Senin, 22 Juli 2019 16:32:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520050
Hits hari ini : 1459
Total hits : 4822650
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perumpamaan Gadis Bijaksana & Bodoh.






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 15 Mei 2009 00:00:00
Perumpamaan Gadis Bijaksana & Bodoh.
Nats: Lukas

23:33-43



Injil Matius banyak membahas tentang tema Kerajaan Sorga, suatu pokok yang terus dibicarakan oleh Yesus

sepanjang masa pelayananNya di bumi. Demikian pula teks yang kita baca hari ini membicarakan tentang Kerajaan Sorga yang

dikaitkan dengan akhir zaman (eskatologi) . Pembahasan mengenai akhir zaman dimulai sejak pasal yang ke-24 dari Injil

Matius.



Perumpamaan ini sendiri didahului dengan 1 perumpamaan (tentang hamba yang setia dan jahat) dan disambung

lagi dengan 1 perumpamaan lagi (tentang talenta) dan diakhiri dengan gambaran tentang penghakiman terakhir. Ketiga perumpamaan

yang disampaikan ini memiliki tekanan yang semakin memuncak berkenaan dengan kehidupan orang percaya yang dibicarakan secara

radikal (radikal maksudnya sampai kepada poros hati yang terdalam, sebagai lawan dari hanya sebatas permukaan). Pada

perumpamaan yang pertama (hamba yang setia dan jahat), Yesus memperingatkan orang-orang yang hidup berbuat jahat, memukul

sesamanya, makan minum bersama pemabuk-pemabuk, pendek kata, hidup terus melampiaskan nafsunya sendiri, orang-orang seperti ini

akan dihakimi dan akhirnya dibinasakan oleh Tuhan sendiri. Orang-orang ini, sekalipun tidak berlaku munafik dalam kejahatan

mereka (mereka terang-terangan melakukannya) , namun akan dibuat senasib dengan orang-orang munafik. Sementara pada perumpamaan

ini (gadis bodoh dan bijaksana), hukuman ditimpakan bagi mereka yang ‘hanya’ (pakai tanda kutip karena ‘hanya’ inilah yang

membuat mereka binasa!) tidak mempersiapkan diri dengan baik. Mereka tidak mengumbar nafsu dan berlaku jahat seperti pada

perumpamaan yang pertama, mereka ‘sekadar’ tidak siap saja, ‘sekadar’ terlambat. Lalu pada perumpamaan yang ketiga (tentang

talenta), hamba yang ketiga ini binasa juga bukan karena berbuat jahat seperti pada perumpamaan yang pertama, atau tidak siap

seperti perumpamaan yang kedua (hamba yang ketiga pun telah melakukan perhitungan dan pertimbangan sebelum ia memendam talenta

yang dipercayakan kepadanya, tidak seperti lima gadis bodoh yang tidak menghitung minyak mereka), hamba yang ketiga ini

sesungguhnya dianggap banyak orang tidak terlalu jahat karena dia toh tidak melakukan apa-apa (doing nothing), namun justru

itulah yang akhirnya membinasakan dia. Firman Tuhan tetap menyebutnya sebagai hamba yang jahat. Kejahatannya adalah karena dia

tidak melakukan apa-apa. Dan akhirnya, gambaran tentang penghakiman terakhir mencatat orang-orang yang dibuang dan ditolak

karena mereka tidak mengasihi sesamanya. Ada penanjakan di sini dari dosa yang dianggap paling keji sampai kepada dosa yang

seringkali dianggap bukan merupakan kejahatan oleh manusia pada umumnya (mengumbar nafsu – tidak siap – tidak melakukan apa-apa

– tidak mengasihi sesama), namun di hadapan Tuhan itu tetap merupakan suatu dosa yang harus dihakimi.



Kembali kepada

perumpaman gadis bodoh dan bijaksana. Siapakah gadis-gadis yang digambarkan di sini? Kita tidak mengetahuinya dengan pasti

(yang pasti kita tidak dapat memasukkan gambaran perkawinan kontemporer dalam cerita ini), namun ada kemungkinan bahwa

gadis-gadis ini adalah hamba dari mempelai laki-laki (panggilan “Tuan” pada ayat 11). Sebagian gadis ini bodoh dan sebagian

lagi bijaksana. Alkitab seringkali membuat kontras antara kedua hal ini dan sekali lagi, bodoh yang dimaksud di sini sama

sekali tidak berarti memiliki inteligensia rendah. Firman Tuhan sesungguhnya tidak pernah menghina mereka yang kurang di dalam

kecerdasan dalam arti seperti ini dan juga tidak menghormati mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Di hadapan

Allah Yang Mahakudus semua orang sama-sama berdosa! Manusia yang suka membanggakan hal-hal yang tidak dihargai oleh firman

Tuhan sesungguhnya sedang berlaku bodoh. Lalu apa yang dimaksud bodoh dan bijaksana di sini? Secara sederhana bodoh adalah

sikap yang tidak mau diajar oleh kebenaran firman Tuhan (betapapun tinggi inteligensianya, orang itu tetap adalah bodoh!),

sedangkan bijaksana adalah mereka yang mendengar dan melakukan firman Tuhan (betapapun sederhana pemikiran orang tersebut).

Dalam konteks bacaan kita hari ini, dalam pengertian yang lebih khusus, bodoh berarti tidak mempersiapkan diri dengan baik,

sementara bijaksana berarti bersiap dan berjaga-jaga.



Lalu artinya pelita dan minyak, mengapa di sini dikatakan 5

dan 5, bukan 3 dan 3 atau 10 dan 10? Dalam menafsir perumpamaan, kita tidak boleh menafsir sampai kepada detail-detailnya,

karena itu bukanlah tujuan dari perumpamaan. Kebahayaan dari cara penafsiran seperti ini adalah kita akhirnya jatuh dalam

penafsiran yang disebut alegoris (penafsiran ini banyak dikembangkan oleh Bapa Gereja seperti Origen, sesungguhnya banyak

dipengaruhi oleh cara penafsiran Yunani Kuno dalam menafsir tulisan-tulisan pada zaman itu, dan karena dipengaruhi oleh

filsafat Neoplatonisme yang mengajarkan makna spiritual yang lebih dalam). Kita tidak perlu menafsir bagian ini sampai

sedetail-detailnya karena perumpamaan ini pada intinya mengajarkan dua macam orang, yaitu yang bersiap sedia dan yang

tidak.



Ayat 5 mencatat bahwa mempelai itu lama tidak datang-datang juga (Ing.: delayed). Tuan itu ‘terlambat’. Tuan

ini sebenarnya Tuhan yang akan datang kembali bukan? Masakan Tuhan bisa terlambat? Di sinilah kesulitannya, manusia seringkali

menilai Tuhan dari cara pandangnya sendiri, termasuk dari kacamata waktu dunia, seolah-olah Tuhan harus datang jam segini,

tanggal ini, tahun itu. Pada kenyataannya, Tuhan tidak dikuasai oleh waktu kita, sebaliknya saat di mana Tuhan datang yang akan

mengakhiri waktu kita! Ada seorang profesor yang pernah mengatakan kalimat demikian “Jesus doesn’t have to come on time because

He is not in time.” Kalimat ini menyatakan bahwa seringkali kita membelenggu Tuhan dalam pola pemikiran kita yang terbatas, dan

yang paling celaka adalah kita pikir itu adalah Tuhan yang sesungguhnya! Allah adalah Allah yang berdaulat, kapan Dia akan

datang kembali, itu adalah sepenuhnya berada dalam kehendak kedaulatan-Nya, Dia tidak perlu mencocokkan saat kedatangan-Nya

dengan jam dan tanggalan kita. Namun, secara antropomorfis (istilah ini kurang cocok, lebih baik menggunakan antropokronos,

yaitu waktu manusia) Dia memang seolah datang terlambat. Dalam bagian firman Tuhan yang lain kita juga membaca bahwa Yesus

memang sengaja datang terlambat (peristiwa Lazarus yang dibangkitkan) . Mengapa Tuhan sengaja mengulur-ulur waktu? Yang

pertama, menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas waktu, Dia yang menetapkan saat-Nya, bukan kita, bukan mereka yang menunggu.

Kedua, ini sekaligus menjadi ujian karena waktu yang ‘tertunda’ itu justru menyatakan sikap manusia yang sesungguhnya. Bukan

karena tertunda lalu manusia boleh membenarkan diri untuk tidak mempersiapkan diri.



Gadis-gadis itu mulai mengantuk

dan akhirnya semuanya tertidur. Di sini kita melihat tidak ada perbedaan antara anak-anak Tuhan dan anak-anak binasa. Secara

fenomenal mereka semua terlihat sama, dan memang to certain extent kita tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya:

kita perlu istirahat, tubuh kita bisa sakit, dagang bisa rugi, kita pergi berbelanja, berkeluarga, sama seperti semua orang

yang lain. Menjadi Kristen bukan berarti menjadi manusia yang eksentrik, fanatis, dan reduktif (sempit). Namun, sesungguhnya

kedua jenis orang yang sama-sama tertidur itu sama sekali berbeda. Sama, dua orang bisa sama-sama berdagang dan bekerja tapi

bagaimana mereka melihat harta bisa sama sekali berlainan, sama-sama berkeluarga tapi cara menempatkan keluarga bisa sangat

berbeda, bahkan sama-sama melayani, akan tetapi di dalam arah hati tidak tentu sama.



Ketika mempelai itu datang,

mereka pun bangun semuanya (tidak ada yang tetap tertidur), semuanya lalu membereskan pelita mereka masing-masing. Sampai di

sini, secara fenomena semua terlihat sama. Akan tetapi ayat 8 dan 9 segera menyatakan keberbedaan mereka. Ternyata gadis-gadis

bodoh itu tidak siap untuk menyongsong mempelai laki-laki, pelita mereka hampir padam! Mereka lalu berharap agar gadis-gadis

yang membawa persediaan minyak itu untuk membaginya kepada mereka, akan tetapi gadis-gadis bijaksana itu menolak untuk

memberikannya. Ini semacam keegoisankah? Pelit? Tidak ada belas kasihan! Tidak punya jiwa pengorbanan? ! Hanya memikirkan

keselamatan diri sendiri?? Tidak, sama sekali bukan begitu. Pengajaran dari bagian ini adalah setiap orang harus

bertanggungjawab secara pribadi di hadapan Tuhan. Saya tidak bisa melimpahkan tanggung jawab saya untuk menjadi tanggung jawab

orang lain. Keselamatan hidup adalah urusan setiap pribadi, bukan urusan kelompok. Tidak ada yang bisa menjamin saya kelak pada

akhir zaman, saya harus berdiri seorang diri di hadapan Tuhan. Kesiapan hati orang lain adalah milik orang lain, orang lain

memang memiliki tanggung jawab juga atas sesamanya (termasuk mungkin sebagian atas diri saya), akan tetapi ia tidak mungkin

dituntut untuk bertanggung jawab atas tanggung jawab saya (sebagaimana diajarkan oleh E. Levinas misalnya). Selalu

mempertanggung jawabkan tanggung jawab orang lain dapat menghancurkan kedewasaan orang yang ‘dibantu’ itu. Lagipula, manusia

mana yang dapat bertanggung jawab atas tanggung jawab semua manusia di seluruh dunia? Kita bukan Juruselamat dan Mesias, bahkan

Mesias yang sejati pun tidak melakukan hal tersebut (bertanggung jawab atas tanggung jawab orang lain). Manusia harus belajar

dengan segala kerendahan hati untuk mengatakan bahwa ia terbatas. Bahkan sahabat yang terbaik pun juga tetap terbatas. Ia tidak

Mahakuasa, hanya Tuhan saja yang dapat menolong setiap orang yang berharap kepada-Nya.



Gadis-gadis bodoh itu pergi

untuk mempersiapkan minyak mereka yang kurang, dan celakanya, pada saat itulah mempelai datang! Orang-orang seperti itu selalu

berpikir masih ada kesempatan untuk bertobat, masih ada waktu untuk berubah, mereka pikir the last minute akan sanggup

menyelesaikan persiapan untuk menyongsong Tuan itu. Mereka adalah orang-orang malas yang tidak mempersiapkan diri, yang begitu

sombong dan menilai diri terlalu tinggi yang membawa kepada keyakinan diri sendiri yang begitu naif! Sangkanya mereka masih

diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mempersembahkan diri mereka pada menit-menit terakhir sebelum kematian menjumpai mereka.

Yang lebih konyol lagi adalah mereka berpikir bahwa selama ini mereka sudah mengenal Tuan itu, mungkin bahkan hidup

bersama-sama, bekerja untuk Tuan itu, namun dalam kenyataannya, Tuan itu menyatakan tidak mengenal mereka semua. Mereka

terhilang untuk selama-lamanya. Sudahkah hatimu dimiliki oleh Yesus? Seberapa penuh?



Firman Tuhan tidak memberi tahu

kepada kita kapan Tuan itu akan datang kembali, kapan hidup kita akan berakhir. Justru adalah lebih baik bagi kita untuk tidak

mengetahuinya. Karena dengan tidak mengetahui saatnya, kita perlu untuk senantiasa berjaga-jaga, mempersiapkan diri untuk

menyongsong kedatangan-Nya. Dia tidak akan datang lagi sebagai bayi kecil, Dia akan datang sebagai Hakim yang akan mengakhiri

segala perbuatan manusia di bumi. Marilah pada masa adven ini, menjelang peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, kita

mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan-Nya kembali. Para penggubah lagu, di dalam pimpinan Tuhan, memilih untuk

mengambil teks yang diinspirasi dari bagian perumpamaan ini untuk menjadikannya sebagai karya yang dinyanyikan pada masa adven.

Bukanlah merupakan suatu kebetulan, bahwa masa adven yang merupakan masa penantian kedatangan Yesus Kristus, sesungguhnya

merupakan suatu sikap eskatologis, sikap yang menanti kedatangan-Nya kembali. Sudah siapkah kita?



Sleepers, wake! A

voice astounds us

The shout of rampart guards sourrounds us

Awake, Jerusalem , arise!

Midnight’s peace their cry

has broken

Their urgent summons clearly spoken

The time has come, O maidens wise!

Rise up, and give us

light

The Bridegroom is in sight

Alleluia!

Your lamps prepare and hasten there

That you the wedding feast

may share



“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”



Oleh : Pdt.

Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.)



Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

dilihat : 438 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution