Jum'at, 21 September 2018 07:43:08 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 23
Total pengunjung : 422045
Hits hari ini : 124
Total hits : 3884987
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Warisan 11 September






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 12 September 2009 00:00:00
Warisan 11 September
Warisan 11 September

Rebecca Cataldi



Washington, DC – Tahun ini, 8 tahun setelah serangan teroris 11

September, ditandai banyak perbincangan tentang bagaimana dunia telah berubah sejak peristiwa itu. Banyak perubahan ini yang

sebetulnya suram: hubungan Amerika dan dunia Muslim memburuk akibat perang di Afghanistan dan Irak, serta serangan teroris dari

London hingga Madrid, dan dari Pakistan hingga Indonesia. Langkah-langkah keamanan meningkat; demikian pula kecurigaan dan

ketidakpercayaan.



Baik orang Amerika maupun Muslim bisa merasakan ketakutan yang muncul dari firasat bahwa

aspek-aspek dari identitas kita bisa membuat kita menjadi target serangan.



Tapi mungkin ada warisan lain dari hari

menentukan itu. Di Amerika, 11 September mengingatkan banyak orang tentang apa yang sebenarnya penting. Ada curahan solidaritas

pada komunitas, rasa sayang pada tetangga, dan pengabdian pada masyarakat. Palang Merah menerima begitu banyak sumbangan

sampai-sampai meminta orang-orang untuk menyumbang ke organisasi lain. Orang-orang memenuhi rumah-rumah ibadah, berpaling pada

yang lebih tinggi dari mereka sendiri.



Dalam "The Arab American Experience After September 11" (Pengalaman Orang

Amerika Arab Setelah 11 September), Lembaga Arab Amerika merekam bagaimana orang-orang Amerika non-Muslim berjaga-jaga selama

seminggu di luar sebuah Islamic centre di Rockville, Maryland untuk melindunginya dari kemungkinan adanya serangan belasan

menyusul serangan 11 September. Yang lain menemani orang-orang Muslim pergi ke sekolah atau beribadah untuk memastikan mereka

tidak akan diganggu. Walikota Chicago, Richard Daley dan Gubernur Illinois George Ryan mendeklarasikan November sebagai Bulan

Tradisi Arab, sementara Ad Council meluncurkan iklan-iklan layanan masyarakat yang menentang kebencian dan merayakan

keragaman.



Jumlah orang Amerika yang belajar bahasa Arab meningkat. Demikian pula jumlah program Islam dan Timur

Tengah. Dalam artikelnya, "Studying Islam after September 11: Reflections and Resources", (Mengkaji Islam setelah 11 September:

Refleksi dan Sumber Daya), Dr. Gary Bunt, direktur dan dosen senior kajian Islam di University of Wales, menulis, "Memang ada

minat baru dan berkelanjutan pada kajian Islam dan masyarakat Islam ... Buku-buku tentang Islam ... penjualannya meledak di

pasar internasional, sementara Alquran banyak dicetak untuk memenuhi meningkatnya permintaan, dan berbagai surat kabar telah

memuat petunjuk-petunjuk dasar tentang Islam."



Paska kejadian 11 September, orang-orang di negara-negara mayoritas

Muslim berkumpul di luar kedutaan-kedutaan AS untuk mengungkapkan solidaritas mereka pada para korban. Di Amerika, keluarga

dari mereka yang terbunuh dalam serangan itu membentuk kelompok-kelompok seperti September 11th Families for Peaceful Tomorrows

untuk mendorong cara-cara non-kekerasan dan membantu para korban perang di Afghanistan dan Irak. Telah ada dialog dan prakarsa

yang berjalan seperti UN Alliance of Civilizations, konferensi tingkat tinggi antaragama Arab Saudi, upaya perdamaian lewat

surat "Common Word" dari para pemimpin Muslim kepada para pemimpin Kristen, dan juga surat balasannya, "Loving God and Neighbor

Together".



Para cendekia, seperti imam Feisal Abdul Rauf dari Amerika, telah menulis buku-buku seperti What's Right

with Islam is What's Right with America (Apa yang baik bagi Islam baik pula bagi Amerika), yang menyoroti nilai-nilai yang

sama-sama dimiliki Amerika dan Islam—iman, pengabdian, martabat individu dan hak asasi manusia pemberian Tuhan. Para pemimpin

masyarakat sipil AS, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Madeleine Albright dan mantan Deputi Menteri Luar Negeri Richard

Armitage, bekerja sama dengan organisasi transformasi konflik Search for Common Ground dan Consensus Building Institute,

membentuk US-Muslim Engagement Project untuk memberikan saran kepada para pembuat kebijakan AS tentang bagaimana memperbaiki

hubungan AS dengan dunia Muslim melalui diplomasi, pertukaran, saling menghormati dan mengerti.



Meski Amerika selalu

merupakan negara yang relijius, ada peningkatan yang cukup signifikan dalam hal relijiusitas dan kerjasama antaragama setelah

11 September. Sebelum 11 September, saya ragu banyak orang Amerika non-Muslim yang tahu apa itu Ramadan. Tahun ini, dalam

seminggu, saya—yang seorang Katolik—menghadiri tiga acara berbuka puasa bersama: satu di masjid, satu di gereja Katolik dan

satu lagi di sinagog Yahudi. Kantor-kantor pemerintahan AS juga menyelenggarakan acara iftar sendiri.



9/11 Unity

Walk (acara jalan bersama untuk memperingati tragedi 9/11) yang diselenggarakan setiap tahun mengumpulkan orang dari berbagai

agama untuk berdoa bersama di sejumlah rumah ibadah guna menunjukkan solidaritas melawan kekerasan dan memperlihatkan kesatuan

sebagai satu keluarga manusia. Tahun ini, Presiden AS Barack Obama menjadikan 11 September sebagai Hari Nasional untuk

Pengabdian dan Kenangan, sehingga memori tentang hari ini bisa mengilhami orang-orang untuk meneguhkan komitmen mereka untuk

mengabdi pada masyarakat.



11 September adalah tragedi mengerikan, namun warisannya tak harus juga mengerikan. Dan

warisan itu belumlah berakhir. Kita masih bisa memilih cara untuk menanggapi 11 September, apakah dengan saling menyerang

dengan cara kekerasan, membangun sekat-sekat ketidakpercayaan dan pengucilan, atau dengan berkumpul bersama untuk bekerja sama

demi perdamaian.



Terserah kita untuk memilih.



###



* Rebecca Cataldi ialah manajer program pada

International Center for Religion & Diplomacy (ICRD), dan kandidat master di Institut Analisis dan Resolusi Konflik, George

Mason University. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).



Sumber: Kantor Berita Common

Ground (CGNews), 11 September 2009, www.commongroundnews.org

Telah memperoleh izin publikasi. (sp)



dilihat : 260 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution