Sabtu, 15 Desember 2018 17:15:30 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 172
Total pengunjung : 450775
Hits hari ini : 1136
Total hits : 4152574
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Review on "pan's labyrinth"






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 25 April 2009 00:00:00
Review on "pan's labyrinth"
Spoiler Alert!!!!



Ketika pertama kali saya

melihat poster film ini, rating R (yang artinya film untuk 17 tahun ke atas) cukup mengundang tanda tanya untuk sebuah film

ber-genre fantasi yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak. Rasa penasaran saya terjawab seusai menyaksikan keseluruhan film

ini. Pan's Labyrinth, sebuah film bertemakan dongeng yang dikemas dengan latar belakang perang dunia II memang bukan film

untuk anak-anak. Walaupun jalan ceritanya sendiri tidak sulit untuk dipahami, banyak adegan kekerasan yang membuat bahkan orang

dewasa pun meringis.



THE PLOT

Berlatar belakang tahun 1944 menjelang berakhirnya rezim facisme di Spanyol,

Ofelia, gadis berusia 12 tahun, harus menetap di tempat tinggal yang baru bersama ibunya yang sedang hamil tua dan

sakit-sakitan. Di tengah perang yang berkecamuk dan kekejaman ayah tirinya, Ofelia bertemu sesosok makhluk (The Faun) yang

menceritakan bahwa Ofelia sesungguhnya adalah reinkarnasi seorang puteri kerajaan dari dunia lain. Untuk kembali ke dunia

asalnya, Ofelia harus menjalani 3 tantangan. Kisah ini berakhir tragis, namun juga membahagiakan bagi Ofelia yang percaya bahwa

pada akhirnya ia kembali disambut sebagai puteri kerajaan di dunia yang lain.



THE CHARACTERS

Ofelia sebagai

tokoh sentral dari film ini merupakan gambaran dari kepolosan, keluguan, ketulusan, keberanian sekaligus sifat kanak-kanak yang

seringkali melanggar aturan, percaya segala sesuatu namun juga dapat bersikap kritis. Ofelia dengan mudahnya percaya pada

perkataan The Faun bahwa ia adalah seorang puteri kerajaan dari dunia lain, tetapi ketika harus memilih satu dari ketiga pintu

kecil ia tidak langsung percaya pada arahan peri-peri untuk memilih pintu yang paling indah, melainkan mengikuti kata hatinya

untuk membuka pintu yang paling sederhana. Captain Vidal sendiri sebagai tokoh antagonis digambarkan sebagai kebalikan dari

tokoh Ofelia. Sikapnya kejam, tidak berperasaan, penuh keculasan dan konspiratif, namun taat pada aturan tanpa berpikir kritis.

Berlawanan dengan penggambaran hitam-putih (baik-jahat) dari tokoh Ofelia dan Captain Vidal, makhluk The Faun justru

digambarkan serba misterius. Sejak awal kemunculannya, penonton diajak untuk bertanya-tanya apakah sesungguhnya ia tokoh baik

atau tokoh jahat. Di sinilah keberanian Ofelia diuji untuk mempercayakan masa lalunya dan masa depannya kepada The Faun. Tokoh

lain yang cukup berperan besar dalam film ini adalah Mercedes, pramuwisma dari rumah yang ditinggali Ofelia dan keluarganya.

Bagi Del Toro sendiri, Mercedes adalah gambaran karakter Ofelia versi dewasa, di mana ketika dihadapkan pada situasi yang

sulit, karakter ini akan memilih untuk mempertahankan nilai-nilai moral yang dianutnya.



REAL VS

IMAGINATION

Respon berbagai kalangan pemirsa yang saya temukan di berbagai komunitas dunia maya mengenai film ini cukup

menarik. Mulai dari ungkapan kepuasan atau ketidaksukaan terhadap film arahan Gulliermo del Toro ini, hingga diskusi mengenai

jalan cerita, bahkan analisa mengenai makna simbol-simbol yang terkandung di dalamnya. Salah satu forum yang paling banyak

diminati adalah diskusi mengenai apakah "dunia lain" dan petualangan ajaib yang dialami Ofelia benar-benar terjadi ataukah

semuanya hanya merupakan buah imajinasi seorang anak sebagai pelarian dari realitas yang ditemuinya. Del Toro sendiri, sebagai

sutradara sekaligus penulis cerita, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa yang dialami Ofelia adalah nyata, bukan khayalan

seorang anak semata. Namun penggarapan yang dilakukannya selaku sutradara membuka ruang bagi para pemirsa untuk memaknai film

ini sesuai dengan intepretasi masing-masing, termasuk berpendapat bahwa pengalaman Ofelia adalah khayalan

semata.



Sah-sah saja jika kita berpendapat bahwa situasi perang, kondisi ibunya yang sakit-sakitan dan perlakuan

kejam dari ayah tirinya membuat Ofelia lari dari kenyataan, tenggelam dalam fantasinya dan asyik sendiri dengan dunianya. Tak

jarang manusia menciptakan sendiri kebenaran yang ingin dipercayainya karena kecewa dengan realitas yang tidak memuaskan. Namun

dalam film ini Ofelia ternyata menunjukkan kepeduliannya terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia peduli dengan nasib

orang-orang di dekatnya, termasuk merahasiakan rencana pemberontakan Mercedes.



CHRISTIAN VALUES

Bagi penganut

iman Kristiani, kisah Ofelia yang diceritakan sebagai reinkarnasi seorang puteri kerajaan dari dunia yang lain pastilah tidak

asing. Kisah ini mengingatkan saya akan keberadaan pengikut Kristus yang sebenarnya adalah anak-anak Allah, ahli waris kerajaan

sorga yang harus menempuh penderitaan di dunia sebelum akhirnya layakdisambut dalam tanah air sorgawi sebagai anak dari Raja

Sorgawi. Del Toro sendiri mengaku sebagai penganut Katholik yang biasa-biasa saja, cenderung apatis terhadap hal-hal religius,

namun sadar atau tidak, cerita dan film yang dibuatnya ini kaya akan nilai-nilai Kristiani.



Film ini kembali membuat

saya termenung, apakah iman Kristen yang selama ini saya anut hanyalah sebuah karangan fiksi, apakah gagasan mengenai Tuhan

yang mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan umatNya hanyalah sebuah dongeng belaka. Lebih dari itu, seperti Ofelia yang

nampak "salah waktu" untuk mempercayai kisah dongeng di tengah gawatnya kondisi perang yang sedang berkecamuk, apakah saya juga

"salah waktu" untuk mempercayai Yesus di jaman seperti ini? Tidak pernah ada waktu dan kondisi yang tepat untuk memiliki iman

seperti itu. Bagi orang lain yang melihat kehidupan seorang pengikut Kristus, mereka mungkin menyaksikan kekalahan dan

kemalangan belaka. Tapi bagi orang beriman tersebut, seperti Ofelia yang pada akhirnya disambut dalam kerajaannya, ia telah

mendapatkan kebahagiaan yang abadi.



SUMMARY

Del Toro menulis sendiri cerita El Laberinto del Fauno.

Naskah-naskah awal cerita ini ditulisnya puluhan tahun silam dan menjadi hasrat pribadi Del Toro untuk memfilmkan dan

menyutradarainya. Kumpulan naskah ini sempat hilang di tempat umum, dan sempat membuat Del Toro putus asa sampai akhirnya

beberapa tahun terakhir naskah tersebut ditemukan kembali. Karena itulah Del Toro membuat film ini dengan segenap hati. Dan

seperti yang pernah dikatakan oleh seorang pakar perfilman, film yang dibuat dengan segenap hati akan menjadi film yang

multidimensi, dapat dibahas dari berbagai sudut, bisa dinikmati dengan berbagai kacamata disiplin ilmu, dan memberikan suatu

pengalaman baru setiap kali kita menyaksikannya. Itulah kriteria film yang layak untuk disebut bermutu.



(C) Nadia

Nathania

dilihat : 259 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution