Selasa, 21 Mei 2019 23:37:13 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 362
Total pengunjung : 504831
Hits hari ini : 2112
Total hits : 4625966
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Musik Rock Kristen Dalam Konteks Ibadah Dan Keketatan Theologis






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 28 Agustus 2009 00:00:00
Musik Rock Kristen Dalam Konteks Ibadah Dan Keketatan Theologis
Musik Rock

Kristen Dalam Konteks Ibadah Dan Keketatan Theologis



oleh: Anton Ampu

Lembang



PENDAHULUAN



Nietzsche pernah berkomentar bahwa jika manusia hidup tanpa musik maka hidup akan

menuju pada suatu kesalahan.1 Isu-isu kekinian yang sedang menjamur di beberapa gereja sehubungan dengan munculnya suatu aliran

musik yang cukup panas, cepat dan liar mulai menimbulkan perasaan cemas. Keresahan tersebut semakin mengental ketika tujuan

akhir penggunaan musik dalam ibadah-ibadah Kristen tidak lagi diperketat oleh nilai-nilai theologis. Jerry W. McCant

berpendapat bahwa musik merupakan wadah yang efektif dalam mengajarkan ide-ide Alkitab dan theologi.2 Hal yang sama juga

dikatakan oleh Kenneth W. Osbeck. Ia mengemukakan bahwa tokoh-tokoh gereja telah mempergunakan hymn untuk mengekspresikan

theologi yang dianut dalam aliran masing-masing.3 Dengan kata lain, musik merupakan salah satu media yang paling efektif untuk

meneruskan iman Kristen.



David Bowie, seorang rocker, mengatakan bahwa musik rock merupakan musik Iblis sehingga

musik rock akan mengajar jutaan kawula muda untuk memuja dan menyembah Iblis.4 Musik ini mengandung pesan penghujatan terhadap

Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus, yang dimanifestasikan melalui lirik, irama dan gambar.5 Tujuannya supaya dosa itu

menjadi biasa dan tidak perlu ditakutkan karena semua orang melakukannya.



Dalam sebuah majalah medis terdapat suatu

observasi tentang berbagai dampak negatif musik rock, misalnya hilangnya kontrol, agresif, suka memberontak, mempunyai dorongan

seksual yang tidak terkendali, dan berubahnya kepribadian secara negatif. Keadaan histeris ini menunjukkan ekspresi kawula muda

yang penuh konflik serta pemberontakannya terhadap generasi yang sudah tua.6 Para utusan gereja yang melayani di daerah-daerah

yang masyarakatnya belum mengenal Tuhan, telah menegaskan bahwa musik rock adalah musik para setan. Jenis musik inilah yang

sering kali digunakan ketika setan-setan dipanggil dan disembah. Misalnya, sepasang utusan gereja di Kalimantan melaporkan

reaksi penduduk setempat terhadap musik rock Kristen demikian: “Mengapa Anda memanggil roh-roh halus dengan musik Anda?”7

Pertanyaan mereka muncul karena mereka mengenali stimulan psikis tersebut sama dengan yang mereka gunakan untuk mengontak

kekuatan-kekuatan Iblis. Jeff Godwin mengatakan bahwa di dalam musik rock ada kuasa spiritual, suatu kuasa yang bukan dari

Tuhan.8 Oleh karena itu, tidaklah heran jika musik rock “dikristenisasikan,” maka tidak menutup kemungkinan akan memperluas

pekerjaan Iblis.



Oleh sebab itu tujuan penulisan ini adalah agar gereja-gereja Tuhan dapat melakukan pembedahan

terhadap musik rock Kristen, baik syair, ritme, melodi dan harmoninya dengan pendekatan theologis dan musikal. Hal ini penting

untuk membawa kita kepada pemahaman yang benar mengenai jenis musik ini. Khususnya apakah syair, ritme, melodi dan harmoninya

dapat dikategorikan dan atau dipertanggungjawabk an di dalam perbendaharaan musik gerejawi.



LATAR BELAKANG

MUNCULNYA MUSIK ROCK



Musik rock9 berawal sekitar tahun 1805, dari suatu daerah perbudakan di Afrika. Pada saat itu

bangsa Negro diburu dan ditangkap untuk menjadi budak orang Amerika.10 Waktu itu penduduk asli Afrika masih memiliki agama yang

terkenal dengan nama Voodoo, yang upacara ritualnya menggunakan mantra-mantra. Karena mereka telah menjadi budak orang Amerika,

maka tidak heran kalau mereka sangat membenci orang Kristen yang berkulit putih. Ketika ditangkap, mereka merasa kehilangan

harga kemanusiaannya, sehingga mereka mengekspresikannya dengan nyanyiannyanyian lagu mantra tanpa alat musik. Pada masa

kesusahan dan penderitaan sebagai budak tersebut, mereka mengingat nenek moyang dan dewa-dewa mereka. Singkatnya, setelah

mereka bisa bermain musik, jenis musiknya menjadi Rhythm dan Blues. Kemudian jenis musik ini terpecah menjadi dua, yaitu yang

mengandalkan melodi dikenal sebagai musik jazz, sedangkan yang mengandalkan rhtythm sebagai rock.



Pada abad ke-20,

kemajuan teknologi telah melahirkan berbagai jenis alat musik yang menggunakan pengeras suara dan kemudian disusul dengan

alat-alat musik elektronik. Salah satu jenis musik yang memakai alat-alat elektronik ini adalah musik rock, sebuah jenis musik

yang memiliki beat lebih cepat, keras dan liar. Pada abad inilah musik rock kembali muncul ke permukaan, tepatnya pada tahun

1947 oleh seorang penyanyi amatir yang bernama Will Bill Moore, di mana ia memunculkan istilah “Rock and Roll.”11 Dalam sebuah

lagunya terdapat salah satu syairnya berbunyi demikian “We’re gonna rock and we ‘re gonna roll.”12



Namun lagu

tersebut gagal di pasaran musik Amerika dan dilupakan begitu saja. Akan tetapi, pada tahun 1954, Alan Freed13 mencari nama

terbaik untuk menggambarkan musik barunya yang dipopulerkan oleh Gene Vincent, Chuch Berry dan Elvis Presley.14 Ia meramu jenis

musik Rhythm dan Blues dengan Country dan Western sehingga menghasilkan musik “Rock and Roll.” Oleh karena itu, pada

tahun-tahun itulah istilah “rock and roll” lahir untuk menggantikan istilah dancing blues music. Apabila “rock and roll”

dicampur dengan jenis musik lain akan menghasilkan Progressive Rock, Rock Latin, Heavy Metal, dll.



Sebenarnya Alan

Freed meminjam istilah “rock and roll” yang sebelumnya sudah merupakan istilah umum perkampungan kumuh, yang berarti hubungan

seks pranikah. Karena itu, tidaklah heran jika musik ini banyak mengandung unsur-unsur kenikmatan khususnya yang berhubungan

dengan dorongan seksual. Memang tidak banyak yang mengenal Alan Freed bahkan namanya pun tidak, seperti halnya Wild Bill Moore,

mereka sudah dilupakan. Namun “rock n’ roll” terus hidup, bahkan nama itu jauh melebihi ketenarannya. Sejak itu “generasi rock”

terus berkembang dan merambat ke mana-mana, terutama generasi muda yang hasilnya menciptakan dekadensi moral dari generasi ke

generasi.



Satu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa sasaran musik rock adalah generasi muda. Dengan alasan, pada

masa tersebutlah masa-masa produktif untuk melayani Tuhan. Jiwa generasi muda yang cenderung memberontak biasanya langsung

bersimpati dengan jenis musik ini. Sebenarnya ini merupakan suatu pilihan yang salah, sehingga tidaklah heran mereka menjadi

generasi yang anti kemapanan dan pro-pemberontakan. Musik rock sangat berperan dalam membentuk wawasan hidup, pola nilai dan

pola tingkah laku, karena budaya musik ini lebih memanfaatkan indera-indera dan mengirimkan konsep atau nilai di dalam kemasan

nada, irama, simbol, cerita dan khayalan. Cepat atau lambat musik rock telah mengindoktrinisasi generasi muda ke arah yang

sesat, karena musik rock itu sendiri mempunyai keinginan yang kotor di dalam pekerjaannya.15



SIFAT DAN

PENGARUHNYA



Berbicara mengenai penelitian terhadap musik, banyak orang menyangkal kekuatan atau pengaruhnya bagi

kehidupan setiap orang.16 Statistik pun memperlihatkan bahwa banyak generasi muda yang telah dirangsang oleh rock and roll,

akhirnya hamil karena aktif melakukan hubungan seksual.17 Steve Clapp ketika melakukan penelitian terhadap pengaruh musik rock,

menemukan 59% anak laki-laki yang aktif dalam gereja dan 42% anak wanita yang juga aktif dalam gereja telah memiliki pengalaman

dalam pergaulan seksual pada usia 18 tahun.18 Slash, salah seorang gitaris handal kelompok Gun n’ Roses, mengatakan bahwa musik

rock banyak memiliki kekuatan.19

Di Galatia, Paulus mengkontraskan dua tipe buah, yaitu buah-buah kedagingan dan buah-buah

Roh Kudus (Gal. 5:19-21). Berikut ini beberapa buah-buah kedagingan yang menunjukkan gaya hidup atau filosofi para pemusik

rock:



1. Seks Bebas dan Hedonisme



Salah satu area primer di mana para pemusik rock gagal mengukur

diri kepada standar Alkitab adalah di area seks bebas, percabulan, biseksual, dan homoseksualitas. Elton John, yang dipuji dan

dihargai sepanjang masa pernah berkomentar bahwa tidak ada yang salah jika tidur dengan sesame jenis. Traci Guns dari L.A. Guns

mengatakan, “Sex, drugs, and rock… sure work wonders for me. I admit that I drink…. I ….[bercinta] as many women as I can…. and

I do recommend (it). Hey, it’s all part of rock and roll.”20 Hal senada juga diungkapkan oleh grup band Skid Row: “I am not a

role model for anyone… Hey, I’m young and I’m horny. I’m not gonna tie myself down to one women.”21



2.

Obat-obatan dan Alkohol22



Promosi bintang-bintang rock mengenai diri mereka sendiri sebagai pencinta seksual hanyal

sekadar permulaan. Hal tersebut tidaklah cukup, melainkan membawa mereka kepada arena obat-obatan dan alkohol. Anggota dari

Dangerous Toys, dengan bangga mengklaim dan mengatakan keterlibatan mereka dengan alkohol: “There’s nothing else to do on the

road, really. It’s out of habit and boredom that we get drunk. The first thing you do after a show a drink to help replenish

your energy… Partying gets to be a crucial thing; you start drinking every night.”23



3. Hilangnya Kedamaian,

Kegembiraan, dan Sukacita



Satu hal penting yang menandai kekosongan dalam gaya hidup rock adalah fakta banyak

pemusik-pemusik rock tidak bahagia dalam hidup mereka. Mereka tidak pernah merasa cukup dan selalu ingin lebih. John Mellencap

yang mencintai penampilan dari “bad-boy image” di dalam kebudayaan rock pernah mengungkapkan ketidakpuasannya dengan hidup:

“When you get older… it’s to be happy. I have never had a full good day since I was 21.”24



Art Alexakis dari grup

Everclear mengungkapkan kehidupannya yang haus akan kebahagiaan dan sukacita, “I feel depressed every day. I suffer from

chemical depression…I grew up without a Dad on a housing project doing drugs, and drugs changed my chemical make up. I’ll ger

really bad anxiety attacks, or I’ll get drug flashbacks.”25



FUNGSI MUSIK DALAM IBADAH

Secara umum makna kata

“ibadah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai definisi sebagai berikut: “perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah,

yang didasari oleh ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”26 The International Standard Encyclopedia

mendefinisikan kata “ibadah” sebagai: “kemuliaan dan penghormatan dalam pikiran, perasaan, atau tindakan yang dilakukan oleh

manusia, malaikatmalaikat yang ditujukan semata-mata kepada Allah.”27 Dalam Webster Dictionary edisi kedua “ibadah”

didefinisikan sebagai: “penghargaan kepada ilahi serta pengakuan keberadaan yang tertinggi melalui penyembahan, pengakuan dosa,

pengucapan syukur.”28 Evelyn Underhill mendefinisikan ibadah sebagai: “penyembahan total manusia sebagai respons kepada Allah

yang kekal, yang menyatakan diri-Nya.”29 Kata ibadah itu sendiri dalam bahasa Inggris (worship) berawal dari kata Anglo Saxon,

yang secara literal adalah weorth (eorthy) dan scipe (ship). Pengertiannya merujuk kepada kelayakan seseorang yang menerima

penghargaan dan penghormatan yang khusus. Kemudian kata ini berkembang menjadi “worthship” dan akhirnya menjadi “worship” yang

artinya beribadah kepada Allah karena Ia layak dipuja dan disembah.30



Alkitab menyaksikan bahwa musik cukup mendapat

tempat dan perhatian yang tersendiri dan ini mengandung implikasi bahwa kehadiran musik mempunyai tujuan dan sasaran tertentu

yang perlu dicapai. Allah memberikan perintah dan tuntutan tertentu terhadap pemanfaatan dan peran musik di dalam kehidupan

gereja-Nya. Semua ini bertolak dari pemahaman bahwa musik (dalam ibadah) pada dasarnya merupakan ide Allah yang dikaruniakan

kepada manusia pada umumnya dan umat Allah pada khususnya untuk memperkaya kehidupan mereka. Dalam hal ini, Dr. Brace H.

Leafblad memberikan kesimpulan yang tepat: “Music was God’s idea… a luxurious gift to Human Beings which has enriched our life

since earliest times. In Old Testament, God melded music and worship, a glorious union still stable today….God takes music in

the church seriously….”31



Walaupun inisiatif pengadaan musik itu diperintahkan oleh Allah, namun jika tidak sesuai

dengan maksud Allah maka Allah tak berkenan atasnya. Bila Allah sendiri menyatakan perhatian yang cukup serius terhadap

pemanfaatan musik di dalam kehidupan umat-Nya, maka sudah seharusnyalah kita yang diwarisi peninggalan karya-karya musik yang

kaya dan indah harus memikirkan musik gereja dengan serius pula. Berikut ini beberapa konsep yang benar mengenai fungsi musik

dalam ibadah, yaitu:

Sebagai Sarana untuk Memuji Tuhan

Harold Best, dekan dari The Wheaton Conservatory of Music,

dengan tegas mengatakan bahwa: “Music is also an act of worship.”32 Sedangkan seorang profesor emeritus dalam bidang musik

gerejawi dari Universitas Rochester, M. Alfred Bicheh pernah mengatakan dalam khotbahnya di Concordia Theological Seminary

Indiana , 16 Maret 1978: “Music has both sacramental and sacrificial overtunes.”33 Musik merupakan pemberian karunia yang

dianugerahkan Allah kepada manusia, karena itu manusia harus memakainya untuk memuji Tuhan. Hal ini merupakan prinsip dasar

manusia, seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 11:36: “sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada

Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”



Pengertian seseorang terhadap konsep peranan musik dalam ibadah

akan menentukan sikap orang yang bersangkutan dalam melakukan tindakan ibadahnya. Lovelace dan Rice mengatakan dengan keras

bahwa penyalahgunaan musik dalam ibadah pada dasarnya merupakan tindakan yang sudah menjadikan musik sebagai “pelacur”

(prostitute) dan bukan sebagai “pelayan” (handmaid of religion).34 Mengapa demikian? Karena dengan penyalahgunaan musik dalam

gereja, musik telah “dipaksa” untuk menjalankan peranan yang tidak sesuai dengan makna dan maksud ibadah yang sesungguhnya.

Maka sebagai bagian dari ibadah, musik harus diperankan sesuai dengan makna ibadah, dalam hubungan antara umat Allah dan Allah

sendiri. Alasan dan tujuan pemanfaatan musik dalam relasi tersebut harus bertolak dari Allah dan berporos kepada Allah. Dr.

Leafblad menyimpulkan: “In our ministry to the Lord, our ultimate goal is to glorify Him. The goal of worship is not the

delight of man, but the pleasure of God. Thus the ministry of music in worship must be primarily concerned with pleasing and

glorifying God. In worship, God is the audience.”35



Tujuan akhir ibadah bukanlah kepuasan manusia melainkan kepuasan

Allah. Maka, pelayanan musik gerejawi dalam ibadah pertama-tama harus berusaha memuaskan dan memuliakan Allah. Di dalam Mazmur

100:2b berkata: “Datanglah di hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” Ayat ini menunjukkan bahwa musik Allah memiliki sesuatu yang

disukai-Nya ketika Dia dihampiri.36 Musik bukan sekadar pencair suasana, bukan pula sebagai pembangkit semangat jemaat. Karena

itu tuntutan kualitas musik tidak hanya ditekankan pada aspek “science and art” saja, melainkan juga pada aspek isi atau berita

dari syair-syair nyanyian yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah ada keselarasan antara isi atau berita

dengan realitas sifat dan eksistensi Allah beserta musiknya.



2. Sebagai Sarana untuk Persekutuan

(fellowship)



Relasi pertama, yaitu antara umat dengan Allah, yang diwujudkan dalam ibadah akan dengan sendirinya

membawa mereka masuk dalam relasi kedua, yaitu antara umat dengan sesamanya. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis, di mana

setiap orang sama-sama datang ke hadirat Allah sebagai umat yang telah ditebus, disucikan, diperbarui. Musik memiliki daya

untuk mempersatukan, sehingga dapat berperan sebagai sarana pemersatu jemaat yang berkumpul bersama-sama untuk menyembah Tuhan.

Jemaat yang sudah dipersatukan dalam Kristus dipanggil dan tergerak untuk mengikrarkan pengakuan, penyembahan, pengucapan

syukur bahkan puji-pujian kepada Allah. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik musik. Pengertian tentang peranan musik yang

demikian akan mempunyai akar theologis sebagaimana yang digariskan Alkitab, dan bukan sekadar alasan fungsional belaka. Musik

sakral senantiasa mempersatukan karena pada saat ibadah dilangsungkan gereja telah menjadi satu.37



3. Sebagai

Sarana untuk Pembinaan (nurture)



Peranan musik erat hubungannya dengan menasehati jemaat. Musik sebagai sarana untuk

menyampaikan nasehat, dorongan, peringatan dan penghiburan (encouragement, comfort) kepada saudara seiman agar mereka dapat

dikuatkan untuk bertumbuh dan berani menghadapi segala realitas dan tantangan hidup sebagai orang Kristen yang benar. Ini jelas

berbeda dengan fungsi musik yang hanya sekadar bersifat entertainment atau hiburan, di mana umumnya membawa orang kepada dunia

mimpi yang seolah-olah tidak ada persoalan dan kesulitan hidup yang menyebabkan timbulnya rasa pesimis dan frustasi. Walaupun

musik itu sendiri memiliki aspek nilai Entertainment, namun di tengah-tengah jemaat hal tersebut tidaklah menjadi tujuan yang

paling utama. Dengan berdasarkan pengertian di atas, maka peranan musik gerejawi dapat dimanfaatkan sebagaimana seharusnya

sehingga hal-hal yang bersifat negatif, misalnya memanipulasi emosi yang ditimbulkan sebagai efek sampingan dari jenis musik

atau nyayian tertentu dapat dihindari. Sebaliknya, kehangatan ekspresi persekutuan dengan Allah yang saling membangun akan

tampak dan dapat dirasakan oleh jemaat.



4. Sebagai Sarana untuk Pengajaran (education)



Pada umumnya

peranan musik di sini dimengerti sebagai sarana untuk menanamkan pengajaran-pengajar an yang terdapat dalam Alkitab ke dalam

hati, pikiran dan kehidupan umat-Nya. Kebenaran-kebenaran spiritual tersebut menjadi lebih jelas, ekspresif dan komunikatif

ketika dinyatakan melalui melodi, harmoni dan ritme yang bersangkutan. Dalam hal ini musik merupakan sarana yang amat efektif

daripada pendekatan verbal. Musik sebagai sarana pendidikan sudah lama dikenal dan diterapkan. Di India para guru memakai musik

untuk membina kerohanian atau mental para murid atau pengikutnya.38 Begitu pula Plato dan Aristoteles amat menganjurkan

penggunaan musik sebagai mata pelajaran wajib bagi para murid mereka untuk membentuk karakter.39 Secara pedagogis, musik juga

merupakan metode pengajaran itu sendiri (a sound teaching method).



Penjelasan di atas sebenarnya sudah dikenal

sebelumnya oleh para filsuf di abad ke-3 sM, dan khususnya berkenaan dengan integrasi keunikan peranan musik dengan pendidikan

agama Kristen, Marthin Luther mengatakan bahwa musik adalah metode dan sekaligus kurikulum.40 Oleh karena itu, gereja-gereja

liturgikal mempunyai kepekaan akan pentingnya pengajaran doktrinal di dalam musik gerejawi. Theologi yang tidak membawa manusia

menyembah kepada Allah adalah theologi yang tidak benar dan berbahaya. Agar makna ibadah tidak diselewengkan, maka hubungan

liturgy dan ibadah harus jelas. Liturgi dipakai untuk menjaga keutuhan pengajaran yang benar agar gereja tidak terlena dengan

keindahan yang tidak menumbuhkan iman.



MUSIK ROCK KRISTEN DALAM KONTEKS IBADAH

Harus diakui bahwa musik rock

tidak memberikan suatu kesejajaran tuntutan nilai theologis, bahkan khususnya dalam hal fungsi atau peran musik rock dalam

ibadah-ibadah Kristen. Musik rock dalam ibadah-ibadah Kristen hanya diwarnai nilai-nilai sekuler daripada prinsip-prinsip

theologis. Musik rock yang dilangsungkan dalam persekutuan sering kali lebih ditujukan pada pemuasan selera (musik) jemaat

daripada menemukan dan memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Berikut ini akan dipaparkan tujuan pemanfaatan musik rock dalam

ibadah:



Pertama, tujuan akhir dari pemanfaatan musik rock dalam ibadah adalah semata-mata hanya kepuasan dari

sekelompok orang yang menggemari gaya musik tertentu. Musik ini digunakan untuk menghangatkan, memberikan kenyamanan dan

keduniawian kemudian mengisinya dengan Injil.41 Kualitas komposisi dan keketatan theologis dari pada lagu sering kali

dikorbankan karena selera sebagian jemaat terhadap musik yang bersangkutan. Walaupun ada “tujuan baik” tertentu untuk menarik

anak-anak muda yang kemudian diharapkan dapat “dimenangkan” bagi Yesus, tetapi realitasnya selera musik dari sekelompok orang

dapat menjadi sarana memanipulasi ibadah. Mereka tertarik bukan pada Yesus, tetapi karena musik rock dan besar kemungkinan

gereja bukan lagi melayani Allah dalam ibadah melainkan sekelompok orang dengan penyajian musik yang mereka gemari. Para

pecinta musik rock Kristen merasa aman karena mereka mengetahui bahwa tidak ada ayat Alkitab yang berkata “janganlah kamu

mendengarkan musik rock Kristen.”42 Stephen Streiker mengatakan bahwa “musik kami bersumberkan kekerasan.”43 Jelas kalimat

tersebut tidak dapat dikompromikan dengan kebenaran Alkitab. Misalnya 1 Korintus 14:33 mengatakan “Sebab Allah tidak

menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” Musik rock yang penuh dengan kekerasan akan mengacaukan ibadah. Mengapa? Karena

tujuan akhir dari ibadah adalah memuliakan Allah dan bukan mempermalukan Allah.



Kedua, musik rock diperlukan sebagai

salah satu bentuk hiburan yang sakral (albeit sacred). Dengan musik rock yang disukai oleh banyak orang, maka gereja bermaksud

“menolong” jemaat yang hidupnya penuh dengan tekanan hidup. Hal ini dilakukan dengan latar belakang konsep “sikap hidup yang

melarikan diri dari realitas hidup” sebagai jalan keluar. Konsep ini sama sekali tidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan

ajaran Alkitab. Alkitab mengajarkan orang Kristen untuk hidup dengan gagah dan perkasa dalam menantang atau menghadapi

persoalan hidup bersama Tuhan (1Kor. 10:13; Flp. 4:13).



Untuk menolong jemaat tidak perlu membuai mereka agar

melupakan fakta-fakta kehidupan, melainkan dengan membekali mereka dengan kebenaran firman Tuhan. Musik rock memang memiliki

sifat dan ciri entertainment dalam dirinya. Tetapi peran utamanya dalam ibadah bukan sebagai sarana menghibur jemaat, melainkan

sarana untuk menolong jemaat melihat dan mengerti realitas hidupnya sebagai orang percaya serta dikuatkan untuk menghadapinya.

Menurut Harold Best, ibadah harus merupakan aksi persembahan yang bersifat kreatif, sekaligus menyebut musik sebagai “korban

persembahan kreativitas.”44



Ketiga, musik rock sebagai bagian dari pada seni harus diperjuangkan sebagai suatu

bidang / bagian dari seni. Nilai eksistansinya sebagai musik dijadikan pusat dan tujuan akhir dari segala program yang dibuat

dan dilaksanakan. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah musik rock merupakan suatu seni yang patut diperjuangkan,

mengingat adanya efek-efek negatif secara psikologis yang dimunculkan dalam ibadah. Misalnya, menjerit-jerit, tertawa,

menyobek-nyobek pakaian, dianggap sebagai pengalaman yang menyenangkan dan menggembirakan. Hal ini bukan saja terjadi pada

penggemar musik rock sekuler, tetapi hal serupa pun terjadi di lingkungan penggemar musik rock Kristen.45 Cara-cara ini tidak

dapat dipertanggungjawabk an karena semua ibadah akan berakhir dengan keributan yang juga dapat menimbulkan kebingungan jika

seseorang tertarik memperoleh hidup baru melalui cara-cara yang merupakan bagian dari hidup lama. Konsep seperti ini kurang

mendapat dukungan theologis yang kuat.



MUSIK ROCK KRISTEN DENGAN KEKETATAN THEOLOGIS



Penulis free-lance

dari Canada , E. Margaret Clarkson, dalam suatu essaynya The Christian Imagination: Essay on Literature and the Arts,

mengatakan: “Hymns are expressions of worship, they are man’s glad and grateful acknowledgment of the worth-ship of Almighty

God…Hymns are a celebration of that God is and what He has done….”46



Bertolak dari pengertian di atas, maka syair

suatu puji-pujian memegang peranan penting dalam memberitakan kebesaran-Nya. Syair itulah yang menentukan nilai dan mutu

puji-pujian yang bersangkutan. Karena itu, keketatan teologinya bertugas mengekspresikan syair tersebut dengan jelas dan

Alkitabiah. Saat ini banyak model-model syair yang bermunculan yang dikenal dengan nama “nyanyian rohani” dengan memiliki

kedangkalan nilai-nilai theologis. Dapat dikatakan syair tersebut lebih bersifat spontan yang diangkat dari “pengalaman” hidup

orang Kristen dan dipopulerkan oleh artis Kristen “papan atas.” Bentuk ini lebih dikenal dengan sebutan gospel songs dan

umumnya dipakai dalam kelompok-kelompok band/vocal grup yang akhir-akhir ini menjamur di gereja-gereja, bahkan persekutuan-

persekutuan besar.



Dua lagu di bawah ini adalah lagu yang dibawakan oleh sebuah kelompok band yang bernama Petra,

salah satu kelompok musik rock Kristen yang sangat populer mulai tahun 1984, di mana dua lagunya Witch Hunt dan God Gave Rock

And Roll To You menimbulkan banyak pertanyaan yang serius untuk diperhatikan.



Witch Hunt

Another witch hunt

looking for evil

where we can find it

Off on a target, Hope the Lord won’t

Mind it

Another witch hunt,

Takin’ a break from

All our gospel labor

On a crusade but we forgot our saber…

So send out the dogs and tally

ho….

And we won’t stop until somebody

Gets burned.…



Lirik lagu Bob Hartman’s menyarankan bahwa orang-orang

Kristen harus membutakan mata mereka terhadap kejahatan di sekeliling mereka dan mewaspadainya. Ini adalah metode yang dipakai

oleh para pengikut sesat setan untuk menutupi perbuatan jahat mereka. Bagi suatu kelompok yang memulai setiap lagu dengan

memakai satu ayat dalam Alkitab dari lagu mereka, ini adalah satu sikap yang sangat aneh dan asing. “Tuhan akan memberikan rock

and roll kepadamu, letakkan itu dalam jiwamu,” merupakan syair yang tidak memiliki kebenaran kristiani. Yesus tidak pernah

memberikan seseorang yang datang kepada-Nya rock and roll, melainkan Yesus memberi keselamatan, pengampunan, menguduskan,

membenarkan dan menguatkan mereka yang percaya di dalam nama-Nya. Dengan kata lain, syair di atas bukan merupakan berita Injil,

berita yang mereka sampaikan telah dimanipulasi sedemikian rupa demi kesenangan anak-anak muda tanpa peduli dengan pengajaran

theologi yang benar.



Yang menjadi penekanan dari lagu tersebut adalah rock and roll dan bukan Kristus. Padahal di

dalam Alkitab Kristuslah yang menjadi pusat pemberitaan. Yohanes 1:1, dalam kalimatnya “Pada mulanya adalah Firman,”

mengindikasikan bahwa sejauh ke belakang mana pun Firman itu terus menerus ada.47 Keil dan Delitzsch mengatakan bahwa Mesias

adalah “pembawa damai.”48 Kristus harus terus menerus menjadi jantung dalam syair-syair lagu yang dinyanyikan, Kristus pembawa

damai bukannya pembawa rock and roll.



Lagu lain dari Beat The System adalah lebih cacat bagi para fans musik rock

Kristen yang tidak dapat dibedakan dengan jelas. Berikut ini kutipan liriknya:



God Gave Rock And Roll To

You

You can learn to sing

You can play guitar

You can learn to rock

You can be a star

But where wick

you be then the music’s gone

God gave Rock and Roll to you

Gave Rock and Roll to you

Put in the soul of

everyone…



Ada beberapa hal yang berbahaya dan cacat dari lagu ini. Pertama, lagu ini tidak ditulis oleh Petra . Lagu

ini direkam pada tahun 1973 oleh suatu kelompok musik yang disebut Argent, yaitu satu kelompok musik sekuler. Petra menggunakan

suatu musik yang bukan Kristen untuk mendorong suatu pandangan yang dianggapnya rohani bahwa Tuhan telah memberikan rock and

roll kepada semua jiwa kita. Kedua, Petra mengganti kata-katanya untuk membuat lagu ini mengatakan bahwa apa yang mereka

percayai adalah benar, bahwa Tuhan telah meletakkan lumpur milik setan di dalam jiwa kita. Jelas lagu tersebut tidak

Alkitabiah. Kristus tidak memberikan setan di dalam jiwa kita, melainkan Kristus memberikan jaminan keselamatan kepada kita.

Kristus sebagai pengantara memulihkan persekutuan kita pada persekutuan itu terputus karena dosa. Kristus disebut sebagai

“Pembela” orang percaya (parakletos) artinya “pengacara pembela” (1Yoh. 2:1). Dalam literatur rabinik kata itu dapat

mengindikasikan seseorang yang menawarkan pertolongan hukum.49



Kristus memberikan Roh Kudus di dalam hidup kita

bukan rock and roll bahkan tidak memberikan setan di dalam jiwa kita. Melalui Roh Kudus kita akan diajar, dibimbing dan

dilahirbarukan supaya kita bisa bersaksi. Rock and roll tidak dapat memberikan kuasa kepada kita supaya bersaksi, setan pun

tidak memiliki kuasa apa-apa untuk melahirbarukan hidup kita. Roh Kudus menyakinkan seseorang akan sesuatu atau menunjukkan

sesuatu pada seseorang.50 Keyakinan tentang apa? Jelas keyakinan tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman. Lagu-lagu yang

dibawakan oleh band Kristen tersebut sangat dangkal dan tidak memiliki keketatan secara theologis. Bisa dikatakan sesat dan

menyesatkan.



Salah satu band musik rock Kristen lainnya, DeGarmo & Key, memproduksi pertama kali lagunya yang

ditayangkan di MTV yang berjudul Six, Six, Six dan semuanya itu mengenai anti-Kristus. Berikut ini contoh

syairnya:



Six, Six, Six



…I said Jesus won’t you save me



From this evil man of sin



I

have read about his future



I don’t want to go with him



And when I looked up he had gone



But he

had left a note that said



‘My number is, my number is….



Six, six, six….



Flight

666.…departing-WELCOME







Pesan dalam lagu ini sungguh membingungkan. Band-band Kristen menyarankan bahwa

Yesus pun tidak dapat menolong orang-orang dari anti-Kristus. Syair ini seolah-olah mau menunjukkan bahwa sungguh kasihan orang

ini mengemis kepada Yesus untuk menyelamatkannya tetapi mengahirinya dengan penerbangan 666 yang langsung menuju neraka. Syair

lagu ini jelas tidak memberitahukan kepada anak-anak bahwa Yesus memiliki kuasa untuk memberi hidup atau bagaimana untuk

menerima kuasa itu. Hal penting lainnya, yaitu mengenai pertobatan sebenarnya bukanlah merupakan sesuatu yang terpenting dalam

pelayanan mereka, sebab terlihat di dalam syair lagunya sama sekali tidak mengajak generasi-generasi muda untuk mengambil satu

keputusan untuk meninggalkan dosa dan mengikuti Yesus seumur hidup mereka. Yohanes 5:24 berbunyi: “Aku berkata kepadamu:

Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan

tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Syair yang tidak membangun kerohanian bukanlah

kehendak Allah, bahkan bukan misi Kristen.



Berdasarkan konsep ibadah yang benar dan berdasarkan doktrin yang benar,

serta berdasarkan kekayaan isi beritanya maka musik rock Kristen tidak akurat di dalam pemberitaan Injil. Dari hasil survei

terhadap lagu-lagunya, maka konsep mengenai ibadah tidak ada sama sekali. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibadah bukanlah

merupakan suatu pertemuan antara Allah dengan umat-Nya. Pertemuan tersebut tidak ditekankan pada umat untuk menyembah-Nya. Oleh

sebab itu pertemuan tersebut tidaklah kudus, tidak mulia dan tidak mendatangkan sukacita surgawi, serta tidak signifikan untuk

pembentukan karakter generasi muda. Musik rock Kristen tidak menempatkan sikap penyembahan yang benar dalam musik mereka,

padahal konsep ibadah yang Alkitabiah adalah merupakan tanda ketaatan secara mutlak kepada Tuhan dalam kehidupan. Ibadah dalam

musik rock Kristen memberi kesan bahwa praktek penyembahan tidaklah penting, serta terabaikannya kehidupan yang kudus.

Sebaliknya ibadah dalam Alkitab menunjukkan praktik penyembahan dan praktik kehidupan tidak dapat diabaikan satu dengan yang

lain. Syair musik rock Kristen juga tidak menekankan akan kehadiran Tuhan di dalam penyembahan, sedangkan Alkitab sangat

menekankan bahwa kehadiran Tuhan itu terjadi pada saat dalam kehidupan, misalnya dalam 1 Korintus 3:16.



Berdasarkan

acuan doktrinal, apakah syair musik rock Kristen mengajarkan doktrin yang benar? Jelas Tuhan yang dilukiskan dalam lagu-lagunya

adalah Tuhan yang tidak perkasa dan Tuhan yang tidak penuh kasih. Tuhan tidak diperkenalkan sebagai Allah yang memimpin,

membimbing, menuntun, memelihara dan mencukupi kebutuhan umat-Nya, serta memiliki rencana yang harus ditaati dalam kehidupan

umat-Nya. Boleh dikatakan bahwa hampir seluruh karya dalam penelitian ini tidak menekankan akan Kristus adalah Tuhan dan Allah

yang perkasa, Raja di atas segala raja. Selain itu tidak ditanamkan suatu paham theologi mengenai Kristus adalah Anak Domba

Allah yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan jiwa umat-Nya. Dari perbandingan tersebut tampak bahwa musik rock Kristen

tidak memiliki syair yang ajarannya meninggikan Allah. Kristus seolah-olah diragukan sebagai Tuhan yang telah menjadi manusia,

mati disalibkan untuk menyelamatkan umat manusia yang percaya pada-Nya. Istilah-istilah yang menunjukkan keperkasaan Kristus

tidak dapat ditemukan dalam lagu-lagu tersebut.



Kemudian berdasarkan kekayaan isi berita dari syair musik rock

Kristen terlihat lebih terkonsentrasi pada sisi kepuasan pendengar sehingga tidak membicarakan mengenai pelayanan, penginjilan

dan pergumulan iman dalam menghadapi masalah kekinian. Apabila ada pergumulan, itu pun dipaparkan secara dangkal. Pada umumnya,

jalan keluar dalam menghadapi semua masalah terletak pada Allah maka solusi dalam menghadapi masalah tersebut adalah datang

kepada-Nya. Oleh sebab itu, berita atau ajaran musik rock Kristen dapat dikatakan sangat miskin untuk memberi masukan yang

berarti bagi pembentukan wawasan Kristiani dalam menghadapi tantangan dunia ini.



PENUTUP



Dari penjelasan

di atas, maka tidak dapat dijadikan sebagai patokan atau pegangan yang tepat bagi penggarisan peranan musik rock dalam ibadah.

Mengapa demikian? Karena di dalam ketiga konsep tersebut terlihat suatu sikap yang menjadikan manusia sebagai obyek utama dan

tujuan akhir dalam pelayanan ibadah. Hal ini berarti Allah ditempatkan di luar lingkungan ibadah. Pada dasarnya Allahlah yang

harus menjadi satu-satunya Tuhan, Raja yang dilayani, dipuji dan disembah, menerima persembahan umat-Nya, baik secara konkrit

(materi) maupun abstrak (puji-pujian, nyanyian syukur, dsb.). Musik yang memiliki latar belakang komersial dan emosional dapat

menimbulkan efek-efek negatif atau kesalahan-kesalahan theologis.51



Menurut Larry Sibley, musik yang memiliki latar

belakang komersial dan emosional (button song) yang hanya digunakan membangkitkan emosional, yang kurang komposisinya

(cheap-music) tidak atau belum tentu tepat untuk digunakan dalam persekutuan umat Allah.52 Perkembangan musik gerejawi sangat

memprihatinkan karena pemanfaatannya dalam gereja yang lebih menitikberatkan komersial sehingga mengorbankan isi berita

Kristiani.53 Pelayanan musik rock dalam ibadah lebih mendekati pola-pola dunia sehingga terkadang sulit dibedakan antara musik

religius masa kini dengan musik populer sekuler lainnya. Garis pemisah antara “melayani/pelayanan” dan “menghibur/hiburan”

(ministry and entertainment) tidak jelas dan kabur. Di sisi lainnya ada efek-efek negatif lainnya yang diakibatkan dari musik

rock terhadap fisik, yaitu dapat menimbulkan perubahanperubahan dalam denyut jantung, pernapasan, tekanan darah dan respon

syaraf.54 Kemudian musik itu pun dapat menggugah nafsu, merangsang gerakan aktif, melepaskan ketegangan, menutup rasa sakit dan

stress.55



Erik Routley mengatakan bahwa melodi-melodi dalam suatu puji-pujian memiliki daya untuk menimbulkan

imaginasi dan ide dalam pikiran, maka perlu diyakinkan bahwa melodi yang bersangkutan tidak menimbulkan imaginasi/ide yang pada

dasarnya melemahkan / mencemarkan gambaran tentang Anak Allah yang berinkarnasi sebagaimana yang diwahyukan dalam Alkitab.56

Musik rock Kristen tidak memiliki melodi sama sekali. Melodi merupakan “batu penjuru” dan “titik penuntun” bagi kualitas

keindahan suatu musik.57 Dalam hal ini kreativitas dan imaginasi komponis amat menentukan nilai dan keindahan. Rumusan atau

motif melodi yang benar akan berkombinasi untuk menciptakan frase-frase dan tema-tema, setiap melodi secara individu mempunyai

garis masing-masing dari turun atau naiknya nada. Gerakan yang statis dan kekurangan kesimbangan akan menciptakan sebuah efek

hipnotis atau keputusasaan di dalam diri pendengarnya. Berdasarkan panduan ini maka melodi-melodi musik rock Kristen pada

dasarnya menimbulkan ide yang melemahkan atau mencemarkan gambaran tentang Yesus Kristus yang telah datang ke dalam

dunia.



Karena itu kehadiran musik dalam gereja harus terwujud dengan baik dan bermanfaat, sehingga musik dapat

terefleksikan dengan tepat, indah, dan kaya dalam gereja. Musik gerejawi perlu mengandung konsep ibadah yang berpolakan

theocentris bukan pengalaman egocentris demi subjective spirituality. Gereja tidak boleh acuh terhadap sisi doktrinal/theologi

yang disajikan dalam syair. Motivasi dan tujuan pemakaian musik seharusnya bermula pada Allah dan berakhir pula pada diri

Allah. Musik gereja harus memberitakan Injil keselamatan pada dunia. Oleh sebab itu musik yang dipergunakan di dalam gereja

harus mengandung atau menyampaikan berita, pengajaran, theologi yang benar dan utuh sesuai dengan wahyu

Alkitab.



Gagasan di sekitar status dan fungsi musik gereja akan tetap tinggal sebagai suatu gagasan yang ideal,

sulit terwujud jika tanpa kesadaran dan partisipasi setiap pihak di dalam tubuh Kristus; baik itu pemimpin gereja, para pemusik

Kristen maupun lembaga atau pendidikan Kristen lainnya. Dengan demikian ibadah-ibadah gerejawi bersifat konstruktif dan tidak

sekadar menghiasi suasana dalam beribadah.



Catatan Kaki:



1. Rhoda Thomas Tripp, The International

Thesaurus of Quotations (New York: Thomas Y. Crowell, 1970), 419.



2. Jerry W. McCant, “Music and Christian

Education,” dalam Journal of Christian Education, Vol. 1, No. 2 (1981), 65.



3. Kenneth W. Osbeck, The

Ministry of Music (Grand Rapids, Michigan: Kregel Publications, 1985), 24-25.



4. Tony Hington, A Christian

Approach to Rock Music (Hawkwell, Hockley , England : Hawkwell Paris Church, ltd), 4.



5. M. Basilea Schlink,

Musik Rock Dari Mana & Mau Kemana? (Malang: Gandum Mas, 1995), 5.



6. Arnold Shaw, Dictionary of American

Pop/Rock (New York: Macmillan, 1982), 287.



7. Schlink, Musik Rock Dari Mana & Mau Kemana?, 25.



8.

Jeff Godwin, Dancing With Demons the Music’s Real Master (Chino: Chick Publications, 1988), 8.



9.

Kata “rock” itu sendiri berarti batu karang, atau gerak ayun, yang di dalam penampilannya mereka lebih mengutamakan “rhythm”

(tempo dalam irama) dan “noise” (gaduh, riuh) dari pada sound. Dennie Olden Frans, Musik Rock (Batu: YPPII, 1993), 1. Kemudian

definisi yang lebih jelas datang dari seorang mantan rocker yaitu Mike Johnson, yang mendefinisikan rock sebagai “karang” yang

juga bisa berarti menggoyahkan, menggocangkan atau membuai orang yang mendengarnya, khususnya generasi muda. Erick, Musik Dari

Surga Atau Dari Neraka: Bahana 03/III/11. David Bowie, seorang bintang rock pun mengatakan bahwa musik rock dapat menguasai dan

menghancurkan kehidupan. Tony Hington,



10. Donald P. Ellsworth, Christian Music in Contemporary Witness (Grand

Rapids: Baker Book House, 1979), 91.



11. Steve Peters & Mark Littleton, Truth About Rock (Minneapolis: Bethany

House Publisher, 1998), 13.



12. Ibid., 13.



13. Alan Freed adalah seorang Disk Jockey di

Cleveland dan seorang penyiar radio. Pekerjaannya memainkan lagu-lagu yang mengandung seks, yang kemudian setelah berhasil

meramu musik dengan ritme yang lebih cepat, panas dan liar, ia juga mempromosikan penyanyi-penyanyi baru. Music From Hell:

Getfresh! 10/I/vol.1 (Juni 2001), 13.



14. Jacob Aranza, Backward Masking Unmasked (Shreveport: Huntington

House, 1983), 21.



15. J. Brent Brill, Rock and Roll ( New Jersey : Fleming H. Reveel Company, 1984),

18.



16. John Ankerberg & John Weldon, The Facts on Rock Music (Oregen: Harvest House Publishers, 1992),

4.



17. Brill, Rock and Roll, 18.



18. Steve Clapp, Teenage Sexuallity: A Crisis and an

Opportunity for the Chruch (Sidell: C-4 Publications, 1981), 4.



19. Ankerberg, The Facts on Rock Music,

6.



20. Peters, Truth About Rock, 39.



21. Ibid., 40.



22. Schlink. Musik Rock

Dari Mana Dan Mau Kemana? 13-14. Tidak sedikit dari pemusik rock yang meninggal akibat pemakaian obat-obatan dan alkohol yang

berlebihan. Schlink mendaftarkan beberapa diantaranya. Seperti: penyanyi andalan dari Sublime, Brad Nowell, mati karena

overdosis heroin di San Fransisco Hotel pada usia dua puluh delapan tahun. Brian Jones dari kelompok The Rolling Stones

tenggelam dalam kolam renangnya karena terlalu banyak minum alkohol. Jimi Hendrix tersumbat jalan napasnya sampai mati oleh

muntahannya sendiri karena terlalu banyak menggunakan heroin. Ron McKernan dari kelompok The Grateful Dead mati perlahan-lahan

sebagai akibat alkoholisme. Marc Bolan, gitaris dan penulis lagu kelompok T-Rex, yang mengaitkan keberhasilan dengan ilmu

hitam, mati dalam suatu kecelakaan mobil yang misterius. Keit Moon dari kelompok The Who melakukan bunuh diri. Elvis Presley

mati sebagai akibat penyalahgunaan obat. Sid Vicioud dari kelompok The Sex Pistols terlalu banyak menggunakan heroin setelah

menikam teman gadisnya sampai mati. John Bonham dari kelompok Led Zeppelin tersumbat jalan napasnya sampai mati oleh

muntahannya sendiri setelah minum 40 gelas vodka. Pete Farndon dari kelompok The Pretenders di temukan mati di bak mandi dengan

jarum suntik heroin masih tertusuk pada lengannya. Yogi Horton, seorang penabuh drum yang terkenal, melompat dari lantai tujuh

belas sebuah hotel di New York . Roy Buchanan, salah seorang gitaris musik rock dan blues terbaik, menggantungkan diri dalam

keadaan tidak sadar karena mabuk sewaktu ia ditahan dalam sel.



23. Peters, Truth About Rock, 41.



24.

Ibid., 42.



25. Ibid.



26. Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed.1988), “ibadah,”

318.



27. The International Standard Encyclopedia Vol. 5, “worship” 3112.



28. Jean L. McKechnie,

Webster’s Dictionary (USA: The World Publishing Co, 1975), 2109.



29. Warren W. Wiersbe, Real Worship (New

Jersey, Nashville: Oliver Nelson, 1986), 21.



30. Walter Elwell, Evangelical Dictionary of Theology (Grand

Rapids, Michigan: Baker Book House, 1985) 1192.



31. Brace H. Leafblad, “What Sound Church Music?,” dalam

Christianity Today, 19 May 1978, 19-20.



32. Harold Best, “Music: Offerings of Creativity,” dalam Christianity

Today, 6 May 1977, 15.



33. Ibid., 15.



34. Austin C. Lovelace & William C. Rice, Worship and

Music in the Church (Nashville: Abingdon, 1976), 20-21.



35. Leafblad, What Sound Church Music?,

19.



36. Lamar Boschman, Musik Bangkit Kembali ( Jakarta : Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, 2001),

19.



37. Best, Music: Offering of Creativity, 15.



38. Charles R. Hoffer, The Understanding of

Music (California: Wadsworth Publishing Co.,1971), 2.



39. William Lyod Hooper, Church Music in Transition

(Tennessee: Broadman Press, 1963), vi.



40. John F. Wilson, An Introduction to Church Music (Chicago: Moody

Press, 1974), 39.



41. Ellsworth, Christian Music in Contemporary Witness, 161.



42. Jeff Godwin,

What’s Wrong With Christian Rock (Chino: Chick Publications, 1990), 249.



43. Godwin, Dancing With Demons the

Music’s Real Matter, 260.



44. Best, “Music: Offerings of Creativity,” 12-13.



45. Schlink, Musik

Rock Dari Mana & Mau Kemana? 28.



46. E. Margaret Clarkson, “What Makes a Hymn ‘good’?,” dalam Christianity

Today, 27 Juni 1980, 22.



47. Leon Morris, The Gospel According to John (Grand Rapids: Zondervan, 1962),

73.



48. C. F. Keil & Delitzsch, Biblical Commentary on the Old Testament, 25 vol (Grand Rapids: Eerdmans,

1968), 1:393.



49. Fritz Rienecker, Linguistic Key to the Greek New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1980),

664.



50. William F. Arndt & F. Wikbur Gingrich, A Greek-Engkish Lexicon of the New Testament and Other Early

Christian Literature, direvisi oleh F. Wilbur Gingrich & Frederick W. Danker (Chicago: University of Chicago, 1979),

146.



51. Richard D. Mountford, “Does Music Make Them Do It?,” dalam Christianity Today, 4 May 1979,

21-22.



52. Larry Sibley, “Singging Upward,” dalam Moody Monthly, April 1976, 114.



53. Richard

D. Dinwiddie, “Monney Changers in the Church: Making the Sounds of Music,” Christianity Today, 26 June 1981,

16-18.



54. Richard D. Dinwiddie, “Did I Really Sing That?” dalam Christianity Today, 27 June 1980,

24.



55. Don Campbell, Efek Mozart ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2001) 97.



56. Erik

Routley, Church Music and Christian Faith (London: Collins Liturgical Publications, 1978), 80.



57. The Harvard

Dictionary of Music, 2nd. ed.,Willi Apel, (Massachusset, 1970), 518.

















Sumber:



Jurnal Amanat Agung (STT Amanat Agung)



(www.sttaa.org)

dilihat : 429 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution