Senin, 24 September 2018 18:46:41 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 130
Total pengunjung : 422936
Hits hari ini : 1393
Total hits : 3896327
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Baut RI Melenceng dari Mur Globalisasi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 23 November 2009 00:00:00
Baut RI Melenceng dari Mur Globalisasi
Mudah-mudahan semua keterangan di bawah

ini tidak benar adanya. Akan tetapi, tanpa penelitian mendalam pun rakyat sudah merasakan ada banyak hal yang tidak benar dalam

perjalanan bangsa ini. Banyak sekali faktor yang menunjukkan Indonesia tidak menyesuaikan diri dengan tekstur mur-mur

globalisasi sehingga membuat Indonesia tak berputar sesuai dengan irama globalisasi itu.



Salah satu contoh untuk

memudahkan pemahaman adalah konteks pembangunan China, yang tidak kunjung menggugah teknokrat dalam menyusun strategi

pembangunan. Setelah sukses mereformasi sektor pertanian, di mana para petani bebas menanam dan menabung sendiri hasil sektor

pertaniannya, para petani China menjadi sumber daya beli.



Tak puas dengan reformasi pertanian, di mana teknologi

pertanian mencapai terobosan besar, mulai dari pembibitan dan pengembangan sarana di pedesaan, China mencanangkan diri menjadi

negara dengan ekonomi yang didorong ekspor.



Saat mencanangkan diri menjadi eksportir, tentu dengan segala masalah

yang juga muncul, China benar-benar menjadikan investor asing raja-raja yang harus dilayani. Sejumlah wilayah atau provinsi

berlomba menjadikan dirinya sebagai lokasi yang layak sebagai tempat berusaha.



Perizinan pun dirampingkan demikian

pula sarana jalan dan listrik disiapkan sesuai dengan kebutuhan investor. Maka tidak heran jika China mengalahkan negara mana

pun soal arus masuk investasi asing.



Jika disandingkan dengan konteks Indonesia, jelas Indonesia baru sekadar bisa

berbicara soal globalisasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan Indonesia tidak melayani investor asing.



Masih mau

membantah juga? Ambil contoh listrik, hal vital bagi investasi misalnya, tak bisa kita sediakan di tengah keberadaan sumber

daya energi yang memajukan industri di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan kini China. Jika kita bicara soal sarana jalan,

kemacetan besar terjadi di sentra-sentra industri karena pembangunan sarana jalan tak sesuai dengan kebutuhan

pembangunan.



Hal ini, misalnya, telah disampaikan Menteri Perdagangan Inggris Lord Davies of Abersoch, yang juga

mantan Ketua Standard Chartered Bank (SCB), bank Inggris yang fokus ke Asia. Ketidaknyamanan soal perizinan dan minimnya

insentif investasi juga sudah disampaikan Dubes Inggris untuk RI Martin Hatfull.



Hal ini membuat Indonesia tidak

lebih menarik sebagai lokasi investasi asing dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, apalagi Singapura. Buktinya,

banyak warga Indonesia yang harus mencari nafkah di luar negeri karena minimnya kesempatan kerja.



Faktor lain yang

memperlihatkan Indonesia melenceng dari mur-mur globalisasi adalah pemanfaatan rakyat sebagai aset, yang lambat atau cepat akan

menjadi pendorong ekonomi. Jika kita masih ingat, AS memiliki ekonomi yang besar karena generasi baby boomers, yang kini sudah

memasuki masa pensiunan.



AS memiliki kebijakan yang berpihak pada bisnis kecil dan rakyat kecil. AS memiliki apa

yang dinamakan sebagai Sherman Act, salah satu undang-undang yang menjamin eksistensi usaha kecil sehingga tidak tergilas usaha

besar. Hal ini setidaknya mampu membuat kemajuan usaha kecil menjadi besar, seperti pernah dialami Xerox dan US

Airways.



Demikian pula siswa dan mahasiswa, yang di AS pernah tertolong dengan paket social benefit. Hal ini,

misalnya, pernah dilakukan dengan memberi keringanan kepada mahasiswa kurang mampu. Bahkan perbankan pun didorong memberi

pinjaman kepada mahasiswa yang kemudian membayar pinjaman itu setelah bekerja. Fasilitas pinjaman seperti inilah yang membuat

Presiden AS Barack Obama bisa kuliah, termasuk berkat food stamp (kupon makanan).



Kita harus bertanya, apakah

Indonesia sudah melakukan itu. Bukankah Indonesia mirip dengan negara yang antisosial dengan kenaikan biaya-biaya sekolah,

termasuk biaya-biaya kuliah, dengan program otonomi pendidikan?



Benar bahwa banyak beban bagi Pemerintah Indonesia.

Dengan sekian banyak penduduk dan luasnya wilayah, tentu menangani pembangunan di Indonesia jauh lebih kompleks ketimbang

menangani Malaysia, Thailand atau Vietnam.



Tentunya Pemerintah Indonesia tidak bisa diharapkan menyelesaikan masalah

sedemikian besar dengan wilayah sedemikian luas. Namun, kita tidak usah terlalu rumit memikirkan itu. Di dalam perekonomian,

sudah diketahui bahwa pelaku ekonomi bukan hanya pemerintah, melainkan juga investor dan konsumen.



Masalahnya

hanyalah agar Pemerintah Indonesia menjadikan dirinya sebagai katalisator, fasilitator pembangunan. Dengan demikian,

pembangunan di wilayah seluas Indonesia bisa dilakukan secara bahu-membahu antara pemerintah, investor, dan

konsumen.



Pertanyaannya adalah apakah birokrat sudah menjadi katalisator? Jika demikian, mengapa ada kisruh Komisi

Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berseberangan dengan Kepolisian RI?





Efek jera



Mengapa pula ada

kasus Bank Century, yang rasanya begitu penting untuk diselamatkan dengan biaya triliunan rupiah. Apakah masalah Bank Century

lebih urgen ketimbang pembangunan kapasitas listrik untuk mencegah pemadaman bergilir?



Jangan dilupakan, unsur

korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi penghambat munculnya talenta terbaik dalam menggerakkan

perekonomian.



Indonesia tidak sendirian dalam masalah korupsi. Hal ini pun menimpa banyak negara lain. Namun dalam

konteks globalisasi, jika Indonesia ingin meraih manfaat globalisasi, hal-hal negatif seperti itu harus

diatasi.



Maka tidak heran jika Pemerintah Vietnam mengganti semua pejabat Departemen Perhubungan sehubungan dengan

penggelapan sejumlah dana pembangunan proyek infrastruktur. China juga melakukan hal serupa dengan memberi efek jera kepada

para pejabat yang terlibat korupsi.



China tidak saja menembak koruptor, tetapi juga anak-istri dari pejabat korupsi

dengan tujuan memberi efek jera kepada para pejabat lainnya.



Kembali kepada rakyat, termasuk para petani, kita juga

harus menelaah dan mempertanyakan kembali, apakah mereka diberdayakan sehingga menjadi kekuatan atau memiliki daya beli

sehingga bisa mendorong perekonomian?



Banyak lahan pertanian yang kini dikuasai dalam bentuk konglomerasi. Hal ini

membuat kenaikan harga komoditas sawit dinikmati konglomerat, walau dalam porsi lebih kecil juga dinikmati perkebunan

rakyat.



Di AS dan Eropa, Jepang dan Korea Selatan, pemerintah rela mengeluarkan ratusan miliaran dollar AS dana

untuk memberi subsidi untuk hasil pertanian untuk memberdayakan ekonomi para petani.



Benar, anggaran negara, dengan

asumsi penerimaan sedikit, tidak akan membuat pemerintah mampu melakukan hal serupa. Akan tetapi kita harus bertanya, mengapa

Korea Selatan dan Jepang bisa melakukan itu, padahal negara ini tidak memiliki kekayaan alam seperti gas, minyak, dan emas yang

amat bernilai. Mengapa Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini tidak mampu menjadikan kekayaannya untuk memberdayakan para

petani?



Hal yang terjadi adalah kemiskinan yang melilit sekitar 100 juta penduduk Indonesia. Seperti kata ekonom

asal Peru, Hernando de Soto, kemiskinan menjadi sarang yang rawan memunculkan terorisme. Dan Indonesia pun termasuk negara yang

terkenal dengan aksi-aksi terorisme.



Ini hanyalah sekadar pengingat bahwa kita memiliki masalah yang harus diatasi.

Masalah ini tidak akan teratasi tanpa keseriusan dari semua pihak. Keharuman Indonesia bukan diukur dengan pujian semu dari

dunia luar terhadap pemerintah Indonesia, tetapi bergantung pada pemahaman kita terhadap masalah mendasar yang muncul, untuk

kemudian diatasi.



Jangan lupa semua gambaran ini juga terekam dalam laporan World Competitiveness Report 2009, yang

diluncurkan Oktober lalu. Hasilnya, peringkat Indonesia tidak membanggakan.-Simon Saragih- (JJ)





Sumber :

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/11/22/05280085/baut.ri.melenceng.dari.mur.globalisasi

dilihat : 267 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution