Kamis, 27 Juni 2019 13:45:39 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 197
Total pengunjung : 517292
Hits hari ini : 1416
Total hits : 4749628
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Membumikan Sumpah Pemuda






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 29 Oktober 2009 00:00:00
Membumikan Sumpah Pemuda
Setiap kali ada momentum untuk membangkitkan rasa

kebangsaan, maka hal itu harus kita pakai untuk mengukuhkannya. Tanggal 28 Oktober ketika kita memperingati Sumpah Pemuda,

sepantasnya kita pergunakan untuk mengukuhkan komitmen kita, terutama para pemuda akan tanggung jawabnya memajukan negeri

ini.



Delapan puluh satu tahun yang lalu, para pemudalah yang berdiri di depan untuk mengukuhkan satu Indonesia.

Meski Republik baru 17 tahun kemudian diproklamasikan, namun para pemuda di zaman itu sudah berpikiran lebih maju dari masanya.

Secara sadar mereka menanggalkan semua primodialisme yang beratus-ratus hanya memecah Indonesia dan menggantinya dengan satu

identitas yakni Indonesia.



Kebesaran hati dan pikiran yang terbuka dari para pemuda Indonesia di zaman itulah yang

membuat cita-cita hadirnya sebuah Indonesia merdeka bisa tercapai. Secara sadar mereka melepaskan "rasa kekamian" yang

sebelumnya begitu kuat melekat di diri dan menggantikannya menjadi "rasa kekitaan". Sikap yang semula terkotak-kotak diubah

menjadi sikap yang inklusif bersatu.



Setelah 81 tahun berlaku dan Indonesia Merdeka sudah kita dapatkan, semangat

Sumpah Pemuda harus ditempatkan dalam situasi yang berbeda. Sebab, kalau semangatnya masih tetap perjuangan seperti awal

didengungkan, bukan hanya sudah ketinggalan zaman, tetapi bisa jadi sudah tidak relevan.



Di zaman yang kini disebut

"era 2.0", kita dihadapkan pada keterbukaan, globalisasi. Batas-batas wilayah sudah semakin tidak jelas karena di era teknologi

informasi segala sesuatunya bergerak begitu cepat, serentak, seketika, tanpa batas, dan berjalan bukan lagi dua arah tetapi

banyak arah. Segalanya menjadi serba interaktif.



Dalam dunia yang oleh Thomas Friedman sebagai datar, memang

tantangan yang harus dihadapi benar-benar berubah. Kita tidak hanya bisa melihat ke dalam, tetapi harus berwawasan keluar,

melihat kesempatan yang ada di depan mata.



Kualitas manusia menjadi kunci bagi pemenangan globalisasi. Para pemuda

Indonesia bukan hanya harus memiliki pengetahuan yang memadai, tetapi harus disertai dengan kemampuan menguasai teknologi.

Tanpa itu maka pemuda Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.



Kemauan untuk terus

menimba ilmu dan menguasai teknologi itulah yang harus ada pada diri para pemuda Indonesia sekarang. Mereka tidak boleh cepat

berpuas diri, tetapi harus terus mau mengejar ilmu dan tidak boleh kalah dari pemuda-pemuda dari negara lain.



Di

bandingkan para pemuda di tahun 1928, kesempatan untuk menimba ilmu sekarang ini jauh lebih terbuka. Kemajuan teknologi

informasi membuat segala sesuatu tidak ada batasnya dan mudah untuk bisa diperoleh.



Apabila di tengah

keterbatasannya, para pemuda tahun 1928 mampu membuka wawasannya menjadi mengglobal, sungguhlah ironis apabila di tengah

kemudahan seperti sekarang para pemuda masa kini tidak bisa jauh lebih baik. Kalau tahun 1928 bisa melahirkan orang-orang

seperti Moehammad Yamin, Ki Mangunsarkoro, seharusnya sekarang lebih banyak lagi orang-orang yang berwawasan mendunia seperti

itu yang bisa kita lahirkan.



Marilah sekarang kita bertanya, apakah kemajuan zaman mampu melahirkan orang-orang

berpikiran besar? Atau seperti yang dulu sangat ditakutkan Wakil Presiden Mohammad Hatta, di zaman yang besar justru dilahirkan

orang-orang yang berpikiran kerdil?



Dalam konteks penggugatan seperti itu, peringatan Sumpah Pemuda tidak bisa

sekadar acara seremonial dan membaca pidato. Peringatan Sumpah Pemuda harus bisa menggugah para pemuda Indonesia untuk sadar

akan tanggung jawabnya untuk membuat Indonesia tidak menjadi pencundang di antara bangsa-bangsa di dunia.



Jawaban

untuk itu kembali ke persoalan pendidikan. Sejauh mana pendidikan bangsa ini bisa menghasilkan pemuda-pemuda yang memiliki

kultur yang kuat. Kultur untuk mau bekerja keras, jujur pada diri sendiri, mengutamakan integritas, selalu ingin meraih

kemajuan, bertindak kreatif, berpikiran terbuka, dan tidak pernah mau kalah dari bangsa lain.



Catatan yang

disampaikan tokoh pendidikan Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam acara "Program 100 Hari SBY-Boediono di METROTV, Selasa lalu

menarik untuk disimak. Bagaimana kita bisa mengembalikan pemahaman yang dulu diyakini bahwa dari pendidikanlah kita mendorong

pertumbuhan ekonomi. Bukan seperti pemahaman sekarang ini bahwa pertumbuhan ekonomilah yang mendorong

pendidikan.



Bangsa-bangsa yang maju memulai pembangunan negaranya melalui jalur pendidikan. Bangsa China, bangsa

India mengejar ketertinggalannya dengan mendobrak pendidikan bangsanya.



Kalau kita mau bangkit dan mengejar

ketertinggalan kita, maka kita tidak bisa hanya asyik bernostalgia. Urusan membangun para pemuda Indonesia tidak bisa

dilepaskan dari masalah pendidikan. Kantor Pemuda dan Olahraga harus menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari

Departemen Pendidikan Nasional.



Sepanjang urusan kepemudaan diredusir menjadi urusan perpolitikan, maka kita tidak

akan pernah bergerak maju. Apalagi sekarang ini mulai muncul kesan bahwa untuk bisa menjadi orang yang terkenal haruslah

menjadi politisi. Tidak peduli dia berkualitas atau tidak, sudah memiliki karya yang bisa dibanggakan atau tidak, tiba-tiba

saja bisa duduk di parlemen, tiba-tiba menjadi pejabat publik.



Sepanjang orientasi kita seperti itu dan menjadi

sikap dari para pemuda kita, maka jangan harap bangsa ini bisa menjadi maju. Kita harus berani mengembalikan kepada paradigma

yang benar bahwa kita harus berlomba-lomba untuk menghasilkan karya terbaik yang tidak hanya diakui oleh bangsa ini saja,

tetapi juga bangsa-bangsa dunia lainnya.



Para pemuda Indonesia harus berani untuk bersumpah untuk tidak mengikuti

arus besar yang keliru ini. Para pemuda harus berteriak lantang menyuarakan semua ketidakberesan yang ada pada bangsa ini. Dan

perbaikan itu dimulai dari diri kita masing-masing dengan menuntut ilmu secara benar, menguasai teknologi secara baik agar bisa

,engembangkan diri secara optimal dan kemudian memberikan kontribusi yang positif bagi nusa dan bangsa.

(JJ)





Sumber : http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/2009/10/28/139/Membumikan-Sumpah-Pemuda

dilihat : 434 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution