Jum'at, 21 September 2018 07:16:57 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 13
Total pengunjung : 422035
Hits hari ini : 75
Total hits : 3884938
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Ranah Minang Terkoyak






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 01 Oktober 2009 00:00:00
Ranah Minang Terkoyak

Selebihnya cuma duka... dan Tuhan amat dirindu, berulang-ulang dipanggil, dermaga untuk

mengadu dan bermohon. Bumi kembali diguncang, petakakah? Tangismu sampai, dukamu melambai... (Isbedy Stiawan ZS, “Duka di

Tanahku” )



Ranah Minang berduka. Belum sebulan gempa mengobrak-abrik beberapa daerah di Jawa Barat, kini gempa

kembali mengoyak Sumatera Barat. Gempa dahsyat berkuatan 7,6 Skala Richter (SR) mengguncang daerah itu Rabu (30/9) sekitar

pukul 17.16 WIB.



Getaran gempa dirasakan seluruh wilayah di Pulau Sumatera bahkan hingga Johor Bahru, Malaysia dan

Singapura. Ribuan rumah hancur dan diperkirakan ratusan korban meninggal. Pusat gempa berada di 0,84 LS – 99,65 BT, kekuatan

gempa 7,6 SR dengan kedalaman 71 Km di 57 Km barat daya Paria­man. Hingga pukul 22.30 WIB malam tadi, korban tewas dilaporkan

75 orang di Kota Padang. Di Padang Pariaman sekitar 70 persen bangunan ambruk di dilaporkan lebih 130 orang

tewas.



Hanya, sejauh ini, dampak paling parah akibat gempa itu dilaporkan di dua daerah tersebut. Bahkan Kota Padang

yang juga ibu kota Sumatera Barat itu seperti sebuah kota yang terisolasi dari kota-kota lain di sekitarnya. Harian Padang

Ekspres (Riau Pos Group) bahkan sampai tak bisa terbit karena gedung kantor di Jalan Proklamasi miring hampir ambruk dan

sejumlah peralatan cetak di dalamnya rusak.



Kondisi serupa juga terlihat di pusat Kota Padang. Pertokoan, show room,

mobil, pusat perbelanjaan dan masjid rubuh. Di Jalan Veteran show room Suzuki rubuh, PT Capella Air Tawar dan Adira Quantum

juga rata dengan tanah. Begitu juga dengan show room Proton di Sutomo. Di Pusat bimbingan belajar Gamma belasan siswa terjebak

dan satu tewas dan satu siswa lainnya kakinya putus. Masjid Raya Muhammadiyah Simpang Haru juga rubuh. Begitu juga dengan

Masjid Babussalam di Jalan Sumatera Ulak Karang juga rubuh.



“Banyak bangunan hancur tak berbentuk. Ini gempa yang

lebih parah dari dua tahun lalu,’’ ujar Neng, karyawan sebuah show room di Kota Padang. Dia sempat berusaha lari ke arah kampus

Unand Limau Manis (14 Km dari pusat kota) untuk antisipasi tsunami usai gempa terjadi.



Sementara menurut penuturan

Dina (25), warga Kompleks Villa Bukit Berlindo Gunung Pangilun, kondisi di sekitar kompleksnya tak ada yang rusak parah. Hanya

beberapa rumah yang rusak ringan. Di Gunung Pangilun, menurutnya, gedung BRI Gunung Pangilun mengalami rusak parah. “Yang

lainnya, rumah warga yang berlantai dua juga banyak yang runtuh,” jelasnya.



Ketika gempa terjadi, Dina sedang berada

di Jl Veteran. Dia melihat beberapa bangunan rusak parah di sana, di antaranya bangunan Suzuki Motor yang ambruk. Kemudian, dia

berjalan ke arah Ujung Gurun yang tak jauh dari Veteran, dan dia melihat beberapa rumah ambruk, termasuk ada sebuah rumah yang

terbakar.



Dina juga berjalan keliling ke beberapa tempat, termasuk menyaksikan Hotel Ambacang dan KFC di Jl Bundo

Kanduang yang runtuh. “Saya tak melihat langsung, tapi Hotel Bumi Minang juga rusak, meski tak runtuh. Masyarakat panik sekali

di sini,” jelasnya ketika dihubungi Riau Pos malam tadi.



Sementara di Perumahan Ulu Gadut Indarung, beberapa rumah

di Blok C dan D rusak, namun tak ada korban jiwa, hanya beberapa yang luka ringan. “Memang ada warga Kompleks Ulu Gadut yang

tewas, tapi dia meninggal karena tertimpa bangunan tokonya di Pasar Raya,” jelas Liza, warga Blok B Ulu Gadut saat dihubungi

malam tadi.



Keponakan M Djuir, seorang dosen di Fakultas Sastra Unand ini juga mendengar kalau kampus Unand di Limau

Manis rusak. “Saya dengar Bangunan Fakultas Teknik dan Fakultas Peternakan rusak parah, tapi saya tak melihat langsung,” jelas

mahasiswi Jurusan Sosiologi Fisip Unand ini.



Dilaporkan Wali Kota Padang Fauzi Bahar hingga pukul 22.30 WIB, korban

meninggal sudah mencapai 75 orang dengan ratusan mengalami luka-luka. Selain itu, ribuan orang terjebak di reruntu­han bangunan

yang sebagian besar di Kota Padang sekitarnya. Stasiun televisi TV One melaporkan Rumah Sakit M Djamil sempat kehabisan kantung

mayat.



Bandara Internasional Minang Kabau hingga tadi malam masih ditutup dan disebutkan akan mulai beroperasi pagi

ini pukul 07.00 WIB. Pangkalan Udara Tabing tetap dibuka dan siap menerima pener­bangan yang membawa bantuan. Dua rumah sakit

ambruk dan belum diketahui secara rinci kondisi pasien-pasien yang dirawat.



Hingga pukul 00.00 WIB malam tadi, api

yang membakar Pasar Raya Padang, persis di belakang Kantor Wali Kota Padang, belum bisa dipadamkan. Tim pemadam masih kesulitan

karena matinya listrik membuat suasana gelap-gulita. Tim Satkorlak Bencana Sumbar tidak mampu menjangkau semua daerah yang kena

bencana. Selain karena gelap-gulita, juga cakupan gempa yang luas tidak terkaver oleh kurangnya tenaga.



Kondisi yang

tak kalah memilukan terlihat di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Sepanjang jalan menuju Padang banyak rumah yang rubuh

dan terhimpit. Kondisi ini bertambah memilukan dengan padam listrik serta hujan lebat. Sementara di Kampung Dalam Pariaman

kondisi rumah hancur dan tak bisa dihuni lagi. Saat gempa, warga lari ke bukit.



Kondisi parahnya gempa yang terjadi

di Padang Pariaman juga dikemukakan Riki (22), warga Kecamatan Tujuh Koto Sungai Sariak, Desa Bisati, Kampung Entang, Pariaman.

Menurutnya, seluruh rumah di desanya hancur dan rata dengan tanah. “Hancur semua, rata dengan tanah,’’ katanya.



Hal

yang sama juga dikemukakan Lin, di mana rumah orang tuanya di Sampan Pungguang Ladiang Kecamatan Pariaman Selatan, rata dengan

tanah. ‘’Rumah di kampung rata dengan tanah. Sederetan rumah kami juga demikian yang rata-rata semuanya hancur,’’ katanya

dengan raut muka yang masih merasa cemas karena masih belum mendapatkan informasi yang valid tentang keluarga

besarnya.



Rumah hancur dan hingga menyebabkan banyak keluarga mengalami luka-luka dikemukakan Egy Sandy yang tinggal

di Sikapak, Pariaman Utara. ‘’Rumah saya dan rumah tetangga semuanya hancur. Keluarga saya banyak luka-luka,’’ paparnya dengan

kesedihan yang mendalam.



Di Bukittinggi, ketika gempa terjadi, pasien di Rumah Sakit Ahmad Mohtar dan Rumah Sakit

Khusus Stroke, ketakutan dan berhamburan keluar. Pasien di Rumah Sakit Khusus Stroke kesulitan keluar karena banyak pasien yang

memang masih belum bisa berjalan. Di kota ini, hingga malam tadi belum diketahui berapa jumlah korban atau berapa bangunan yang

rusak.



Kondisi kawasan Kota Padang dan Kabupaten Pariaman hingga malam tadi masih mencekam. Aliran listrik dan

telepon sebagian besar terputus. Akses jalan darat menuju Padang-Pariaman putus akibat jalan banyak longsor sehingga kemacetan

total pun terjadi.





Instalasi PLN Padang Rusak



Gempa juga berakibat rusaknya kerusakan pada

instalasi PLN di Sumatera Barat. Manager Sumberdaya Mineral dan Humas PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Suwandi Siregar,

kepada Riau Pos malam tadi mengatakan, berdasarkan hasil monitoring tim PLN pukul 20.00 WIB di lokasi, diperoleh informasi

bahwa gempa mengakibatkan gardu induk yang menyuplai Kota Padang menga­lami gangguan sehingga tidak bisa beroperasi dan

menyebabkan listrik di Kota Padang padam total.



Apalagi PLTA Singkarak sedang dalam pemulihan, PLTA Maninjau

beroperasi satu unit dan digunakan hanya untuk peneran­gan gardu induk. Selain itu PLTU Ombilin satu beroperasi normal satu

unit, gedung unit pengatur beban rubuh, sehingga pengaturan sistem dilakukan dari luar kantor dengan kondisi

darurat.



Suwandi menambahkan, kondisi ini diharapkan tidak meng­ganggu dan menambah frekuensi pemadaman bergilir

yang sedang berlangsung di Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, karena sampai saat sekarang PLN terus berupaya melalukan perbaikan

agar pengar­uh yang dihasilkan dari gempa bumi yang terjadi di Sumbar ini tidak berlangsung lama.



Terkait dengan

kelistrikan untuk wilayah Sumatera Bagian Tengah Selatan (Sumbagtengsel) yang berpusat di Sumbar, Kepala Cabang PLN Wilayah

Riau-Kepri, Robert A Ritonang mengaku tidak ada kendala. Beberapa turbin yang ada di pembangkit listrik tidak terpengaruh

dengan gempa. Pasalnya keberadaannya jauh dari pusat gempa. Hanya saja sempat terjadi penurunan daya listrik yang disebabkan

empat turbin tidak beroperasi reguler.



‘’Gempa tidak membuat turbin rusak, hanya saja pembangkit tersebut keluar

dari sistem karena masih belum maksimal. Namun saat ini kondisi listrik kembali normal,’’ jelasnya kepada Riau Pos melalui

telepon selularnya.



Robert mengaku sudah mengirim Tim Pengerja Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) ke Padang untuk

membantu pemuli­han listrik di Sumbar. Tim yang terdiri dari 12 orang dengan 3 mobil serta 1 kendaraan oprasional PDKB akan

menyisir intalasi sambungan jaringan interkoneksi Sumbagtengsel melalui jalur Riau.



‘’Kami hanya berharap kondisi

listrik tidak kembali mengalami kekurangan pasokan. Jadi, tim akan meyisir jaringan interkoneksi supaya tidak ada penguragan

daya listrik untuk provinsi lainnya,’’ jelasnya.



Kondisi beberapa kator PLN di sumbar mengalami kerusakan cukup

parah. Di antaranya, lahan disekitar Kantor PBPT mengalami longsor sedalam 1,5 meter, kantor wilayah Padang roboh di bagian

tengah bangunan, lalu bagian depan kantor Cabang PLN Padang juga roboh. Unit pelayanan transmisi PLN Padang juga mengalami

rusak.(JJ)





Sumber : http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=3417&kat=3

dilihat : 280 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution