Jum'at, 14 Desember 2018 16:14:56 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 202
Total pengunjung : 450468
Hits hari ini : 1259
Total hits : 4149992
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perjalanan Muslim Amerika






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 25 Juli 2009 00:00:00
Perjalanan Muslim Amerika
Oleh: Hailey Woldt



Washington, DC – Pada

minggu kemerdekaan Amerika 4 Juli lalu, sekitar 45.000 Muslim berkumpul di ibu kota Negara untuk menghadiri muktamar tahunan

Masyarakat Muslim Amerika Utara (ISNA), organisasi masa yang bertujuan untuk memperbaiki kehidupan komunitas Muslim dan

masyarakat pada umumnya. Tema muktamar pada tahun ini adalah “Hidup, Kemerdekaan, dan Pencarian Kebahagiaan”, yang hampir

senada dengan kata-kata dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang ditulis oleh Thomas Jefferson 233 tahun lalu. Peserta

muktamar berusaha merefleksikan apa makna menjadi orang Amerika bagi Muslim saat ini.



Upaya untuk mendefinisikan

makna menjadi orang Amerika menjadi semakin sulit sejak tragedy 9/11, terutama bagi Muslim Amerika. Pada musim gugur tahun

2008, mantan Duta Besar Pakistan untuk Inggris, Akbar Ahmed, yang juga seorang antropolog dan ilmuwan Islam di American

University Washington, DC, bersama satu tim anak-anak muda Amerika, termasuk saya, membuat sebuah film dokumenter dan buku yang

mengisahkan perjalanan kami mengitari lebih dari 75 kota dan 100 masjid di seantero Amerika.



Perjalanan itu sendiri

merupakan upaya kami untuk merenungkan apa makna menjadi orang Amerika, tertama di kalangan komunitas Muslim. Film dokumenter

ini ditayangkan pada tanggal 4 Juli dalam muktamar ISNA sebagai bagian dari Festival Film Islam tahunan.



Kelompok

kami mengunjungi kota-kota kecil maupun besar, di utara, selatan, timur dan barat Amerika, dari kawasan kumuh Detroit hingga

perumahan mewah di Palm Beach. Kami berbicara dengan entah berapa orang imam, rabi, pendeta, pastor, dan penganut agama lain

dari Mormon hingga Zoroaster.



Kami mewawancarai ribuan orang Amerika dari ras, generasi dan wilayah yang berbeda.

Kami mengunjungi mesjid tertua di Amerika di Cedar Rapids, Iowa, dan mesjid terbesar di New York, Detroit dan Los

Angeles.



Tim penelitian kami menemukan bahwa umat Islam di Amerika menghormati Amerika justru karena nilai-nilai

yang Jefferson dan pendiri bangsa ini yakini. “Amerika adalah tempat yang terbaik untuk mempraktikkan Islam karena kebebasan

ada disini”, ujar seorang gadis Muslim keturunan Lebanon di Dearborn, Michigan, hal yang juga diungkapkan oleh banyak muslim

lain yang kami wawancarai.



Pemimpin kelompok Dawoodi Bohrasi, sekte Syi’ah dari Asia Selatan, di Houston mengatakan

bahwa mereka “cinta Amerika” karena laki-laki bisa berjanggut panjang dan memakai shalwar kameezes (pakaian tradisional orang

Asia Selatan), dan perempuan bisa memakai baju mereka yang berwarna-warni dan memakai kerudung ke kantor, sekolah atau

kemanapun tanpa takut dihukum.



Orang Amerika non-Muslim yang kami wawancarai banyak yang memperlihatkan sikap

toleransi kepada Muslim, meski mereka juga mengakui tidak banyak tahu tentang Islam. Dan, sayangnya, meski banyak upaya yang

dilakukan untuk meningkatkan pemahaman publik terhadap Islam paska tragedi 9/11, masih ada kevakuman pengetahuan yang sering

terisi dengan kecurigaan dan salah persepsi.



Meski tak banyak media Amerika yang meliput acara ISNA dan debat yang

berlangsung dalam acara itupun mungkin tak berimplikasi terlalu banyak bagi masyarakat Amerika secara luas, acara ini mendapat

cukup banyak pengunjung.



Untuk memperlihatkan dukungan kepada Muslim Amerika, penasehat senior presiden Barack

Obama, Valerie Jarrett, berbicara dalam acara pembukaan muktamar tersebut. Pendeta Rick Warren -seorang pendeta evangelis dan

juga pengarang- menghadiri diskusi panel antar agama yang bertemakan “Hidup, Kemerdekaan dan Pencarian Kebahagiaan”. Hadir juga

Keith Ellison, Muslim Amerika pertama yang terpilih menjadi anggota DPR Amerika dan yang diambil sumpahnya dengan menggunakan

Qur’an milik Thomas Jefferson. Dalam wawancaranya dengan kami, Ellison mengatakan bahwa “Menjadi orang Amerika berarti

berkomitmen terhadap prinsip-prinsip bangsa ini...etos kultural kita adalah keadilan, supremasi hukum dan kebebasan

berekspresi. Itulah ide-ide Amerika.”



Thomas Jefferson adalah orang yang sangat percaya dengan Amerika yang

pluralis. Pada gerbang Universitas Virginia berdirilah patungnya yang bertuliskan, “Kebebasan Beragama, 1786” dan dibawah

tulisan itu ada tulisan Tuhan, Jehovah, Brahma, Atma, Ra dan Allah. Bukanlah sebuah kebetulan dengan demikian bila ISNA memilih

deklarasi kemerdekaan sebagai tema acara mereka. Kata-kata dalam deklarasi kemerdekaan itu telah menginsipirasi orang Amerika

dari berbagai kalangan, dan visi pluralis Amerika inilah yang harus kita pertahankan, rayakan dan terus kita

kembangkan.



###



* Hailey Woldt adalah penerima beasiswa Ibnu Khaldun di American University dan peneliti

di Pusat Studi Berkley untuk Perdamaian, Agama dan Isu-Isu Dunia di Georgetown University. Informasi selanjutnya mengenai film

Journey into America ini tersedia di journeyintoamerica.wordpress.com. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground

(CGNews).



Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 24 Juli 2009, www.commongroundnews.org

Telah memperoleh

izin publikasi.

dilihat : 266 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution