Kamis, 23 Oktober 2014 19:57:56 | Home | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Selamat kepada Jokowi-JK sebagai presiden terpilih. Kita doakan agar pelantikan tanggal 20 Oktober berlangsung baik..--Ingin kegiatan pelayanan anda diliput? silahkan kabari kami di 082139048191, 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Perspektif

Strategi Kebudayaan
Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai.

Catatan Ringan

Kaum Injili dan Politik
Keberadaan kelompok-kelompok Kristen dengan dinamikannya di negara-negara dunia ketiga cukup menarik perhatian untuk dijadikan bahan studi.

Agenda

Kamis, 25 September 2014
Ibadah Syukur Pilpres BAMAG Surabaya
Senin, 29 September 2014
Kongres XXXIV GMKI 2014 di Pontianak
Sabtu, 18 Oktober 2014
KKR Sekota “ON THE WAY”







19696
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Muhammadiyah: Bukan Nasionalisme Marah-marah
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 29 Agustus 2009 00:00:00
Muhammadiyah: Bukan Nasionalisme Marah-marah
SURABAYA, KOMPAS.com -

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai emosi berlebihan yang ditunjukan bangsa Indonesia menyikapi klaim

Malaysia terhadap budaya dan daerah Indonesia merupakan bentuk kecemburuan peradaban. Padahal nasionalisme kita seharusnya

bukan nasionalisme marah-marah.



"Kita marah, emosi hingga melakukan hal ekstrem untuk menunjukkan nasionalisme kita.

Tapi itu sebetulnya kecemburuan peradaban," ujar Din ketika membuka acara kajian Ramadhan Muhammadiyah bertema Membangun Visi

dan Karakter Bangsa di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya, Sabtu (29/8).



Kecemburuan peradaban, lanjut Din, menunjukkan

sikap kita yang tidak menerima negara lain lebih maju daripada bangsa sendiri. "Padahal tuntutan nasionalisme kita lebih dari

itu, melainkan bagaimana mencari karakter bangsa yang kini mulai memudar di tengah himpitan globalisasi, nodernisme, dan

euforia reformasi," katanya.



Din menyadari sulitnya menemukan kembali ke-Indonesia-an ketika cita-cita nasional

mulai terdistorsi. Atas dasar itu, Muhammadiyah sebagai salah satu elemen bangsa dan gerakan intelektual ikut bertanggungjawab

atas kemunduran bangsa ini.



Muhammadiyah juga harus mengevaluasi diri terutama memasuki abad baru. "Tidak mungkin

Muhammadiyah yang seratus tahun lalu bisa tetap sama dengan yang sekarang," katanya.



Revitalisasi Muhammadiyah

sebagai bagian dari masyarakat madani ini menjadi agenda penting bagi Muhammadiyah yang akan melaksanakan Mukatamar ke-46 di DI

Yogyakarta, Juli 2010. Acara itu juga menjadi abad baru bagi Muhammadiyah yang genap berusia 100 tahun pada tahun

ini.



Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim, Prof Syafiq Mughni juga menilai Muktamar yang digelar tahun depan

merupakan yang paling strategis daripada muktamar-muktamar tahun sebelumnya. "Relevansi Muhammadiyah sebagai gerakan dakawah

dan intelektual di tangah persoalan politik dan budaya akan kian dipertanyakan,"

ujarnya.(MW)



sumber:

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/29/18483634/Muhammadiyah.Bukan.Nasionalisme.Ma

rah-marah

   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution