Selasa, 17 Juli 2018 14:47:30 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 406229
Hits hari ini : 938
Total hits : 3703113
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Penggunaan Bahasa Indonesia Mengalami Degradasi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 21 Agustus 2009 00:00:00
Penggunaan Bahasa Indonesia Mengalami Degradasi
JAKARTA, KOMPAS.com -

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dari tahun ke tahun mengalami degradasi. Degradasi penggunaan bahasa Indonesia

tidak hanya dilihat dari rendahnya siswa dan guru dalam melakukan interaksi proses pembelajaran di kelas, melainkan juga

rendahnya hasil ujian nasional (UN) bahasa Indonesia bagi siswa dan uji kemahiran bahasa Indonesia (UKBI) bagi

guru.



Kenyataan yang ironik itu diungkapkan Rektor Universitas Muhammadyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Suyatno, ketika

menyampaikan orasi ilmiah saat ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa, Kamis (20/8) di kampus Uhamka,

Jakarta. Selain Suyatno, dua dosen lain yang dikukuhkan sebagai guru besar adalah Abdul Mad jid Latief bidang Ilmu Administrasi

Pendidikan dan Sylviana Murni bidang manajemen pendidikan.



Dalam orasi berjudul Bahasa Indonesia sebagai Sarana

Pengembangan Guru Profesional , Suyatno menampilkan data terkini. Data laporan hasil ujian nasional SMP negeri dan swasta tahun

2008/2009 secara nasional , dari 3.441.815 orang peserta UN, peserta yang rentang nilainya 7,00 sampai 7,99 hanya 32,86 persen

atau 1.131.121 peserta. Yang memperoleh nilai 10 hanya 0,02 persen (834 orang).



Sedangkan di tingkat SMA/MA hasil UN

tahun 2008/2008, yang rentang nilainya 7,00 7, 99 adalah 40,6 persen atau 252.460 (jurusan IPA), 28,2 persen atau 240.815

(jurusan IPS), dan 30,7 persen atau 13.445 (jurusan bahasa). Yang meraih nilai 10 di jurusan IPA dan IPS tidak ada, sedangkan

di jurusan bahasa ada 6 orang dari 43.688 peserta ujian. Untuk nilai bahasa Indonesia 0,01 sampai 5,99 cukup signifikan

besarnya, yaitu 17,26 persen untuk jurusan IPA, 32,53 persen IPS dan 23,2 persen untuk jurusan bahasa.



Tidak hanya

kemampuan berbahasa Indonesia anak didik yang rendah. Kemampuan bahasa Indonesia para guru juga rendah. Dari uji kemahiran

bahasa Indonesia oleh Pusat Bahasa Depdiknas tahun 2008, dari 100 sampel hasil tes UKBI guru, hanya 9 orang dalam peringkat

unggul, 49 madya, 41 semenjana, dan 1 marginal. Tidak ada predikat istimewa (816-900) dan sangat unggul

(717-815).



Menurut Suyatno, rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia akan sangat berdampak pada rendahnya kemampuan

membaca dan kemampuan menulis. "Sangat jarang ditemukan siswa atau pun guru yang memiliki karya tulis yang berbobot dan

memiliki nilai ilmiah dengan kualitas bahasa Indonesia yang tinggi," katanya.



Menurut pandangan Suyatno, guru-guru

sekarang dan akan datang seharusnya berada pada minimal tingkatan madya (skor 465-592) agar dapat berdampak pada pembelajaran

bahasa Indonesia yang menyenangkan dan mampu meningkatkan nilai UN bahasa Indonesia yang akan datang, sekaligus mengefektifkan

proses pembelajaran yang ada.



"Seyogianya, kemampuan bahasa Indonesia yang baik atau unggul tidak hanya dimiliki

guru-guru bahasa Indonesia, tapi juga guru-guru di luar bidang studi bahasa Indonesia. Mereka sejatinya juga Pembina bahasa

Indonesia, sebab bahasa pengantar pembelajarannya menggunakan bahasa Indonesia," tambah Suyatno.



Sementara itu,

Abdul Madjid Latief dalam orasi ilmiahnya mengatakan, keberhasilan pembelajar organisasi dan organisasi pembelajar pada

perguruan tinggi yang serius, implikasinya akan menciptakan mutu layanan akademik sebagai kebutuhan nilai ha rapan konsumen

pengguna jasa pendidikan, yang pada akhirnya berdampak pada organisasi pendidikan tinggi yang akan merncapai keunggulan dalam

persaingan.



Pada dasarnya ukuran nilai harapan konsumen pengguna jasa pendidikan terletak pada kinerja mutu layanan

akademik. Mutu layanan akademik memegang peranan sangat penting dalam upaya memenangkan persaingan. "Meningkatkan persaingan

suatu perguruan tinggi adalah menciptakan keunggulan berbasis organisasi pelajar," katanya.



Sylviana Murni yang

memaparkan Manajemen Pendidikan Berbasis (e-Learning) dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Handal Menuju Terciptanya Clean and

Good Governance mengatakan, peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktivitas yang

dibutuhkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Teknologi informasi dan komunikasi yang perkembangannya begitu

cepat, secara tidak langsung mengharu skan untuk menggunakannya dalam segala aktivitas.



"Dengan e-leraning sebagai

bridging menciptakan sumber daya manusia berkualitas, profesional atau handal adalah salah satu modal utama terwujudnya clean

dan good governance,"

ujarnya.(MW)



sumber:

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/08/20/19481578/penggunaan.bahasa.indonesia.mengala

mi.degradasi

dilihat : 253 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution