Kamis, 13 Desember 2018 02:19:23 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 318
Total pengunjung : 449733
Hits hari ini : 1842
Total hits : 4146039
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kekerasan Verbal dan Ekonomi dalam Keluarga






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 24 Agustus 2009 00:00:00
Kekerasan Verbal dan Ekonomi dalam Keluarga
Kekerasan

dalam rumah tangga tidak selalu berupa tindakan pemukulan fisik saja dari pasangan, bisa juga berupa kekerasan ekonomi atau

kekerasan verbal. Dampaknya sama buruknya dan menimbulkan penderitaan bagi pihak lain. Contoh kondisi tersebut dialami Ny U,

seperti dituturkan dalam suratnya berikut ini.



Saya ibu rumah tangga (41), sudah 11 tahun menikah. Suami saya selalu

merahasiakan penghasilannya. Dia juga membeli/mengumpulkan harta benda atas namanya sendiri. Kalau ditanya, jawabnya, ”Buat apa

istri tahu penghasilan suami?”



Beberapa tahun lalu dia di-PHK dan dapat pesangon yang saya tidak tahu jumlahnya

berapa. Atas saran kakaknya, dia mengimpor barang dari luar negeri (dia tidak mengindahkan saran saya untuk melihat pameran X

saja di Jakarta, tidak perlu pergi sendiri ke sana). Setelah tiga kali ke sana menghabiskan ongkos dan modal besar, akhirnya

barang yang dibeli tidak laku dijual.



Dia lalu beralih ke usaha lain. Saya bantu setengah mati sampai akhirnya

mendapat order besar, tetapi saya tidak mendapat apa- apa, hanya uang belanja bulanan yang sudah jadi hak saya.



Dia

belanjakan uangnya untuk membeli peralatan olahraga yang mahal dan laptop baru yang canggih, padahal yang lama hanya rusak

sedikit. Dia juga suka barang bermerek, tetapi bila saya minta uang untuk beli buku dan seragam sekolah anak saja susahnya

setengah mati. Harus berantem dulu. Akhirnya saya terpaksa ambil tabungan.



Dia juga membandingkan saya dengan istri

orang lain yang buka usaha dan bekerja. Saya jengkel sekali. Tiap hari saya mengurus anak, mengantarkan anak-anak ke sekolah

dan les yang jauh jaraknya dari rumah dan pulangnya berlainan, saya juga memasak dan mengurus rumah tanpa pembantu. Kalau saya

sedang sakit dan minta tolong dia yang mengantarkan sekolah, dia sering marah-marah sendiri, memaki saya dengan kata

kotor.



Dia juga selalu mau jalan di depan, saya ditinggal di belakang dengan anak-anak. Pendapat saya selalu tidak

didengar, tetapi pendapat saudaranya diterima seperti kerbau dicocok hidung. Saya harus bagaimana? Apa saya harus kerja dan

punya karier sendiri pada usia segini supaya dihargai? Sejak kecil saya selalu mengurus anak-anak sendiri, tanpa babysitter,

apalagi pembantu. Saya sangat menyayangi mereka dan tidak tega mereka diurus orang lain.



Sangat memprihatinkan

pengalaman Ny U dalam menjalani kehidupan berkeluarga dengan karakteristik suami seperti di atas. Suami sangat merendahkan,

ingin menampilkan kekuasaannya, dan membatasi akses keuangan bagi istri dan anak-anak. Semoga para calon istri lain mencermati

terlebih dahulu seperti apa sifat dan sikap pasangannya sebelum memutuskan menikah. Bagi Ny U, saya mencoba memikirkan hal-hal

yang dapat Ibu lakukan.



Menganalisis dan menerima



Melalui keterangan yang diperoleh dari kakak atau

anggota keluarganya, Ibu bisa belajar memahami apakah ada ”luka batin” dari masa kecil suami maupun dari hasil pengasuhan

orangtuanya yang menimbulkan rasa marah, rasa tak aman, sikap egois yang terus terbawa hingga kini. Tampilannya adalah dalam

bentuk sikap otoriter, ”haus” kekuasaan pada istri dan anak, hanya ingin memenuhi kebutuhan pribadi, senang

memaki.



Hasil penanaman nilai hubungan jender juga acapkali membuat pria sangat terpengaruh untuk bersikap

menomorduakan dan merendahkan pasangannya. Apalagi Ibu dipandang tidak menghasilkan nafkah secara materi. Ia lupa, kerja rumah

tidak kalah beratnya, apalagi merawat dan mengasuh anak



Usahakan tidak terlalu memasukkan hinaan atau makiannya ke

dalam hati agar ibu bisa lebih bertahan secara emosional. Tetaplah mendidik anak secara rasional, tetapi lembut. Dengan

memahami latar belakang suami, Ibu diharapkan lebih mudah untuk menerima perlakuan dia, mencoba memaafkan dan bertahan hidup

bersama dia.



Meminta dukungan



Kelihatannya kakak dan saudara suami didengarkan dan dipatuhi ucapannya.

Meski Ibu sering tak sependapat dengan mereka, Ibu dapat mendekati dan membina hubungan baik, kemudian mintalah bantuan dan

dukungan dari mereka untuk menyampaikan berbagai keinginan yang wajar dari Ibu dan anak-anak.



Memberdayakan

diri



Dari surat Ibu, tampaknya Ibu punya bakat dan kelebihan untuk berstrategi dalam bisnis. Mengapa tidak Ibu coba

untuk mengembangkannya? Mulailah dari yang kecil dulu sambil terus mengelola rumah dan anak.



Tak ada kata terlambat

untuk memulai karier atau terlalu tua untuk mencari nafkah. Justru dengan punya penghasilan sendiri, ibu akan lebih pe-de,

tidak merasa terlalu tergantung secara ekonomi kepada suami, berani mengambil langkah selanjutnya, misalnya menggaji sopir

dengan penghasilan Ibu. Juga bisa bertindak lebih asertif kepada suami.



Semoga Ny U bisa bertahan dan berjuang

terus.



AGUSTINE DWIPUTRI

psikolog(MW)



sumber:

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/08/24/10310690/Kekerasan.Verbal.dan.Ekonomi.dala

m.Keluarga

dilihat : 312 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution