Sabtu, 20 Oktober 2018 21:36:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 201
Total pengunjung : 431226
Hits hari ini : 1509
Total hits : 3977479
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -DPR Oh DPR






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 13 November 2009 00:00:00
DPR Oh DPR
Lengkaplah keprihatinan kita terhadap nasib negara ini. Bukan hanya penegak hukumnya yang tidak bisa diandalkan,

eksekutifnya yang tidak memiliki ketegasan, tetapi juga parlemennya yang tidak memiliki kematangan.



Untuk

menunjukkan bahwa DPR mendengarkan aspirasi masyarakat, Komisi III mengundang berbagai kelompok masyarakat sipil untuk

mendapatkan masukan terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Terutama soal tugas kita bersama dalam

memerangi korupsi.



Genderang perang kita dalam memerangi korupsi sedang terganggu karena lembaga yang kita

andalkan untuk menghadapi itu malah dilemahkan. Para pemimpin KPK direkayasa untuk dihadapkan kepada perkara hukum, sehingga

tiga di antaranya tergusur dari posisinya.



Kelompok masyarakat antikorupsi sangat berharap anggota DPR bisa

menangkap kekhawatiran masyarakat bahwa salah satu agenda utama reformasi sedang terancam. Sebagai salah satu kekuatan politik,

anggota DPR diharapkan bisa menjalankan fungsi kontrol agar cita-cita reformasi itu tidak sampai gagal.



Ternyata

parlemen yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat tidak menempatkan dirinya sebagai wakil rakyat. Mereka lebih

menempatkan dirinya sebagai elite politik yang harus dihormati. Mereka menempatkan dirinya sebagai kekuatan politik yang

bekerja untuk kepentingan mereka sendiri.



Begitu arogannya anggota Komisi III DPR menganggap Gedung Rakyat itu

sebagai rumah mereka. Tidak ada rasa hormat kepada pemilik sah Gedung Rakyat yang sebenarnya. Mereka justru menunjukkan

kekuasaan secara telanjang kepada rakyat yang sudah menyerahkan hak suaranya kepada para anggota DPR.



Sepantasnya

para anggota DPR bertanya pada diri mereka masing-masing untuk kepentingan apa mereka duduk di Gedung Rakyat. Kepada siapa

seharusnya mereka itu mengabdikan dirinya.



Gaji puluhan juta rupiah yang diterima, berbagai fasilitas yang

dinikmati, semua itu didapat dari keringat rakyat. Rakyat bekerja setengah mati untuk membiayai semua kenikmatan yang dirasakan

seluruh anggota parlemen. Sungguh tidak tahu diri kalau anggota DPR tidak menghormati mereka yang telah memberi

kehormatan.



Sikap yang diperlihatkan anggota DPR, khususnya Komisi III, sungguh sangat melukai hati rakyat.

Apalagi dua hari sebelumnya, mereka menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan semangat besar bangsa ini untuk memerangi

korupsi. Mereka tidak menunjukkan kekritisan sama sekali ketika melakukan rapat kerja dengan Kapolri, padahal kuat sekali

dugaan polisi sedang mencoba mengkerdilkan KPK.



Jangan heran apabila rakyat lalu kehilangan kepercayaan kepada

jalur politik formal. Kekesalan dan kekecewaan masyarakat jangan dianggap remeh karena mereka bisa menjadi kekuatan yang

sesungguhnya.



Kita bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Pada zaman Orde Baru dulu, kekuatan politik Presiden

Soeharto jauh lebih kuat dari sekarang ini. Soeharto bukan hanya menguasai parlemen, tetapi juga militer. Namun ketika rakyat

sudah marah dan melampiaskan kemuakannya, semua kekuatan itu tidak ada artinya sama sekali.



Enam pekan

pertama yang diperlihatkan para anggota parlemen sekarang ini, sangat jauh dari harapan rakyat. Yang mereka lebih perlihatkan

adalah unjuk kekuasaan, bukan sikap yang kritis untuk membela kepentingan rakyat banyak.



Baru pertama kali

pimpinan DPR melarang komisi untuk melakukan kerja dengan para menteri. Baru pertama kalinya anggota DPR mengusir rakyat yang

mereka wakili.



Kalau anggota DPR tidak segera mengubah sikapnya, mereka bukan hanya tidak ada mendapat dukungan

rakyat pada lima tahun mendatang, tetapi sekarang pun mereka kehilangan legitimasinya. Gedung DPR hanya akan menjadi menara

gading yang diisi anggota DPR yang enak ongkang-ongkang kaki di ruangan yang dingin karena hanya memikirkan dirinya

sendiri.



Demokrasi yang dengan susah payah kita bangun selama lebih dari satu dekade sungguh sedang berada di

ujung tanduk. Penyebabnya adalah karena elite politik yang dilahirkan semakin memburuk kualitasnya. Mereka hanya kumpulan

orang-orang politik yang sekadar tahu arti berkuasa, tetapi tidak memahami makna untuk apa sebenarnya mereka ada di Gedung DPR.

Sungguh ironis!(JJ)





Sumber : http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/2009/11/12/154/DPR-Oh-DPR

dilihat : 230 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution