan UN. Padahal para praktisi pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan sudah mengingatkan pemerintah secara terus menerus.



Di lapangan, para guru sudah berteriak-teriak. Mereka menyatakan bahwa karena aturan mengenai penyelenggaraan UN ini, mereka bukan saja harus menargetkan kelulusan, tetapi juga supaya bisa mempercepat pelajaran mengikuti UN yang akan dilaksanakan pada bulan Maret mendatang. Logika ini menyebabkan para guru harus memperbaiki kembali jadwal.



Entah disadari entah tidak, para siswa sebenarnya sudah mulai merasakan keguncangan yang luar biasa. Kini mereka sudah bukan lagi belajar, melainkan sudah layaknya seperti robot. Mereka harus menyerap sebanyak mungkin pelajaran, lalu mencernanya dalam bentuk latihan serta pemadatan mata ajaran yang merupakan imbas dari penyelenggaraan UN yang dipercepat.



Kalau kita mencermati hal ini, kita terkadang tidak habis pikir. Kalau memang UN adalah segalanya sampai-sampai para guru pun merelakan waktu dan para siswa mengerahkan seluruh sumberdayanya, kenapa kualitas pendidikan kita tak juga terdongkrak naik? Mengapa ketika berkompetisi, para siswa tidak juga lebih baik dari negara-negara lain yang penyelenggaraan UN-nya tidak seheboh negeri kita?



Banyak pakar sudah mengemukakan bahwa UN harusnya didisain tidak lebih dari upaya melihat dan memetakan pendidikan kita. Kita sendiri memang tidak pernah mendiskusikan hal ini. Padahal UN harusnya menyediakan starting point kita sudah pada level mana dan pada arah mana kita akan bergerak.



Padahal pendidikan tidak boleh diselenggarakan dengan cara biasa. Pendidikan adalah investasi masa depan. Mereka yang mengurus negara ini adalah produk pendidikan masa lalu. Demikian juga negara ini akan diurus oleh mereka yang merupakan hasil pendidikan sekarang. Jadi, seharusnya UN harus benar-benar serius dipikirkan dan disikapi dengan baik.



Menggunakan logika ini, harusnya polemik soal UN bisa diakhiri. Semenjak UN diperkenalkan oleh pemerintah, hampir selalu saja terjadi polemik setiap tahunnya. Ini benar-benar sudah diluar dari apa yang seharusnya. Lagipula pengkritik UN bukan hanya dari masyarakat biasa, tetapi para guru, mereka yang mengurus pendidikan. Jadi kalau mereka yang terlibat dalam pendidikan pun sudah bersuara mengenai UN ini, mengapa pemerintah hanya berdiam diri seolah tidak ada masalah?



Pemerintah tidak boleh ngotot. Anak didik bukannya muridnya pemerintah, melainkan muridnya para guru di sekolah. Karena itu suara mereka harus didengar. Mari menempatkan UN pada logika yang seharusnya. Terus menerus mendesakkan kepentingan UN pada gilirannya hanya akan melupakan tujuan pendidikan yang sebenarnya yaitu mencerdaskan pada siswa yang seharusnya lebih penting untuk diurusi. UN bukan hanya mengggunakan uang hampir setengah trilyun. Sumber daya yang tercurah dan tidak bisa dihitung, semisal persiapan orangtua, biaya-biaya sosial dari sekolah, nilainya bisa lebih banyak dari itu. (JJ)





Sumber : http://hariansib.com/?p=106377#more-106377

dilihat : 259 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution