Senin, 23 Juli 2018 16:12:56 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 185
Total pengunjung : 407733
Hits hari ini : 1215
Total hits : 3718365
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Rumah Tangga dan Keluarga Kristiani






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 30 Juni 2009 00:00:00
Rumah Tangga dan Keluarga Kristiani
Dalam

bukunya yang amat baik Makes of the Home, Arthur Spalding berkata : “Diatas pundak orang tua, terletak suatu tanggung jawab

yang lebih besar dari yang ditanggungkan pada raja-raja bangsa di dunia, pada pemimpin-pemimpin Gereja, atau pada guru-guru

orang muda. Pria dan wanita yang telah menyatukan hidup mereka untuk membangun sebuah rumah tangga menarima tanggungjawab

besar. Mereka bukan saha memanfaatkan hidup seperti raja-raja lakukan, atau membertuk hidup seperti yang dilakukan guru-guru,

tetapi mereka harus melembagakan hidup dan menerjunkannya dalam karir sepanjang umur dan untuk masa kekekalan. Tetapi bagi

mereka tidak adan ada jiwa yang hilang atau diselamatkan , tidak ada perebuatan yang besar atau keras, tidak ada pengalaman

bahagia atau susah, tidak ada penghakiman yang harus dihadapi atau upah yang diterima. Orang tua adalah penggerak hidup yang

utama dalam hidup dan masyarakat. Mereka menetukan ada tidaknya hidup, dan kalau ada, bagaimana hidup itu harus diarahkan.

Merekalah wasit penentu nasib manusia.



Kemudian ia menambahkan dengan tegas: Jika Kristiani harus menang, jangan

kita gagal untuk membangun rumah tangga Kristiani. Kata-kata Spalding yang menenteramkan ini telah menyulut semangat yang

mengilhami pelajaran ini. Keyakinan didukung oleh kesaksian Alkitab dan sejarah peradaban manusia. Untuk umat Kristiani

pentingnya fungsi rumah tangga itu tidak disangkal lagi. Hal ini telah diperkuat oleh logika yang tidak bisa dibantah. Nilainya

sudah nyata sendiri. Tidak perlu lagi diperdebatkan tetapi menjadi suatu bahan untuk diperdebatkan.



Namun demikian,

rumah tangga itu selalu menghadapi ancaman, dan ancaman itu semakin kuat pada zaman sekarang ini. Kekecewaan dan statistik

perceraian yang membahayakan menunjukkan bahaya kehancuran rumah tangga. Oleh karenaitu para orang tua Kristiani, anak muda,

dan anak-anak perlu dibentengi dengan pengajaran Alkitab tentang asal –usul, kesucian, dan kesinambungan rumah tangga

Kristiani.



Kita akan mengulangi pengajaran Alkitab mengenai pernikahan dibawah lima judul sebagai berikut

:



Cita-Cita Allah – Persatuan Yang Tidak Bisa Dipisahkan.



Kejadian 2 : 21-24; Ef 5: 22-31; II Kkor 6:

14; Kel 20 : 14, 17.



Penyatuan suami dan istri dalam pernikahan bisa dilihat dalam pernyataan: mereka akan menjadi

satu daging (Kej 2 : 24). Ada dua persyaratan Ilahi yang ditetapkan dalam pernikahan. (1) Pernikahan dengan hanya satu orang

(monogami), dan (2) Pernikahan untuk seumur hidup (tidak bisa dipisahkan). Kedua unsur ini bukan pilihan sendiri atau

tergantung keadaan. Kedua untus in adalah keharusan dan perintah. Dalam penyatuan pernikahan tidak dibenarkan mengadakan

hubungan suami istri dengan oran glain selain dari pasangannya yang sudah terikat oleh pernikahan dan tidak bisa ditetukan

jangka waktunya. Dalam istilah Kristiani hidup itu tidak lebih suci atau lebih mengikat daripada janji pernikahan. Tidak ada

tempat bagi tidak bertanggung jawab dalam pernikahan.



Pengajaran Alkitab mengenai kekudusan pernikahan masuh

melampaui mandap Ilahi. Pengajaran itu juga memberi teladan Ilahi. Dengan akar yang kuat sebagaimana dicatat dalam buku

kejadian. Perjanjian Baru menyatakan pernikahan tak dapat dipisahkan dan dalam segi lain pernikahan itru bersifat monogami, dan

dari pandangan lain, pernikahan itu menjadi lambang pernikahan antara Kristus dan pengantin yang dikasihiNya, yaitu gereja itu

sendiri (Ef 5: 25-32).



Kebesaran mana lagi yang lebih tinggi yang dapat diberikan pada pernikahan selain dari ini.

Pengesahan yang lebih tinggi mana yang bisa lagi diberikan pada pernikahan selain dari ini? Penamanan yang lebih baik mana lagi

yang bisa diberikanuntuk pernikahan itu?





Suami — Raja dan Imam. (Ef 5: 25 – 31; I Kor 7: 3; Kol 3: 19; I

Tim 5 : 8; I Pet 3 : 7)



Suami, kasihilah istrimu, adalah syarat pertama untuk pernikahan bagi pasangan pria dalam

pernikahan. Kasih dalam istilah Alkitab bukanlah gerakan yang tiba-tiba datang atau perasaan yang tiba-tiba mengalir. Itu

adalah prinsip yang berjalan lancar dan mengikat. Kasih itu tidak pasif. Kasih itu aktif, keluar, bagi rasa dan melayani. Tidak

memaksa, tidak menuntut, tidak dicari-cari, atau menolong diri sendiri. Ia suka memberi. Ia suka melayani, seorang penulis

mendefinisikan Kasih sebagai penuh reaksi yang lain sebagai kehendak yang mengarah pada memberi kesejahteraan orang lain. Waktu

Paulus menyampaiakan Kasih melalui Prisma pengetahuannya yang diilhamkan, ia mengatakannya sebagai berikut. Kasih itu sabar;

kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan

tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena

ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala

sesuatu. Kasuh tidak berkesudahan (I Kor 13 : 4-8) terjemahan Moffat.



Sekarang penerapan apa yang bisa diambil

manfaatnya oelh suami-suami Kristiani? Apakah tuntutan yang diakibatkannya? Tantangan apa yang dihasilkannya? Pola kelakuan

yang bagaimana diharuskan nya. Jelas bahwa ngotot, mendominasi, kecenderungan untuk mementingkan diri harus ditaklukkan dalam

diri sendiri suami Kristiani, dan sopan santun, kelemahlembutan , kesabaran, toleransi, dan menghormati istri dikembangkan.

Pendekatan nya bukan lagi apa yang akan saya dapat? Tetapi apa yang akan saya berikan? Bukan apa yang akan saya peras. Tetapi

apa yang akan saya sumbangkan?



Dengan dimikian suami Kristiani itu akan menjadi tali pengikat rumah tangga yang akan

mengikat, mempersatukan, menopang, dan melindungi mitra rumah tangga itu. Kemudian ia akan menjadi seperti apa yang dikehendaki

Allah dari dia. Yaitu Raja dan Imam dalam keluarga.



Ia tidak menunggu istrinya lagi untuk memprakarsai sebagai

teladan dalam tabiat Kristiani. Ia akan memainkan peran sebagai pemimpin. Ia akan membunyikan nada kunci sebagai seorang

suami, ia akan memprakarsai untuk mengasihi dan melayani; untuk menolong dan mempercayai. Sebagai Raja, ia akan memprakarsai

untuk melindungi, membela, dan menyediakan apa yan gdiiperlukakn. Sebagai Imam, ia akan memprakarsai pendamaian , pengampunan,

menyelesaikan permaslahan, menyembuhkanketegangan dan salah pengeritan apabila kesatuan rumah tangga itu terancam. Sebagai

imam, ia akan memprakarsai untukmengangkat istrinya dan keluarganya kepada Allah. Sebagaimana Kristus telah mengasihi inilah

caranya ia memainkan perannya sebagai pemimpin.





Istri — Permaisuri dan Guru. (Amsal 31 : 10-31; I Kor 7 :39;

Kol 3 : 18; I Pet 3 : 1)



Seorang yang berhikmat dengan pandanganluas pernah membandingkan seoran gistri, dalam

hubungannya dengan suami, dengan tali busur pada sebuah panah. Ia membengkokkan sang suai, kara orang berhikmat itu, tetapi ia

juga menurut sang suami.



Seperti seorang suami memahami pertimbangan antara sifat-sifat tegas seorang pemimpin dan

kelemahlembutan seorang suami dan ayah, demikian lah seoran istri harus memahami perimbangan antara tunduk pada suami dalam

satu sisi dan kepribadian yang pantas dan berinisiatif pada sisi lain. Bagaimana hal ini bisa dilakukan dalam cara yang sama

seperti suami belajar dan melakukan peran gandanya sebagai Raja dan Imam. Ini bisa terlaksana jika sang istri mau membuka hati

untuk Kasih Allah sebagai kekuatan yang dapat mengendalikan dan berwibawa. Rahasia yang paling mendalam dari karbahagiaan

perkawinan ialah bahwa kedua suami dan istri harus sehati dalam motivasi, pikiran, kata dan perbuatan. Untuk tunduk pada Allah

atau sebagaimana Alkitab menyebutkannya menawan segala pikiran dan menaklukkannya pada Kristus. (II Kor 10

:5)



Sebagai wakil Allah, sang istri dan ibu akian mengambil prakarsa untuk mengajak anak-anaknya menjadi manusia

yang tunduk pada Allah. Sebuah cerita ditulis oleh Dr. Frank Boreham menggambarakan ketekunan seorang ibu dalam usahanya

utnuk menuntun anak-anaknya kepada Allah. Seorang ibu dalam jemaat saya, tulis Dr,Bereham, memastikan pada saya bahwa ia merasa

tertolong dalam mendidik anakk-anaknya dengan cara membiasakan diri untuk berbicara pada mereka pada waktu mereka pada waktu

mereka tidur. Saya mengunjungi mereka dari satu tempat tidur. Saya mengunjungi mereka dari satu tempat tidur ketempat tidur

yang lain, kata ibu itu. Saya membisikkan ditelinga mereka pemikiran atau kata-kata yang paling suci, paling manis, dan yan

gpaling indah yang saya tau. Jika mereka tertidur nyenyak saya bicara dengan suara lembut. Jika merkea setengah tidur nyenyak

saya bicara dengan suara lembut. Jika mereka setengah tidur saya berbisik pelan-pelan. Saya mengatakan pada mereka bahwa saya

tahu mereka akan bertumbuh menjadi manusia yang suci baik, dan tidak mementingkan diri, mau mengikut Kristus, melayani sesama,

dan mengasihi Allah diatas segalanya. Dan pada waktu saya mengumpulkan mereka dikaki saya , saya bayangkan bahwa apabila tiba

pada tema pembicaraan maka pikiran merka sudah siap untuk menerima buah pikiran itu. Seolah-olah seperti sesuati sudah

bertumbuh dalam hari mereka dan sudah siap menerima buah pikiran yang saya utarakan itu. Ada seorang diantara yan

gmendengarkan cerita ini mengomentari: Nerakapun tidak akan bisa menceraikan anak-anak seperti itu dari

ibunya.





Anak-Anak — Peremata Rumah Tangga. Mzm 127: 3; 144 : 12; Amsal 1 : 8, 9 ; 22 : 6; Kel 20 : 12; Ef 6

: 1-4; II Tim 3 : 15.



Seorang ibu kaya di Roma pernah diminta oleh seorang tamunya untuk memperlihatkan semua

koleksi permata yang mahal-mahal yang dimilikinya, lalu ia memanggil semua anaknya duduk disampingnya. Inilah permata permata

saya ia berkata dengan bangga.



Seorang penulis modern dengan pandangan yang sama menuliskan doa seperti ini. Ya Bapa

yang disorga, jadikanlah saya orang tua yang lebih baik. Tolong saya untuk mengerti anak-anak saya; untuk mendengarkan dengan

sabar apa yan gmerkea katakan dan menjawab segala pertanyaan mereka dengan hati yang lembut. Jauhkan saya dari penyebab

gangguan mereka, berbicara balik dan menentang mereka. Jadikan saya manis budi pada mereka sebagai mana saya mengharapkan

mereka lakukan pada saya. Berikan saya keberanian untuk mengaku dosa-dosa saya terhadap anak-anak saya dan memohon mereka

untuk keampunan apabila secara sadar saya ketahui bahwa saya sudah berbuat salah.



Janganlah aku melukai hati dan

perasan anak-anakku. Tidak menertawakan kesalahan mereka dan mempermalukan serta mengolok-olok mereka sebagai hukuman.

Janganlah saya menggoda anak-anak saya untuk berdustada mencuri. Bimbinglah saya setiap jam supaya dapat membuktikan akan

menghasilkan kebagahiaan.



Tolong saya untuk mengurangi sifat jiwa kecil. Saya mau menghentikan kebiasaan saya untu

mengomel dan jika habis kata-kata dibibirku, tolong aku Tuhan untuk menahan lidahku. Butakan mata saya terhadap kesalahan kecil

yan gdilakukan anak-anak dan tolong aku untuk melihat segala kebaikan yang mereka lakukan. Berikan saya kata-kata yang tepat

untuk memuji mereka dengan jujur.



Tolong saya utuk melayani sesuai usia mereka, dan janganlah saya mengharapka dari

mereka pertimbangan seorang anak yan gsudah dewasa. Biarlah saya jangan merampas kesempatan mereka untuk menjaga dirinya

sendiri, untuk berpikir, untuk memilih dan untuk membuat keputusan sendiri. Janganlah saya menghukum mereka demi kepuasan hati.

Kiranya saya mau mengabulkan keinginan mereka yan gmasuk akal dan mempunyai keberanian untuk menolak kesempatan yang

membahayakan diri mereka. Jadikan saya adil dan jujur, memperhatikan dan menjadi sahabat anak-anak saya supaya merekabisa

memberikan pujian yang sejati untuk saya sebagai orang tua mereka. Jadikan saya layak untuk dicintai dan dipanuti oleh

anak-anak saya. Garry C. Myers.



Alangkah besarnya kerugian yang menimpa dunia ini jika orang tua seperti ini harus

menghilang. Alangkah bahagianya jika orang tua seperti inni bisa diperbanyak dibumi ini.





Mezbah Keluarga —Alat

Pengendali Rumah Tangga. Mzm 127 : 1; Kej 18 : 19; II Tim 1 : 5; 3 : 15; Mal 4 : 5, 6



Sebagaimana alat kendali

pada kapal yang berlayar mengarungi lautan menentukanarahkapal dan membantu supaya tiba dengan selamat, demikian juga kebiasaan

kebaktian rumah tangga membantu dan mempertahankantujuan, nilai-nilai, dan prioritas dalam keluarga

Kristiani.



Seorang pengarang beragama Kristen menjelaskan bahwa keluarga ibarat gereja mini dalam rumah tangga

kata-katanya perlu dicatat segala yang menyangkut kemajuan pekerjaan Allah, harus diperolah dari kehidupan rumah tangga itu.

Orang tua sepanjang minggu hendaknya hidup seperti di hadapan Allah yang kudus, yang telah mengaruniakan anak-anak padamu untuk

dididik bagi Dia. Gereja mini dalam rumah anda, supaya pada hari sabat semuanya sudah siap menyembah Allah dalam

kaabahnya.



Abraham percaya hal ini lalu ia mendirikakn mezbah rumah tangga dimana saja ia mendirikan kemah. Orang

tua Yusuf juga percaya sehingga Yususf bisa bertahan demi Allah diantara kemerosotan di Mesir. Orang tua Daniel juga melakukan

hal yangsama, lalu ia dipelihara untuk Allah di Babylon yang dipenuhi dengan penyembahan berhala. Orang tua Yesus melakukan hal

yang sama , lalu ia dipelihara untuk Allah di Nazareth yang penuh kejahatan. Ibu dan nenek Timotius melakukan hal yang sama,

lalu ia juga dipelihara untuk Allah diantara pencemaran moral masyarakat Roma.



Kesimpulan



Salah satu

tugas Elia di Bukit Karmel ialah untuk memperbaiki mezbah Allah. Yang sudah rusak. Ini adalah pertanda untuk memulaikan suatu

pembaharuan diseluruh tanah Israel. (I Raja-raja 18 : 30-32)



Bagaimana tentang mezbah Allah dirumah tangga anda?

Apakah sudah hancur berantakan? Maukah anda menjadi Elia untuk Allah dan memperbaiki mezbah itu sekarang juga.



Oleh

: John Maruli Situmorang.

dilihat : 337 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution