Rabu, 26 September 2018 00:42:41 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 251
Total pengunjung : 423296
Hits hari ini : 1840
Total hits : 3900150
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perang Toba: Benarkah Zending Telah Berkoalisi dengan Belanda?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 06 Juli 2009 00:00:00
Perang Toba: Benarkah Zending Telah Berkoalisi dengan Belanda?
Berdasarkan laporan Zendeling

RMG (Rheinische Missiongeselschaft), khususnya Nommensen, diketahui bahwa tokoh penyebar ajaran Kristen untuk masyarakat Batak

Toba ini memiliki peran dalam penaklukan Tanah Batak oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Dalam Jahresbericht der Rheinischen

Missionsgesellschaf t (Laporan Tahunan Zending RMG) tahun 1907, dikatakan bahwa pada awal tahun 1878, Nommensen berulang kali

meminta pemerintah kolonial agar selekasnya menaklukkan Silindung (Taput) menjadi bagian dari wilayah

Hindia-Belanda.



Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan permintaan Nommensen sehingga terbentuklah koalisi zending

dan pemerintah kolonial (Belanda) yang sangat sukses, karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama: Singamangaraja XII.

Tokoh pahlawan nasional ini dianggap sebagai “musuh bebuyutan” Pemerintah Belanda dan zending Kristen.



Koalisi ini

seterusnya secara bersama-sama berangkat untuk mematahkan perjuangan Singamangaraja. Pihak pemerintah dibekali dengan

persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan moderen, sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan

adat-istiadat dan bahasa setempat. Berkat pengetahuan bahasa dan budaya, pihak zending--terutama zendeling Nommensen dan

Simoneit--sangat sukses meyakinkan ratusan raja kecil agar menyerah.



Perang Batak (Batak Oorlog) atau yang lebih

populer dengan Perang Singamangaraja XII, berakhir pada tahun 1907, pada saat tokoh spritual Batak itu berhasil ditewaskan.

Setelah itu, penjajahan di Tanah Batak dimulai oleh pemerintah kolonial Belanda.



Fakta sejarah itu dikemukakan oleh

Prof. Uli Kozok, pengajar di Universitas Hawaii, Manoa USA, yang rajin melakukan penelitian sejarah di Sumatera. Bukti

keterlibatan Nommensen tersebut dapat dilihat pada Berichte der Rheinischen Missionsgesellschaf t (BRMG), yang diterjemahkan

oleh Prof Uli yang berkebangsaan Jerman ke dalam Bahasa Indonesia. Menurutnya, laporan tersebut sangat berguna untuk menuliskan

penaklukan Tanah Batak secara objektif di zaman kolonial, namun sangat jarang dipergunakan sebagai sumber primer oleh

sejarahwan Batak.



Menurut Dr. phil. Ichwan Azhari, Kepala Pussis-Unimed, dalam Perang Batak Pertama (1878), terdapat

dengan jelas beberapa kontroversi, yaitu; 1. Peran para penginjil dalam menaklukkan Onafhankelijke Bataklanden (Tanah Batak

yang Merdeka) dan 2. Hubungan Singamangaraja XII dengan zending.



Butir kedua menjadi persoalan yang memang peka

karena sebagian besar orang Batak memeluk agama Kristen dan menganggap L.I. Nommensen sebagai apostel atau rasul orang Batak,

sedangkan di sisi lain Singamangaraja XII diangkat sebagai Pahlawan Nasional dari Tanah Batak oleh pemerintah pada 9 November

1961. Bagaimana kalau kedua pahlawan yang dua-duanya dianggap sakral oleh orang Batak itu saling bermusuhan?



Pada

tahun 1982, seorang sejarahwan Batak, Dr. W.B. Sidjabat menulis buku berjudul “Ahu Si Singamangaraja: Arti Historis, Politis,

Ekonomis dan Religius Si Singamangaraja XII”. Ia telah berusaha keras untuk meluruskan dilema itu dengan “mendamaikan” kedua

tokoh sakral tersebut. Dengan sangat jelas ia memperlihatkan sikap pro zending, pro Singamangaraja, dan anti-Belanda. Belanda

digambarkan sebagai orang yang “cerdik“ (hal. 157), memiliki “tangan kotor” (158), “hendak memanfaatkan Nommensen”, menggunakan

“tindakan keganasan” (171), “mengadakan kegiatan ganas” (171), tujuannya “didorong oleh keserakahan ekonomi dan militer”, dan

pada pasukan Belanda, demikian ditulisnya, yang menonjol “hanya unsur kebinatangan manusia” (179).



Terhadap peran

Nommensen dan penginjil RMG lainnya, Sidjabat menyebut: “kehadirannya [...] bukan dalam rangka penjajahan” (156), Nommensen

melakukan “pelbagai usaha untuk mengelakkan pertumpahan darah” (165), “berulang kali mengatakan kesediaannya menempuh jalan

damai” (166), “tidak dapat menyetujui tindakan kekerasan yang digunakan oleh Belanda” (159), dan “merasa sedih sekali” melihat

kampung-kampung Batak dibakar Belanda.



Kontroversi sejarah ini akan diangkat dalam sebuah seminar oleh PUSSIS Unimed

pada tanggal 29 Juni 2009 di Aula Lantai III Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. Menurut Erond L. Damanik, MSi,

peneliti PUSSIS-Unimed, kegiatan berupa seminar dan diskusi ilmiah ini bertujuan untuk mengungkap peristiwa sejarah berupa

penaklukan Tanah Batak hingga tewasnya tokoh spritual orang Toba, yakni Singamangaraja XII, yang pada satu sisi melibatkan

peran RMG, khususnya L.I. Nommensen. Selanjutnya, Erond menyebutkan, dalam ceramah ini, Prof. Uli Kozok, peneliti dari

Universitas Hawaii, akan membahas peranan Zendeling RMG, khususnya L.I. Nommensen, dalam Perang Toba pertama (1878), yaitu

lewat laporan Nommensen yang ditulisnya beberapa bulan setelah ia kembali dari ekspedisi militer Belanda ke Silindung, Toba dan

Humbang.



Dalam seminar ini, selain Prof. Uli Kozok, narasumber lain adalah Dr. J.R. Hutauruk, mantan Ephorus HKBP

alumni Universitas Hamburg Jerman, dan Limantina Sihaloho MHum, peneliti independen dan pekerja di Biro Pusat

GKPSPematangsiantar , alumni Pascasarjana Universitas Duta Wacana Yogyakarta. Kegiatan ini direncanakan dibuka secara resmi

oleh Prof. Syawal Gultom, Rektor Universitas Negeri Medan, dan dihadiri oleh rohaniawan dan tokoh masyarakat serta kalangan

penikmat sejarah lainnya di Sumatera Utara.

Sumber; http://www.insidesumatera.com/?open=view&newsid=1101&cat=10





Laporan Nommensen ketika ia mendampingi pasukan Belanda untuk menaklukkan Toba dapat dibaca langsung dalam

terjemahan bahasa Indonesia di http://ulikozok.wordpress.com dan dokumen asli dalam bahasa Jerman dapat diunduh serta di

http://ulikozok.com

dilihat : 455 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution