Sabtu, 15 Desember 2018 16:27:10 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 163
Total pengunjung : 450766
Hits hari ini : 1020
Total hits : 4152458
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Renungan Memperingati 500 Tahun Dr. John Calvin






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 04 Juli 2009 00:00:00
Renungan Memperingati 500 Tahun Dr. John Calvin
REFORMED or REFORMING ? :

Theologi Reformed dan

Sola Scriptura



“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai

selama-lamanya!” (Rm. 11:36)



“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk

menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim. 3:16)



Roma 11:36

merupakan konklusi terakhir dari seluruh penjelasan doktrinal Rasul Paulus tentang konsep dosa, keselamatan, dan anugerah Allah

dari pasal 1 s/d 11. Konklusi ini bukan sekadar konklusi biasa, namun konklusi yang dahsyat dan terpenting di dalam iman

Kristen yang menunjukkan bahwa Kekristenan didasarkan bukan pada iman yang berpusat kepada diri, tetapi kepada PRIBADI Allah

yang menciptakan, memelihara, dan menyempurnakan segala sesuatu demi hormat dan kemuliaan nama-Nya sendiri. Agama, iman, dan

theologi yang berpusat kepada Allah mengakibatkan seluruh pola pikir, kerohanian, karakter, perkataan, dan sikap hidupnya

BERBEDA dari konsep dunia berdosa. Lalu, bagaimana caranya kita memiliki agama, iman, dan theologi yang hanya berpusat kepada

Allah? Pertama, tidak ada jalan lain, HANYA melalui anugerah Allah, kita dimampukan untuk beriman dan membangun dasar iman dan

theologi yang berpusat kepada Allah. Anugerah Allah yang memampukan itu juga menggunakan sarana tertulis sebagai pedoman bagi

kita untuk beriman dan memusatkan iman kita HANYA pada Allah saja. Sarana tertulis itu adalah Alkitab. Di dalam Perjanjian

Lama, hal itu ditunjukkan melalui diwahyukannya Taurat Musa dan Kitab Para Nabi. Dan Tuhan Yesus sendiri mengakui otoritas

Perjanjian Lama tersebut (Mat. 5:17-48). Setelah itu, Roh Kudus mengilhami para rasul Kristus untuk menuliskan wahyu Allah

(2Tim. 3:16; 2Ptr. 1:20-21). Wahyu tersebut dikanonisasikan menjadi 27 kitab di dalam Perjanjian Baru. Setelah PL dan PB ini

selesai dikanosisasikan, maka Allah berfirman, “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah

akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapeta ka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu

dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus,

seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Why. 22:18-19) Ada yang menafsirkan bahwa kedua ayat ini hanya berlaku untuk kitab

Wahyu. Memang secara konteks, kedua ayat ini berlaku untuk Kitab Wahyu, namun jika kita mempercayai integrasi Alkitab, maka

kita percaya bahwa kedua ayat ini juga berlaku untuk seluruh Alkitab. Dengan kata lain, selesai Kitab Wahyu ditulis sebagai

akhir dari keseluruhan Alkitab baik PL maupun PB, maka sebagai orang Kristen yang BERES, kita TIDAK lagi mempercayai adanya

“wahyu baru” dari “Allah.” Itu sebabnya, TIDAK ada satu otoritas pribadi, theologi, atau apa pun juga yang LAYAK menggantikan

otoritas Alkitab.



Ini yang ditegaskan sejak zaman reformator Dr. Martin Luther dengan semboyannya Sola Scriptura

(hanya Alkitab). Kemudian semangat ini diteruskan oleh para penerusnya, Ulrich Zwingli, Philip Melanchton, Dr. John Calvin, Dr.

Theodore Beza, dll. Khususnya melalui Dr. John Calvin, semangat ini diteruskan dengan begitu ketat melalui bukunya Institutes

of the Christian Religion. Pdt. Dr. Stephen Tong memaparkan bahwa di dalam buku ini, Dr. Calvin mengutip kira-kira 6000 ayat

Alkitab dengan prinsip terintegrasi antara PL dan PB. Ini sebenarnya jiwa Reformasi yang sebenarnya, bukan hanya slogan mati

semata! Jiwa Calvin mengakibatkan semua penerusnya memegang teguh Alkitab sebagai satu-satunya fondasi kebenaran yang mutlak

dan final. Hal ini bisa terlihat melalui 3 hal. Pertama, kesungguhan kaum Puritan yang dipengaruhi Calvinisme/Reformed dalam

menyelidiki Alkitab. Kedua, pengakuan iman gereja Reformed baik Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Westminster, Pengakuan

Iman Belgia, dll yang menegaskan otoritas Alkitab. Selain itu, hal ini juga terlihat dengan kegigihan para theolog, apologet,

dan hamba Tuhan Reformed menegakkan Kekristenan orthodoks (BUKAN aliran Orthodoks Syria!) di tengah kondisi zamannya yang

dipengaruhi oleh filsafat Rasionalisme ala Abad Pencerahan. Dr. Francis A. Schaeffer, Dr. J. Gresham Machen, Dr. Cornelius Van

Til, dll dibangkitkan oleh Tuhan sebagai para pembela kebenaran Alkitab di tengah dunia mereka yang sudah dikuasai iblis. Namun

sayang, Reformed yang dulu yang memegang teguh Sola Scriptura telah luntur dimakan oleh arus zaman. Gereja-gereja Reformed yang

dulu kuat memegang teguh Sola Scriptura kemudian merosot. Hal ini ditandai dengan dua hal. Pertama, munculnya Karl Barth dengan

theologi Neo-Orthodoksnya sekaligus oleh skeptisisme David Hume). Barth melalui buku tafsiran Surat Roma yang ditulisnya pada

tahun 1919 mengikis habis otoritas Alkitab dengan pengajaran ide bahwa Alkitab baru menjadi firman Allah jika itu menyentuh

(perasaan) kita. Meskipun ada beberapa konsep Barth yang cukup baik untuk kita pelajari, namun konsep ini sebenarnya memiliki

bahaya yang sangat fatal. Barth tidak menyetujui liberalisme dari guru-guru mereka, tetapi secara berkontradiksi, Barth

sebenarnya menegakkan model baru dari liberalisme (saya menyebutnya: half-liberalism). Konsep Barthianisme ini berkembang bukan

hanya di gereja (yang berTRADISI) Reformed yang makin lama makin meninggalkan otoritas Alkitab, namun juga di gereja-gereja

non-Reformed. Di sebuah milis Kristen, saya berkenalan dengan seorang pemimpin gereja dari gereja Protestan arus utama (gereja

ini mengklaim berTRADISI Reformed), namun ia marah-marah ketika saya melabeli Barth dengan Neo-Orthodoks. Sepanjang diskusi

dengan si pemimpin gereja ini, dia pernah mengatakan bahwa otoritas utamanya bukan lagi Alkitab, tetapi Kristus. Bagi si

pemimpin gereja ini, segala sesuatu harus berpusat kepada Kristus. Hal ini tidak salah, namun ada keanehan dan kekontradiksian

konsep ini. Dari konsep ini, saya menemukan dua kelemahan, yaitu:



Pertama, secara tidak langsung (atau bahkan

langsung), dia sudah mendualismekan Alkitab dan Kristus. Bagi dia, Alkitab tidak sempurna dan Kristus lebih sempurna. Memang

benar bahwa Kristus lebih sempurna dari Alkitab (Alkitab TIDAK mungkin sempurna menggambarkan keagungan Kristus), tetapi saya

menangkap ada kejanggalan presuposisi. Dia mengatakan hal ini didasarkan pada konsep/iman bahwa Alkitab bukan firman Allah!

Benarkah Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Alkitab bukan firman Allah? Bagaimana dengan 2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21?

Bagaimana pula dengan legitimasi Tuhan Yesus terhadap otoritas kanonisasi Perjanjian Lama? Apakah itu bukan firman Allah? Jika

demikian, siapa yang lebih berotoritas menetapkan mana yang merupakan firman Allah: Roh Kudus sebagai Pengwahyu atau si

pemimpin gereja ini?!



Kedua, jika otoritas utamanya adalah Kristus, tolong tanya, dari mana dia bisa mengenal

Pribadi dan karya Kristus jika bukan dari Alkitab? Memang kita bisa menyebut dan mengaku Kristus sebagai Tuhan adalah karena

pekerjaan Roh Kudus, namun untuk mengenal lebih dalam lagi akan pribadi dan karya Kristus, kita membutuhkan wahyu-Nya, Alkitab.

Melalui Alkitab, kita mengamini akan perkataan Kristus bahwa Ia adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada

seorang pun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui-Nya (Yoh. 14:6). Melalui Alkitab, kita juga mengenal Kristus sebagai

Pribadi Allah kedua dari Trinitas yang mengadakan mukjizat-mukjizat, memberitakan Injil, dan mengusir setan. Jika bukan dari

Alkitab, bisakah kita mengenal pribadi dan karya Kristus dengan lengkap? Atau sudah pintarkah kita dari Alkitab dalam mengenal

pribadi dan karya Kristus? Sebagai refleksi, hal ini sekaligus membedakan dua jenis orang (meskipun mengklaim “pemimpin

gereja”): orang pertama adalah orang yang rendah hati dan taat mau dibentuk oleh firman Tuhan (2Tim. 3:16). Orang pertama ini

seharusnya menjadi sikap hati dan hidup orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus. Namun orang kedua adalah orang yang merasa

dirinya pintar dan berani mengkritisi firman-Nya. Orang model kedua ini tentu bukanlah ciri anak Tuhan sejati, karena di titik

pertama, ia sudah menjadi penghakim bagi firman-Nya. Dengan kata lain, ia lebih berotoritas bahkan dari Allah

sekalipun.



Konsep Barthianisme ini juga mempengaruhi gereja-gereja non-Reformed, yaitu mayoritas gereja kontemporer

pop zaman ini yang membedakan logos dengan rhema (padahal kedua kata Yunani ini sama artinya dan penggunaannya dipakai secara

silih berganti di Alkitab) dan lebih mementingkan rhema. Tidak heran, sebagian besar mereka yang memutlakkan rhema ketimbang

logos lebih mementingkan pengalaman pribadi dekat dengan Tuhan ketimbang harus belajar menggali Alkitab. Meskipun konsep ini

ada kelemahannya, yaitu pengalaman TIDAK bisa dijadikan standar mengukur kebenaran dan iman seseorang, namun sebenarnya konsep

ini pun menjadi teguran bagi kita khususnya yang bertheologi Reformed. Orang non-Reformed meskipun tidak mengerti Reformed

sesungguhnya tetap dipakai Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa pengetahuan akan Allah bukan semata-mata kognitif saja, tetapi

juga menyentuh ke segala bidang, bahkan termasuk pengalaman rohani dan sikap yang mau taat. Mari kita kembali kepada semangat

bapak pendiri theologi Reformed, yaitu Dr. John Calvin. Dr. John Calvin sendiri di dalam bukunya Institutes of the Christian

Religion memaparkan satu pernyataan yang bagi saya sangat penting, “Knowledge of God involves trust and reverence”

(=Pengetahuan akan Allah melibatkan ketaatan dan penundukan) (I.II.2, hlm. 41) Pada halaman sebelumnya, Dr. Calvin juga

mengatakan hal yang lebih penting lagi, “Piety is requisite for the knowledge of God” (=Kesalehan adalah perlu bagi pengetahuan

akan Allah) (hlm. 39) Kedua kutipan Calvin ini TIDAK ada satu pun yang menginsyaratkan bahwa pengetahuan akan Allah mencakup

perdebatan theologi dengan segudang argumentasi akademis dan rincian ayat-ayat Alkitab. Calvin TIDAK mementingkan hal-hal

tersebut, tetapi bagi Calvin, pengetahuan akan Allah melibatkan sikap hati yang sungguh-sungguh mau taat akan firman dan

kehendak-Nya. Bagaimana dengan kita? Sungguhkah kita telah menyerahkan hati kita kepada Allah dengan taat dan tunduk mutlak

kepada firman dan kehendak-Nya? Ataukah kita masih suka hidup mendualisme: percaya doktrin kedaulatan Allah dan

ketidakbersalahan Alkitab, namun praktik hidup kita mengatakan kedaulatan kita atau pemimpin gereja kita? Biarlah ini menjadi

refleksi bagi kita masing-masing.



Menanggapi Barthianisme, theolog-theolog Reformed yang setia mengkritisi Barth dan

mengembalikan gereja kembali kepada Alkitab. Hal ini baik, namun sayangnya, akibatnya, di sisi lain, Reformed menjadi kaku dan

suka menjadi pengkritik theologi lain. Theologi dan gereja Reformed bukan lagi menjadi suatu semangat yang berkobar-kobar,

tetapi menjadi theologi yang akademis, dingin, kaku, dan mau mati.



Di tengah kelesuan Kekristenan dan

kesimpangsiuran arus zaman khususnya di zaman postmodern, Tuhan membangkitkan hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong

melalui Gerakan Reformed Injili.. Melalui Gerakan Reformed Injili, beliau membangunkan orang Kristen dari kelesuan dan kecuekan

zaman dengan mengajar kembali apa yang Alkitab ajarkan dan memberitakan Injil sebanyak mungkin kepada banyak orang. Gerakan ini

telah mempengaruhi cukup banyak orang baik melalui institusi Institut Reformed, Momentum Christian Literature, Gereja Reformed

Injili Indonesia (GRII), dan gereja-gereja Reformed di luar GRII. Beliau dan Pdt. Billy Kristanto, M.C.S.. pernah mengatakan

satu hal penting bahwa Gerakan Reformed Injili BUKAN dimonopoli oleh GRII, tetapi untuk semua gereja. Berarti beliau TIDAK

membatasi gerakan Reformed Injili HANYA untuk GRII SAJA, tetapi untuk semua gereja yang mau kembali kepada Alkitab. Prinsipnya

bukan Reformed-isme, tetapi Alkitab! Dengan semangat kembali kepada Alkitab, beliau TIDAK segan-segan mengkritik kelemahan

Reformed sendiri di dalam aspek penginjilan dan semangat pelayanan. Dengan semangat ini pula, beliau berani mengatakan bahwa

apa yang mutlak jangan direlatifkan dan apa yang relatif jangan dimutlakkan. Pernyataan ini sangat penting bagi theologi dan

gerakan Reformed. Mengutip Bapa Gereja Augustinus, beliau juga pernah mengatakan bahwa jika ada ajaran beliau yang tidak sesuai

dengan Alkitab, buang ajaran beliau dan kembalilah kepada Alkitab. Di sini, saya TIDAK sedang memberhalakan Pdt.. Stephen Tong,

lalu mengatakan semua ajaran beliau 100% benar. Tetapi yang saya maksudkan adalah misi, visi, dan panggilan Pdt. Stephen Tong

yaitu kembali kepada Alkitab! Namun sayang, semangat mulia dari Pdt. Dr. Stephen Tong disalahtafsirkan oleh banyak orang bahkan

oleh seorang hamba Tuhan yang melayani di Gereja Reformed. Jika Pdt. Stephen Tong menegakkan bahwa apa yang relatif jangan

dimutlakkan, maka ada seorang hamba Tuhan yang melayani di sebuah Gereja Reformed mengutip perkataan Pdt. Stephen Tong secara

perkataan dan doktrin, namun TIDAK pernah dia aplikasikan. Di satu sisi, si pendeta ini mengutip Pdt. Stephen Tong bahwa yang

relatif jangan dimutlakkan, namun secara berkontradiksi, di sisi lain, si pendeta ini pada waktu acara baptisan di gereja

dengan berani mengatakan bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat. Pada waktu saya mendengar perkataan si

pendeta ini, saya hanya tersenyum mendengar khotbah yang kurang bertanggungjawab tersebut, karena saya percaya di dalam sejarah

theologi Reformed, doktrin baptisan anak dijalankan dengan pola pikir theologi sistematika yang berdasar pada ciri khas

Reformed yaitu theologi kovenan. Saya percaya akan baptisan anak (infant baptism), tetapi saya TIDAK memutlakkannya, karena

Alkitab jika diteliti secara Biblika TIDAK ada satu ayat pun memutlakkan pengajaran baptisan anak dan sebaliknya, TIDAK

melarang baptisan anak. Jika demikian, dengan argumentasi Biblika sebelah mana si pendeta ini dengan berani mengatakan bahwa

gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat? Ataukah dia mengajar hal ini karena didorong oleh emosinya yang

menggebu-gebu, padahal secara berkontradiksi pula, dia juga pernah mengatakan bahwa pikiran harus menguasai emosi? Hehehe J

Jika demikian presuposisinya, sesuaikah logika ini dengan Pdt. Stephen Tong yang menggerakkan kita kembali kepada Alkitab

(bukan kepada GRII)?!



Apa yang bisa kita pelajari dari pembahasan saya di atas?



1. Theologi Reformed

bukan Kebenaran (Alkitab adalah Kebenaran: Sola Scriptura)



Prinsip penting yang harus kita pegang adalah theologi

Reformed BUKAN Kebenaran! Artinya, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, jangan pernah menyamakan theologi Reformed dengan

Alkitab. Theologi Reformed adalah theologi yang berusaha seketat mungkin menginterpretasi (menafsir) Alkitab. Oleh karena itu,

semboyan Reformed yang cukup terkenal adalah: Ecclesia Reformata Semper Reformanda (gereja Reformed mau diReformedkan

terus-menerus) . Namun sayangnya, semboyan ini dimanipulasi oleh mereka yang sebenarnya tidak beriman Reformed sungguh-sungguh,

lalu semboyan ini dipelintir artinya, sehingga secara implisit menjadi: gereja-gereja Reformed harus diReformedkan

terus-menerus, supaya sesuai dengan konteks zaman. Tidak heran, di zaman postmodern ini, ada nama arus “theologi” yang

aneh-aneh, misalnya: “theologi” Asia , dll. Mereka menggunakan nama tersebut dengan tujuan agar theologi Kristen bisa

diaplikasikan di dalam konteks budaya. Theolog Asia memakai istilah theologi Asia . Theolog Afrika menggunakan istilah theologi

Afrika. Semangat mereka sebenarnya tidak salah, yaitu agar kita tidak terlalu memberhalakan theologi Barat, tetapi semangat

mereka kurang bisa dipertanggungjawabk an. Mengapa? Pdt. Billy Kristanto pernah mengatakan bahwa mereka yang menciptakan

istilah theologi Asia, dll sebenarnya lupa satu hal bahwa Rasul Paulus memberitakan Injil bukan ke Sidoarjo atau Banyuwangi,

tetapi ke Roma, Galatia, dll. Kelemahan kedua, apakah isi theologi Asia yang mereka gembar-gemborkan masih sesuai dengan

Alkitab ataukah isi Alkitab sudah direduksi sedemikian rupa sehingga isi Alkitab yang melawan konteks Asia dihilangkan

(istilahnya: teks tunduk kepada konteks)? Jika isi theologi Asia sudah tidak lagi sesuai dengan inti berita Alkitab, masih

layakkah theologi Asia disebut theologi (theologi artinya ilmu yang mempelajari keTuhanan)? Seharusnya, mengutip perkataan Ev.

Yakub Tri Handoko, Th.M., theologi lokal/kontekstual seharusnya menundukkan konteks di bawah teks. Atau dengan kata lain,

theologi kontekstual seharusnya berarti mengaplikasikan teks Alkitab ke dalam konteks zaman kita TANPA menghilangkan arti asli

teks Alkitab (theologi kontekstual tidak bisa dipisahkan dari bidang-bidang theologi lain, seperti: theologi sistematika,

theologi Biblika, theologi historika, theologi filosofika, dan theologi praktika)! Dari kasus tadi, kita belajar bahwa

liberalisme terselubung telah meracuni gereja-gereja Reformed dengan mengambil alih semboyan Reformed yang agung lalu ditambahi

muatan-muatan filsafat manusia berdosa. Sungguh mengerikan. Mari kita kembali kepada semboyan mula-mula dari Reformasi di zaman

Luther bahwa hanya Alkitab saja satu-satunya otoritas bagi iman dan kehidupan Kristen kita. Mengutip perkataan Pdt. Billy

Kristanto, Reformed sejati bukan Reformed statis/tidak bisa diubah (Reformed), tetapi always Reforming (selalu mau

diReformedkan terus-menerus sesuai dengan Alkitab). Kita mengagumi dan mempelajari pengakuan-pengakuan iman Reformed, seperti

Canons of Dort, Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Westminster, Katekismus Westminster, Pengakuan Iman Belgia, dll, tetapi

kekaguman kita jangan sampai menggantikan kekaguman dan ketundukan kita hanya kepada Alkitab!



2. Theologi Reformed =

Hati



Jika kita sudah mengerti bahwa Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran bagi iman dan kehidupan Kristen

kita, lalu apa yang menjadi respons kita? Tidak ada respons lain yang lebih bertanggungjawab selain TAAT mutlak. TAAT di sini

lebih merupakan masalah HATI. HATI adalah sesuatu yang paling penting di mata Allah. Ketika hendak memilih raja menggantikan

Saul, Allah berfirman kepada Samuel, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,

tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7b) Ayat ini juga menjadi peringatan bagi kita bahwa iman bukan urusan pengalaman pribadi

atau belajar theologi, namun urusan HATI! Tidak berarti theologi dan pengalaman itu tidak penting. Dua hal tersebut itu

penting, tetapi yang terpenting adalah hati. Ketika kita telah menyerahkan HATI kita kepada Allah untuk dibentuk-Nya sesuai

kehendak-Nya, maka secara otomatis kita memiliki kerinduan untuk makin mengenal Allah dan mengalami-Nya melalui firman-Nya. Hal

ini sangat disadari oleh bapak pendiri theologi Reformed yaitu Dr. John Calvin. Perkataannya yang terkenal adalah bahwa ia

menyerahkan hatinya kepada Allah dengan tulus dan murni. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita dengan tulus dan murni

menyerahkan hati kita kepada-Nya untuk dibentuk-Nya? Jangan hanya pintar mengkhotbahkan perkataan Calvin ini, tetapi tidak

pernah mengaplikasikannya!



Bagaimana memiliki hati yang tulus dan murni? Kita bisa memiliki hati yang tulus dan

murni dengan menjaga kemurnian hati kita dengan firman Tuhan. Menjaga kemurnian hati kita dengan firman Tuhan ditunjukkan

dengan cara terus mengintrospeksi diri kita sesuai dengan firman Tuhan. Belajarlah bertanya kepada diri: sebelum saya

mengkritik/menuntut orang lain, sudahkah saya menjalankannya? Tuhan TIDAK memerintahkan kita pintar menuntut orang lain untuk

belajar Kebenaran, tetapi Ia memerintahkan kita menuntut diri sendiri TERLEBIH DAHULU untuk belajar Kebenaran, baru setelah itu

mengajar orang lain (bdk. Mat. 7:1-5). Saya pribadi sebagai jemaat GRII harus mengakui bahwa beberapa hamba Tuhan di Gereja

Reformed kurang memiliki jiwa introspeksi diri (self-introspection), padahal itulah yang Tuhan Yesus ajarkan! Saya pribadi

sedih melihat beberapa hamba Tuhan Gereja Reformed menjadi pengkritik filsafat dunia berdosa, tetapi di sisi lain, secara tidak

sadar mereka sedang mengimpor beberapa filsafat tersebut di dalam sikap hidupnya. Orang-orang Reformed harus

BERTOBAT!



Sosok Dr. John Calvin memang adalah sosok theolog yang dipakai Tuhan luar biasa baik dari segi semangat,

doktrin, kesalehan, dan kehidupan pribadinya. Namun satu hal yang penting yang harus kita sadari adalah meskipun Calvin adalah

sosok theologi yang agung, ia tetap seorang manusia biasa. Oleh karena itu, meskipun kita banyak belajar melalui Calvin, kita

tetap harus kritis terhadap ajaran Calvin dan tetap berpegang pada Alkitab. Seorang rekan saya yang dulu menjadi teman saya

sewaktu bekerja di Momentum Christian Literature menyadarkan saya bahwa kita jangan terlalu mengagung-agungkan Calvin lebih

dari Allah! Orang-orang Reformed harus peka akan nasihat bijak ini.



Biarlah melalui renungan memperingati 500 tahun

Dr. John Calvin, kita benar-benar meneladani dan mengaplikasikan semangat, doktrin, kesalehan, dan kehidupan praktis dari Dr.

John Calvin di dalam hidup kita yaitu: kembali kepada Alkitab dan hiduplah terintegrasi sesuai dengan Alkitab! Amin. Soli Deo

Gloria.



Oleh : Denny Teguh Sutandio.



“…the true light of wisdom, sound virtue, full abundance of every

good, and purity of righteousness rest in the Lord alone.” (Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.1, hlm.

36)



"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! " (Why. 3:19)

dilihat : 253 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution