Rabu, 18 Juli 2018 13:33:11 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 136
Total pengunjung : 406530
Hits hari ini : 897
Total hits : 3705978
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Di Indonesia, sekarang bukan saatnya untuk tenang-tenang saja






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 11 Juli 2009 00:00:00
Di Indonesia, sekarang bukan saatnya untuk tenang-tenang saja
Jakarta, Indonesia - Pada 8

Juli ini Indonesia menggelar pemilihan presiden langsung yang kedua sejak demokrasi benar-benar diterapkan di negeri ini tahun

1998. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di dunia, yang lebih dari 240 juta, Indonesia menjadi negara

demokrasi terbesar ketiga di dunia, dan negara dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia. Taruhannya

tinggi.



Ekstremisme keagamaan tetap menjadi perhatian penting rakyat Indonesia, dan juga dunia, seperti ditunjukkan

oleh terbongkarnya sebuah jaringan teroris di Palembang, Sumatera Selatan, baru-baru ini. Sepuluh orang telah terbukti bersalah

membunuh seorang guru yang beragama Kristen dan bersekongkol untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap warga sipil

lainnya di Indonesia.



Kasus ini menggambarkan betapa relatif mudahnya sekelompok anak muda bisa direkrut dan

dimotivasi untuk ikut serta dalam kekerasan, namun juga menggambarkan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengatasi

terorisme.



Jawa, yang merupakan pulau terpadat di negara ini, dengan lebih dari 130 juta penduduk, adalah daerah

yang perlu mendapat perhatian khusus.



Organisasi Jemaah Islamiyah, sering disebut sebagai “Al-Qaeda Indonesia”

lantaran model pengkaderannya dan perannya dalam bom Bali pada 2002 dan 2005, telah membangun sebuah industri penerbitan yang

lumayan berkembang, guna merekrut pengikut-pengikut baru yang akan melanjutkan agendanya mendirikan kekhalifahan dunia yang

menyatukan seluruh negara Muslim.



Jutaan pemuda di seluruh Indonesia adalah targetnya.



Dari Aceh, di mana

nilai-nilai Islam telah masuk dalam hukum lokal, yang memunculkan beda pendapat di antara penduduk Aceh yang beragam; hingga

Sulawesi Tengah, di mana umat Kristiani dan Muslim telah terpolarisasi sejak kekerasan memorakporandakan daerah itu beberapa

tahun silam; hingga Papua, di mana orang Kristen dan penganut animisme siap beradu kekuatan dengan orang Islam demi

mempertahankan sebuah “pulau Kristen di tengah negara Islam”, ketegangan antar pemeluk agama sangat berpotensi menghambat upaya

pembangunan di Indonesia.



Radikalisasi rawan terjadi khususnya di penjara, universitas, dan pesantren. Para

pengkader ekstremis menanamkan ketidaksenangan terhadap pemerintah dan Barat di kalangan anak muda, dan memanfaatkan kemarahan

mereka untuk menyebarkan nilai-nilai radikal, yang dikemas sebagai satu-satunya ajaran Islam otentik.



Masalahnya

tampak tampak serius. Tapi banyak kelompok tengah bekerja menanggulanginya.



Beberapa organisasi masyarakat di

Indonesia tengah bekerja mengembangkan toleransi, pluralisme dan pemahaman agama melalui pendidikan, media, dan kegiatan

penyadaran masyarakat di daerah-daerah paling rawan di Indonesia.



Ini mencakup penyusunan kurikulum di berbagai

pesantren dan universitas untuk mengajarkan kesesuaian Islam dengan hak asasi manusia dan pluralisme agama kepada para

santri/mahasiswa, akademisi, jurnalis dan tokoh agama.



Pemerintah juga tengah bekerja memerangi radikalisme di

beberapa tempat yang paling bermasalah. Departemen Hukum dan HAM misalnya, telah memprakarsai proyek-proyek inovatif untuk

melawan dan mencegah radikalisasi di penjara, melalui perpaduan pelatihan agama dan manajemen konflik bagi para pegawai,

penjaga, dan penghuni penjara.



Dengan adanya belasan ribu anak muda yang “meradikalkan diri” lewat internet—akses ke

situs-situs radikal meningkat pesat di Indonesia—maka amatlah penting bagi presiden yang akan datang untuk mencegah ekstremisme

mengakar dengan mendukung media yang inovatif dan prakarsa-prakarsa dialog di tingkat akar rumput yang dimaksudkan untuk

rekonsiliasi nasional dan pengurangan kekerasan.



Masyarakat internasional juga bisa lebih membantu membendung

meningkatnya gelombang radikalisme. Bantuan pembangunan, dukungan teknis kepada media Indonesia yang baru tumbuh (pilar keempat

demokrasi), studi dan pertukaran antarbudaya, serta dukungan penciptaan perdamaian jangka panjang untuk menghimpun masyarakat

yang sangat beragam dan menyembuhkan luka akibat tahun-tahun penuh kekerasan di daerah yang terjangkit konflik; semunya

sangatlah dibutuhkan.



Secara bersama-sama prakarsa-prakarsa ini akan membantu Indonesia mewujudkan seluruh

potensinya sebagai masyarakat modern dan majemuk.



Semua indikasi memang menunjukkan bahwa presiden yang sedang

bertugas akan menang dalam pemilihan kali ini, seperti yang tercermin dari keberhasilan Partai Demokrat pada pileg April lalu

yang berlangsung damai.



Namun, terlepas siapa yang menang, pemerintahan yang akan datang harus lebih kuat dalam

menghadapi ekstremisme dan kekerasan keagamaan, dalam semua bentuknya, dan akan membutuhkan dukungan kalangan masyarakat sipil

di Indonesia untuk menghadapi tantangan-tantangan ini.



Sewaktu kunjungannya ke Jakarta Februari lalu, Menteri Luar

Negeri Hillary Clinton menyatakan bahwa “jika Anda ingin tahu bagaimana Islam bisa bersanding dengan demokrasi, kemodernan dan

hak-hak perempuan, pergilah ke Indonesia.” Ia benar dalam mengemukakan Indonesia sebagai teladan bagi dunia Muslim. Namun,

sekarang bukanlah saatnya untuk tenang-tenang saja.



Oleh : Brian Hanley.



###



* Brian D. Hanley

ialah direktur Search for Common Ground Indonesia. Artikel ini awalnya dimuat dalam rubrik On Faith (Tentang Iman) di

Washington Post/Newsweek, dan ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).



Sumber: Kantor Berita Common

Ground (CGNews), 10 Juli 2009, www.commongroundnews.org

Pustakalewi.Net telah memperoleh izin publikasi.

dilihat : 253 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution