Sabtu, 18 Agustus 2018 04:08:16 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 154
Total pengunjung : 414140
Hits hari ini : 2738
Total hits : 3795572
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Menyingkap Kiamat 2012






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 14 Agustus 2009 00:00:00
Menyingkap Kiamat 2012
Lapisan bumi retak. Tanah merekah dan amblas di mana-mana. Tidak sekadar menciptakan efek

gempa maksimal berskala 13 richter, melainkan juga benar-benar menjungkirbalikkan dan menelan apa pun yang ada di muka bumi.

Gedung-gedung bertumbangan, memperlihatkan efek domino yang tragis. Jalan-jalan beton patah dan amblas, melumat setiap mobil

yang ada di atasnya.



Sejurus kemudian, hujan meteor berdiameter 3-6 meter jatuh dari balik awan yang bergelantungan

di langit biru. Hantamannya menimbulkan getaran. Semuanya menghunjam bumi, menimbulkan lubang-lubang yang membara. Seiring

dengan itu, permukaan laut naik, menimbulkan gelombang setinggi ribuan meter. Dahsyat, hingga puncak Himalaya pun tak luput

dari empasannya.



Kemana pun makhluk hidup menghindar, mereka seperti dikejar malaikat maut. Sebuah gambaran kiamat

yang sempurna. Itulah trailer film 2012 karya Roland Emmerich, yang Agustus nanti bisa ditonton publik. Sebelumnya, Emmerich

menggarap sejumlah film penuh efek, seperti Independence Day, The Day After Tomorrow, dan 10.000 B.C. Cuplikan kiamat 2012 yang

bisa diunduh melalui internet itu demikian banal dan verbal.



Tidak demikian dengan Knowing, film thriller garapan

sutradara asal Mesir, Alex Proyas (The Crow, Dark City, dan I, Robot), bernuansa supranatural ini berkisah tentang penyelamatan

segelintir manusia pilihan dari bencana kehancuran bumi. Pada menit-menit akhir film, penonton disuguhi bencana superekstrem.

Detik-detik ketika radiasi panas matahari menjilat permukaan bumi. Dorongannya mengempaskan dan membakar apa saja yang

dilewati. Tak satu pun bisa selamat. Bahkan mereka yang menghindar dan bersembunyi di perut bumi sekalipun.



Kiamat

sebenarnya bukan monopoli telaah ilmuwan. Sejumlah agama dan keyakinan tradisional bahkan memuat nubuat akhir zaman itu.

Gambaran kemusnahan dunia yang tak disangka menjelang penghakiman terakhir, digambarkan dengan cara apokaliptis. Momen sakral

itu tidak saja diyakini secara harafiah, bahkan --oleh para penganut tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam)-- dipahami

dengan kacamata iman.



Belakangan, demam 2012 melanda publik. Diawali dengan munculnya puluhan buku tentang

penyingkapan tahun 2012. Antara lain: 2012: Mayan Year of Destiny, Beyond 2012: Catastrophe or Awakening?, 2012: Science or

Superstition, The Mystery of 2012: Prediction, Prophecies, and Possibilities, How To Survive 2012, Unlocking the Secrets of

2012, dan Fractal Time: The Secret of 2012 and a New World Age.



Sejumlah penulis mengungkap bakal terjadinya kiamat

pada 2012. Bencana itu bisa terjadi karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Pemicunya: perubahan drastis yang

terjadi di muka bumi karena pemanasan global, erupsi supervulkanik, pergeseran medan magnet bumi, koyaknya perisai magnet bumi,

radiasi panas matahari, tubrukan antarplanet, hingga efek badai awan antarbintang.



Dari sejumlah karya, buku

Apocalypse 2012: An Investigation into Civilization's End tulisan Lawrence E. Joseph --yang telah diterjemahkan dan

diterbitkan Gramedia Pustaka Utama-- bisa menjawab keingintahuan mengenai kiamat 2012. Penulis tidak saja menyuguhkan cerita

Harmagedon dari aspek ramalan bangsa Maya, melainkan juga mengajak pembaca berkelana memasuki rahasia bumi, matahari, tata

surya, kosmis, galaksi, dan luar angkasa.



Joseph tidak saja menggali isi buku, jurnal ilmiah, hasil simposium,

hingga ramalan dukun terkait 2012. Ia juga mencari pengetahuan pada sejumlah temuan misi luar angkasa NASA (badan antariksa

Amerika Serikat) dan ESA (badan antariksa Eropa). Tak ketinggalan pula, ia berusaha menyingkap tabir rahasia 2012 dengan

bertanya kepada para fisikawan dan ilmuwan luar angkasa yang tergila-gila pada prospek 2012.



Di dunia internet,

ratusan situs meramaikan pro dan kontra soal ramalan bangsa Maya. Bahkan resep teknis dan spiritual dalam menghadapi kiamat pun

tersajikan. Yang paling menarik adalah penjelajahan memasuki ranah astronomi. Bagaimana superorganisme seperti bumi mengalami

evolusi dalam interaksi dengan matahari, planet lain, serta energi dan materi yang ada di ruang angkasa.



Mengapa

2012?



Angka 2012 mendadak menggetarkan banyak orang. Muncul karena bangsa Maya --berdasarkan sistem "perhitungan

panjang"-nya-- meramalkan bahwa pada 21 Desember 2012 (21/12/12) akan terjadi gangguan pada rotasi bumi. Pada waktu itu, tata

surya, dengan matahari sebagai pusatnya, akan menutupi pemandangan pusat galaksi Bimasakti dari bumi. Ini terjadi setiap 26.000

tahun sekali.



Ketika itu terjadi, maka terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak mekanisme normal di bumi

dan tata surya. Konsekuensi fenomena itu adalah bencana dan dislokasi dalam skala global karena pergeseran konfigurasi planet,

sekecil apa pun. Tentu, sebagai sebuah ramalan, kebinasaan yang bakal terjadi pada 2012 adalah prospek. Bisa terjadi, tapi ada

kemungkinan luput.



Bahkan, kalaupun bencana itu tiba, belum tentu seluruh permukaan bumi luluh lantak dan semua

kehidupan musnah. Namun skenario terburuk telah menjadi pemikiran banyak ilmuwan dan astronom. Sebab kini tugas ilmu

pengetahuan tidak sekadar membongkar rahasia alam semesta. Meramalkan, memprediksi, dan mencari alternatif keluarnya secara

ilmiah adalah sebagian dari tanggung jawab para ilmuwan.



Kini para ilmuwan terus sibuk mencari korelasi bintik

matahari dan ledakan-ledakan surya yang lain dengan fenomena di muka bumi, seperti badai, topan, letusan vulkanik, dan berbagai

gempa besar. Lebih dari 10 satelit penelitian matahari diluncurkan sejak Helios I dan II mengangkasa pada pertengahan 1970.

Mayoritas satelit dikirim NASA dan ESA. Pada 1980, misalnya, misi Maksimum Matahari dikirim guna mengamati aktivitas surya pada

puncak daur bintik matahari.



Lalu, pada 1990, satelit Ulysses diluncurkan dengan tujuan khusus pada bagian tertentu

spektrum matahari, seperti sinar-X, ultraviolet, dan angin surya. Satelit yang disponsori NASA dan ESA itu, menurut kantor

berita Reuters, 30 Juni lalu, akan segera mengakhiri tugasnya. Misi tersebut berumur empat kali lebih lama dari prediksi

semula. Satelit sebesar mobil VW itu, dengan kecepatan 56.000 kilometer per jam, telah menempuh perjalanan hampir 8,85 milyar

kilometer atau sepadan dengan tiga kali putaran orbit matahari.



Diperkirakan, ketika jarak Ulysses dengan matahari

sekitar 705 juta kilometer, transmisi kontak wahana tak berawak dengan bumi itu akan mati. Ed Smith, peneliti di laboratorium

pendorong jet NASA, Pasadena, California, menyatakan bahwa data yang diperoleh selama misi memperlihatkan gambaran yang belum

pernah ada mengenai siklus aktivitas matahari dan tata surya serta konsekuensinya. "Hal itu akan menjadi bahan riset para

peneliti untuk beberapa tahun mendatang," katanya, seperti dikutip Reuters.



Lebih dari 1.000 artikel ilmiah dan dua

buku dihasilkan dari informasi yang diperoleh Ulysses. Selain mengungkap adanya angin surya dan faktor-faktor penyebabnya,

Ulysses juga mendalami partikel-partikel yang dipancarkan matahari ke seluruh tata surya. Ternyata aliran kuat

partikel-partikel sub-atom yang memancar dari surya hingga 1 juta mil per jam berkurang hingga level terendah dalam 50 tahun

terakhir.



Data berharga lainnya adalah info mengenai kawasan kutub matahari, debu antariksa di tata surya, planet

Jupiter, dan objek transitnya. Info baru yang bisa diketahui manusia, menurut Ed Smith dari NASA, adalah soal heliosfer.

"Ulysses telah memformat ulang pengetahuan soal heliosfer dan menyuguhkan informasi tentang lingkungan sekitar tata surya yang

belum banyak terungkap," ujar Smith.



Heliosfer adalah selubung pelindung yang dihasilkan matahari melalui anginnya

bagi bumi dan tujuh planet lain yang mengitarinya. Angin surya itu berperan menyapu radiasi dan sinar kosmik yang datang dari

galaksi lain. Secara teori, heliosfer yang melemah akan membuat masuknya sinar kosmik ke tata surya makin besar. Radiasi sinar

kosmik yang makin kuat tentu makin membahayakan para astronot ketika berada di luar angkasa.



Ancaman Bintik

Surya

Selain Ulysses, generasi satelit terbaru yang memelototi aktivitas surya dalam relasinya dengan bumi adalah SOHO

(Solar and Heliospheric Observatory --Pengamatan Surya dan Heliosfer) yang meluncur pada 2 Desember 1995. Tugas utamanya adalah

mengidentifikasi lontaran CME (coronal mass ejections) atau ledakan bintik matahari, letupan surya, angin surya, dan

semacamnya, yang menuju ke bumi. Info itu berguna bagi para ilmuwan untuk mengupayakan perlindungan terhadap satelit,

pembangkit listrik surya, dan berbagai teknologi yang sensitif terhadap surya.



Faktanya, kini hanya sedikit satelit

yang diberi perisai letupan surya dengan alasan mahal, tidak praktis, dan membatasi fungsi satelit. Bisa dibayangkan, jika

serentetan badai surya massif terjadi sepanjang 2012, maka kelumpuhan telekomunikasi kamersial karena gangguan pada

satelit-satelit akan terjadi. Kini SOHO terus memberikan informasi ke kontrol misi yang dikelola NASA di Goddard Space Flight

Center di Maryland, tak jauh dari Washington.



CME adalah gas awan superpanas yang keluar dari surya dan melesat

melalui ruang antarplanet. Ia menciptakan gelombang kejut yang meningkatkan kecepatan beragam partikel. Banyak proton di

depannya terkena efek desakan dan menghasilkan badai proton. CME bergerak dengan kecepatan 1.000 sampai 2.000 kilometer per

detik. Jika CME mengarah ke bumi, efeknya akan dirasakan satu atau dua hari kemudian.



Dua dasawarsa ini memang

menjadi momen bagi para ilmuwan untuk mengerubuti matahari, pusat tata surya, yang ribuan tahun dimengerti manusia sebagai

sumber stabilitas dan energi bagi kehidupan. Untuk menyelidiki struktur magnetik --termasuk bintik matahari yang muncul di

permukaan surya-- maka meluncurlah TRACE (Transition Region and Corona Explorer). Penjelajah Kawasan dan Korona Transisi ini

akan melengkapi RHESSI (Reuven-Ramaty High Energy Solar Spectroscopic Imager --Pencitraan Spektroskopi Surya Kekuatan Tinggi

Reuven-Ramaty), yang menyajikan citra sinar-X dan sinar gama letupan surya sejak 2002.



Bahkan, sejak 2003,

University of Colorado, dengan Laser and Spectrum Physics Laboratory, mengoperasikan satelit SORCE (Solar Radiation and Climate

Experiment) untuk menjawab rasa penasaran atas efek matahari terhadap atmosfer bumi. SORCE akan ditemani armada satelit STEREO

yang diluncurkan NASA, satelit Yokoh B yang diluncurkan badan antariksa Jepang, dan Solar Dynamics Observatory (SDO) milik

NASA.



Satelit STEREO berfungsi bak sepasang mata yang menyediakan gambar tiga dimensi CME. Lalu Yokoh B akan

menyediakan gambar-gambar resolusi sangat tinggi pada kejadian di matahari. Sedangkan SDO bertugas mengurai dampak kejadian di

matahari terhadap bumi.



Belakangan, ada pemikiran yang didasarkan pada temuan ilmiah bahwa planet-planet, termasuk

bumi, membantu timbulnya bintik matahari dan sekaligus dipengaruhi olehnya. Konfigurasi dan jajaran planet memberi pengaruh

besar kepada matahari. Pengetahuan tentang konfigurasi planet dan efek energinya terhadap tata surya terus berkembang, tidak

sekadar dalam tataran astrologi atau ilmu ramalan, melainka juga ranah ilmiah murni.



Tim inti ilmuwan angkasa

mengemukakan bahwa planet bumi secara reguler memancarkan pengaruh elektromagnetik dan gravitasi yang signifikan terhadap

matahari. Perlu dipahami bahwa surya berkarakter cair dan lembek, sehingga lebih rentan terhadap tarikan magnetik dan

gravitasi. Empat planet dalam yang berada di sisi matahari seolah dibatasi asteroid yang memisahkan Mars dan Jupiter. Dari

empat planet dalam, yakni Merkurius, Venus, bumi, dan Mars, ternyata bumi memiliki massa terbesar, medan gravitasi terkuat, dan

medan magnet terbesar.



Dengan demikian, relasi matahari-bumi berjalan dua arah. Ada sistem umpan balik energik

antara matahari dan bumi yang melahirkan berbagai fenomena menarik nan dahsyat. Topan, letusan vulkanis, gempa bumi, dan

kejadian iklim/seismik lain pada saat sejumlah besar energi dilepaskan tak lain adalah efek hubungan bumi mempengaruhi dan

dipengaruhi bintik matahari. Ada pergeseran pandangan bahwa tidak hanya matahari yang mempengaruhi bumi, melainkan ada hubungan

energi dua arah, meskipun pengaruh matahari jelas lebih besar.



Nah, apa yang terjadi jika efek saling mempengaruhi

medan magnet itu terjadi pada 11 planet, plus matahari. Matahari, 10 planet tata surya, termasuk planet X terbaru, dan bulan

--satelit bumi-- saling menarik. Pengaruh terbesar muncul jika gabungan planet berada dalam posisi segaris 0 derajat atau bisa

saja membentuk bujur sangkar 90 derajat. Sejumlah konfigurasi mampu memicu keretakan lapisan luar matahari dan mengaduk-aduk

isinya.



Richard Michael Pesichnyk dan ilmuwan angkasa lainnya memegang keyakinan bahwa sudut antarplanet menentukan

pengaruh relatif planet-planet. Demikian pula, pusat massa tata surya tidak berada di inti matahari. Pusat massa itu selalu

berubah, sebagai dampak pola orbit dan jajaran planet. Menurut Thomas Burgess, fisikawan kuantum benda-benda padat, jajaran

planet dapat bergerak ke titik yang hanya berjarak 1 juta mil atau 1,6 juta kilometer dari matahari.



Jika hal itu

terjadi, matahari akan mengembung ke arah pusat massa tata surya. Semakin besar daya tarik gravitasi terhadap matahari, semakin

besar pula kemungkinan permukaan matahari merekah dan bocor, melepaskan apa yang disebut "radiasi terpenjara", yang puluhan

ribu tahun terperangkap dalam selubung luar matahari.



Pada kondisi normal, radiasi itu merambat dari matahari secara

stabil dan hampir konstan. Namun, ketika permukaan matahari terkoyak, "radiasi terpenjara" itu akan meletup, menimbulkan

ledakan besar. "Radiasi terpenjara dapat lolos dari matahari lewat robekan atau gelembung negatif," kata Burgess, seperti

dikutip Lawrence E. Joseph. Gelembung negatif itu berwujud cekungan di permukaan matahari. Kondisi ini membuat radiasi akan

mudah menembus massa yang lebih sedikit.



Runyamnya, menurut perhitungan Burgess, jumlah total terbesar daya

tarik-menarik planet-planet terhadap matahari bakal terjadi pada akhir 2012. Bintik surya maksimum yang diperkirakan terjadi

tahun itu akan makin memperburuk situasi karena bakal membantu desakan matahari dengan tekanan maksimum.



Di samping

itu, kutub magnetik matahari yang berganti posisi setiap 22 tahun, pada puncak setiap daur kedua, diprediksi akan terjadi pada

2012. Hal ini bakal meningkatkan ancaman bahaya. Kemungkinan ledakan besar mematikan akan dialami bumi sejak kemunculan

manusia.



Perisai Magnetik Bumi Terkoyak

Daya serangan radiasi matahari itu akan makin besar ketika medan magnet

pelindung bumi ternyata juga terkoyak. Para ahli geofisika telah lama meneliti rekahan sebesar California yang muncul di medan

magnet pelindung bumi dari Hermanus Magnetic Observatory, Tanjung Barat Daya, Afrika Selatan. Pieter Kotze, seorang ahli

geofisika di Magnetic Observatory, telah mendokumentasikan penipisan medan magnet pelindung bumi.



Kotze mendapatkan

data itu melalui komputer canggih yang dapat menganalisis data dari sensor elektromagnetik yang tertanam di bawah tanah. Medan

magnet bumi berasal dari perputaran inti besi cair bumi. Memang hukum inersia dan hukum yang mengatur listrik serta magnetisme

tidak bisa dianulir. Namun medan magnet pelindung yang membentengi permukaan bumi dari radiasi proton dan elektron yang

berlebihan tidak bersifat abadi.



Berlimpahnya radiasi surya ternyata juga akan menghalangi sinar kosmis. Padahal,

sinar kosmis berupa partikel dan gelombang luar angkasa yang sangat aktif berperan dalam sebagian besar formasi awan di sekitar

bumi. Awan, terutama yang melayang rendah, membantu menghalangi radiasi inframerah panas dari matahari. Proses ini sangat

membantu menjaga permukaan bumi tetap dingin.



Terkoyaknya medan magnet bumi atau magnetosfer adalah sebuah ancaman.

Pasalnya, medan magnet bumi berfungsi memantulkan radiasi surya dan menyalurkannya ke sabuk yang mengelilingi atmosfer luar

planet bumi. Magnetosfer ini berupa medan elektromagnetik raksasa yang menyembur dari kedua kutub, laiknya perilaku bijih besi

di sekitar magnet batang dan mengembang jauh di atmosfer.



Menurut Kotze, medan magnet antarplanet (interplanetary

magnetic field, yang pada intinya merupakan medan magnet yang memancar dari matahari, juga mempengaruhi ukuran dan bentuk

magnetosfer. Ternyata medan magnet antarplanet bisa memperkuat magnetosfer dengan masukan energi surya. Pada waktu lain, medan

magnet antarplanet menekan medan magnet bumi, membuat makin padat, membelokkannya, dan bisa mengoyaknya.



Perisai

pelindung bumi itu secara elementer bertugas melindungi organisme hidup di permukaan bumi. Magnetosfer bumi menyalurkan radiasi

surya ke dua sabuk, yang dikenal sebagai sabuk radiasi Van Allen. Sabuk yang ditemukan James A. Van Allen melalui Explorer I

dan Explorer II pada 1958 itu terbentang pada ketinggian 10.000 hingga 65.000 kilometer.



Dalam pandangan Lawrence E.

Joseph, banyak ilmuwan yang belum menemukan jawaban mengapa medan magnet mulai menipis. Perkiraan terbesar, karena adanya

turbulensi di medan magnet antarplanet sampai kekacauan fluktuasi inti cair bumi. Fenomena penipisan itu mengundang spekulasi

bertukarnya posisi kedua kutub planet bumi. Riset terhadap sampel inti es dan sedimen dari dasar laut mengindikasikan bahwa

kutub magnetik pernah bertukar tempat. Terakhir kali terjadi kira-kira 780.000 tahun lalu.



Pergeseran kutub itu

membawa konsekuensi dahsyat pada muka bumi. Geolog William Hutton menyatakan, pergeseran kutub tipe kemerosotan mantel bumi

akan memicu pergeseran awal ekuator di atas permukaan bumi. Ketika ekuator bergerak memasuki daerah baru di permukaan bumi,

kawasan itu akan mengalami perubahan daya sentrifugal dan ketinggian permukaan laut.



Gejala ini akan menyebabkan

pembagian baru daratan dan laut serta akan terjadi gerakan tektonis di kerak bumi. Bencana seismik dan tektonis pun bakal sulit

terhindarkan.



Meskipun pergeseran itu akan terjadi dalam waktu lama, yang pasti, memudarnya medan magnet bakal

melemahkan efek perlindungannya. Permukaan bumi akan jauh lebih rentan terhadap radiasi, yang terus membombardir dari luar

angkasa.



Kejadian alam yang mengagetkan para ilmuwan adalah retaknya perisai radiasi surya dan kosmis selama

sembilan jam, sepanjang 160.000 kilometer, yang dikenal dengan sebutan anomali Atlantik Selatan. Menurut Kotze, penipisan medan

magnet bumi kemungkinan memicu penipisan lapisan ozon. Ini terjadi, ketika radiasi proton matahari menembus perisai magnetik

bumi, reaksi kimia di atmosfer terpengaruh. Suhu pun meningkat tajam dan tingkat ozon di stratosfer menurun

drastis.



Penipisan ozon itu akan membuat atmosfer menjadi lebih mudah ditembus sinar ultraviolet matahari. Bencana

lebih besar tak bisa diprediksi. Terutama ketika bumi menuju pergolakan abnormal solar maksimum, yang diproyeksikan terjadi

pada 2012. Radiasi surya dan kosmis akan memicu berbagai persoalan kesehatan, jaringan listrik, iklim, dan lingkungan

hidup.



Memasuki Badai Awan Energi

Pengetahuan manusia mengenai penciptaan terus berkembang. Ketika ilmu

pengetahuan belum matang seperti saat ini, kisah penciptaan seperti pada Kitab Kejadian mendominasi hampir selama dua abad.

Kini ledakan besar (big bang) diyakini sebagai awal alam semesta. Alam semesta pun mengembang secara merata ke segala penjuru.

Tidak ada yang tetap diam di alam semesta ini, baik dari dimensi panjang, lebar, tinggi, maupun waktu.



Pada konteks

alam semesta yang dinamis dan terus bergerak, menurut Dr. Alexey Dmitriev, ahli geofisika dari Russian Academy of Science, bumi

pada saat ini tengah berada dalam zona bahaya galaksi. Dmitriev adalah geofisikawan yang memiliki 200 publikasi akademis,

kebanyakan tentang geofisika dan meteorologi, baik tentang bumi maupun planet lainnya.



Pada saat mengorbit pusat

galaksi, matahari dengan tata suryanya melewati berbagai area angkasa yang berbeda. Beberapa di antaranya memiliki energi lebih

besar dibandingkan dengan yang lain. Dmitriev mengingatkan, kini hujan badai antarbintang sedang dilewati tata surya. Bisa

dipahami bahwa meningkatnya aktivitas surya adalah akibat langsung meningkatnya aliran materi dan energi ketika tata surya

memasuki awan energi antarbintang.



Dmitriev mengemukakan tiga hal di alam semesta yang selama ini dikesampingkan

para ilmuwan ortodoks. Tiga hal itu adalah kondisi dinamis dan tambahan media antarplanet, dampak energi dari konfigurasi

planet-planet tata surya, serta adanya impuls dari pusat galaksi. Tiga hal itu begitu mempengaruhi bumi.



Bumi,

selain berotasi sendiri dan mengelilingi matahari, juga bagian dari tata surya yang bergerak di orbit tak dikenal melalui

galaksi Bima Sakti, yang juga berkelana di alam semesta. Ketika tata surya mengorbit dan ikut berkelana menumpang galaksi Bima

Sakti, diyakini oleh sebagian fisikawan bahwa saat inilah tata surya memasuki awan energi.



Tata surya ibarat pesawat

yang menjelajah dan mulai memasuki turbulensi antarbintang. Ini terjadi karena adanya ruang antarbintang yang sifatnya

heterogen. Seperti objek yang melewati media lain, heliosfer (tata surya) yang masuk ke ruang antarbintang lain menciptakan

gelombang kejut. Kekuatan gelombang akan bertambah besar ketika heliosfer memasuki kawasan angkasa yang lebih padat. Gerakan

ini, menurut Dmitriev, bakal membentuk aliran materi dan energi dari ruang antarplanet ke tata surya.



Energi yang

disuntikkan ke kawasan antarplanet bisa mengejutkan matahari secara inkonsisten, membebani medan magnet bumi, dan memperparah

pemanasan global di bumi. Fenomena awan energi antarbintang ini juga menjadi kajian Vladimir B. Baranov. Ilmuwan Rusia ini

mengembangkan model matematis heliosfer berdasarkan data dari Voyager.



Model Baranov itu, dari telaah para ilmuwan

Rusia, Eropa, dan Amerika Serikat, mengindikasikan kaitan hingga 96% antara data Voyager, informasi NASA dan ESA, serta

evaluasi dasar energi dan ruang yang dikerjakan Dmitriev. Isinya dugaan bahwa heliosfer akan berada dalam gelombang kejut

selama 3.000 tahun selanjutnya. Sejumlah observasi pada planet-planet luar sejak 2006 memperlihatkan sejumlah

anomali.



Uranus dan Neptunus mengalami pergeseran kutub magnetik. Jupiter memperlihatkan efek gelombang kejut dan

melipatgandakan medan magnetnya hingga melebar sampai ke Saturnus. Bahkan, sejak Maret 2006, muncul bintik merah baru di

Jupiter, seukuran bumi. Di lokasi bintik merah, yang disebut Oval BA, itu kini terjadi badai elektromagnetik tanpa

henti.



Efek gelombang kejut itu juga dialami planet-planet dalam. Atmosfer Mars, misalnya, semakin padat. Komposisi

kimia dan kualitas optikal atmosfer Venus berubah menjadi makin bercahaya. Juga matahari, yang berada di pusat heliosfer,

karena susunan materinya menjadi lebih rentan terhadap efek energi dibandingkan dengan planet lain. Bumi sendiri --dan planet

yang lain-- berada dalam bahaya ganda sebagai dampak langsung gelombang kejut dan pergolakan yang muncul di

matahari.



Menurut hipotesis Gaia Lovelock, yang dikemukakan Gaia James Lovelock, pada prinsipnya bumi berupa

superorganisme. Ia bukan bongkahan batu dan air yang tak bernyawa. Esensi hipotesis itu adalah sistem umpan balik negatif, di

mana biosfer menyesuaikan dan mengatur dirinya sebagai kompensasi atas gangguan eksternal.



Nah, mekanisme adaptif

biosfer ketika memasuki badai awan energi itu bisa berupa apa saja. Jika tiba-tiba panas karena memasuki awan energi

antarbintang, biosfer akan mencari jalan untuk mendinginkan tubuhnya. Salah satu jalan adalah dengan ledakan supervulkanik,

yang bisa membawa bumi pada zaman es. Tantangan biosfer bakal makin besar karena awan energi antarbintang juga akan

menyuntikkan kilat dan gelombang panas, cahaya, serta radiasi elektromagnetik ke sistem iklim bumi.



G.A.

Guritno

[Ragam, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 30 Juli 2009]

Sumber:

http://www.gatra.com/artikel.php?id=129209

dilihat : 266 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution