Minggu, 22 Juli 2018 03:57:58 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 155
Total pengunjung : 407381
Hits hari ini : 2348
Total hits : 3715287
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kekristenan dan Ilmu-ilmu Alam






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 14 Agustus 2009 00:00:00
Kekristenan dan Ilmu-ilmu Alam
Kekristenan dan Ilmu-ilmu Alam

oleh: Ev. R. B. G. Steve

Hendra, S.T., M.Div.

Banyak orang berkata dewasa ini, bahwa ada suatu jurang raksasa antara Agama dan Ilmu Pengetahuan,

yang tidak mungkin dijembatani oleh siapa pun. Jurang ini menurut mereka sangat besar, khususnya jika kita berbicara tentang

ilmu-ilmu alam. Dibandingkan Agama semua yang ada dalam ilmu-ilmu alam nampak begitu jelas dan tertentu. Maka jika semua sudah

begitu pasti, apa perbedaan yang dapat kita buat dengan Kekristenan? Apakah kita Kristen, Islam, Buddha atau bahkan Ateis, hal

itu tidak ada pengaruhnya dalam ilmu-ilmu alam. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah,

tidak tergantung apakah kita seorang Kristen atau bukan. Tetapi apakah benar, bahwa Agama tidak ada perannya dalam ilmu-ilmu

alam? (Pada tulisan ini saya membatasi diri hanya pada Kekristenan, khususnya pada Theologi Reformed, yang saya dalami.

Alasannya adalah ada banyak agama dan theologi yang saya tidak di dalamnya).

Di sini kita harus pertama-tama menjelaskan

arti dari beberapa ungkapan, sebelum saya dapat menunjukkan posisi saya dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah saya

memberikan jawaban saya, saya akan menyatakan ide integrasi saya antara Kekristenan dan ilmu-ilmu alam.

Sebelum saya

mulai, ijinkan saya mengajukan pertanyaan yang bagi saya mengganggu. Pertanyaanya adalah sebagai berikut: Jika memang benar

bahwa agama tidak mempunyai peran dalam ilmu-ilmu alam, mengapa banyak ilmuwan yang ateist mengambil posisi religius sebagai

Ateist? Dan mengapa mereka harus memperjuangkan posisi religiusnya dalam ilmu-ilmu alam? Jika tidak ada relasi antara keduanya,

mengapa mereka melakukannya? Di sini saya cuma mencoba menunjukkan bahwa anggapan tersebut adalah suatu kesalahan. Ada suatu

relasi yang penting diantara keduanya. Tapi relasi seperti apa? Kita akan membicarakannya dan saya menyumbangkan ide saya untuk

menyelesaikan masalah ini.

I. Penjelasan dari Ungkapan-ungkapan

lmu Pengetahuan. Ilmu pengetahuan kita

mengerti sebagai suatu Disiplin, yang mengandung banyak data dan memahaminya dalam suatu relasi tertentu, untuk menjelaskan

realitas. Untuk tujuan ini orang menggunakan di dalamnya banyak anggapan, teori, paradigma, dll. Ilmu pengetahuan berkembang

melalui suatu prosedur tertentu, yang disebut metode ilmiah. Ilmu pengetahuan membatasi diri pada bidangnya. Karena

pengertian-pengerti an ini orang dapat mengatakan bahwa suatu teori dalam suatu ilmu pengetahuan lebih baik, (1) jika dia dapat

menjelaskan banyak kejadian, (2) jika dia dapat meramalkan banyak kejadian yang akan terjadi di masa datang, dan (3) jika dia

dapat dikembangkan.

Teori. Teori adalah suatu formulasi penjelasan terhadap suatu kenyataan tertentu yang dibangun secara

sengaja dalam ilmu pengetahuan. Suatu teori mengaju pada suatu tahap penjelasan tertentu, yang kebenarannya sudah diuji melalui

cara tertentu, yaitu Metode Ilmiah. Jika Axioma karena mengacu pada suatu kenyataan sederhana yang bersifat teruji dengan

sendirinya, sebaliknya untuk menjelaskan kenyataan yang rumit orang harus memformulasikan teori dan mengujinya. Untuk membangun

teori, orang tidak dapat berurusan dengan data-data saja, melainkan logika, worldview dan semangat zaman memainkan peranan

penting di dalamnya. Suatu teori lebih pasti daripada hipotesa tetapi kurang pasti jika dibandingkan hukum atau

axioma.

Paradigma. Suatu teori, yang dibangun dan diterima, tergantung juga pada paradigma-pradigma yang berlaku dalam

ilmu pengetahuan tersebut. Paradigma pada dasarnya juga adalah teori, yang kebenarannya sudah diterima secara luas.

Alam.

Alam dimengerti para ilmuwan sebagai suatu kombinasi dari hukum-hukum, yang sudah pasti dan berlaku untuk menata semua

kenyataan dalam alam semesta. Tetapi jika mereka mendapati sesuatu yang tidak taat kepada hukum tadi, mereka menyebutnya

“kenyataan.” Di sini jelas bagi kita, bahwa kenyataan dan alam di kalangan ilmuwan berbeda, dan arti dari kata “kenyataan”

lebih luas daripada arti dari kata “alam.” Hal ini perlu diperhatikan di sini.

Agama. Agama bagi saya adalah kata yang

mempunyai beberapa arti. “Agama” dapat mengacu pada Institusi yang memiliki kitab suci, nabi, pengikut yang percaya, dll.

Pengertian lain dari kata tersebut adalah suatu iman yang dipegang kuat dan menurutnya seseorang mengarahkan hidupnya. Ateisme

termasuk juga dalam pengertian yang kedua. Jika saya mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen, maka kalimat saya mengacu

pada pengertian kedua dari kata “agama.” (Saya juga mengerti disini, bahwa jika saya seorang Kristen, maka saya termasuk dalam

bagian dari Kekristenan sebagai suatu Institusi.) Iman kepercayaan tersebut bagi theologi Reformed berasal dari sense of

divinity, yang dimiliki semua manusia sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar Allah. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa

kepercayaan seperti itu.



II. Jawaban dari Pertanyaan

Pertanyaannya di sini berbunyi, Apakah ada suatu

relasi antara agama dan ilmu alam. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan membatasi diri pada pengertian kedua dari kata

“Agama.” (Saya akan membicarakan tentang pengertian yang pertama pada edisi yang lain).

Jika seandainya dalam ilmu-ilmu

alam hanya mengenai axioma-axioma, mungkin akan tidak ada perbedaan apakah kita Kristen atau bukan. Air di tempat yang rata

akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, apakah kita Kristen atau bukan. Tetapi dalam kenyataannya ilmu pengetahuan

tidak hanya berkenaan dengan axioma, tetapi juga teori-teori, paradigma-paradigma , dll, untuk menjelaskan realitas. Saya sudah

mengatakan di atas, bahwa pembangunannya tidak netral, melainkan berpihak pada berbagai aspek, yang terdiri dari iman

kepercayaan, worldview, tujuan, dll. Di sini para ilmuwan tidak hidup dalam Getto, melainkan dalam suatu masyarakat, yang di

dalamnya mereka saling bertukar hal-hal tersebut dengan anggota masyarakat yang lain.







Sebenarnya sudah

jelas, bahwa ilmu-ilmu alam hanya dapat memberikan penjelasan dari kenyataan-kenyataan menurut bidangnya masing-masing. Maka

penjelasan mereka tidak pernah sama kuatnya dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka orang membutuhkan penerapan dari semua

ilmu supaya berfungsi dengan baik dalam kehidupan kita. Selanjutnya kita juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak

dapat menjawab pertanyaan tentang arti dari hidup, moralitas, atau semua pertanyaan metafisik, misalnya mengapa ada suatu

aturan demikian dalam alam semesta?, dll. Pertanyaan-pertanya an ini terkait erat dengan kemanusiaan (sebagai ciptaan menurut

gambar Allah, yang dilengkapi dengan karakter “makna” – menurut theologi Reformed) dan religiusitas kita. Jika sejarah ilmu

pengetahuan alam diamati dengan seksama, sebenarnya orang dapat melihatnya. Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh di

sini:

1. Pada zaman dahulu manusia mengembangkan ilmu-ilmu alam menurut kebutuhan masyarakat. Baik untuk penggunaan

praktis maupun religius orang melakukan penelitian, penemuan dalam ilmu pengetahuan. Mereka melakukannya dengan asumsi yang

berlaku saat itu, yang oleh kebanyakan dari kita dipandang sebagai Mitos, misalnya, walaupun mereka sudah mengetahui bahwa bumi

berbentuk bola orang Yunani tetap berpikir, bahwa ada seorang raksasa yang menopangnya dan dewa-dewa lainnya, sehingga manusia

harus bertingkah menurut cara tertentu. Apa yang dapat kita saksikan di sini adalah kenyataan, (1) bahwa ilmu-ilmu alam sejak

dari mula tidak dikembangkan dalam Getto, (2) bahwa manusia tidak hanya puas dengan hasil-hasil keilmuan, yang dapat

menjelaskan kenyataan-kenyataan secara satuan, melainkan mereka berusaha juga untuk menjelaskan seluruh realitas, walaupun

untuk itu mereka harus berspekulasi dengan penjelasan-penjelas an metafisis. (Banyak ilmuwan ateis pun setuju akan hal ini,

walaupun mereka juga mengatakan bahwa penjelasan-penjelas an metafisis tersebut harus ditukar dengan penjelasan-penjelas an

keilmuan.), (3) bahwa orang menentukan bidang-bidang lain dalam kehidupan manusia, misalnya Etika, Estetika dll., melalui suatu

worldview yang merupakan pemahaman terhadap realitas yang utuh.

2. Dalam dunia modern, dimana dapat dikatakan, bahwa

banyak mitos yang sudah ditukar dengan penjelasan-penjelas an keilmuan, toh muncul melaluinya banyak mitos baru, misalnya:

Keutamaan rasio, alam yang bersifat mekanis, ateisme, dll. Kita dapat melihat bahwa tiga kenyataan tersebut sebenarnya tidak

berubah. Tanpa konsep metafisik orang tidak dapat memahami seluruh kenyataan dalam realitas. Untuk hidup manusia membutuhkan

bukan hanya memahami alam, melainkan juga kenyataan, supaya mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam hidupnya. Mitos-mitos

modern yang baru tersebut memainkan peranan yang besar dalam worldview modern, dan menyebabkan munculnya etika modern, perang

modern, eksistensialisme hingga postmodernisme. Saya telah memberikan 2 contoh dari sisi masyarakat, sekarang saya ingin juga

memberikan suatu contoh dari seorang ilmuwan.

3. Einstein adalah seorang Ilmuwan modern, yang teorinya menyebabkan

lahirnya teori baru yang berkontradiksi dengan worldviewnya yang modern. Dengan pernyataannya “Allah tidak bermain dadu” (1926)

dia mempertahankan asumsi-asumsinya terhadap kemunculan teori Kuantum, bahwa alam semesta bersifat panteis dan determinis dan

bahwa teori bukan hanya suatu penafsiran dan model dari realitas, melainkan suautu penjelasan yang sejati yang sekuat dan sama

dengan hukum-hukum yang berlaku di dalam alam. Asumsi-asumsinya ini dapat ditelusuri dari worldview modern yang berasal dari

pembacaan modern1 dari buku “Discours de la Methode” dari Rene Descartes. Untuk memahami konsep Einstein tentang alam secara

lebih baik kita juga harus memahami buku “Ethik in geometrischer Ordnung dargestellt” dari Spinoza, karena Einstein

mengembangkan konsepnya tentang Alam menurut jalur Spinoza. Pengakuannya pada tahun 1934 kepada Spinoza: “Keyakinan yang

terkait dengan perasaan yang mendalam akan suatu nalar yang dipertimbangkan, yang menyatakan diri dalam dunia yang dapat

dialami, membentuk pengertian saya tentang Allah; orang dapat mengatakannya juga dalam pengungkapan yang umum sebagai pantheis

(Spinoza).”2 Walaupun Einstein seorang Yahudi, Allah yang tidak bermain dadu bukan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, melainkan

suatu kesimpulan dari pemikiran filsafat, yang seharusnya menjamin kedapat dipahamian alam, menurut Einstein terutama

determinisme kausal. Di sini kita dapat melihat sesuatu, bahwa bagi Einstein pun ilmu pengetahuan alam, terutama fisika, bukan

hanya berkenaan dengan axioma-axioma, melainkan juga suatu iman kepercayaan, asumsi-asumsi, dll. Iman kepercayaan dan

asumsi-asumsi lain tersebut mengarahkan pemahaman seorang ilmuwan tentang kenyataan dalam realitas. Di sini Einstein

mengkuatirkan, bahwa tanpa Allah yang demikian tidak ada jaminan apakah esok matahari masih akan terbit. Tanpa jaminan demikian

maka apa yang menjadi jaminan ilmu pengetahuan akan ketepatan teori-teorinya?

Dari contoh-contoh yang diberikan kita dapat

memahami mengapa para ilmuwan memperjuangkan posisi religius mereka itu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan bahwa

tanpa asumsi-asumsi religius seperti itu pemahaman akan realitas tidak mungkin. Orang tidak dapat mengkaitkan data-data dan

axioma-axioma tanpanya, untuk menghasilkan suatu pemahaman. Pemahaman bukan hanya masalah data dan axioma, melainkan relasi

antaranya. Melaluinya manusia mengerti bukan hanya apa makna kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan, melainkan

juga apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan, bagaimana mengembangkannnya lebih lanjut, bagaimana dan di mana manusia

menempatkannya dalam kehidupan, dll.

Jika ada suatu relasi yang erat antara ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan

alam dan iman, seperti apa relasi tersebut seharusnya? Tidak dapatkan seseorang sekadar mengambil suatu jenis dari

relasi-relasi yang ada? Jika saya mengambil suatu relasi, apakah ada akibat teoritis ataupun praktis dalam kehidupan saya? Jika

tidak, maka kita dapat sekadar mengambil suatu jenis relasi, yang kita sukai, Tetapi jika ya, maka kita seharusnya dengan

hati-hati memilih di antara yang ada, satu untuk diambil.

Relasi tersebut tergantung pada jenis iman yang dimiliki si

ilmuwan. Relasi tersebut berbeda-beda menurut worldview yang digunakan ilmuwan untuk memandang segalanya, misalnya, seorang

ilmuwan ilmu alam yang ateis, yang percaya bahwa tidak ada Tuhan, akan berpikir bahwa tidaka da relasi ontologis antara ilmu

alam yang dia pelajari dan makna hidupnya. Relasi baginya bersifat praktis, bahwa dia menyukainya dan bekerja dan berkarier.

Jika seandainya ada suatu relasi teoritis, alasannya adalah semua manusia melakukannya. Dia akan beranggapan bahwa suatu hukum

universal yang berlaku dalam alam dan tugas dari ilmu alam adalah menemukannya. Tetapi darimana hukum itu berasal, mengapa

hukum itu demikian, dll., tidak perlu dipertanyakan, Masalah utama yang ada ini menyebabkan dia menjual sifat kesejarahan dari

ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam tidak dikembangkan dalam Getto, melainkan dalam suatu konteks sosial. Bagaimana penggunaannya?

Apa yang boleh dan seharusnya diteliti?, dll. Pertanyaaan- pertanyaan ini tetap akan menjadi pertanyaan-pertanya an praktis

yang tidak mempunyai kekuatan ontologis. Orang harus mentaatinya karena hukum, karena pelanggar akan dihukum. (2) Keutuhan

realitas akan tetap tidak terpahami. Walaupun akan selalu ada penemuan ilmu pengetahuan yang baru, toh pertanyaan-pertanya an

berikut tetap tidak terjawab, Apakah sebenarnya manusia itu? Apa makna dari hidup seorang manusia? dll., Apa yang dapat

dikerjakan adalah mengabaikan pertanyaan-pertanya an tersebut dan mengatakan, bahwa tidak ada pertanyaan seperti itu. (3)

Tetapi tanpa pertanyaan seperti itu tidak mudah untuk menyatukan kebenaran-kebenaran estetik, moral, etika, dll., (Mengenai

kelemahannya saya tidak membicarakannya di sini.) Tetapi tentu saja dia dapat mengatakan, jika saya harus memikirakn semuanya,

maka apa yang harus dikerjakan oleh para Filsuf, Sosiolog, ahli etika dan yang lainnya?



II. Suatu Ide Mengenai

Integrasi Filosofis Antara Iman Kristen dan Ilmu-ilmu Alam

Setelah saya memberikan suatu contoh mengenai suatu relasi

antara iman percaya dan ilmu-ilmu alam dari worldview ateis, saya akan membicarakan sekarang ide saya sendiri. Seperti yang

telah saya katakan dari awal bahwa saya mewakili pandangan Kristen Reformed dan, sejujurnya, bangunan ide saya tentu saja

bergantung pada isi iman dan worldview saya. Tetapi hal itu tidak berarti, bahwa saya tidak dapat memberikan pertanggungjawaban

secara keilmuan. Mengingat tujuan dari karangan ini saya tidak akan memberikan terlalu banyak penjelasan yang spesifik dan

keilmuan.

Alkitab mulai dengan suatu kalimat yang berbunyi, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” dan selalu

memaparkan bahwa Allah menjalankan providensi-Nya dalam sejarah manusia dan akan mengakhiri sejarah.

Pada mulanya Allah

menciptakan langit dan bumi. Melalui kalimat ini kita dapat memahami, bahwa ada dasar ontologis bagi ilmu-ilmu alam di sini.

Karena ciptaan tidak berasal dari probabilitas, melainkan dari rencana Allah, maka tugas dari ilmu alam dapat dipastikan di

sini, yaitu menyingkapkan hukum-hukum Allah yang berlaku dalam Alam. Di sini jelas bahwa tugas dan etika dari ilmu-ilmu alam

adalah menyingkapkan dan bukan menetapkan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.

Karena alam (menurut makna di kalangan

ilmuwan) juga direncanakan oleh Tuhan dan sama dengan alam (menurut makna yang normal), maka tidak dibutuhkan pembedaan antara

“alam” dan “kenyataan,” seperti yang di mengerti dalam konteks ilmu-ilmu alam.3 (Pada konteks yang lain, tentu saja saya

mengerti bahwa, “kenyataan” tidak hanya berarti terbatas pada fenomena-fenomena alam saja.) Apa yang harus diubah di sini

adalah asumsi yang ada dibelakang kata tersebut, bahwa alam harus berjalan sesuai dengan hukum yang ditemukan oleh para ilmuwan

ilmu alam. Tugas yang jelas ini seharusnya menyebabkan, misalnya, bahwa ilmu alam tidak dapat menolak mukjizat dan ilmuwan

tidak perlu mengatakan bahwa “Allah tidak bermain dadu” atau “Allah bermain dadu.” Apa yang saya maksudkan di sini seharusnya

di kalangan ilmuwan ada suatu keterbukaan terhadap suatu kenyataan yang baru dan menerimanya sebagai bagian dari

alam.

Karena alam dicipta oleh Allah dan Allah, sang Pencipta, adalah Allah yang berpribadi dan tritunggal, maka alam,

yang diciptakan, pasti merefleksikan ciri-ciri sang Penciptanya. Maka pertama-tama alam bukan hanya telah-ada (atau

ada-begitu-saja) , melainkan ada-untuk,4 tepatnya, alam bukan hanya semata-mata ada, melainkan alam memiliki suatu makna, suatu

fungsi, suatu konteks dan suatu tujuan sebagai sifatnya menurut rencana sang Penciptanya. Adalah kesalahan jika seseorang

mengerjakan ilmu-ilmu alam seolah-olah mereka ada di dalam Getto. Kedua alam bukan hanya memiliki sifat one-and-many karena

sifat one-and many dari sang Pencipta,5 melainkan juga sifat sosial, bahasa, dll. Maka bagaimanapun usahanya para ilmuwan tidak

akan dapat menghilangkan ciri ilmu-ilmu alam tersebut, selama ilmu-ilmu alam masih berurusan dengan alam ciptaan Tuhan. Tiap

kebenaran berkaitan satu dengan yang lain, dan usaha seperti itu hanya akan mengakibatkan abstraksi dan kontradiksi dari

klaim-klaim keilmuan.

Hal ini juga tergantung pada manusia sebagai ciptaan tertinggi menurut gambar Allah. Kepada manusia

tugas ini diberikan, untuk melayani dan menjaga alam.6 Karena manusia mirip Allah, manusia tidak dapat bekerja dalam Getto

ketika mengembangkan ilmu-ilmu alam, apalagi dia adalah ciptaan yang bersifat sosial. Manusia harus tidak hanya demi

kepentingan ilmu-ilmu alam saja menemukan hukum-hukum alam, melainkan juga untuk tujuan masyarakat, kemanusiaan dan tujuan

tertinggi mempermuliakan Allah.

Di sini terdapat suatu kemungkinan, relasi dari semua aspekt kehidupan manusia teoritis

dan tanpa kontradiksi dibangun dan menempatkan ilmu alam pada posisinya. Di sini terdapat pula kemungkinan untuk menentukan

langkah praktis untuk mengembangkan keilmuan tanpa berkontradiksi dan mereduksi aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Dalam

iman Kristen dijelaskan pula bahwa manusia telah jatuh di dalam dosa. Kenyataan ini saya mengerti sebagai kenyataan sejarah.

Dosa saya mengerti sebagai perlawanan manusia melawan Allah, sang Penciptanya. Sekalipun dosa manusia Allah tetap memelihara

ciptaan-Nya. Alam berfungsi menurut hukumnya dan tidak menjadi kacau. Disini masih ada kemungkinan untuk memperkembangkan ilmu

pengetahuan dalam dunia yang telah jatuh. Tetapi kemungkinan ini digunakan manusia melalui ilmu-ilmu alam untuk melawan Allah,

sang Pencipta dan Penopang. Memang tidak ada yang dapat berbicara tentang etika yang bersifat universal, jika seandainya Allah

yang berpribadi tidak ada. Worldview Kristen menceritakan kepada kita bukan hanya apa yang terjadi, melainkan juga tugas dari

anak-anak Tuhan yang berurusan dengan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu alam, yakni, menebus ilmu-ilmu alam demi

kepentingan Allah.



Catatan kaki:

1. Pembacaan modern, yang dewasa ini berlaku di kalangan ilmuwan, sebenarnya

sangat berbeda dengan apa yang Rene Descarte maksudkan. Pembacaan modern tidak memperhatikan “Meditationes de Prima

Philosophia.” Memang penekanan Descartes pada penggunaan rasio dan teori matematikanya melalui pembacaan modern ini dapat

mengakibatkan orang mudah berpikir bahwa sekalipun Allah adalah Pencipta alam semesta, tetapi kuasanya dibatasi oleh

hukum-hukum alam, atau lebih kecil daripada hukum-hukum alam tersebut. Berangkat dari sinilah muncul deisme dan konsep-konsep

modern yang salah tentang Allah.



2. Dikutip oleh Dieter Hattrup dalam Einstein und der würfelnde Gott: An

den Grenzen des Wissens in Naturwissenschaft und Theologie, ( Freiburg : Herder, 2008), hlm. 19, dari Einstein, Albert., Mein

Weltbild (1934). diterbitkan. Carl Sellig (Frankfurt u.a.: Ullstein, 1970), hlm. 201, 171.

3. Saya pernah berdiskusi

dengan seorang teman tentang hal ini. Dalam perdebatan kami, teman saya mengatakan bahwa itu adalah problem semantik semata

yang tidak perlu dipandang serius. Dalam diskusi tersebut saya mengajukan suatu contoh bahwa problem semantik bukan masalah

remeh, melainkan suatu penipuan. Jika seseorang membeli daging, dan berkata kepada si penjual bahwa dia ingin membeli daging,

lalu si penjual memberikan daging tikus kepadanya. Apakah yang akan dilakukan oleh orang tersebut? Bukankah dia akan merasa

dipermainkan dan marah, walaupun daging tikus adalah daging juga. Tetapi dalam hal ini banyak orang senang menikmati

penipuan.

4. Perbedaan antara “telah-ada” atau “ada-begitu-saja” (“vorhanden”) dan “ada-untuk” (“zuhanden”) dapat

ditelusuri dari konsep dari Heidegger (Sein und Zeit). Tetapi di sini saya membuat suatu perubahan makna dan konteks. Perubahan

tersebut adalah, pertama, Konteks dari kata tersebut berubah dari sifat-keduniaan- dunia-di- hadapan-manusia- sebagai-Dasein

menjadi Situasi-ontologis- di-hadapan- Tuhan (von der Weltlichkeit der Welt vor den Menchen als Dasein zum ontologischen

Zustand vor dem Gott). Catatan khusus bagi edisi Indonesia : ide keduniaan di sini bukan berarti sekuler, apa yang dibicarakan

Heidegger tidak ada kaitan sama sekali dengan sakral dan sekuler! Kedua, Maknanya berbicara bahwa pada mulanya tidak ada yang

telah-ada di hadapan Tuhan, karena dia adalah Sumber dari segalanya, bukannya ada-perbedaan- tersebut- bagi-manusia.

5.

Problem one-and-many dapat diselesaikan oleh para theolog Van Tillian, melalui mereka menelusuri ke Kesempurnaan Allah

Tritunggal. Tetapi tetap tinggal pertanyaan bagaimana hal itu seharusnya berfungsi, jika alam ciptaan memang

one-and-many?

6. Terjemahan ini berasal dari kata-kata Ibrani “abad” dan “Shamar.” Kata-kata ini dalam penggunaannya oleh

Musa menunjukkan kepada kita, bagaimana manusia harus menjalankan jabatannya sebagai mahkota ciptaan, yakni, pemimpin adalah

pelayan.



Profil Ev. Steve Hendra:

Ev. Steve Hendra, S.T., M.Div. dilahirkan di Surabaya pada tahun 1976.

Menerima Kristus pada tahun 1996 dan mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1997.

Setelah menyelesaikan

pendidikan S-1 umum pada tahun 1999, melanjutkan pendidikan di Institut Reformed Jakarta dan mendapatkan gelar Master of

Divinity (M.Div.) pada tahun 2003.

Mulai bulan Agustus 2003 melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Surabaya -

Andhika serta sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili Indonesia Surabaya (STRIS) Andhika dan International Reformed

Evangelical Correspondence Study (IRECS). Saat ini, beliau sedang studi di Jerman.

dilihat : 295 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution