Selasa, 17 Juli 2018 20:48:30 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 167
Total pengunjung : 406287
Hits hari ini : 1844
Total hits : 3704019
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pancasila sebagai satu keyakinan dan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 29 Mei 2009 00:00:00
Pancasila sebagai satu keyakinan dan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Salam transformasi pasti terjadi!



1 Juni diyakini oleh

banyak orang Indonesia sebagai hari Kelahiran Pancasila, karena pada 1 Juni 1945 yang lalu Soekarno berpidato dan menyampaikan

pandangan beliau tentang ideologi bangsa yang dirumuskan Pancasila. Beliau mengemukakan pandangan tersebut, bersama dengan

beberapa tokoh lainnya, seperti Muh. Yamin, di mana Tentara Pendudukan Jepang sudah merasakan posisi mereka terjepit dalam

peperangan di Pasifik, sehingga mereka memberikan janji untuk Indonesia merdeka sebagai upaya untuk mendapatkan simpatik dan

dukungan yang besar. Pidato itu dibuat saat persidangan di Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia, di mana persidangan-

persidangan itu sedang membahas bentuk Indonesia ke depan.



Kalau disimak dalam pandangan-pandangan itu, ide

Pancasila bukanlah semata-mata ide Soekarno. Beliau merupakan pencetus, sedang perumus adalah Bapak-Bapak Bangsa yang bersidang

dengan pandangan-pandangan luas dan visi kebangsaan yang luar biasa. Mereka menyarikan keyakinan-keyakinan dan kearifan

suku-suku atau pemerintah-pemerint ah kesukuan yang ada saat itu. Mereka melihat negara yang dicita-citakan bukan karena

minoritas, tetapi berdasarkan relasi-relasi yang nyata dari masyarakat di mana bahasa Melayu yang sudah dipakai berabad-abad

menjadi ide dasar untuk membangun berdasarkan keragaman dan keunikan yang disatukan untuk membangun negara baru, yaitu

Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi tetap satu, yaitu masyarakat, bangsa dan negara

Indonesia.



Pancasila yang dikemukakan adalah sebuah gambaran nilai-nilai keyakinan yang universal di dalam kehidupan

bangsa Indonesia dan keyakinan penduduk dunia yang mendasar dan asasi. Kelima sila-sila yang dikemukakan saat itu, merupakan

pencerminan keyakinan masyarakat Indonesia yang disarikan dari keyakinan hidup manusia Indonesia. Di mana manusia Indonesia

adalah manusia yang berkeyakinan bahwa ia bukan ada karena sejarah manusia saja, melainkan bagian dari Causa Prima alam semesta

ini, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, di mana diberikan kesadaran yang jelas bahwa ini keyakinan dasar, sehingga manusia Indonesia

bukan hanya sekedar hasil dari perjalanan sejarah budaya materi saja. Tetapi ada satu tujuan yang jelas sebagai manusia yang

berke-Tuhan- an.



Di samping itu, sebagai manusia yang berke-Tuhan- an, manusia Indonesia adalah makhluk sosial yang

menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Keberadaban ini dibangun untuk meninggikan budaya manusia itu sendiri

sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang melihat kesetaraan, dengan rasa penghormatan yang setinggi-tingginya kepada manusia itu

sendiri sebagai mahkota penciptaan Sang Pencipta.



Kemudian Bapak-Bapak Bangsa melihat, bukan hanya sebagai makhluk

yang memiliki individual hak-hak mereka, tetapi Indonesia dibangun sebagai satu kesatuan (entitas) keragaman dan kemajemukan

serta keunikan di antara pribadi-pribadi yang sewilayah atau sepulau, di mana mereka memiliki tujuan karena latar belakang

sejarah politik mereka masing-masing membangun bangsa yang besar dan jaya, yaitu Indonesia Raya. Sila ketiga secara ekslusif

melhat bahwa kemajemukan, keragaman dan keunikan itu disatukan dalam bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Indonesia.

Sila Persatuan Indonesia merupakan dasar atau wadah dari keyakinan kehendak yang Mahakuasa dan keadaan manusia yang bermartabat

dalam koridor kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia. Sebuah pergumulan dan perenungan yang mendalam dari

1908 sampai 1945, secara politik telah menyebutkan bahwa tidak mungkin terbebas dari cenkeraman ketidakadilan dan

ketidakmanusiaan, apabila hanya membangun identitas sebagai satu kesatuan suku dan negara kesukuan di mana mereka secara

politik selalu dapat dipatahkan perjuangan pengusiran penjajah sehingga membentuk sebuah persatuan dan kesatuan, yaitu suatu

masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang besar dan jaya.



Untuk itu beliau-beliau kemudian memberikan wadah

Indonesia dengan bentuk kearifan-kearifan lokal yang ada dalam serumpun nusantara, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

dalam permusyawaratan/ perwakilan. Sebuah bentuk keragaman budaya dan keyakinan meski berentitas satu tetapi keanekaragaman

itu tetap menjadi kekayaan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap suku dan keunikan harus ditampung dalam bentuk

kearifan dan kemampuan untuk menonjolkannya dalam bentuk ke-Indonesia- an. Sebagai satu negara bangsa, Indonesia Raya. Untuk

itu tidak bisa kalau negara dilhat sebagai kekuatan yang mampu mengontrol rakyat secara otoritas, apalagi totaliter, karena

sila keempat merupakan kontrak politik terhadap penyelenggara negara, yaitu keanekaragaman dan keunikan merupakan kekayaan

untuk menciptakan ke-Indonesia- an yang jaya. Secara tersirat di sila keempat memperlihatkan bahwa ini adalah bagian yang asasi

untuk berkumpul, berserikat dan mengemukakan pendapat untuk ke-Indonesia- an yang ditempatkan pada keyakinan yang mendasar dari

ideologi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bentuk keragaman dalam satu entitas negara bangsa adalah keunikan dan kearifan

Indonesia yang adalah kekayaan kebangsaan yang besar untuk membangun kehidupan bernegara. Negara Bangsa untuk mengatur

kehidupan suku-suku yang disatukan membentuk bangsa yang besar. Ini merupakan rumusan kontrak politik yang besar, di mana

Bapak-Bapak Bangsa sudah merumuskan dengan jelas.



Koridor berikutnya, mereka menempatkan kerangka bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara adalah mencapai keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Manusia Indonesia yang mandiri, kuat dan jaya

tetapi bukan semangat individualism, melainkan bagaimana membawa anak bangsa secara umum mengalami kemakmuran dan

sejahtera.



Berkaitan dengan hal itu, masyarakat Kristen harus menyadari bahwa ide dasar menjadi sebagai satu

masyarakat, bangsa dan negara memberikan kepastian akan keberadaan dan keyakinan yang ada. Kita bukan anggota Indonesia

terkecil atau sedikit, atau minoritas, karena keyakinan dasar ideologi bangsa adalah Indonesia yang berentitas satu dalam

keragaman sebagai dasar kekayaan Indonesia itu sendiri. Pengenalan dan pengetahuan ini harus menjadi keyakinan dasar melebihi

keyakinan kepada siapa kita akan memilih Presiden dan Wakil Presidennya karena dasar keyakinan inilah yang akan menggerakkan

bagaimana kita memilih dan meyakinan sebuah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memilih adalah hak, bukan

kewajiban dari warga negara, karena memilih adalah memberikan hak dan keyakinan kita terhadap orang-orang tertentu yang mampu

membawa Indonesia kepada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bagi kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia serta

individu sebagai warga negara --.



Menyadari hal itu, penyadaran terhadap pribadi yang unik dari bagian entitas

masyarakat, bangsa dan negara Indonesia harus diyakini dan dikenal dengan baik, sehingga sebagai pribadi yang percaya Tuhan

sebagai penentu final dan menentukan menjadi bagian yang penting, karena keyakinan yang hakiki ini akan membawa pandangan yang

jelas sebagai individu atau sebagai umat kristiani dalam pergaulan negara bangsa. Berdiri dengan pemahaman dan keyakinan

merupakan dasar alkitabiah yang jelas.



Untuk itu, menjadi manusia Indonesia yang berkeyakinan pribadi Kristen, harus

mandiri dan merdeka, karena secara pribadi adalah penentu keyakinan dan membawa kontrak politik secara pribadi. Tidak boleh

digoyahkan oleh keyakinan apa pun dan siapa pun, karena keyakinan sebagai warga negara merdeka. Seperti Yehekiel, Yeremia,

Daniel dan kawan-kawan serta nabi-nabi lainnya meyakini apa yang Tuhan tugaskan kepada mereka untuk kehidupan Israel ke depan

yang lebih baik, serta mereka berdiri untuk bangsa ini mencapai kehidupan ke depan yang lebih baik dalam tangan Tuhan.

Kesadaran yang demikian sebagai pribadi yang otonom mendiskusikan dengan Tuhan dalam syafaat sampai masa depan Indenesia

yang lebih baik dinyatakan. Mari kita menyadari hal ini. Tuhan memberkati.



Oleh : Agustinus Telaumbanua.

dilihat : 331 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution