Senin, 14 Oktober 2019 22:18:53 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520138
Hits hari ini : 1845
Total hits : 5022429
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -TB Simatupang, Kekhawatiran dan Harapan Seorang Generasi Pembebas






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 05 November 2009 00:00:00
TB Simatupang, Kekhawatiran dan Harapan Seorang Generasi Pembebas
Tahi Bonar Somatupang seakan

ditakdirkan menjadi sosok pembuka sejarah, generasi pendobrak sejarah (avant garde),dan menjadi sosok fenomenal bukan hanya

bagi kekristenan, tapi juga bagi seluruh umat Kristiani di Indonesia.



Jejak sebagai seorang anak desa yang kemudian

menjadi sosok penting dalam generasi pembebas "Angkatan'45" ternyata juga menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi Jenderal

kelahiran Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 ini. Dalam kegiatan percakapan menyambut hari ulang tahun ke-65 nya, yang

kemudian dibukukan oleh BPK Gunung Mulia dan dieditori oleh Victor Matondang, Pak Sim memakai pengalaman kegagalan generasi

pembebas Amerika Latin untuk kemudian merefleksikan terhadap Angkatan '45. Karena itu, Pak Sim selalu memikirkan, bahkan di

saat purna tugas, apa yang bisa disumbangkannya bagi bangsa dan negara ini..?



Pertanyaan sekaligus tantangan inilah

yang kemudian meresap ke dalam jantung pemikiran teologisnya yang berakar pada pernyataan, bagaimana menjadikan masyarakat

kristiani dan gereja di Indonesia menjadi bermakna. Cita-cita yang kemudian menjadi juga inspirasi bagi salah satu tokoh

kristen Indonesia berikutnya, Eka Darmaputera.



Untuk menjawab permasalahan ini, Pak Sim merujuk kepada konsep sakti

dari yang sudah disepakati semua founding fathers bangsa ini: Pancasila. Sebagai seorang yang tidak diragukan lagi

nasionalismenya, kita juga tidak perlu ragu untuk menebak ke arah mana kecenderungan teologisnya. Orientasi keluar untuk

menjadikan umat kristiani dan gereja bermakna bagi bangsa dan negara ini, inilah harapan sosok yang diakui kiprahnya di tingkat

internasional melalui dewan gereja Asia dan Dewan Gereja Dunia ini.



Dengan tidak bermaksud membatasi inti pemikiran

Pak Sim, tapi basis dari pemikiran teologis yang kemudian menjadikan Pancasila sebagai titik tolaknya dapat kita temukan pada

buku terbitan BPK Gunung Mulia berjudul "Iman Kristen dan Pancasila".Di buku inilah TB Simatupang berbicara dengan landasan

historis, nasionalis, dan teologis untuk merangkum eksemplar-eksemplar pemikiran teologi yang komprehensif. Kekaguman terhadap

Pancasila tidak dapat diragukan lagi jika kita menyimak konsep Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila (PNPP) yang

dipopulerkannya.



Dalam berbagai kesempatan, Pak Sim selalu mengungkapkan tiga "Karl" yang mempengaruhinya: Karl Marx

dalam revolusi, Carl von Clausewitz mengenai perang, dan Karl Barth mengenai teologi. Yang paling menarik mungkin gagasan

mengenai pembebasan sosial. Meskipun tidak secara langsung kita menemukan ambisi revolusioner, gagasan Marx akan revolusi

dimaknai sebagai pembebasan sosial. Dan pengejewantahannya adalah melalui pembangunan ekonomi. Suatu konsep yang sangat

familiar pada era orde baru.



Kiprahnya dalam diskursus teologi Indonesia bermula semenjak menjabat di Dewan Gereja

Indonesia dan menangani bidang gereja dan masyarakat. Dan sejak 1967,Pak Sim juga mempelopori "dialog agama", suatu ikhtiar

untuk menumbuhkan pemahaman perlunya pengakuan bahwa agama-agama itu hidup berdampingan dan tidak hidup terpisah-pisah dalam

negara dan dunia ini.



Gagasan yang paling penting bagi perkembangan kekristenan adalah idealismenya mengenai suatu

gereja yang mandiri dan oikumenis. Penekanan yang dilandasi pemikiran bahwa ini bukan saatnya lagi penjajahan dalam kontek

kultural, budaya, maupun teologis. Arus nasionalisme menggerus sekat-sekat seperti itu dan membuka peluang bagi kemandirian

serta kesatuan gereja dalam konteks Negara Kestauan Republik Indonesia. Impian besar yang ironisnya saat ini tidak lagi populer

dalam kekristenan Indonesia.



Inilah sosok besar yang mungkin sekarang namanya bagi umat kristiani tentunya akan

semakin tenggelam oleh nama para penginjil kondang. Tapi jasa besar Pak Sim dan tekadnya untuk terus menyumbangkan apapun demi

bangsa dan negara ini merupakan lompatan besar bagi siapapun yang ingin meneladani beliau. Dan tema besar yang Pak Sim ambil

adalah bagaimana menciptakan kesinambungan sejarah dalam perjalanan bangsa ini.



Kesinambungan dan disertai adanya

peningkatan, koreksi, dan ada peningkatan, bukan kemunduran bangsa ini.

(sav)

dilihat : 444 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution