Selamat Datang di www.pustakalewi.net
Rabu, 23 April 2014 23:55:01
| Translate | | Home | Forum | About Us | Donasi | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Doakan agar persoalan Papua dapat terselesaikan dengan baik dan damai...
Perspektif
Hans Küng
Pertengahan bulan Desember 2013, media kenamaan Jerman Der Spiegel menurunkan sebuah hasil wawancara dengan Hans Küng
Perspektif
Hans Küng
Pertengahan bulan Desember 2013, media kenamaan Jerman Der Spiegel menurunkan sebuah hasil wawancara dengan Hans Küng
Agenda
Sabtu, 11 Januari 2014
Natal Oikumene GMKI
Sabtu, 18 Januari 2014
Musical Drama & Orchestra Kantata
Sabtu, 08 Februari 2014
Seminar untuk remaja.
Selasa, 03 Juni 2014
SKGI


STATISTIK
Online :12
Hari ini :508






Situs Berita Kristen PLewi.Net -Muhammadiyah: Bukan Nasionalisme Marah-marah
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 29 Agustus 2009 00:00:00
Muhammadiyah: Bukan Nasionalisme Marah-marah
SURABAYA, KOMPAS.com -

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai emosi berlebihan yang ditunjukan bangsa Indonesia menyikapi klaim

Malaysia terhadap budaya dan daerah Indonesia merupakan bentuk kecemburuan peradaban. Padahal nasionalisme kita seharusnya

bukan nasionalisme marah-marah.



"Kita marah, emosi hingga melakukan hal ekstrem untuk menunjukkan nasionalisme kita.

Tapi itu sebetulnya kecemburuan peradaban," ujar Din ketika membuka acara kajian Ramadhan Muhammadiyah bertema Membangun Visi

dan Karakter Bangsa di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya, Sabtu (29/8).



Kecemburuan peradaban, lanjut Din, menunjukkan

sikap kita yang tidak menerima negara lain lebih maju daripada bangsa sendiri. "Padahal tuntutan nasionalisme kita lebih dari

itu, melainkan bagaimana mencari karakter bangsa yang kini mulai memudar di tengah himpitan globalisasi, nodernisme, dan

euforia reformasi," katanya.



Din menyadari sulitnya menemukan kembali ke-Indonesia-an ketika cita-cita nasional

mulai terdistorsi. Atas dasar itu, Muhammadiyah sebagai salah satu elemen bangsa dan gerakan intelektual ikut bertanggungjawab

atas kemunduran bangsa ini.



Muhammadiyah juga harus mengevaluasi diri terutama memasuki abad baru. "Tidak mungkin

Muhammadiyah yang seratus tahun lalu bisa tetap sama dengan yang sekarang," katanya.



Revitalisasi Muhammadiyah

sebagai bagian dari masyarakat madani ini menjadi agenda penting bagi Muhammadiyah yang akan melaksanakan Mukatamar ke-46 di DI

Yogyakarta, Juli 2010. Acara itu juga menjadi abad baru bagi Muhammadiyah yang genap berusia 100 tahun pada tahun

ini.



Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim, Prof Syafiq Mughni juga menilai Muktamar yang digelar tahun depan

merupakan yang paling strategis daripada muktamar-muktamar tahun sebelumnya. "Relevansi Muhammadiyah sebagai gerakan dakawah

dan intelektual di tangah persoalan politik dan budaya akan kian dipertanyakan,"

ujarnya.(MW)



sumber:

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/29/18483634/Muhammadiyah.Bukan.Nasionalisme.Ma

rah-marah

   
Copyright © 2005 - Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution